
Mereka bertiga sampai di lantai tiga. El pun langsung melepas gandengan tangan ayahnya dan menggandeng tangan Dila, menariknya mendekat ke kereta api.
" Kak Dila kita naik ayo, keleta api udah mau jalan". Dila mengekor saja dan menuruti semua keinginan El.
Naik kereta api hingga tiga kali putaran, setelah itu masuk ke ruang karaoke, El kembali bernyanyi sambil menari-nari, Indra hanya mengikuti semua keinginan El kemanapun dan apapun yang dipinta nya langsung dituruti.
Mereka terus bermain-main hingga jam menunjukkan pukul 1 siang, Indra mengajak El dan Dila makan di salah satu restoran yang ada di mall itu, makan pun sesuai keinginan El. El yang meminta pada ayahnya untuk makan ikan bakar, Indra pun mencari restoran yang menjual berbagai olahan ikan. Mereka turun ke lantai 2.
Gurame bakar, cak kangkung, ayam bakar madu, cumi krispi, dan oseng kerang sudah tersaji di meja mereka. Dila sungguh merasa beruntung menjadi pengasuh El, bahkan beberapa makanan yang belum pernah dimakannya bisa dia cicipi sekarang.
" Ayo makan sayang, kamu juga makan yang banyak Dil, biar tubuh kamu sedikit lebih berisi, nggak ceking begitu".
Dila mengangguk dengan semangat, mumpung majikannya sedang baik hati.
Tapi Dila memilih menyuapi El terlebih dahulu sebelum dirinya makan, karena El tidak mungkin memakan gurame bakar itu sendiri, ada duri yang harus dibuang dari gurame itu.
" Wah... ternyata benar, Pak Indra sama El, halo El... apa kabar?", wanita cantik dan seksi menyapa El dan juga Indra, dan seorang lelaki bertubuh tinggi, kekar berotot juga ikut menyapa.
El hanya menengok sebentar, tapi kembali sibuk dengan makannya.
" El kalau ada yang menyapa harus dijawab sayang", Indra menegur El yang acuh tak acuh dengan wanita seksi itu.
" Kabal El baik Tante", hanya itu jawaban yang keluar dari mulut El, dan dari ekspresi nya El terlihat tidak terlalu suka dengan wanita itu.
" Apa dia pengasuh El yang baru lagi?, wah masih bocah sudah jadi pengasuh, gadis kampung ya Ndra?".
Dila berusaha mengangguk sopan, meski dirinya sedikit kesal dengan ucapan perempuan seksi dihadapannya, " siapa yang masih bocah, aku sudah 17 tahun, sudah selesai sekolah dan sudah bisa kerja cari duit, cara ngomong perempuan ini menyebalkan sekali, pantas El tidak respek padanya", batin Dila.
" Iya dia pengasuh El yang baru, kamu lagi makan disini Tan?", Indra melirik kearah laki-laki bertubuh kekar itu.
" Iya Ndra, ini temen aku, temen nge gym, tadi habis nge gym bareng, jadi aku ajak makan siang bareng ke sini".
Bagi Dila kalimat jawaban wanita itu terlalu panjang dan tidak nyambung dengan pertanyaan yang dikatakan Indra tadi.
" Oke selamat makan", ucap Indra singkat, dan melanjutkan makan siangnya. Wanita itu langsung masam mendengar ucapan Indra.
" Ya sudah ayo kita kembali ke meja kita, dan makan juga Tan", pria itu mengajak wanita itu kembali ke mejanya.
" Kak Dila, dia itu Tante Tania yang pelnah El celitakan waktu itu", bisik El di telinga Dila. Dila mengangguk-angguk paham.
" Jadi wanita cantik dan seksi itu adalah sekertaris pak Indra yang bilang mau jadi ibunya El, kok sama bosnya panggil-panggil nama begitu, nggak sopan banget", batin Dila.
__ADS_1
Sesekali Dila menatap ke arah Tania dan pria kekar itu berada. Tapi hanya sekilas karena ternyata mereka melakukan hal yang sama.
" El ngomong apa sama Kak Dila?, kok ayah nggak di kasih tahu", Indra sudah selesai makan siang dan kini sedang menikmati dessert yang baru datang. Puding coklat dengan potongan buah di dalamnya.
" El nggak ngomong apa-apa, cuma kasih tahu kak Dila kalau tadi itu namanya Tante Tania", jawab El jujur.
Indra mengangguk.
" Dia sekertaris aku di kantor, tapi kalau di luar kami berteman, dulu kami satu angkatan saat kuliah, tapi beda jurusan, itu kenapa dia biasa panggil nama saja kalau ketemu di luar, tapi kalau di kantor tetep dia panggil aku Bapak", terang Indra.
" Apa itu suaminya?", Dila pura-pura bertanya, padahal sebenarnya Dila sudah tahu dari El jika Tania belum menikah.
" Dia belum menikah, kan tadi dikasih tahu mereka temen nge gym".
Dila mengangguk mendengar ucapan Indra.
" Sini biar El di suapi ayah, ayah sudah selesai makannya, sekarang kamu makan Dil, habis itu kita langsung pulang, sudah hampir jam 2, El belum tidur siang".
Dila menurut, menyerahkan piring El pada Indra, dan dia sendiri makan siang dengan lahap dan benar-benar menikmati semua hidangan yang ada di meja.
" Sepertinya Pak Indra tidak menyukai Tania, terlihat dari sikapnya yang acuh saat Tania bersama dengan laki-laki lain. Sekarang aku paham situasinya", ucap Dila dalam hati, Dila tahu sejak tadi tatapan mata Tania menuju ke arahnya. Tapi Dila berusaha bodo amat dan tidak ambil pusing.
Sudah menjadi kebiasaan Dila yang tidak mau buang makanan, akhirnya Dila memakan begitu banyak makanan siang ini, hingga dirinya merasa perutnya hampir meledak.
" Ya sudah cepat kembali, mumpung El masih makan, dan belum menghabiskan pudingnya".
Dila mengangguk-angguk dan langsung berlari menuju toilet umum yang ada di restoran itu. Untung ada toilet yang kosong sehingga Dila langsung masuk dan mengeluarkan isi perutnya yang sudah terasa sangat penuh itu.
" Huh.... leganya, akhirnya keluar juga", Dila merasa begitu plong setelah mengeluarkan isi perutnya. Dila keluar dari kamar mandi dan hendak mencuci tangan, ternyata Tania ada di kamar mandi juga.
" Heh gadis kampung!".
Dila menengok sambil menunjuk ke dirinya sendiri.
" Iya lo, siapa lagi orang lain yang ada disini selain elo !".
" Nama saya Dila Kak, jadi panggil Dila saja" ucap Dila masih sopan.
" Suka suka gue dong mau panggil lo siapa, mulut mulut gue, apa hak lo ngatur-ngatur?, memang benar kan Lo gadis kampung?".
Dila masih berusaha sabar dan menerima, memang benar dirinya gadis yang berasal dari kampung.
__ADS_1
" Apa ada yang mau disampaikan?", Dila masih berusaha bertanya dengan sopan.
" Entah lo udah kawin atau belum di kampung, tapi gue peringatin lo, jangan berani-beraninya tebar pesona ke Indra, apalagi menggunakan El sebagai alat PDKT, paham Lo!".
" Jangan karena majikan lo Indra itu baik hati, kaya raya, dari keluarga terhormat dan dia juga ganteng, terus Lo jadi nggak sadar diri dengan status lo yang cuma pembantu!"
Dila menghembuskan nafas menahan emosi yang hampir saja meledak.
" Kakak sekertaris yang cantik dan seksi, yang kakak permasalahkan dari saya itu apa?, semua nilai plus itu ada pada diri kakak, jadi Kakak tidak usah mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting seperti saya. Saya sudah ada yang punya di kampung, dan saya tidak suka dengan om-om kaya seperti yang kakak tuduhkan".
" Saya juga menyayangi El dengan tulus, bukan menjadikan El alat PDKT seperti yang anda lakukan".
Dila sudah kehabisan kesabaran, tapi akal sehatnya masih berfungsi, jadi Dila memutuskan untuk pergi meninggalkan perempuan gila, yang takut laki-laki incarannya terpikat oleh gadis kampung yang culun dan bertompel.
" Kamu kenapa?, seperti orang habis lari ngos-ngosan begitu?", Indra penasaran kenapa nafas Dila jadi tidak teratur seperti itu.
" Apa El sudah selesai makannya sayang?, kita langsung pulang saja sekarang. Tadi kak Dila lihat orang gila di toilet umum, ayo buruan, sebelum orang gilanya keluar".
Dila menggandeng tangan El dan buru-buru mengajak El keluar dari restoran. Indra sebenarnya tidak percaya dengan ucapan Dila, tapi dia tetap ikut keluar dari restoran bersama Dila dan El.
Di dalam mobil Dila terus kepikiran ucapan Tania di kamar mandi tadi. Sepanjang jalan Dila terus terdiam, begitu juga El yang sudah kenyang dan merasa ngantuk saat mobil mulai bergerak.
" Tania ngomong apa sama kamu tadi di kamar mandi?".
Dila langsung menatap Indra kaget, dari mana majikannya itu tahu jika Tania ngobrol dengannya di toilet.
" Tadi aku lihat Tania juga ke toilet tak lama setelah kamu pergi kesana".
Dila mengangguk-angguk paham.
" Bu Tania nggak ngomong banyak kok Tuan, cuma menyapa saja", jawab Dila terpaksa berbohong.
Dila tidak mau mengatakan yang sebenarnya, karena memang Dila tidak pernah ada keniatan seperti yang dituduhkan Tania tadi kepadanya. Dila benar-benar hanya ingin bekerja dan mengumpulkan banyak uang untuk modal membuka usaha, itu saja.
Tidak pernah terfikir untuk PDKT pada Indra, setiap kali Indra bicara padanya saja Dila sudah takut kalau-kalau akan dimarahi. Belum lagi usia mereka terpaut sangat jauh, 11 tahun. Memang sih kalau jodoh umur tidak jadi masalah, tapi Dila memang tidak pernah kepikiran ke arah sana. Jadi Dila merasa lucu saat tuduhan itu ditunjukkan kepadanya.
" Kamu serius Tania cuma menyapa kamu saja, aku paham karakter Tania, karena sudah bekerja dengannya bertahun-tahun", ucap Indra.
" Iya Tuan, lagian apa yang mau dibicarakan dengan saya, kan baru saja kenal", Dila mencoba mencari alasan.
" Betul juga sih..., hanya saja ekspresi kamu yang seketika berubah saat kembali dari toilet tadi".
__ADS_1
Dila hanya meringis tak lagi menjawab, agar Indra juga tidak terus menerus bertanya. El kini sudah tidur dengan lelap dipangkuan Dila. Mobil memasuki kawasan perumahan elit.
" Sebentar lagi sampai rumah, dan aku harap Tuan Indra tidak terus menerus bertanya", batin Dila