
Bram kembali bergabung dengan yang lain, duduk di depan Dila sambil menatap Dila lekat, hal itu membuat Indra merasa sangat risih.
" Tuker posisi Dil..., ngapain sih kamu liatin istri orang seperti itu?, gerutu Indra tidak suka dengan sikap Bram yang begitu berani mengibarkan bendera perang.
Bram hanya tersenyum sinis, " Apa salah melihat orang yang ada di depannya?, semua orang yang ada disini juga saling melihat satu sama lain, mereka semua kan punya mata, jadi jangan salahkan aku kalau aku liatin Dila terus, Dila nya juga diam saja aku lihat sejak tadi. Itu karena dia tahu, orang lain berhak untuk melihatnya, ini tempat umum bro...", ujar Bram santai.
" Dil, sebaiknya kita pulang saja, disini rasanya emosiku semakin meningkat pesat. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku dan lepas kontrol di tempat umum seperti ini", Indra menarik tangan Dila.
" Sori Lit , Mas Bram, aku duluan ya, nanti kalian pulang pesen taksi online saja", ucap Dila sambil berjalan cepat mengikuti Indra yang masih terus menariknya.
Indra langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat, padahal jalanan Jogja malam itu cukup ramai, tapi Indra terus dan terus melajukan mobilnya membelah jalanan tanpa tahu arah dan tujuan.
Awalnya Dila tetap diam karena tahu Indra sedang marah, namun Indra melajukan mobil seenaknya sendiri, tanpa tahu arah.
" Kita mau kemana Mas?", tanya Dila saat mengetahui Indra tidak berbelok ke arah rukonya.
" Mas, ini arahnya salah, kita semakin jauh dari ruko dan penginapan kamu", ucapan Dila masih saja tidak membuat Indra memperlambat laju mobilnya.
" Apa kamu tahu tujuan kita mau kemana Mas?, ini jalannya semakin sepi, kita sudah pergi terlalu jauh dari pusat kota", Dila kembali protes.
" Kamu mau bawa aku kemana Mas?, nggak usah ngebut begini, kamu membuat aku takut Mas!", teriakan Dila akhirnya membuat Indra mengerem mendadak di tepian jalan yang cukup sepi dan menanjak.
" Apa kamu suka sama Bram?, kamu sadar nggak sih Dil kalau kamu itu sudah jadi istriku?, kamu suka kalau ada pria lain menatap dan mendamba kamu seperti Bram tadi?", Suara Indra begitu keras, di tempat yang sepi itu.
" Kamu ngomong apa sih Mas, aku ini nggak suka sama Mas Bram, lagian siapa yang suka ditatap seperti tadi, aku hanya bingung harus bersikap bagaimana", jawab Dila jujur.
" Kalau kamu nggak suka, seharusnya kamu ngomong sekalian sama itu orang, suruh untuk tidak liatin kamu terus, ini kamunya kok malah diam saja kaya orang kesenengan di tatap begitu".
" Kamu suka dengan cowok yang suaranya bagus kaya Bram tadi?, suka kalau digombalin cowok dengan lagu seperti itu?, iya aku sadar aku nggak bisa menggombal, aku nggak bisa bernyanyi dengan suara yang bagus, aku nggak romantis seperti dia, aku penuh dengan kekurangan, apa sekarang kamu kecewa karena sudah menikah denganku?".
Indra terus saja memojokkan Dila karena kecemburuannya, semua karena Indra merasa tidak bisa melakukan gombalan dan rayuan seperti yang dilakukan Bram pada Dila tadi. Indra sadar dirinya terlalu monoton dan serius dalam segala hal, karena itulah Indra takut Dila justru tertarik dengan Bram yang pandai merayu.
__ADS_1
" Cukup Mas, aku kira selama ini kamu sudah cukup mengenal aku, tapi semua kata-kata kamu itu seolah menuduhku, memojokkan ku, kata-kata mu barusan menyakiti hatiku Mas, jadi kamu menilai aku perempuan yang seperti itu?, yang mudah di rayu dan digombali hanya dengan sebuah lagu?".
" Aku ini istri kamu Mas, harusnya kamu percaya sama aku, aku tidak melakukan apapun sejak tadi, aku hanya diam, karena aku memberi kesempatan pada kamu dan Mas Bram untuk bicara berdua sebagai sesama lelaki yang sudah dewasa. Aku berharap kalian menyelesaikan perselisihan antara kalian berdua, karena bagaimanapun dia dulunya adalah teman kamu".
" Tapi justru diam ku membuat kamu menilai aku seperti seorang perempuan yang kegirangan karena masih di sukai laki-laki lain meski sudah bersuami".
" Seandainya kamu tahu Mas, meski selama ini aku mengira kamu sudah menceraikan aku sejak dua tahun lalu, satu kalipun aku tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain, karena aku memang tidak bisa mencintai mereka, hatiku sudah tertambat hanya pada satu orang. Dan itu adalah kamu, orang yang awalnya paling aku benci, orang yang ingin sekali aku hancurkan, karena kamu yang sudah lebih dulu menghancurkan hidupku".
" Tapi aku tidak bisa Mas, karena justru rasa benci itu lama kelamaan berubah menjadi rasa sayang. Aku sakit karena kamu menilai ku serendah itu Mas".
Dila melepas seat belt dan keluar dari mobil itu, rasanya sudah sangat pengap semobil dengan Indra yang terus marah-marah nggak jelas, karena rasa cemburunya.
Indra langsung mengejar Dila keluar dari mobil, cuaca malam itu mulai mendung, Indra merasa sangat menyesal karena sejak tadi terus memojokkan Dila.
" Aku minta maaf Dil, bukan maksudku memojokkan kamu, aku tadi dibutakan oleh rasa cemburuku terhadapmu, aku sungguh-sungguh minta maaf", Indra menarik tangan Dila, " Kembalilah ke dalam mobil Dil, langit semakin gelap, mungkin hujan akan segera turun.
Dila tetap merajuk dan enggan masuk ke dalam mobil, hingga Indra terpaksa menggendong Dila dan memasukkan Dila ke dalam mobil, tepat sebelum hujan turun dengan derasnya.
" Mas sih, pake ngebut bawa mobil dengan arah yang nggak jelas!", kini gantian Dila yang terus marah pada Indra.
" Maaf maaf, mas coba cari siapa tahu ada bangunan terdekat yang bisa kita tumpangi".
Indra membawa mobil memutar balik arah, sepertinya tadi dia melihat ada penginapan tak jauh dari sana.
Dila dan Indra turun dari mobil dan berlari masuk ke sebuah penginapan yang berada tak jauh dari posisi mereka tadi. Karena di dalam mobil sewaan ternyata tidak ada persediaan payung.
" Sekarang sudah jam 11 malam, kita menginap disini saja, kamu kirim pesan pada karyawan mu kalau besok libur jualan, lagian sudah punya karyawan kenapa masak masih sendiri juga, tetep repot kan kalau begitu".
Dila hanya manyun mendengar ucapan Indra, Indra langsung memesan kamar di penginapan itu.
Setelah menerima kunci kamar, Indra langsung mengikuti pemilik penginapan menuju kamar yang di sewanya.
__ADS_1
" Selamat beristirahat Tuan dan nyonya", ucap pemilik penginapan sambil berlalu.
Dila dan Indra masuk ke dalam kamar yang ternyata cukup luas itu, ada kasur yang cukup besar, satu set sofa, televisi, kamar mandi di dalam, ada kulkas kecil dan AC juga.
Indra langsung melepas bajunya yang basah terkena air hujan dan menggantungnya dekat AC agar cepat kering.
" Lepas saja bajumu, disini ada dua handuk kimono yang bisa kita pakai untuk tidur malam ini", Indra menyerahkan handuk kimono satunya lagi pada Dila, sementara dirinya juga memakai handuk yang sama.
" Kenapa?, masih malu sama suamimu sendiri?, aku kan sudah melihat semuanya ", Dila membawa handuk kimono ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya di sana.
Dila langsung merebahkan dirinya di ranjang kamar, dirinya sudah sangat lelah hari ini, mengikuti El jalan-jalan di kebun binatang, dan pulang ke ruko langsung pergi lagi, belum lagi hatinya juga sangat lelah setelah berdebat dengan Indra di mobil tadi.
" Aku capek Mas, mau tidur", ujar Dila ketus, saat Indra merebahkan diri di sampingnya, mepet-mepet dan memeluk tubuhnya saat ini.
" Kamu masih marah sama aku?, kan Mas sudah minta maaf, Mas tadi marah-marah karena Mas cemburu, Mas nggak mau kehilangan kamu lagi", bisik Indra lirih ditelinga Dila, sambil mengendus leher Dila, menikmati aroma parfum yang Dila pakai bercampur dengan keringat dan juga air hujan.
" Aku marah, tapi aku tahu kemarahan ku tidak akan merubah apapun, kamu masih sama, selalu melakukan apa saja sesuai keinginan kamu sendiri", ujar Dila.
Indra hanya cengar-cengir, karena saat ini dirinya tidak ingin membuat Dila marah lagi, bisa gagal rencananya membuat adik El secepatnya, kalau Dila terus marah.
" Aku tidak akan cemburu- cemburuan lagi kaya tadi, tapi jangan marah ya sayang, malam ini hujan turun begitu deras, aku kedinginan disini, apa kamu nggak kedinginan?", tanya Indra mencoba merayu.
" Aku panas Mas, sejak tadi kamu terus memeluk aku", jawab Dila masih dalam mode ngambek.
" Kalau begitu aku besarkan AC nya biar kamu nggak kepanasan", Indra langsung mendinginkan kamar itu karena Dila mengatakan dirinya kepanasan.
Saat Dila sudah tida terlalu ngambek, Indra pun melancarkan tujuannya, terus melakukan sentuhan pada bagian sensitif tubuh Dila, sehingga Dila pun menyetujui untuk melakukan hubungan ranjang malam itu.
Malam dingin, nan gelap dengan hujan yang sangat lebat, namun di dalam kamar penginapan dimana ada Dila dan Indra hanya ada suara ******* dan lenguhan yang terdengar dari mulut mereka berdua.
Indra yang sangat mendabakan Dila bisa membuat Dila lagi-lagi merasa sangat diinginkan, menjadi wanita paling bahagia karena Indra selalu memperlakukan dirinya dengan begitu baik. Sentuhan Indra yang lembut tapi melenakan, membuat Dila tidak mampu menolak untuk mengulang penyatuan mereka hingga beberapa kali dalam waktu satu malam.
__ADS_1
Seolah Indra tidak merasakan lelah meski baru tidur sebentar, Indra bisa kembali 'on' dan mengajak Dila kembali ke surga dunia yang diciptakannya sendiri. Malam ini Dila benar-benar pasrah dan tak banyak protes pada Indra, karena Indra begitu lihai membuat Dila menikmati permainan ranjang mereka.