
Siang harinya Ari yang menyetir mobil terus menyetir mobilnya saat sang majikan dan semua anggota keluarganya tertidur pulas di dalam mobil.
Meski tadi Dila mengatakan pada El akan membangunkannya jika sudah masuk waktu Dzuhur sekalian mampir makan siang, tapi ternyata justru mereka sekeluarga tidur semua. Termasuk si kecil Arsy yang tidur di atas pangkuan Dila.
Suasana perjalanan jauh memang seringkali membuat mata lelah dan mengantuk, apalagi dari yang di dengar Ari tadi, bahwa mereka semua semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sehingga Ari membiarkan mereka tidur. Untuk makan dan sholat duhur nanti saja saat mereka semua sudah bangun sendiri.
Namun ternyata tidur mereka semua begitu pulas, hingga baru terbangun saat pukul 3 lebih, tepatnya sudah masuk waktu asar.
" Mas Ari, kenapa nggak bangunin kita dulu?, kan jadi kelewat waktu dzuhurnya, kalau untuk makan siang sih di paperbag ada beberapa kue yang tadi di bawakan sama ibu, bisa makan itu dulu, air juga ada, tapi sholatnya bagaimana?", protes Dila merasa kesal dengan Ari yang tak membangunkan dirinya.
" Sudah sekarang saja kita mampir, di restoran yang dekat, sekalian kita sholat di sana, kan bisa di jamak dzuhurnya. Bukan di sengaja kan, kita tidur semua tadi", Indra menyuruh Ari untuk mampir di restoran yang paling dekat.
Setelah mampir makan siang dan numpang sholat, merekapun melanjutkan perjalanan.
" Sebentar lagi sudah masuk wilayah Jakarta timur, jadi nggak sampai maghrib sudah sampai di rumah, maaf ya kalau tadi lupa nggak bangunin, saya nggak tega lihat wajah capek kalian semua waktu tidur, apalagi tadi bos sampai mendengkur, pasti karena saking lelahnya", ujar Ari memohon maaf.
" Ya sudah sekarang kita lanjutkan perjalanan. Sudah jam 4 sore, usahakan sampai rumah sebelum Maghrib ya Ar, rasanya kurang puas tidur di mobil, pengen tiduran di kasur dan merebahkan diri".
Mereka cukup lama di restoran bukan karena makan berbagai macam makanan, tapi karena Dila harus memberi ASI terlebih dahulu untuk Arsy usai makan. Indra memang tidak pernah membiarkan Dila menyusui Arsy di tempat terbuka, atau di tempat umum, karena Indra paling tidak suka jika ada laki-laki lain yang melihat bagian tubuh Dila yang tidak seharusnya dilihat.
Termasuk di dalam mobil, karena ada Ari yang menyetir di dalamnya, Indra tidak rela ada laki-laki lain melihat keindahan tubuh sang istri. Over protektif...
" Oke, kita lanjutkan perjalanan, apa El sudah siap?, are you ready?", tanya Ari setelah mereka semua berada di dalam mobil.
El mengangguk, " I am ready go to home!", seru El dengan semangat. Sepertinya setelah tidur cukup lama di dalam mobil, dan setelah mengisi perut dengan makanan, El sudah kembali semangat.
Dan benar mereka sampai sebelum waktu maghrib, karena jam 5 mereka sudah sampai di rumah.
Bi Darsih dan bi Ana langsung mengajak Arsy bermain-main dengan mereka, sudah seminggu tidak bertemu dengan bayi cantik itu, membuat dua bibi yang sudah seperti nenek Arsy itu merasa sangat rindu.
" Aduh Arsy cantik, akhirnya kembali ke rumah juga, nenek Darsih dan nenek Ana kangen banget sama Arsy".
Mereka berdua memang yang membantu mengurus Arsy sejak kecil, hingga rasanya rumah menjadi sangat sepi saat Arsy tidak ada.
Setelah Dila menyerahkan Arsy pada kedua bibi, dia pun masuk ke kamar untuk menaruh kopernya, dan Indra mengikutinya dari belakang.
" Aku sampai lupa tidak menyampaikan salam dari ayah dan ibu buat Dita dan bapak ibu di kampung", Indra menepuk jidatnya sendiri, saat sampai di kamar dan duduk di sofa kamar.
__ADS_1
Rasa was-was dan khawatir dengan keberadaan Nino yang serumah dengannya membuat Indra lupa tidak menyampaikan salam dari orang tuanya untuk kedua mertuanya.
Fatma dan Rizal memang sengaja pergi ke Malaysia, ke rumah Indri, awalnya mumpung Dila sedang liburan ke kampung, karena rencana awal juga Dila akan liburan beberapa hari di kampung.
Namun ternyata di kampung bukannya liburan, justru Dila di sibukkan dengan sederet acara dari lamaran hingga pernikahan sang adik yang sangat dadakan.
Karena itulah Dila hanya mengabari kedua mertuanya lewat telepon.
Fatma dan Rizal yang tanggung sudah sampai di Malaysia hanya titip salam untuk besannya, dan juga meminta Indra untuk membuatkan amplop untuk di sampaikan kepada besannya itu.
Sayangnya justru Indra melupakan pesan yang dibuat orang tuanya. Dia terlalu fokus pada Nino yang gelagatnya masih mencurigakan baginya.
" Bagaimana ini sayang, amplop dari ibu malah Mas bawa pulang lagi, apa pantes orang kondangan tapi transfer?", tanya Indra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dila hanya manyun, " Kok bisa sih sampai lupa begitu, mas lagi banyak pikiran apa gimana sih?, dari kemarin sampai di kampung aku perhatiin Mas itu sikapnya jadi aneh banget", Dila menatap Indra dengan tatapan menyelidik.
" Mas nggak lagi merahasiakan sesuatu dari ku kan?", tanya Dila.
" Rahasia apa?, kamu ini jangan mikir yang aneh-aneh deh... nggak ada rahasia apapun, Mas selalu cerita semua hal sama kamu, lagian mau rahasiain apa dari kamu?", ujar Indra.
Indra masih tidak mau memberi tahu Dila jika sampai saat ini dirinya masih belum yakin dengan perasaan Nino pada Dita. Karena cara menatap Nino ke Dila dan Dita itu jelas beda. Masih jauh lebih dalam saat melihat Dila.
Secara tidak langsung pernikahan Dita dan Nino membantu menyembuhkan rasa bersalah Dila pada mantannya.
Jadi Indra mendapatkan untung dari pernikahan adik iparnya itu, dan berharap, jika Nino itu benar-benar laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, agar hubungannya dengan Dita akan awet hingga akhir hayat.
" Nanti saja Mas nyuruh salah satu orang kepercayaan Mas yang sedang bekerja memantau pembangunan hotel untuk menyampaikan amplop ini, rasanya aneh jika kondangan tapi di transfer, meski sekarang era digital, tapi tetep saja aneh".
" Atau menurut kamu sayang, apa buat beli barang apa di kirim ke rumah ibumu?, di sana Mas juga sudah punya kenalan bos furniture", ujar Indra.
" Terserah Mas saja mau bagaimana, buat beli lemari besar buat nyimpan perabot juga sepertinya berguna, Mas lihat kan kemarin?, kado yang di dapat Dita dari teman-temannya sangat banyak, pasti butuh lemari buat nyimpen itu kado".
" Belum lagi barang seserahan dari Nino, yang membawa hampir semua perabotan dapur, dari yang kecil sampai yang besar, pasti butuh lemari untuk menyimpan, ya sudah kirim lemari dengan ukuran yang besar saja Mas, pasti akan sangat berguna", ujar Dila menyampaikan idenya.
" Kalau begitu biar Mas telepon teman Mas sekarang juga, biar itu dikirim hari ini juga".
Indra langsung menghubungi temannya yang seorang bos furniture.
__ADS_1
" Iya Koh, tolong dikirim ke alamat yang nanti aku kirimkan, lemari yang paling besar itu, yang ada di belakang Kokoh, yang warnanya putih, tolong dikirim dan sampaikan itu kiriman atas nama Bu Fatma ya, makasih banyak koh".
Indra langsung merebahkan diri di kasur setelah selesai bervideo call dengan temannya itu. " Masalah sudah terselesaikan, makasih ya sayang kamu selalu kasih ide cemerlang, membuat aku merasa beruntung punya istri secerdas kamu".
Indra langsung menarik Dila yang duduk di tepian kasur ke dalam pelukannya. Namun Dila langsung menolak dan kembali duduk.
" Pintu kamar terbuka lebar begitu kok Mas malah peluk-peluk, pengen Bi Darsih apa bi Ana melihat kita lagi pelukan?, atau justru pengen El yang melihatnya?".
Indra hanya meringis ketika Dila menggerutu.
Karena benar saja, baru beberapa detik Dila selesai bicara, El langsung lari dan masuk ke dalam kamar mereka sambil menunjukkan ponselnya yang menampakkan wajah sang nenek.
" Bu Dila, ayah, ini nenek Fatma mau ngomong katanya", ucap El sambil menyerahkan ponselnya.
" Iya Bu, kenapa?", tanya Dila sambil menatap layar ponsel El.
" Kalian baru sampai rumah ya?, gimana kalian semua sehat kan?, Apa Arsy anteng diajak perjalanan jauh?", suara Fatma nyaring terdengar.
" Alhamdulillah anteng Bu, ibu kapan balik?", tanya Dila.
" Masih lama, soalnya Indri minta ibu disini seminggu lagi, malah nyuruh ibu buat nyampein ke kamu liburannya ke Malaysia saja, nanti Indri yang akan jadi tour guide nya".
Dila nampak berfikir setelah mendengar ucapan sang ibu mertua. Dirinya belum pernah keluar negri, apa dia gunakan kesempatan liburan yang tinggal seminggu ini untuk ke Malaysia. Lagian dari pada uang miliknya tidak pernah dipakai, " berkunjung ke Malaysia ke rumah adik ipar, sekaligus bertamasya tidak ada salahnya juga", pikir Dila.
" Kalau Dila sih ngikut persetujuan dari Mas Indra Bu..., gimana Mas, apa mau pergi ke Malaysia, ke rumah Indri sekalian liburan di sana?, aku belum pernah ke luar negri, nggak berani kesana sendiri", ujar Dila.
Indra langsung mengangguk setuju, " Boleh juga ide kamu, jadi kita mau nyusul ibu ke Malaysia kapan?", kini giliran Indra yang bertanya pada Dila.
" Lusa saja ya Bu, kita nyusulnya. Soalnya besok hari minggu Dila mau istirahat dulu seharian, capek banget kemarin di kampung acaranya padet banget", jawab Dila.
Fatma langsung tersenyum sumringah, " Beneran ya Dila, ibu tunggu loh kedatangan kalian", ucap Fatma.
Mereka pun mengakhiri obrolan setelah semua keputusan sudah diambil dengan jelas.
" Jadi lusa kita nyusul nenek ke rumah Tante Indri Bu?", tanya El memperjelas.
" Betul sayang, kita akan jalan-jalan ke Malaysia beberapa hari disana, apa El suka?", tanya Dila.
__ADS_1
" Ye.... El suka banget, bakalan ketemu sama Tante Indri dan putri nya", ucap El sambil berjingkrak-jingkrak saking senangnya.