Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 130


__ADS_3

Jam 7 pagi semuanya berkumpul di meja makan, termasuk Fatma dan juga Rizal yang sengaja datang ke rumah Indra pagi-pagi sekali.


Mereka semua hendak sarapan bersama sambil membahas tentang pemberian nama sekaligus acara aqiqah untuk Arsyila. Memang baru 3 hari sejak Arsyila dilahirkan, namun kedua nenek dan kakeknya selalu saja memikirkan segala sesuatunya dengan sangat cepat.


Sambil menunggu Bi Darsih dan bi Ana menyiapkan makanan dan peralatan makan di meja, Fatma dan Siti terus mengobrol membahas tentang acara aqiqah yang rencananya akan mereka pasrahkan kepada salah satu kenalan Fatma yang mempunyai jasa pengurusan aqiqah dari mulai penjualan kambing, penyembelihan, hingga proses memasak. Jadi semua kambing dikirim kerumah sudah dalam wujud makanan matang, baik yang untuk paresmanan, maupun yang di kemas di box makanan.


Kedua nenek muda itu baru berhenti mengobrol saat semua masakan sudah tersaji di meja makan, semua orang pun sarapan pagi bersama, kecuali Dita yang masih di kamar dan belum bangun tidur.


" Tante Dita minta di tinggal saja sarapannya, katanya lagi kurang enak badan", ujar El yang seolah menyampaikan pesan dari Dita, padahal itu karangannya sendiri.


Si kecil Arsyila juga sedang tidur dengan pulasnya, karena itulah Dila dan Indra bisa ikut sarapan pagi bersama yang lain di ruang makan.


" Apa hari ini nggak ngantor Pak Rizal?", tanya Toto yang sudah menghabiskan sarapannya lebih cepat dari yang lain.


" Enggak Pak Toto, sudah nyuruh sekertaris untuk menghandle semua pekerjaan hari ini, dan menggeser meeting esok saja. Lagian sebenarnya saya sudah ingin pensiun, dan istirahat menikmati masa tua, bekerja sudah sangat lama, lebih dari 30 tahun, umur juga sudah kepala 6, rasanya ingin menyerahkan semuanya sama anak-anak. Tapi Indri di Malaysia, sedangkan Indra punya perusahaan sendiri yang bahkan lebih besar dari usaha ayahnya".


" Jadi mau tidak mau masih harus berangkat untuk mengecek pekerjaan bawahan, meski sekarang sudah memilih beberapa orang kepercayaan di tiap cabang, tapi kadang masih ingin mengecek hasil kerja mereka", gumam Rizal pada sang besan.


" Memang jadi seorang pemimpin, apalagi memimpin perusahaan besar dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup banyak karyawan itu menjadi tanggung jawab yang besar bagi tiap pemimpin. Saya salut dengan Pak Rizal karena masih semangat bekerja di usia yang sudah tidak muda lagi".


" Apa iya sudah kepala 6 umurnya Pak Rizal?, sama sekali tidak kelihatan. Seperti sepantaran dengan saya yang baru mau berkepala 5", ujar Toto.


Rizal jadi tertawa lepas mendengar pujian dari sang besan. Memang benar mereka terlihat sepantaran, apalagi kulit Rizal yang putih bersih, membuatnya nampak lebih muda dari usianya, wajar kerjanya di kantor yang dingin dan ber AC, sedangkan Toto yang hari-hari nya sibuk di sawah, warna kulitnya hitam legam, wajahnya nampak lebih tua dari umurnya, tapi untuk kesehatan dan kekuatan bisa diadu dengan yang muda, tidak akan kalah.

__ADS_1


" Pak Toto ini berlebihan, masa iya masih terlihat semuda itu, padahal akhir-akhir ini sendi mulai terasa ngilu, begitu juga dengan pinggang yang mulai sering pegal dan linu", curhat Rizal.


Fatma langsung mendecak. " Ayah itu sekarang jarang olahraga, makanya jadi gampang banget capek, dan nggak enak badan, capek dikit katanya badannya pada sakit. Beda sama Pak Toto, tiap hari ke sawah, ngurus sawah yang pasti selalu berjemur matahari pagi, dan berolahraga, entah itu nyangkul, kasih pestisida atau nanem tanaman, semuanya dilakukan dengan tenaga, makanya meski sudah punya cucu masih tetep sehat dan kuat", ujar Fatma.


Rizal mengangguk, " Benar juga yang ibu bilang, mungkin harus rajin nemenin ibu joging keliling rumah lagi mulai besok. Kalau tidak pasti makin menjadi ini pegal dan linu yang dirasa", Rizal juga sudah selesai makan, dan kini mengambil irisan buah melon sebagi pencuci mulut.


" Hidup di kota dan di desa memang berbeda Bu Fatma, dari mata pencaharian saja sudah berbeda, tempat kerja sangat berbeda, jadi ya memang nggak bisa disamakan. Di desa itu ada untungnya kalau pekerjaan di sawah atau ladang ya seperti yang dikatakan tadi, bisa sekalian berjemur dibawah matahari pagi, juga melakukan olahraga sambil bekerja, karena kebanyakan pekerjaan kasar dan menggunakan otot".


" Beda dengan di kota, yang pekerjaannya di dalam gedung ber AC yang sejuk dan wangi, nggak perlu panas-panasan di bawah terik matahari, pekerjaannya pakai otak, tapi ya begitu.... jadi harus menyempatkan waktu untuk berolahraga karena pekerjaannya kebanyakan hanya duduk saja seharian". Siti ikut serta masuk ke dalam obrolan.


" Sebenarnya tinggal dimana saja ada untung dan ruginya, tinggal bagaimana kita menyikapinya, seperti Dila yang jelas-jelas di kampung banyak pekerjaan, tapi dia justru memilih ke kota untuk mencari pekerjaan seperti yang di inginkan. Semua dengan tujuan yang sama, mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginan", ujar Toto.


" Tapi kan sekarang sudah terbukti, Dila bekerja sesuai dengan keinginannya, sesuai cita-citanya waktu masih kecil. Dan ibu sangat bangga karena hal itu. Dulu ibu selalu berpikir, bagaimana caranya bisa mewujudkan cita-cita Dila. Keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan, belum lagi masih ada adiknya yang juga harus di biayai sekolah. Sudah takut dulu dengan bayangan. Padahal sebenarnya Yang Maha Kuasa sudah punya rencana sendiri yang tidak pernah kita ketahui mau kemana dan bagaimana jalan hidup seseorang".


Siti kembali mengenang masa lalu, saat ketika dirinya begitu nelangsa karena takut tidak bisa membantu mewujudkan cita-cita putrinya.


" Terimakasih ya Nak Indra, sudah mengijinkan Dila tetap mengajar dan menjadi guru, meski Ibu tahu benar, Dila tak bekerja mengajar pun Nak Indra sudah sangat mampu mencukupi kebutuhan Dila, bahkan Ibu yakin bukan hanya cukup, bahkan sampai berlebihan ", imbuh Siti.


Indra menggelengkan kepalanya, " Dila itu sudah sangat banyak menerima kekurangan Indra selama ini Bu, bahkan dia mampu memaafkan kesalahan Indra yang sangat fatal. Jadi bagi Indra memberi ijin Dila untuk mengajar, bukanlah sesuatu yang besar, dibandingkan dengan kesabaran Dila menghadapi sikap Indra selama ini".


Suasana sarapan pagi pun menjadi hangat karena percakapan keluarga yang santai namun mengakrabkan. Dita yang bangun kesiangan pun langsung bergabung dengan yang lain sambil mengajak El bercanda.


" Tante Dita sih, semalam nggak tidur-tidur, makanya bangun kesiangan", El keceplosan karena sejak Dita bergabung dia terus menggelitik El yang tengah makan.

__ADS_1


Dita tidak tahu jika El ternyata tahu dirinya begadang semalaman.


" Benarkah?, tadi El bilang Tante lagi nggak enak badan dan belum mau sarapan?", tanya Siti yang merasa tidak enak dengan sikap Dita yang terlalu santai dan bangun kesiangan saat tinggal di rumah kakaknya.


Mata Elang Siti langsung tertuju pada Dita yang menunduk takut, dan tidak berani membalas tatapan sang ibu.


" El bohong nenek...., Tante Dita itu semalam cuma tiduran, guling kanan, guling kiri, telungkup, terlentang, El lihat itu semua semalam, tapi Tante Dita nggak tahu", ucap El dengan polosnya.


Dita hanya meringis sambil menunduk merasa malu pada yang lain karena ketahuan begadang semalaman.


" Kenapa kamu nggak bisa tidur?, apa AC di kamar El kurang dingin?", tanya Dila penasaran, apa penyebab adiknya susah tidur.


Hanya Indra yang tahu benar alasan adik iparnya tidak bisa tidur semalaman. Karena Indra yang menjadi saksi pernyataan cinta yang dilakukan oleh Nino semalam.


" Dingin kok Kak, semalam hanya nggak bisa tidur saja, nggak tahu kenapa, sudah berusaha merem, tapi tidak bisa juga ", ujar Dita beralasan. Dita hanya mengambil melon ke piringnya. Yang lain sudah selesai makan, dan dirinya sangat malas makan, meski lauk pauk yang tersedia sangat beraneka ragam dan menggiurkan, tapi Dita sedang tidak selera makan karena masih ada ganjalan di hati dan pikiran.


" Mungkin kamu perlu ditemani El untuk jalan-jalan di Jakarta, sekalian liburan disini, lagi liburan sekolah kan Dit?", tanya Indra berusaha mencairkan suasana. Hanya Indra yang paham.


" Iya Tante Dila, El mau banget nemenin Tante jalan-jalan ke tempat tamasya", seru El kegirangan saat mendengar ucapan sang ayah.


" Bagaimana kalau hari ini kita pergi jalan-jalannya Tante?, habis adik bayi bobo terus, jadi nggak bisa diajak main", gumam El, membuat yang lain tersenyum.


Dita nampak berfikir.

__ADS_1


" Nanti bisa diantar sama Ari pakai mobil, anggap saja mengajak El jalan-jalan seharian, kan dirumah sudah ada dua nenek Arsyila yang ikut jagain, jadi nggak perlu khawatirin mba dirumah, kamu liburan saja", ujar Dila, menyuruh sang adik liburan.


Dita akhirnya mengangguk dan setuju untuk mengajak El jalan-jalan hari ini, hanya bertiga dengan El dan Mas Ari yang jadi supir.


__ADS_2