Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 149


__ADS_3

Hari kedua di Malaysia, tidak ada kegiatan khusus yang dilakukan Dila dan keluarga besar Indra, karena memang awalnya Dila hanya berniat untuk bersilaturahmi ke rumah adik iparnya saja.


Rencana ke wahana permainan pun batal karena anak-anak tidur semua di mobil saat menuju ke wahana itu. Bahkan mereka bertiga tidur sampai sore, karena jam 4 El dan Arsy baru bangun dari tidurnya.


Tidur siang selama 2 jam termasuk lumayan lama. Bahkan Dila dan Indra ikut tidur siang juga saat anak-anak sedang tidur. Namun hanya sejam mereka tidur siang, saat mereka terbangun, El dan Arsy masih tidur dengan lelap. Entah karena sangat ngantuk dan kamarnya nyaman, atau karena sudah kenyang sehabis makan siang, sehingga mereka berdua tidur cukup lama.


Tadi saat bangun dari tidurnya Indra sempat meminta jatah kepada Dila. Kata Indra mumpung anak-anak masih tidur semua, dan sekali-kali melakukan hubungan suami-istri di rumah orang, bahkan di luar negeri, akan menjadi pengalaman pertama yang tak terlupakan. Meski bagi Dila melakukan percintaan dengan suaminya di mana saja rasanya sama. Karena dengan orang yang sama jadi tidak ada bedanya. Hanya saja ada sedikit rasa yang berbeda, karena mereka melakukannya saat anak-anak juga berada di dalam kamar yang sama. Khawatir tiba-tiba El atau Arsy bangun.


Dila memang tak menolak keinginan Indra untuk bercinta, meski harus melakukannya di atas karpet yang sengaja di gelar di lantai, agar tidak mengganggu tidur kedua anaknya di kasur.


Dan bahkan ada sensasi lucu karena harus terus siaga, dan melihat ke arah kasur, takut tiba-tiba El atau Arsy sudah bangun dan melihat adegan panas antara ayah dan ibunya. Bisa repot, terutama jika El yang melihat, Dila tentu akan diberi pertanyaan tentang apa yang sedang mereka lakukan, namun dirinya tentu tidak akan pernah bisa menjelaskan tentang pergulatan panas yang tengah mereka lakukan.


Ternyata melakukan pergulatan panas dengan rasa was-was rasanya tidak seperti biasanya, ada sensasi tersendiri, karena detak jantung Dila maupun Indra bisa dipastikan lebih cepat dibandingkan dengan saat mereka berdua bercinta dengan suasana nyaman dan tenang.


Setelah selesai bercinta dan sama-sama terkapar dilantai karena rasa lelah usai bergerak aktif. Dila jadi berpikir, mungkinkah mereka... orang-orang yang melakukan hubungan percintaan dengan orang lain yang notabene nya dilarang oleh agama. Alias bercinta bukan dengan pasangan sahnya itu terasa lebih nikmat karena ada rasa was-was dan khawatir takut ketahuan?, karena Dila merasakan hal itu siang ini.


Bercinta dengan rasa was-was


, takut ketahuan, dan khawatir kepergok anak-anak ternyata membuat adrenalin lebih terpacu dari biasanya. Dan ada rasa membuncah, dan perasaan lega sekaligus bahagia yang amat sangat, setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan dengan lancar, tanpa ketahuan oleh yang dikhawatirkan.


Bahkan ada rasa ingin mengulang hal yang sama, dengan tanpa ketahuan lagi. Tapi tentu saja bukan saat ini, karena mungkin sebentar lagi Arsy dan El akan terbangun. Dan sebelum itu terjadi, Dila memilih untuk lebih dulu ke kamar mandi, membersihkan diri sekaligus keramas sebelum anak-anak bangun.


Untung saja rumah Indri sama dengan rumah Indra, yang kamar tidur untuk tamu nya sudah ada kamar mandi di dalamnya. Jadi Dila bisa langsung mandi dan mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum anak-anak terbangun.


Dan saat El dan Arsy terbangun, Dila tinggal mengurus mereka, memandikan Arsy karena sudah sore, dan gantian El mandi setelah Arsy selesai.

__ADS_1


Dila memang tidak pernah memandikan Arsy dan El bersama-sama, selain mereka memang tida sejenis, El sudah cukup besar dan Dila tidak mau El melihat tubuh adiknya yang tanpa pakaian. Dila hanya berusaha berhati-hati dan lebih menjaga agar semuanya tetap baik-baik saja.


Hari berlalu dengan cepat, setelah semalam berkumpul di ruang tengah hanya sekedar berbagi cerita dan mengobrol santai untuk mengakrabkan seluruh anggota keluarga.


Siang ini Dila dan Indra sudah berencana untuk pulang ke Indonesia. Ya... seperti rencana awal mereka yang hanya 3 hari di rumah Indri. Karena Indra harus kembali bekerja esoknya. Sudah tiga hari dirinya tidak masuk kantor. Pasti pekerjaannya saat ini sudah menumpuk.


Pagi-pagi Fatma dan Indri mengajak Dila untuk berbelanja oleh-oleh di pusat oleh-oleh yang ada di Kuala lumpur, yaitu ke Central market atau pusat seni, disana dijual berbagai macam oleh-oleh khas Malaysia.


Dila yang sebenarnya tidak hobi berbelanja hanya menurut saja untuk mengikuti sang ibu mertua dan adik ipar. Dila sengaja meninggalkan Arsy tetap di rumah Indri bersama ayahnya, karena akan repot jika sambil menggendong Arsy sekaligus membawa barang belanjaan, namun Dila mengajak El ikut berbelanja, agar El bisa memilih sendiri apa yang ingin dibelinya.


Dan ternyata lumayan banyak barang-barang yang dibeli oleh El. Bahkan lebih banyak belanjaan El dari pada belanjaan Dila.


" Bu, El mau kasih oleh-oleh buat teman-teman dekat El di sekolah, jadi boleh ya El beliin buat mereka?", kata El meminta ijin terlebih dahulu pada Dila sebelum dirinya mulai berbelanja.


Dan saat Dila memberi ijin pada El untuk memilih barang belanjaan nya sendiri, El langsung mengambil beberapa aksesoris seperti gelang dan juga topeng. El juga sempat membeli semacam wayang kulit kalau di Indonesia, karena El ingin memajang hiasan itu di kamarnya.


Dila lebih baik menyetop El dulu sebelum dia memilih benda semacam layangan raksasa itu, bagaimana cara membawanya ke Indonesia, meski bisa menggunakan jasa pengiriman barang, tapi itu akan sangat merepotkan.


Setelah mengawasi El belanja, Dila pun ikut berbelanja oleh-oleh juga, tapi hanya membeli beberapa baju dengan gambar menara kembar Petronas dengan tulisan Kuala lumpur Malaysia di bawah gambar menara. Itupun untuk dibagikan pada ART di rumah, dan beberapa teman dekat Dila di sekolahan.


Lucunya saat berbelanja di Central market, Dila bertemu dengan Bram, ya... Bram sepupunya Kayla. Bu Fatma dan Indri tentu saja mengenali nya. Apalagi Bram termasuk salah satu teman dekat Indra yang sempat menyukai Dila dahulu.


Fatma mengingat bagaimana dulu dia pernah menemui Bram di kafe saat Dila berada di Jogja.


" Lagi liburan apa gimana nih Mas Bram?, kok sendirian di sini?", tanya Dila, setelah mereka sebelumnya saling bertegur sapa dan bertanya kabar.

__ADS_1


Dila dan Bram sudah cukup lama tidak bertemu, hanya sesekali di acara meeting perusahaan jika pas Bram berangkat, kadang Bram berangkat, tapi Dila nya yang tidak hadir. Karena itulah cukup lama Dila dan Bram tidak saling bertemu.


Bram menengok ke kanan dan ke kiri seperti mencari keberadaan seseorang. " Aku nggak sendiri Dil, tapi sama teman-temanku, mereka yang lagi nyari oleh-oleh buat dibawa pulang nanti, kalau aku mah malas, soalnya kesini untuk urusan pekerjaan, dan pulang juga nggak ada tuh yang nanyain oleh-oleh sama aku, makanya cuma nemenin mereka belanja oleh-oleh", terang Bram sambil masih mencari-cari temannya.


Dila mengangguk-angguk paham.


" El habis belanja oleh-oleh juga ya?, wah banyak banget yang dibeli?", ujar Bram melihat tas belanja yang dibawa El lebih banyak ketimbang yang dibawa Dila maupun Bu Fatma.


" Ini kan buat dibagi sama teman-teman El di sekolah Om..., soalnya mereka minta oleh-oleh waktu El memposting foto El di status WhatsApp", ucap El sambil meringis.


" Owh begitu, jadi sekarang El sudah boleh bawa ponsel sendiri?", tanya Bram lagi.


" Iya, betul, biar mudah kasih kabar kalau lagi telat pulang, kenapa?, mau minta nomer El buat dikasihkan ke penipu itu?, nggak bisa!".


Ucapan Bu Fatma membuat El yang sudah cukup besar jadi bertanya-tanya, siapa penipu yang neneknya bicarakan dengan Om Bram?.


" Owh, bukan begitu Bu Fatma, saya tidak ada urusan dengan hal itu. Hanya saja sebagai orang baik, bukankah sebaiknya kita memberi tahu yang sebenar-benarnya kepada El, sebelum suatu saat nanti El justru mengetahui hal itu dari orang lain", ucap Bram.


Dila dan Fatma saling menatap, dan Indri justru merasa bingung mendengar percakapan Bram dengan ibu dan kakak iparnya.


" Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan sih ?, apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui?", Indri menatap Dila dan Bu Fatma bergantian.


" Nggak ada kok, Bram hanya membicarakan tentang hal tidak penting sayang, sudah ayo kita balik kerumah sekarang. Males ibu kalau berurusan dengan saudara dari keluarga mantan istrinya Indra!", ujar Fatma dengan sinis.


" Ayo El kita pulang sekarang, sudah hampir siang, penerbangan kalian kan sebentar lagi". Fatma menggandeng tangan El dan mengajaknya pulang ke rumah Indri meninggalkan Bram yang masih berdiri di jalanan depan Central market.

__ADS_1


" Aku duluan ya Bram, sorry, kalau ada kesempatan kapan-kapan bisa ngobrol lagi", ujar Dila sambil berlari mengejar ibu , Indri, dan juga El yang sudah berjalan cukup jauh.


__ADS_2