
Dan benar saja tengah malam Indra baru saja sampai di rumah, Indra memang sengaja naik kereta agar lebih cepat sampai, dan dari stasiun Indra naik taksi sampai rumah.
Suasana rumah ternyata masih ramai meski tengah malam, karena banyak orang begadang sambil bermain kartu di tenda biru.
Hanya saja justru orang-orang yang bermain kartu disana Indra tidak hafal namanya satu persatu, hanya merasa memang pernah melihat karena mereka tetangga mertuanya.
Indra menyapa bapak-bapak yang sedang bermain kartu namun tidak bergabung dengan mereka, karena Indra ingin segera masuk ke dalam rumah, bertemu anak dan istrinya terlebih dahulu.
Di dalam rumah ternyata juga masih ramai ibu-ibu yang sedang membuat jajan untuk suguhan di acara resepsi pernikahan Dita besok.
Indra menatap segerombol ibu-ibu yang sepertinya sedang mengepal-ngepal nasi diisi suwiran daging ayam dan dibungkus dengan daun pisang, nampak wujud akhirnya seperti lemper.
Ada juga gerombol ibu-ibu yang lain di ruang tengah, mereka sedang membuat adonan kue karena Indra pernah melihat Dila dan ibunya melakukan hal itu, mengocok telur bersama gula dengan mixer. Ada juga yang sedang mengeluarkan bolu yang sudah matang dari oven, dan memasukkan adonan yang baru ke dalam oven.
Di gerombolan lain terlihat ibu-ibu sedang memotong-motong buah-buahan seperti timun, bengkuang, nanas dan juga wortel, sepertinya mereka akan membuat acar buah untuk menu paresmanan besok.
Dan di dapur juga masih banyak ibu-ibu lain yang sedang memotong-motong ayam, ada juga yang sedang mengulek bumbu di cobek.
Sungguh rumah menjadi terasa sempit karena begitu banyak orang yang berada di dalamnya.
" Baru sampai nak Indra ?".
Indra menoleh dan mengangguk sambil tersenyum saat salah seorang ibu-ibu menyapanya.
" Iya baru sampai, bapak dan Ibu kok nggak kelihatan bi?", tanya Indra, karena justru sejak tadi tidak melihat yang punya rumah.
" Mereka ya istirahat, kan besok pagi harus bangun pagi dan di rias wajah pagi-pagi sekali".
Indra hanya membulatkan mulutnya, ber 'ooh...' panjang.
" Ternyata seperti ini hajatan di desa, para tetangganya kompak membantu dan nggak takut capek, bekerja sama membuat suguhan untuk acara besok. Padahal mereka semua bekerja suka rela, tapi sampai begadang semalaman. Perlu di acungi jempol perjuangan mereka untuk kesuksesan acara ini", batin Indra.
Setelah mengobrol sebentar dengan para ibu-ibu yang masih sibuk memasak, Indra masuk kedalam kamarnya, Dila nampak sedang tidur dengan pulas, begitu juga dengan El dan Arsy yang ada di ranjang yang sama.
Indra langsung mengecup bibir Dila, membuat Dila terbangun karena merasa ada sentuhan lembut di bibirnya.
__ADS_1
" Mas baru sampai?", Dila bangkit dari tidurnya dan beranjak dari kasur untuk menyambut suaminya yang baru saja sampai.
Indra mengangguk, " Iya, mas baru sampai", Indra langsung mencium bibir Dila, dan bahkan sempat melakukan lumayan lembut cukup lama, bahasa gaulnya melakukan french kiss. Terlihat jelas sorot rindu di mata keduanya.
Namun Dila buru-buru menghentikan aksi mereka, karena tiba-tiba El bergerak-gerak, takut tiba-tiba bangun dan melihat adegan dewasa antara ayah dan ibunya di depan mata. Tapi ternyata El kembali tidur dengan pulas.
" Sayang... itu para tetangga kok jam segini masih pada masak-masak disini, apa mereka nggak pada tidur?", tanya Indra yang sejak tadi penasaran.
Dila hanya tersenyum mendengar pertanyaan suaminya.
" Memang begitu kalau di sini Mas, mereka tidurnya besok kalau resepsi sudah selesai, kompak banget kan ibu-ibu disini?, makanya beda banget kalau tinggal di kampung sama di kota. Di kampung itu rasa solidaritas dan kebersamaan masih terjaga".
" Kalau di tempat kita, boro-boro ada tetangga yang bantu, semuanya pasti pesan ke jasa katering, hehe", Dila meringis membandingkan keadaan di desa dan di kota.
" Benar juga ucapanmu, di kota semuanya di nilai dengan uang".
" Kalau sudah capek begitu apa mereka akan dibayar sama bapak dan ibu nantinya?", tanya Indra.
" Ya enggak lah Mas, bukan dibayar, tapi sekedar ucapan terimakasih, karena kalau di bayar tentu saja nggak mampu, kan mereka sampai nggak tidur semalaman, hanya saja gantian, kalau ada tetangga yang akan hajatan, bapak dan ibu juga akan melakukan hal yang sama seperti mereka, membantu sampai acara selesai", terang Dila.
" Mas mau istirahat langsung kan, sudah capek melakukan perjalanan jauh, Ari mana?", tanya Dila.
Dila mengangguk paham.
" Mas juga nggak ngantuk, tadi sudah tidur di kereta, Mas mau ikut gabung sama bapak-bapak yang lagi begadang main kartu di luar. Biar bisa lebih mengenal orang-orang sini", ujar Indra.
Dila mengangguk setuju, " Kalau begitu aku lanjut tidur ya Mas..., soalnya tadi baru masuk kamar jam 12, anak-anak juga baru tidur jam segitu", Dila menatap jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 2 dini hari, berarti dirinya dan anak-anak baru tidur sekitar 2 jam.
" Iya, kamu lanjut tidur saja, Besok pas adzan subuh mas bangunin lagi", ujar Indra.
" Ngapain di bangunin?, biasanya juga bisa bangun sendiri", protes Dila, karena memang biasanya Dila lah yang bangun terlebih dahulu dari pada yang lain.
" Mas sudah kangen sama kamu, kasihan si kecil... sudah seminggu di anggurin, nanti sebelum subuh kita lakukan satu ronde ya sayang...", pinta Indra memelas.
Dila hanya melirik sambil mengangguk, tentu saja Dila tidak mungkin menolak, dirinya juga sudah rindu akan kehangatan sang suami. Karena sudah seminggu mereka tak bersama.
__ADS_1
Setelah Indra keluar kamar Dila kembali merebahkan diri dan tidur dengan nyenyaknya, sampai saat Indra kembali masuk kamar jam 4 pagi, Dila yang di gotong ke kasur busa yang ada di lantai oleh Indra tidak merasakan apa-apa.
" Sayang kita lakukan sekarang ya, mumpung anak-anak masih tidur", bisik Indra yang langsung melakukan sentuhan-sentuhan lembut di sekujur tubuh Dila.
Tak lupa Indra mematikan lampu terlebih dahulu dan menutupi tubuhnya dan Dila dengan selimut, khawatir saat sedang beraktivitas panas tiba-tiba El terbangun. Karena El sudah besar sekarang, dia sudah tahu apa yang sedang orang lain lakukan, dan tidak sepantasnya seorang anak melihat orang dewasa sedang bergumul dan memadu kasih di kasur.
Dila membuka mata lebar, karena sentuhan Indra membuat rasa ngantuknya menghilang entah kemana, dan pergulatan kedua suami istri yang sedang sama-sama memendam kerinduan pun tak ter-elakkan. Indra yang sudah turn on, dan Dila yang sama-sama sudah menginginkan nafkah batin dari Indra seolah seperti gayung bersambut, mereka begitu menikmati pagi indah yang penuh cinta.
Hanya saja kenikmatan itu hanya bisa tersalurkan sekali saja, karena satu ronde dengan durasi yang cukup lama, membuat Dila harus bisa menahan Indra meminta lagi, sebentar lagi pagi, dan akan ada banyak kegiatan hari ini.
Mereka harus menyiapkan tenaga untuk menghadapi rentetan acara hari ini, jika keinginan ber cinta mereka dituruti, mungkin akan menguras tenaga mereka, hingga habis.
" Sudah Mas, di lanjut nanti malam lagi, nanti keburu siang, kita belum mandi dan sholat subuh", bisik Dila meminta Indra untuk menghentikan keinginannya untuk melanjutkan ke ronde kedua.
Namun bukan Indra namanya jika tidak berhasil menyalurkan keinginannya lagi. Saat Dila hendak keramas di kamar mandi, Indra menelusup masuk ke kamar mandi yang hanya berukuran 1,5 x 2 meter itu, di tempat se sempit itu Indra kembali menyalurkan hasratnya.
Dan akhirnya mereka berdua mandi pagi bersama.
El bangun saat Indra dan Dila sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapi hendak sholat, " Sayang ayo kita subuh bersama, ambil air wudhu, ayah dan Ibu tunggu ya", ujar Indra.
Dengan langkah masih memejamkan mata El masuk ke kamar mandi untuk wudhu. El keluar dan ikut sholat subuh berjamaah bersama ayah dan ibunya.
" Ayah kapan sampai?", tanya El saat mereka selesai sholat.
" Tadi malam ayah sampai, sekitar jam 2, El lagi bobo nyenyak, makanya nggak tahu pas ayah sampai", jawab Indra.
" Sekarang El keluar dan bangunin Tante Dita, dia harus bangun pagi buat di rias pengantin nanti", Dita memang sedang datang bulan,n karena itulah dia sengaja memasang alarm jam 5, biar bisa tidur agak lama an.
El mengangguk setuju, namun saat keluar ternyata Dita sudah bangun dan sedang duduk di kasurnya dengan rambut acak-acakan sambil menguap, khas orang yang baru bangun tidur.
" Tante Dita, sudah bangun ya?, El disuruh Bu Dila buat bangunin Tante Dita, eh malah sudah bangun duluan, katanya disuruh buruan mandi, sebelum pihak MUA datang buat merias Tante".
El duduk di samping Dita yang semalam kurang tidur karena ngobrol dengan Nino lewat telepon.
Dita memang sengaja memperjelas posisinya di hati Nino, termakan ucapan Mia, Dita jadi penasaran dan bertanya langsung pada Nino sebenarnya apa alasan Nino menyukainya, benar apakah karena dirinya mirip dengan Dita.
__ADS_1
Namun Nino membantah, dia mengatakan alasan lain kenapa dia menyukai Dita. Meski padahal alasan yang sebenarnya memang persis seperti dugaan Dita. Karena Dita begitu mirip dengan Dila. Tapi sebagai orang yang pandai menjaga hati, Nino tidak mungkin mengiyakan begitu saja. Bisa batal pernikahannya hari ini, jika dirinya mengatakan yang sebenarnya.
Nino berpikir lambat laun dirinya juga akan menyukai Dita sebesar cintanya terhadap Dila dimasa lalu, karena seperti kata pepatah jawa, "witing tresno jalaran soko kulino". Jika mereka terus hidup bersama setiap hari, nantinya juga akan tumbuh benih cinta, yang semakin lama semakin dalam. Itulah yang diyakini Nino selama ini.