
Meski berada di luar negeri, Dila merasa sama saja seperti sedang berada di Indonesia. Mungkin karena masih serumpun, orang-orang nya mirip dan bahasa mereka juga hanya berbeda sedikit.
Mungkin jika ke luar negerinya ke Eropa atau Afrika baru akan sangat terasa perbedaannya, karena dari wujud orangnya saja sudah berbeda, apalagi bahasa dan gaya hidupnya.
Dila sengaja mengajak Arsy jalan-jalan ke luar rumah saat pagi hari, selain berjemur dibawah matahari pagi agar tubuh sehat, Dila juga ingin mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari orang Malaysia.
Suasana jalanan depan rumah sepi, mungkin karena mereka tinggal di komplek perumahan elit sehingga orang-orang nya jarang bersosialisasi, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Namun saat ada yang lewat dan berjalan kaki, orang itu menyapa dan tersenyum ramah.
Dila juga membalas senyuman orang itu, hanya sebatas berbalas senyum saja, tidak lebih. Karena Dila juga baru pernah melihat orang itu.
" Bu Apa perlu kita coba keliling agak jauhan, kata Tante Indri ada taman bermain di belakang komplek", ujar El yang berjalan di samping Dila sambil ikut menjaga Arsy adiknya.
" Nggak usah sayang, jangan terlalu jauh jalan-jalan pagi nya, kata nenek setelah sarapan pagi kita akan di ajak ke menara Petronas, jadi jangan terlalu capek dulu, perlu simpan tenaga juga buat perjalanan nanti".
Saat Dila hendak memutar balik ke rumah Indri tiba-tiba seorang menyapanya.
" Maaf apa anda orang Indonesia?", ada seorang gadis muda yang sedang membuang sampah di tempat sampah depan rumah besar yang ada di ujung jalan menyapanya.
" Iya betul, apa mbak juga sama?", tanya Dila balik.
Gadis itu langsung mengangguk cepat, " Betul sekali, saya asli orang Cilacap, tahu Cilacap?, masih provinsi Jawa tengah. Yang ada banyak pantainya, dan dekat dengan pulau Nusa Kambangan", ucap gadis itu mencoba menjelaskan.
Dila tersenyum melihat betapa semangatnya gadis itu memberi tahu tempat tinggalnya dimana.
" Tentu saja tahu, saya aslinya Banyumas Mba, masih tetangganya Cilacap", jawab Dila sambil tertawa kecil.
Dila menatap gadis yang baru saja membuang sampah itu, dari gaya berpakaian dan penampilannya sepertinya gadis itu sedang bekerja sebagai ART di rumah mewah itu.
__ADS_1
" Apa mba bekerja disini?", tanya Dila penasaran.
Gadis itu langsung mengangguk cepat. "Saya disini jadi pembantu Mbak, kerja bersih-bersih rumah, tapi rumah juga nggak pernah kotor, kerjaannya ringan, yang tinggal disini, maksudku majikan ku jarang pulang ke rumah yang ini, seringnya pulang ke rumah satunya lagi, tempat tinggal orang tuanya", ucap gadis itu menjelaskan.
Tiba-tiba gadis itu menyodorkan tangannya untuk bersalaman, setelah mencuci tangannya terlebih dahulu di kran yang ada di samping pintu gerbang.
" Saya Ningsih, panggil saja Ning, Mbak namanya siapa?, asli Banyumas, disini kerja juga apa lagi berlibur?", tanya Ning sambil menatap Dila lekat. " Kalau dari yang saya lihat sepertinya mbak bukan pembantu seperti saya".
Dila tersenyum mendengar tebakan Ningsih, entah menilai dari mana nya dia menebak, padahal baju yang Dila pakai juga pakaian yang biasa dipakai sehari-hari. Kenapa Ning tidak menebak jika dirinya juga bekerja di Malaysia sebagai pengasuh anak-anak.
" Namanya Bu Dila, dia ibuku dan Arsy itu adikku, kami sedang berlibur di rumah Tante Indri, itu yang rumah catnya berwarna putih", El sengaja menjawab pertanyaan Ningsih terlebih dahulu sebelum Dila menjawabnya.
Ningsih menatap rumah Indri, " Jadi ada penghuni komplek sini yang asalnya dari Indonesia toh, saya baru tahu", ujar Ningsih.
" Sepertinya mba Ning betah kerja disini?, belum menikah ya mba?", tanya Dila menebak, saat Ning sih masih menatap ke rumah Indri sambil memegang sapu.
" Dan sekedar informasi, saya sudah berkeluarga mba, bahkan sudah punya anak perempuan satu masih kecil, baru dua tahun, saya tinggal kerja disini, di Indonesia yang merawat mertua saya. Maklum suami nggak punya pekerjaan tetap, kadang ikut jadi tukang bangunan, kadang malah nggak kerja kalau lagi nggak ada yang nyuruh, makanya saya yang tulang rusuk ini menggantikannya menjadi tulang punggung keluarga". terang Ningsih.
Dila seketika jadi merasa kasihan pada Ningsih, setelah mengetahui kebenarannya, jika dia sudah punya suami dan anak di Indonesia.
" Apa nggak coba nyari pekerjaan yang di Indonesia saja, biar bisa ketemu sama anak dan suaminya tiap hari, kenapa malah milih merantau jauh ke negeri orang?", tanya Dila yang tidak habis pikir.
Ternyata wanita yang ada di hadapannya yang dikira masih gadis, justru sudah berkeluarga dan punya anak kecil. Bagaimana bisa seorang ibu sampai memutuskan meninggalkan anaknya yang masih kecil demi pekerjaan sebagai pembantu. Seberapa gaji yang di dapatkan oleh nya sampai harus berpisah dengan si buah hati?.
" Mana bisa kumpulin uang kalau kerja tiap hari pulang ke rumah, tiap dapat duit pasti langsung habis mbak.... Saya pengen bagusin rumah saya, tiap bulan saya kirim uang ke suami, buat bagusin rumah sama buat kasih upah ke ibu mertua".
Mendengar cara berbicara Ningsih Dila sekarang paham tipe wanita seperti apa Ningsih itu.
__ADS_1
Dila hanya mengangguk tanpa berkomentar lagi, " Semoga tetap betah ya kerja disini, biar bisa kumpulin uang buat bangun rumah. Semoga sehat selalu", ujar Dila sambil berbalik dan kembali menuju rumah Indri.
Dalam hatinya Dila sangat tidak setuju dengan pemikiran Ningsih sebagai seorang ibu. Bagaimanapun anaknya yang masih kecil dan polos, sangat butuh sosok ibu berada di sampingnya.
Tapi Sayang Dila juga tidak berhak menceramahi orang yang baru dikenalnya seperti Ningsih, bahkan Dila tidak tahu seberat apa perjuangan Ningsih berusaha menghidupi keluarganya.
Sampai sebagai ibu muda dia terpaksa harus meninggalkan anak dan suaminya jauh di perantauan. Yang hanya bisa pulang setahun sekali. Tidak ada yang tahu seberapa besar rasa rindu pada suami dan anaknya. Mungkin Ningsih sering menangis sendiri jika merindukan keluarganya yang berada jauh di Indonesia. Namun tak di sampaikan nya pada siapapun.
Dila berjalan sampai dirumah Indri sambil terus memikirkan nasib orang lain yang tak seberuntung dirinya. Saat menyadari betapa dirinya sangat beruntung menjadi istri Indra, menjadi menantu Fatma dan Rizal. Dan menjadi Ibunya El dan Arsy yang bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka setiap hari. Rasanya Dila jadi sangat bersyukur atas semua kebahagiaan yang dilimpahkan kepada nya.
" Habis jalan-jalan kemana sayang?, kok nggak ngajak ayah?", Indra yang sedang berada di halaman rumah sambil duduk santai membaca berita online di ponselnya menghampiri Dila dan El yang baru kembali dari jalan-jalan nya.
" Tadi ayah lagi di kamar mandi, kelamaan nunggu ayah keluar, lagian cuma muter-muter di jalanan depan rumah, nggak jauh-jauh, kata Bu Dila nanti nenek mau ajak lihat menara Petronas habis sarapan", ucap El dengan wajah sumringah karena hendak diajak jalan-jalan.
" Iya, nggak tahu tadi ayah tiba-tiba mules, jadi lumayan lama di kamar mandinya. Ayah boleh ikut lihat menara kembar Petronas kan?", tanya Indra mengiba.
" Iya, ayo sekarang kita semua sarapan bersama dulu, baru nanti semuanya siap-siap buat jalan-jalan ke menara Petronas", seru Fatma yang keluar dari rumah dan mengajak yang lain sarapan bersama. Hari ini Fatma dan Indri membantu bibi masak di dapur, karena mereka masak makanan cukup banyak. Karena itulah Indra duduk sendiri di halaman rumah, karena suami Indri harus menjaga putri mereka saat Indri membantu masak di dapur.
Usai makan dan berkemas, akhirnya mereka sekeluarga berangkat menuju menara Petronas, tentu saja tetap membawa kendaraan, meski menaranya terlihat dari jendela rumah, tapi jika di dekati dengan jalan kaki lumayan jauh juga, karena itulah Indra dan suami Indri tatap membawa mobil masing-masing untuk mengangkut semua anggota keluarga yang ingin ikut.
Sampai di depan menara, mereka semua langsung mengabadikan momen dengan berfoto-foto dari foto yang selfy hingga foto bersama-sama sekeluarga.
Dila juga mengirimkan fotonya bersama Indra, El, dan Arsy yang berada di antar dua menara kembar Petronas pada Siti, ibunya di kampung.
~ Anak ibu lagi diajak jalan-jalan di Malaysia ke rumah adik ipar ~
Dila hanya mengirim pesan itu di bawah foto yang dia kirim ke ibunya
__ADS_1
Namun Dila kembali menonaktifkan datanya, kalau tidak pasti sang ibu langsung menelepon atau melakukan video call. Karena sang ibu biasanya rasa penasarannya terlalu besar.