Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 69


__ADS_3

Makan siang bersama dan mandi bersama di kamar mandi ruangan Indra, sungguh pengalaman pertama yang sangat mengesankan, baik untuk Dila maupun Indra. Karena saat mandi Indra sempat mengulang adegan panas yang tadi di lakukannya di ruang kerja.


" Aku langsung ke kampus lagi ya Mas, kalau nanti pulang agak sore berarti karena harus menyelesaikan laporan kegiatan KKN kemarin hari ini juga".


Dila berpamitan pada Indra, untung saja di ruangan Indra ada kipas angin yang bisa digunakan untuk mengeringkan rambutnya, sehingga Dila keluar dari ruangan Indra sudah dengan rambut kering dan tidak membuatnya malu. Sejak kejadian itu, Indra berniat membeli hairdryer dan disimpan di ruang kerjanya. Sebagai persiapan jika Dila datang ke kantor dan dirinya kembali lepas kontrol.


Setelah Dila sampai di kampus, dia langsung mengikuti kelas selama satu jam, dan saat hendak pulang ke rumah, teman-teman KKN yang satu grup dengannya menunggu Dila di ruang kelas yang tidak dipakai, mereka sengaja akan menyelesaikan laporan kegiatan KKN bersama-sama, jadi jika ada yang masih bingung dan perlu di tanyakan bisa bertanya langsung pada teman lainnya.


Jam menunjukkan pukul setengah 6 sore. Dila baru saja selesai membuat laporannya, begitu juga dengan teman-teman yang lain. Dila menyimpan semua file laporan kegiatan KKN di laptopnya, kemudian mencetak laporan itu untuk diserahkan kepada dosen. Yang lain juga melakukan hal yang sama. Dan semua laporan dikumpulkan menjadi satu, Bima sebagai ketua kelompok yang bertanggung jawab menyerahkan tugas itu besok pagi.


" Karena sudah selesai membuat laporannya, mau pada langsung balik atau mau makan-makan bersama dulu, sebagai pesta perayaan kecil-kecilan setelah kita capek-capek ngerjain tugas laporan ini?", tanya Bima sang ketua kelompok.


Tiga gadis lainnya langsung setuju dengan usul Bima, karena mereka bertiga memang sedang PDKT pada Bima, kelima teman pria lainnya juga setuju, karena mereka juga merasa lapar dan butuh makan setelah mengerjakan tugas laporan yang cukup melelahkan.


" Kalau begitu aku ngikut kalian saja, mau makan dimana?, yang ada musholanya ya, biar bisa mampir maghrib sekalian", pinta Dila sambil memasukkan buku dan laptop ke dalam tasnya. Tak lupa Dila mengirim pesan, meminta ijin pada Indra untuk pergi bersama teman-teman kuliahnya.


Saat ini Dila dan kesembilan teman satu kelompok KKN memutari satu meja besar yang sengaja dibuat dari dua meja yang digabung menjadi satu di salah satu kafe terdekat dari kampus.


Setelah memesan makanan Dila memilih untuk ke mushola kafe terlebih dahulu dari pada menunggu makanan hanya dengan mengobrol tidak jelas dan ber haha hihi dengan teman-temannya itu.


Usai sholat maghrib, saat keluar dari mushola kafe, Dila dikejutkan oleh suara Bima yang menghentikan langkahnya.


" Bisa ngomong sebentar nggak?".


Dila menoleh dan berhenti di depan Bima. "Mau ngomong apa?".


" Maaf kalau malam itu aku sudah mengatakan hal yang menyakiti hatimu, aku hanya menebak-nebak awalnya, tapi ternyata semua yang ku tuduhkan pada kamu adalah salah besar", Bima mengulurkan tangannya meminta menjabat tangan Dila sebagai tanda mereka saling berdamai dan memaafkan.


Dila menatap tangan Bima yang sudah terulur sejak tadi, terlihat Dila nampak berpikir sejenak, namun saat tangannya hendak menerima uluran tangan Bima, Ninda tiba-tiba muncul sambil memberi tahu jika di depan ada Indra yang mencari Dila. Dila akhirnya mengurungkan berjabat tangan dengan Bima dan keluar menuju meja dimana teman- temannya berada.

__ADS_1


" Eh Mas, sudah selesai kerjanya?", Dila mencium tangan Indra di depan teman-teman kuliahnya, semua sudah tahu jika Indra adalah suami Dila, semenjak Indra sering menjenguk Dila bersama dengan El saat KKN kemarin.


Teman-teman Dila mengangguk sopan pada Indra.


" Aku pesenin makan malam juga buat Mas ya, sebentar, mas duduk dulu saja sama yang lain". Dila meninggalkan meja dan menambah pesanannya.


Awalnya Dila merasa tidak enak kalau teman-teman nya merasa terganggu dengan kedatangan Indra dan hendak mengajak Indra untuk duduk di kursi lain, namun saat Dila kembali ke meja untuk bergabung bersama teman-temannya ternyata teman-teman Dila sedang ngobrol seru dengan Indra. Dila baru tahu ternyata Indra bisa humble dan menyatu dengan anak-anak muda seusianya. Selama ini Dila pikir Indra lelaki yang dingin, angkuh, dan monoton, tapi malam ini dia ngobrol bersama teman-teman laki-laki Dila yang satu kelompok KKN dengannya kemarin.


" Wah Dil, aku baru tahu ternyata suami kamu asyik diajak ngobrol dan sharing, harusnya kamu nggak perlu kerja kelompok saat buat laporan kegiatan KKN kemarin, aku yakin suami kamu itu jagonya membuat laporan kegiatan. Pasti Mas Indra sudah sering membaca berbagai macam laporan dari karyawannya", Satria terus memuji Indra sejak tadi, membuat Dila justru merasa kurang nyaman.


" Nggak bisa begitu, Mas Indra sudah sibuk dengan pekerjaannya, bagaimana bisa aku menambah kesibukannya dengan memintanya membantuku membuat laporan kegiatan KKN", ujar Dila.


" Iya kamu itu Sat, lagian Pak Indra tentu saja sudah punya kesibukan lain kalau bertemu sama Dila, sibuk merancang dan mendesign calon adiknya El, hihihihi", Ninda terkikik sambil menutup mulutnya.


Candaan Dila ternyata membuat suasana di kafe menjadi riuh, teman-teman Dila yang sudah cukup dewasa dan mengerti maksud ucapan Ninda pun ikut tertawa.


" Bukan cuma merancang dan mendesign calon adiknya El saja, tapi juga sekaligus merangkap menjadi instruktur senam, menjadi pembuat tato dan juga....", ucapan Satria belum selesai tapi keburu dibungkam oleh tangan Bima.


" Sori sori, tadi aku kebablasan, sori Mas Indra, tadi cuma candaan saja, jangan diambil hati ya Mas". Satria memang tipe yang cukup kocak dibanding yang lain.


Indra hanya mengangguk, tidak mempermasalahkan candaan yang dikatakan oleh teman-temannya Dila, karena memang benar apa yang mereka katakan.


Suasana pun kembali sepi dan mereka semua menikmati makan malam mereka yang sudah tersaji di meja makan. Malam itu Indra yang mentraktir teman-teman Dila karena semua teman Dila sudah welcome dan asik diajak ngobrol.


" Kita balik dulu ya guys, makasih buat traktirannya Mas Indra, sering-sering saja gabung sama kita, biar kita lebih irit hehehehe", lagi-lagi Ninda terkekeh sambil menutup mulutnya.


Dila dan Indra juga pamitan dengan yang lain dan masuk ke mobil untuk pulang ke rumah.


" Sudah jam 7 malam, pasti El sudah dirumah, aku merasa semakin renggang dengan El semenjak kembali ke rumah kamu Mas, mungkin karena begitu banyak kesibukan di kampus, KKN, dan juga sibuk keliling mengontrol outlet, aku jadi merasa menjadi ibu yang tidak baik", Dila menyampaikan unek-uneknya pada Indra.

__ADS_1


Indra mengusap rambut Dila dengan sebelah tangannya, " kamu tidak perlu berfikir begitu karena El tidak pernah merasa kamu berubah, apa lagi sekarang El sudah besar dan sudah bisa mandiri, dia menyadari kalau ibunya juga sibuk, kamu santai saja sayang".


Dila mengangguk mengerti, mobil sampai di rumah, dan benar saja, El sudah menunggu kedatangan mereka di teras rumah bersama neneknya.


" Kalian pulang bareng, atau sengaja janjian di luar tanpa sepengetahuan kami yah?", selidik Fatma.


Dila langsung menggendong El yang mengulurkan kedua tangan padanya.


" Ibu apaan sih... aku jemput Dila ke kampus karena dia pulang telat. Habis selesein laporan kegiatan KKN kemarin katanya", terang Indra.


Fatma tahu hal itu, karena Dila juga berpamitan padanya, tidak bisa pulang cepat. Pertanyaan menyelidik yang Fatma lakukan tadi hanya sekedar basa-basi.


" Dila ajak El ke kamar dulu ya Bu", pamit Dila sambil menggendong El menuju kamar El.


Dila hanya menyempatkan masuk kamar mandi El sebentar untuk cuci muka dan tangannya karena hendak membacakan buku cerita dongeng untuk El.


El memang masih sangat suka mendengarkan dongeng pengantar tidur setiap malam, bahkan dulu saat Dila tidak ada, Indra dan Fatma yang sering membacakan dongen pengantar tidur El.


" Bu Dila, kata nenek, kita akan pergi ke kampung rumah tempat tinggal Bu Dila saat masih kecil, kapan kita kesana?", El lebih dulu bertanya sebelum Dila membacakan buku cerita.


" Kita kesana saat ayah, nenek dan kakek El ada waktu senggang dan nggak sibuk", jawab Dila apa adanya. Memang benar mereka semua akan ke kampung Dila dan mengadakan resepsi pernikahan saat jadwal ketiganya tidak sibuk.


" El mau lihat kampung Bu Dila seperti apa, apa seperti di gambar-gambar yang banyak sawah hijau dan pepohonan yang rindang?".


Pertanyaan El membuat Dila tersenyum, "tentu saja sama seperti di gambar, nanti kalau sudah diputuskan waktunya kapan, pasti El bisa melihat sawah hijau dan ladang yang sangat luas".


El langsung mengangguk kegirangan, El belum pernah melihat sawah hijau dan ladang yang luas, pasti akan sangat menyenangkan jika bisa melihat pemandangan pedesaan seperti di buku cerita.


Dila memulai membacakan buku cerita karena El sudah tidak lagi bertanya-tanya. Dan seperti sebuah dejavu, setelah sekian lamanya Dila tidak membaca buku cerita dongeng untuk El, malam ini Dila mengulang kembali rutinitasnya tiga tahun silam, membacakan cerita pengantar tidur untuk El. Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam hatinya.

__ADS_1


"Semoga tidak ada lagi kesalahpahaman yang bisa merusak rumah tangga kami", doa Dila dalam hatinya.


__ADS_2