
Waktu pun berlalu dengan cepat, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, Sabtu ini Indra libur akhir pekan, semalam Dila sudah mengatakan pada El jika hari ini mereka akan pergi refreshing ke pantai.
Pagi-pagi sekali El sudah bangun, sekarang El sudah tidak pernah lagi mengompol dan tidak marah jika dibangunkan pagi-pagi oleh Dila, apalagi kalau El tahu jika mereka akan bepergian atau bertamasya.
Indra memutuskan untuk membawa mobil sendiri dan membiarkan Ari untuk libur selama 2 hari. Seperti biasanya, bi Darsih dan bi Ana terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Setelah sarapan pagi dan mempersiapkan sedikit bekal dan perlengkapan yang harus dibawa, Dila memasukkan semua barang-barang itu ke dalam tas besar.
" Kamu bawa apa saja?, kok kaya orang mau pindahan sih Dil, bawa tas besar segala", Indra yang membantu Dila membawakan dan memasukkan tas besar ke bagasi mobil.
" Itu baju ganti buat El, terus sabun, shampo, minyak telon, ya pokoknya perlengkapan El semua, kan nanti El mau aku ajak main pasir, jadi pasti akan kotor, dan harus mandi disana, jadi harus membawa ini semua Mas".
Indra mengusap rambut Dila karena gemas,
" kamu memang ibu yang sangat memperhatikan anaknya, kalau begitu kamu juga bawa baju ganti, kan kamu bakalan kotor juga kalau nemenin El bermain pasir", ucap Indra.
" Tentu saja, aku sudah memasukkan semuanya di dalam, makanya banyak banget yang dibawa, hehehe", Dila terkekeh.
Mereka bertiga masuk ke mobil, Indra yang menyetir dan Dila duduk memangku El di sampingnya. Sebuah penampakan keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
Bepergian seperti ini memang sudah beberapa kali mereka lakukan, hanya saja perbedaannya saat itu posisi Dila masih menjadi pengasuh El, sedangkan sekarang , Dila sudah menjadi ibunya, itu yang membuat jalan-jalan kali ini terasa berbeda.
Biasanya Indra akan fokus menatap ke depan saat menyetir, tapi kali ini sesekali Indra menatap Dila, dan mengusap kepalanya. Dila semakin merasa diperhatikan oleh Indra, meski hanya perlakuan sederhana, tapi terasa spesial dan berbeda.
40 menit perjalanan hingga mobil sampai di pantai. Setelah Indra memarkirkan mobilnya Indra mengambil tas besar berisi bekal mereka, dan berjalan menyusuri pasir putih yang bersih menuju bibir pantai mengikuti Dila dan El yang sudah bersorak kegirangan melihat indahnya pemandangan pantai di pagi hari.
Cuaca sedang cerah, namun belum terlalu panas, karena mereka sengaja datang pagi-pagi. Saat ini jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, namun karena akhir pekan, suasana pantai sudah lumayan ramai.
Benar kata Bu Titin, jika weekend banyak pengunjung yang datang.
Dila menatap sekitaran, berharap bisa melihat Bu Titin sedang berkeliling, namun Dila tidak menemukan sosok yang mirip dengannya.
" Bu Dila, kita belhenti disini saja, El mau buat istana pasil disini". El menarik tangan Dila agar duduk diatas pasir pantai yang bersih dan mulai bermain pasir.
Dila mengambil satu tas kecil dari dalam tas besar yang dibawa Indra, ternyata itu perlengkapan berbahan plastik untuk membuat istana pasir, ada ember, sekop dan beberapa gelas plastik berbeda bentuk.
El langsung mengambil sekop dan ember, mengisi ember itu dengan air hingga penuh. Dila sampai harus berlarian karena mengejar El yang mengambil air laut untuk membuat istana pasir.
Indra hanya duduk diatas sendalnya memperhatikan kedua insan yang di sayanginya itu bermain-main pasir sambil tertawa lepas. Hal kecil yang sangat remeh dan murahan, tapi sudah membuat dua manusia terpenting dalam hidup Indra begitu bahagia.
Indra tidak mau melewatkan momen bahagia ini, Dia duduk sambil memotret, juga merekam Dila dan El yang sedang asyik membuat istana pasir.
" Ibu Dila.... nanti kalau El sudah besal sepelti ayah, El mau bangun istana yang besal dan megah buat ibu Dila tinggal. Nanti El jadi pangelan, Ibu Dila jadi latunya, dan ayah jadi lajanya".
" Nanti istananya akan El buatkan benteng, sepelti ini, bial nggak ada musuh yang menyelang istana kita". El mulai membuat benteng yang mengelilingi istana pasir yang dibuatnya.
__ADS_1
" Kalau begitu nanti mas Ari, mang Santo, bi Ana sama bi Darsih jadi apa di istana?", tanya Dila sengaja memancing El untuk berimajinasi.
" Meleka di rumah ayah saja, kan meleka jagain lumah ayah", jawaban El membuat Dila terkekeh.
Tak terasa Dila dan El sudah bermain pasir selama 1 jam, istana pasir yang mereka berdua buat sudah berdiri kokoh, dengan benteng pertahanan yang El bangun mengelilingi istana pasir itu.
Gara-gara menemukan beberapa cangkang kerang di pasir yang El kumpulkan, El jadi berganti haluan, meminta Dila untuk berburu cangkang kerang.
Ember yang tadi El gunakan untuk membawa air, kini berganti menjadi tempat mengumpulkan cangkang kerang.
" Ayo kita berlomba El, Ibu kumpulin cangkang di kantong plastik, terus El kumpulin di ember, nanti kita hitung bersama-sama, siapa yang paling banyak dapat cangkangnya, dia yang menang, dan yang kalah harus nurutin apa kemauan yang menang, gimana? ", tantang Dila.
" Siapa takut ", jawab El dengan berani.
Dila dan El pun berpencar, tapi tidak terlalu jauh, Dila masih tetap mengawasi El dari tempatnya.
" Ayah ayo bantu El bial El cepet dapet cangkang yang banyak, bial ibu Dila kalah, jadi El bisa minta apapun sama ibu Dila", El mengajak ayahnya bekerja sama.
Indra yang sejak tadi hanya duduk akhirnya beranjak dan membantu El memungut cangkang kerang, " memangnya El pengen minta apa sama Bu Dila?", Indra penasaran juga apa permintaan El.
El terlihat berhenti sejenak dan berpikir apa yang hendak dimintanya, " El pengen beli es klim", jawab El dengan polosnya.
" Gimana kalau yang belikan El es krim itu ayah, terus El minta sesuatu yang lain sama Bu Dila", hasut Indra.
Indra mengangguk dengan cepat.
" Telus El minta apa dong sama Bu Dila?", El nampak bingung.
Indra langsung menggunakan kesempatan emas ini dengan baik, jiwa jago bernegosiasi bisnisnya memang sudah melekat dan mendarah daging.
" Bilang sama Bu Dila, El minta adik bayi yang lucu, biar El ada teman main di rumah. Seperti Tante Indri yang punya Dede bayi lucu dan cantik, gimana?".
El nampak berpikir, " ya udah, tapi ayah beliin El es klim nya yang banyak ya...".
Indra langsung mengiyakan dengan senyuman yang mengembang begitu lebar.
" Anak ayah memang sangat cerdas dan pintar", Indra mengusap rambut El dengan gemas.
Indra semakin bersemangat memunguti kerang, agar El bisa menang dari Dila, dan keinginannya untuk menjadi suami Dila seutuhnya akan segera terwujud.
Waktu 15 menit memungut cangkang kerang sudah berakhir, Dila dan El kembali berkumpul.
" Sekarang kita hitung bersama-sama ya sayang", Dila menghitung dan El ikut menghitung sebisanya, karena hitungan El belum hafal terlalu banyak.
" Ye.... ibu dapat 17 cangkang kerang, sekarang ayo hitung punya El, sepertinya El jago ngumpulin cangkang kerang nih, tau jangan-jangan El minta bantuan ayah ya?", tebak Dila, sengaja menyindir Indra yang tadi terlihat begitu semangat membantu El memunguti cangkang kerang.
__ADS_1
El hanya terkikik sambil menutupi mulutnya supaya Dila tidak tahu dirinya sedang menahan tawa.
" Satu, dua, tiga.... duapuluh, duapuluh satu. Wah.... El hebat, bisa dapat lebih banyak dari ibu, selamat ya, El menang dalam game kali ini", Dila memeluk El yang tertawa bahagia, setelah Dila melepas pelukan pada El, El langsung berjingkrak-jingkrak merasa sangat senang.
" Karena ibu Dila kalah dari El, sekarang ibu akan turuti apa keinginan El, tapi jangan yang mahal-mahal, ibu nggak punya duit banyak", ujar Dila sambil membersihkan tangan El yang penuh pasir.
" El mau punya Dede bayi kecil, kayak Dede bayinya Tante Indri ".
Dila langsung tertegun mendengar keinginan El, dan langsung menatap ke arah Indra yang saat ini berwajah tanpa dosa, pura-pura tidak tahu apa-apa.
" Apa El nggak pengen minta yang lain?", Dila mencoba bernegosiasi. Indra terlihat sedikit khawatir, takut putranya mau dihasut oleh Dila, karena dia begitu penurut dengan Dila.
" Memangnya kenapa Bu Dila?, apa Dede bayi itu halganya mahal?, lebih mahal dali es klim?", tanya El dengan polosnya.
Indra langsung tertawa ngakak, begitu juga dengan Dila yang tak bisa menahan tawa, saking lucunya pertanyaan El.
El mengira Dede bayi itu bisa dibeli, karena tadi Dila mengatakan jangan minta yang mahal-mahal, sedangkan saat El meminta Dede bayi, Dila menyuruh El untuk minta yang lain, hingga El berfikir jika harga Dede bayi itu mahal.
Indra berusaha menahan tawa karena El semakin bingung melihat ayah dan ibunya tertawa bersama-sama.
" Sayang, Dede bayi itu nggak bisa dibeli, karena nggak ada yang jual, kalau mau Dede bayi itu harus dibuat dulu, dan nunggunya lama, apa El nggak papa nunggu lama?", tanya Dila.
Bukannya menjawab, justru El menatap ayahnya, " ayah, apa nggak papa kalau nunggunya lama?".
Indra langsung gelagapan saat El bertanya padanya. Anak kecil memang masih sangat polos dan belum bisa menjaga rahasia.
Dila langsung melotot ke arah Indra, Indra hanya cengengesan saat akal bulusnya ketahuan.
" Jadi ayah...biang keroknya. Yang pengen punya Dede bayi itu ayah ya El?", selidik Dila.
El mengangguk mengiyakan, terbongkar sudah kecurangan Indra.
" Gimana kalau sekarang El dan ibu mandi dan membersihkan diri di tempat bilas sana, nanti kita makan siang di restoran terdekat?, ayah sudah lapar nih, sudah siang". Indra sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
" Ya sudah, ayo El, kita mandi dan ganti baju dulu, nanti sambil El pikirkan baik-baik El mau apa ya?, soalnya kalau mau Dede bayi, itu dikasihnya lamaaaa banget, nggak bisa langsung jadi", Dila masih berusaha mempengaruhi El agar permintaannya dirubah.
Indra nampak salah tingkah, dan hanya cengengesan karena Dila terus menatapnya dengan sinis.
Indra lebih dulu memesan beberapa menu masakan seafood dan memilih tempat duduk yang paling nyaman di restoran itu. Indra keluar lagi setelah memesan itu semua, menunggu Dila dan El keluar setelah membersihkan diri.
15 menit kemudian Dila dan El sudah keluar, Indra melambaikan tangan pada mereka, El dan Dila pun menghampiri Indra, mereka masuk ke restoran dengan olahan seafood.
Udang krispi, oseng cumi cabai hijau, kerang hijau saus tiram, tomyam seafood, capcay seafood juga sate kerang, menjadi menu makan siang mereka hari ini.
" Ayah pasti sangat lapar ya El... pesen makanannya banyak banget", sindir Dila, namun lagi-lagi Indra hanya nyengir kuda, masih malu pada Dila karena akal bulusnya ketahuan.
__ADS_1