
Pagi hari Siti sengaja bangun lebih awal, dan meminta Bi Darsih untuk menemani nya pergi ke pasar. Sesuai adat di desanya, setiap kali ada seseorang yang melahirkan, maka dari pihak keluarga akan menyiapkan 'mapasan', yaitu membeli berbagai macam jajan yang ada di pasar untuk di makan oleh yang baru lahiran.
Kalau di kampung biasanya hanya perlu pergi ke pasar badog, karena di sana sudah tersedia berbagai macam jajan pasar, sedangkan di Jakarta, Siti belum pernah pergi ke pasar, karena itulah, Siti mengajak Darsih yang sudah biasa ke pasar untuk menemaninya.
Ari yang sengaja menginap di rumah itu pun mengantarkan Siti dan Darsih ke pasar tradisional. Pagi itu pasar sudah ramai oleh pedagang dan juga pembeli yang sedang tawar menawar.
" Ke arah sini Bu Siti, lorong penjual jajan pasar yang lengkap itu yang di tengah", ujar Darsih memberi tahu.
Siti mengikuti Darsih dan benar, di lorong tengah pasar ada beraneka ragam penjual jajan pasar. Siti pun membeli serba sedikit, karena makanan untuk napas memang hanya perlu mencicipi sedikit-sedikit saja.
Berbagai macam jajan pasar kini sudah masuk di dalam tas belanja yang Darsih bawa. Pagi ini Darsih juga belanja cukup banyak sayuran dan bumbu, karena sedang ada banyak penghuni di rumah, dan harus masak lebih banyak setiap harinya.
Pulang dari pasar pukul 7 pagi, Siti langsung meminta pada Ari agar di turunkan di rumah sakit Medika, karena Siti hendak langsung menjenguk Dila ke kamarnya.
" Kamarnya yang di ujung lorong pertama kan Ar?", Siti mengulang kalimat nya, untuk memperjelas.
" Betul Bu Siti, kamar VVIP nomer 2", ulang Ari, karena sejak di mobil tadi Ari sudah mengulang berkali-kali ucapannya.
Siti langsung berjalan memasuki rumah sakit dengan langkah penuh semangat. Di tangannya membawa kantong belanja berisi berbagai macam jenis jajan pasar. Hampir semua jajan pasar dibeli oleh Siti. Juga tiga bungkus bubur ayam, untuk sarapan dirinya, Bu Fatma dan juga Indra.
Saat menemukan kamar persis seperti yang Ari katakan tadi, Siti langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Pintu kamar langsung terbuka, ternyata Indra yang membuka pintu kamar Dila, terlihat Bu Fatma tengah menggendong bayi kecil sambil mengajaknya bicara.
" Masuk Bu, si kecil baru saja selesai minum ASI, sekarang sedang digendong sama neneknya biar bersendawa", ujar Indra mempersilahkan ibu mertuanya masuk, sambil mencium punggung tangan Siti.
Siti langsung mendekat ke Dila dan memeluknya dengan sangat erat, " Putri ibu ternyata sangat kuat dan hebat, ibu bangga sama kamu nak..., kamu sudah jadi seorang ibu yang sesungguhnya, selamat ya sayang".
Dila mengangguk di dalam pelukan ibunya, sekarang Dila tahu bagaimana perjuangan ibunya dulu saat berusaha melahirkannya. Dila jadi semakin menyayangi ibunya jauh lebih besar dari sebelumnya.
__ADS_1
" Terimakasih banyak ya Bu... atas perjuangan ibu saat berusaha melahirkan Dila dulu".
Siti hanya mengangguk mendengar ucapan Dila, setelah puas saling berpelukan cukup lama. Siti menghampiri besannya, dan menatap wajah cucu pertamanya dengan senyuman bahagia.
" Bu Fatma sarapan dulu, nemenin Nak Indra sarapan, biar Dede bayi sama saya", ujar Siti, sambil menuju kamar mandi, mencuci tangannya dengan sabun, karena dirinya habis dari pasar, bertemu dengan orang banyak, takut menempel banyak kuman di tangannya.
Setelah mencuci tangan Siti menggendong cucunya bergantian dengan Bu Fatma.
" Masya Allah, Dede bayi gembil banget pipinya.... mirip Bu Dila saat baru lahir, mirip banget", gumam Siti sambil menciumi pipi cucunya yang seperti bakpao.
" Nak Indra dan Bu Fatma silahkan dimakan itu bubur ayam, tadi beli di pasar, sekalian beli mapasan buat Dila, Dila juga dicicipi itu semua jajan pasar yang sudah ibu beli, sebelum Dede bayi lepas tali pusarnya, kamu harus sudah mencicipi semuanya, meski hanya sedikit, kalau orang kampung bilang 'mapas', di Jakarta ada semacam itu apa nggak Bu Fatma?", tanya Siti sambil menggendong cucunya.
Fatma yang sedang membuka bungkusan bubur ayam menengok, " Nggak ada ritual semacam itu Bu Siti. Nggak harus makan semua jenis makanan seperti itu, yang penting makan makanan sehat dan bergizi, biar produksi ASI nya lancar, ibu dan bayinya sehat", jawab Fatma.
Siti mengangguk, " Iya juga sih ya... mungkin orang kampung jaman dulu juga tujuannya seperti itu, biar ibu yang baru melahirkan makan banyak, hanya saja jadi seperti sebuah tradisi, orang yang baru melahirkan disuruh mencicipi semua jenis makanan".
" Makasih buat sarapannya ya Bu..., apa bapak dan Dita masih di rumah?", tanya Indra sambil membuang bekas tempat bubur ayam miliknya yang sudah habis.
" Oh iya kalau nak Indra dan Bu Fatma capek, karena semalaman begadang nungguin si kecil, sekarang kalian bisa istirahat. Biar saya yang jagain Dila di sini", ujar Siti.
" Siapa bilang kami capek dan ngantuk, orang semalam Dede bayi nya tidur mulu, karena ASI nya Dila baru keluar tadi lagi, semalam sama suster di kasih susu formula. Eh kekenyangan mungkin, sampai si kecil tidurnya pules banget, bangun-bangun itu tadi pagi habis subuh, mungkin karena lapar lagi, untung saja pas di coba minum Asi secara langsung, sudah keluar Asi nya Dila, jadi nggak perlu bikin susu formula lagi", terang Fatma.
" Jadi anteng ya cucu nenek, syukur alhamdulilah kalau begitu, jadi ibunya bisa banyak istirahat".
" Kamu cuti atau berhenti ngajar?", tanya Siti pada Dila.
Siti memang belum tahu jika Dila sedang mengikuti seleksi CPNS tahun ini. Dan tinggal menunggu hasil akhir, bahkan kemarin Dila merasa perutnya mulas juga usai mengikuti ujian terakhir tes CPNS. Untung saja si jabang bayi sabar nunggu ibunya selesai mengikuti tiap tahapan seleksi.
Beberapa minggu lagi tinggal menunggu pengumuman lulus tidaknya peserta, dan dari semua aspek Dila merasa tenang, karena semua hasil dari tesnya sangat baik.
__ADS_1
" Dila cuma cuti Bu, lagian kan sekarang lagi pergantian tahun ajaran baru, murid-murid yang kemarin sedang liburan kenaikan kelas. Jadi Dila libur juga, mulai ngajuin cuti saat ajaran baru dimulai. Kepala sekolah sudah mencari guru pengganti sementara untuk mengajar di kelas Dila. Lagian jarak sekolahan ke rumah nggak jauh-jauh amat, Dila bisa pulang saat istirahat untuk memberikan Asi sama si kecil, dan jam pulangnya juga jam 1, jadi waktu Dila masih banyak buat si kecil", ujar Dila.
Dirinya memang sudah kerasan menjadi seorang pengajar, tanpa mengurangi rasa sayangnya pada sang anak yang baru lahir, karena saat Dila mulai berangkat nanti, si kecil sudah berusia lebih dari 3 bulan, jadi sudah semakin besar dan apalagi pekerjaan menjadi guru itu tidak berlarut-larut seperti bekerja di perusahaan yang jam pulangnya sampai sore.
" Jadi saat kamu berangkat nanti, kamu mau menitipkan anakmu sama siapa?, ibu sih mau saja tinggal disini ngurus cucu ibu, tapi bapakmu punya banyak pekerjaan di kampung, nggak bisa ditinggal begitu saja", ujar Siti.
" Ada saya Bu Siti, saya pasti akan dengan senang hati menjaga cucu saya, apalagi sekarang El sudah semakin besar, dan mandiri. Sudah masuk SD, biasa berangkat dan pulang dengan Dila, jadi si kecil biar saya yang jaga. Nggak perlu sewa baby sitter, karena pekerjaan mengajar itu memang cuma sampai siang. Lagian dirumah ada Bi Darsih, ada Bi Ana, mereka semua itu sudah seperti keluarga sendiri, bisa saling membantu", ujar Fatma.
Indra sejak tadi terus diam, dirinya tidak ingin ikut bicara, khawatir Dila merasa tidak nyaman jika Indra bicara, takut dikira sedang protes, karena Indra tidak mau Dila marah. Indra harus menjaga mood Dila tetap bagus. Apalagi istrinya itu baru saja melahirkan, pasti butuh dukungan, bukan malah mendapat kritikan.
" Ada banyak orang dirumah, kami semua bisa saling bekerja sama mengurus adik bayi, ibu tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja, apalagi Dila sangat pandai mengurus anak kecil. Pasti putri kami kelak akan menjadi anak yang baik seperti Dila", ujar Indra sambil merangkul bahu Dila, seolah memberi semangat.
Dila sebenarnya sudah lebih dahulu khawatir jika Indra akan menyuruhnya resign dari pekerjaannya, untuk apa bekerja kalau semua kebutuhannya bisa Indra penuhi, sedangkan mengurus bayi itu sudah menjadi kewajiban seorang ibu.
Namun ternyata Indra tidak mempermasalahkan keinginan nya untuk tetap bekerja. Dan itu membuat Dila semakin bersyukur mendapatkan suami yang sangat mengerti akan dirinya.
" Makasih banyak ya Mas, selama ini kamu selalu mendukung setiap keputusan ku, aku pasti akan berusaha menjadi ibu dan istri yang baik, buat kamu dan anak kita", ujar Dila sambil berkaca-kaca.
" Sekarang tinggal Bu Siti yang sarapan, mumpung bubur ayamnya masih anget, biar adik bayinya sama saya", baru selesai Fatma bicara, dua orang suster masuk ke kamar, satu membawa jatah makan Dila, satu lagi hendak memandikan Dede bayi.
" Adik bayinya biar mandi dulu dengan saya, ibunya silahkan sarapan dulu yang banyak, apa Asi nya sudah keluar Bu Dila?", tanya Suster yang meletakkan jatah makan Dila di meja kecil samping ranjang.
" Alhamdulillah sudah keluar tadi pagi Sus, lumayan banyak juga", jawab Dila singkat.
" Bagus, kalau begitu mulai sekarang adik bayi bisa langsung minum Asi ekslusif saja selama 6 bulan, jangan di beri yang lain dulu ya Bu", ujar sang suster.
Dila. mengangguk mengerti. Suster yang membawa nampan berisi makanan, ikut membantu suster yang hendak memandikan adik bayi.
" Apa sudah punya bakal nama buat si kecil Pak Indra?", tanya Suster itu.
__ADS_1
Indra menggeleng, " belum dipikirkan sebelumnya Sus, biar nanti saya diskusikan lagi dengan istri", ujar Indra sambil menatap Dila dengan senyuman mengembang.
" Baiklah kalau begitu, sebenarnya itu untuk persyaratan rumah sakit, jadi kalau bisa diskusikan dengan istri secepatnya ya Pak, nyari di internet sekarang nama-nama yang bagus-bagus itu banyak banget", ujar Suster sambil memandikan Dede bayinya Dila.