
" Tunggu dulu Dil...!".
Dila tetap berjalan dengan cepat sambil menggendong El melewati lorong menuju lift. Dila langsung memencet tombol buka pada lift, namun sepertinya lift sedang digunakan sehingga Dila harus menunggu cukup lama.
" Dila kamu mau kemana?, sudah jauh-jauh kesini kenapa kamu mau pergi lagi?. Aku bisa jelasin apa yang kamu lihat tadi, itu tidak seperti yang kamu bayangkan!", seru Indra setelah berhasil mengejar Dila. Tangan Indra langsung mencengkeram lengan Dila, namun Dila melepaskannya dengan kasar.
" Jangan sentuh aku !"
" Lanjutkan saja apa yang sedang kamu lakukan Mas, maaf kalau kedatangan ku dan El merusak kesenanganmu !", teriak Dila tak bisa menahan amarahnya, padahal masih ada El di gendongannya, El sampai terlihat takut karena ini pertama kalinya El melihat Dila berkata keras pada seseorang.
" Kamu pasti sudah salah paham Dil, tolong kamu dengarkan penjelasan ku dulu", Indra terus berusaha menahan Dila.
Dari depan ruang Indra, Tania menatap kedua insan yang sedang berdebat itu dengan senyuman licik.
Ting.....
Pintu lift terbuka, ada dua orang pemuda berada di dalam lift, Dila langsung masuk sambil menggendong El. Indra ikut masuk, mereka terpaksa berhenti berdebat karena ada orang lain di dalam lift.
" Sini biar El bersamaku", Indra mengambil El dari gendongan Dila. Dila awalnya menahan El tetap dalam gendongannya, namun Indra mengambil paksa El dari Dila.
Ting.....
Kedua pemuda di dalam lift itu keluar, Indra kembali memencet nomor 20, agar lift kembali ke ruangannya.
Di dalam lift Dila tidak mengatakan sepatah katapun, namun terdengar dari nafas Dila yang memburu, bahwa Dila sedang berusaha menahan emosi yang hampir saja meledak.
" Apa kamu marah?", Indra keluar dari lift dan menarik Dila masuk kedalam ruangannya sambil menggendong El. Entah kemana perginya sekertaris Indra yang tidak tau diri itu. Tapi Dila masih bungkam tak mau bicara.
Indra menelepon Ari agar segera masuk ke ruangannya, 3 menit kemudian Ari sudah berada di ruang Indra.
" Ajak El ke kantin untuk makan siang, aku harus bicara dengan Dila cukup lama, kalau bisa setelah makan bawa El pulang kerumah, titipkan pada Bi Ana dan bi Darsih".
Ari tidak tahu apa yang terjadi, tapi Ari kaget saat mengetahui Dila dan El ada di kantor bosnya, Ari bisa melihat Dila yang nafasnya memburu seperti orang yang menahan amarah, bahkan sekarang Indra menyuruh Ari mengajak El pergi dari ruang itu.
Seolah Ari seperti diberi tugas mengamankan El, dari perang dunia yang akan segera terjadi.
__ADS_1
Sepeninggal Ari dan El, Indra mengunci pintu ruangannya dari dalam.
" Jadi, kamu marah karena apa yang kamu lihat tadi Dil?, aku tidak melakukan apa-apa dengan Tania, dia aku panggil ke ruangan ku untuk menyerahkan laporan agenda pertemuan tadi pagi bersama klien. Tapi memang dia selalu seperti itu, langsung merayuku setiap kali ada kesempatan", Indra berusaha menjelaskan.
" Marah?, buat apa aku marah?, apa aku punya hak untuk marah, toh pernikahan kita juga sebentar lagi berakhir, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak mau mengatur tentang hidup kamu, karena kamu jauh lebih dewasa dariku. Dan seharusnya kamu lebih tahu mana yang pantas dan tidak pantas dilakukan oleh seorang laki-laki yang sudah beristri dan mempunyai anak !".
Dila belum bisa mengontrol emosinya, entah mengapa ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul saat melihat Indra memangku Tania tadi.
" Aku bukan cemburu, bukan !, karena aku tidak pernah mencintai Indra, aku membencinya!, sangat membenci nya, dan saat melihat seperti apa kelakuannya di kantor, rasa benciku yang tadi pagi sudah sedikit berkurang, kini bertambah berkali lipat", Itu yang Dila pikirkan saat dirinya membisu sejak tadi.
" Tapi aku berani bersumpah Dil, aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak tertarik untuk menyentuh Tania sedikitpun, kamu harus percaya yang ku katakan Dil", Indra mencengkeram bahu Dila dengan cukup kuat membuat Dila kesakitan.
" Lepaskan aku !, percaya katamu?, setelah apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Kamu menyuruhku untuk bisa percaya sama kamu!, apa kamu pikir aku gadis kampung yang bodoh, tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya gosip!".
" Ini pertama kalinya aku datang ke kantormu Mas, karena El yang memaksa, dan aku melihat kamu sedang berpangkuan dengan wanita lain, apa jaminan kamu tidak melakukannya di waktu lain, selalu ada begitu banyak kesempatan yang dimiliki Tania karena dia sekertarismu, yang sewaktu-waktu dengan bebasnya bisa keluar masuk ruangan ini".
" Ruang yang sangat luas dan hanya ada kamu di sini, bagaimana mungkin laki-laki normal sepertimu tidak tertarik dengan tubuh mulus, cantik dan seksi seperti Tania, kalau aku saja yang dulu masih culun, bertompel bisa kamu terjang dan kamu jamah begitu saja!".
" Sekarang mungkin aku mulai paham, kenapa mba Kayla memilih pergi meninggalkan kamu Mas, dia pasti tidak mau terus-menerus menderita stres dan sakit hati berkepanjangan karena bersuamikan laki-laki sepertimu!".
Kalimat Dila langsung menggores luka di hati Indra.
Dila hendak pergi keluar dari ruangan Indra, karena tidak mau memperpanjang perdebatan itu, dengan cepat Dila membuka kunci pintu ruangan, namun Indra menarik tubuh Dila dan memeluknya erat dengan paksa.
" Lepaskan aku Mas, kamu menyakiti aku!", Dila memberontak.
" Kalau kamu yang menjadi istriku tapi tidak mau aku sentuh lalu harus pada siapa aku melampiaskan keinginanku, kamu tidak mau kan aku bersama wanita lain, maka kamu harus melayani aku Dil!".
Indra mendorong Dila sampai Dila terjerembab di sofa panjang yang ada di ruang kerja Indra. Indra langsung mengecup bibir Dila, dan lama kelamaan ********** dengan sangat rakus.
Ini ciuman kedua yang mereka lakukan usai kejadian malam itu, Dila berusaha menolak, tapi Indra memeluknya dengan erat dan tidak membiarkan Dila melepasnya.
" Aku mencintaimu Dil, sangat mencintai mu, dan hanya kau yang aku inginkan, bukan wanita lain, karena kaulah istriku".
Sesaat Dila seperti terhipnotis dengan kata-kata Indra, memang benar dialah istri Indra saat ini, dan menjadi kewajibannya melayani Indra sepenuh hati, tapi bukan berarti Indra bisa memaksakan kehendaknya sendiri untuk menjamah tubuh Dila jika Dila belum siap melakukannya.
__ADS_1
Tapi memang tidak salah jika Indra mencium dan melakukan kontak fisik dengan Dila yang sudah menjadi istri sahnya. Sesaat Dila membiarkan Indra menguasai Dila, ******* bibirnya dan tangannya mulai menerobos masuk ke dalam pakaian Dila, melakukan sentuhan lembut dan meremas buah dada Dila, hingga wajah Dila memerah karena sentuhan itu.
Indra menyingkap baju Dila dan mengecup dua gundukan padat itu dengan semangat membara, membuat tubuh Dila meliak liuk karena kecupan Indra, mengingatkannya pada kejadian malam itu, saat Indra tak membiarkan dirinya lepas begitu saja.
Seketika muncul rasa benci Dila saat teringat malam kelam itu, malam saat Indra menyakitinya. Dila mendorong tubuh Indra.
Indra yang sudah merasa panas dan sangat menginginkannya langsung mencengkeram lengan Dila meminta penjelasan.
Indra tahu Dila tadi hampir menerima sentuhannya, namun tiba-tiba Dila berubah ,hingga Indra terpaksa harus menahan keinginannya karena Dila mendorongnya.
" Aku sedang datang bulan Mas, dosa besar kalau melakukannya saat aku sedang datang bulan ".
Dila melepaskan cengkraman tangan Indra.
" Aku tidak mau membahas hal tadi lagi didepan El, sesuai kesepakatan aku tetap akan merawat El 5 bulan 2 minggu kedepan. Setelah itu cari pengasuh lain, sekaligus urus surat cerai kita secepatnya!".
Dila membuka kunci pintu, dan keluar dari ruangan Indra dan menutup pintu ruangan itu dengan kasar dan sangat keras. Saat keluar Dila melihat Tania duduk di kursi yang ada di depan ruangan Indra dengan mengulaskan senyum jahatnya.
Tania berdiri dan mendekati Dila, mencengkeram lengan Dila sambil mengoceh tidak jelas.
" Heh..!, pembantu nggak tahu diri yang menggoda bosnya sampai di kawinin, coba kita lihat berapa lama elu bisa bertahan sama Indra, karena Indra itu milik gue!".
Dila melepas cengkeraman tangan Tania dari lengannya sambil menatap Tania tajam.
" Ambil saja laki-laki itu, lebih cepat lebih baik, aku nggak butuh suami seperti dia, asal kamu tahu sekalipun aku nggak pernah menggodanya, dia yang memohon-mohon untuk menikah denganku, jadi bilang padanya, suruh dia untuk segera menceraikan aku!".
Dila pergi masih dengan perasaan yang begitu kesal, entah mengapa akhir-akhir ini hidupnya seperti sebuah roller coaster, naik turun dengan drastis, kadang berputar, berkelok, jungkir balik, bahkan sampai kaki diatas dan kepala dibawah. semua berubah dengan begitu cepat.
Baru saja tadi pagi Dila sedikit memaafkan Indra, dan tadi saat hendak masuk ke kantor Indra, Dila sepintas merasa kagum dengan suaminya yang ternyata seorang pemilik perusahaan. Namun baru beberapa menit waktu berjalan, Dila dibuat kecewa lagi melihat kelakuan suaminya yang berpangkuan dengan wanita lain. Dan lagi, Indra baru saja mengingatkannya dengan malam kelam penuh air mata yang sedang berusaha Dila lupakan.
Pemikiran sepintas Dila untuk mencoba memaafkan Indra dan menjalani pernikahan yang bahagia, untuk selamanya kini sudah lenyap ditelan bumi. Dila sudah yakin untuk bercerai dengan Indra saat usianya mencapai 18 tahun.
Bagi Dila hubungan pernikahan itu bukan hanya pihak perempuan/ istri yang harus menjaga hati suaminya, tapi suami juga punya kewajiban yang sama, harus bisa menjaga hati istrinya , tidak begitu bebas berhubungan dengan wanita lain, bahkan sampai bersentuhan fisik yang tidak wajar seperti posisi berpangkuan yang Indra lakukan bersama Tania tadi.
Dila keluar dari kantor Indra dengan air mata berlinang, entah kenapa hatinya terasa sangat sakit, sampai untuk bernafas saja terasa begitu sesak.
__ADS_1
Tujuan Dila saat ini adalah pergi ke suatu tempat yang bisa membuat hatinya merasa lebih tenang. Yang penting bukan pulang ke rumah, karena Dila tidak mungkin menemui El saat emosinya masih memuncak.
Dila harus menenangkan diri terlebih dahulu, baru bisa pulang dan kembali mengasuh El lagi.