
Hari minggu seperti rencana awal, Dila dan Indra sengaja ingin beristirahat di rumah, rasa lelah dan capek setelah berbagai rentetan acara pernikahan Dita, dan juga capek setelah melakukan perjalanan jauh membuat Indra berinisiatif mengundang tukang pijat ke rumahnya.
Seorang tukang pijat perempuan dan satu lagi laki-laki. Dan akhirnya semua penghuni rumah ikut serta dipijat secara bergantian.
Mula-mula Indra dan Dila yang dipijat di kamar yang berbeda tentunya, kemudian gantian bi Ana dan bi Darsih, juga Ari dan Mang Santo tak mau ketinggalan.
Tukang pijat tuna netra yang menerima panggilan sebenarnya rekomendasi dari Ari, saat kemarin malam Indra mengeluhkan badannya yang pegal-pegal.
Ari yang tinggal dekat dengan pasangan suami istri tuna netra yang menjadi tukang pijat, menjemput kedua tukang pijat itu dan di bawa ke rumah Indra.
Ternyata setiap manusia itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, contohnya saja pasangan tuna netra yang menjadi tukang pijat itu, mereka berdua memang tidak bisa melihat, tapi mereka punya kemampuan memijat dengan baik. Buktinya semua yang habis dipijat merasakan tubuh mereka kembali enakan, fit dan pegel-pegel menghilang.
Indra yang sudah menyuruh Ari mencarikan tukang pijat pun memberikan upah pijat pada pasangan itu. Mereka kembali di antar pulang oleh Ari ke rumahnya.
" Ini titipan dari bos ku, sebagai ucapan terimakasih karena sudah memijat semua orang di rumah bos ku tadi. Katanya pijatannya enak, lain kali bos bisa memanggil kalian berdua lagi kalau badannya pegel-pegel", Ari menyerahkan amplop pada sang suami.
Langsung dibukanya amplop itu, " Wah... banyak sekali upah yang diberikan?, ini kebanyakan Mas Ari", ucap si tukang pijat laki-laki setelah meraba uang yang berada di dalam amplop.
" Sudah simpan saja, itu rejeki Mas dan keluarga, saya pamit permisi dulu", ucap Ari keluar dari rumah tukang pijat.
Ari kembali ke kediaman Indra, di sana semua sedang membahas rencana keberangkatan ke Malaysia besok.
" Jadi mau pergi lagi toh Dil?, baru saja pulang, sudah mau bepergian lagi, nggak capek apa?", tanya Bi Ana.
" Capek Bi, tapi sudah mendingan setelah dipijat barusan, lagian mumpung aku dan El lagi liburan lama, jadi harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin".
" Kemarin sudah seminggu di kampung, tinggal besok seminggu lagi di luar negeri, biar imbang, antara ke keluarga ku dan ke keluarga Mas Indra", ujar Dila.
" Saya cuman khawatir karena Arsy masih kecil, dia pasti capek kalau bepergian terus, jangankan Arsy, aku yakin El juga pasti capek, karena kamu dan pak Indra saja kecapekan", ucap bi Ana.
__ADS_1
Memang benar yang dikatakan oleh Bi Ana, jika El dan Arsy pasti capek, karena Dila dan Indra yang sudah dewasa saja merasakan hal yang sama. Namun mau bagaimana lagi, terlanjur sudah berjanji mau ke Malaysia, kalau tidak jadi, pasti Bu Fatma dan Indri akan sangat kecewa.
Akhirnya Dila yang rencana awal akan berada di Malaysia selama seminggu, merubah agenda mereka kembali. Tidak perlu tamasya kemana-mana, ke rumah Indri saja untuk bersilaturahmi selama 3 hari, yang penting sudah sampai di Malaysia, dan pergi tamasya bisa lain waktu.
Setelah berunding semalaman dengan Indra, mereka memutuskan untuk di Malaysia hanya 3 hari.
Berangkat hari Senin siang dengan penerbangan dari Jakarta ke Kuala lumpur, ini adalah kali pertama Dila pergi keluar negeri, dan bahkan dia harus membawa si kecil Arsy dan juga El, sungguh pengalaman pertama yang mengesankan.
Untung saja hanya ke Malaysia yang waktu terbang hanya selama 2 jam, jadi tidak terlalu lama. Karena ternyata Arsy menjadi rewel saat di dalam pesawat.
" Kenapa Arsy jadi rewel begitu sayang?", Indra merasa tidak enak dengan penumpang yang lain.
" Sepertinya dia mengantuk, atau lapar, biar aku beri ASI, semoga saja dia jadi diam", bisik Dila.
Terpaksa Dila harus memberi putrinya ASI di dalam pesawat agar Arsy tenang. Untung Indra memesan bangku kelas bisnis, sehingga kursinya lebih privat, dan Dila juga membawa penutup dada, agar saat menyusui di tempat umum, bagian dadanya tetap tertutup.
Pesawat mendarat di bandara internasional Kuala lumpur, dan saat keluar mereka langsung di sambut oleh Bu Fatma dan Rizal, juga Indri dan suaminya, tak ketinggalan putri kecil Indri yang ikut menjemput.
" Kalau kalian semua datang kesini, bagaimana kami akan menumpang di mobil kalian?, mobil bahkan sudah penuh sebelum kami ikut naik", ujar Indra merasa lucu.
" Tenang kak, tadi ayah bawa mobil sendiri dan aku juga bawa mobil sendiri, jadi ada dua mobil, barang-barang kakak bisa dibawa di mobilku, dan kakak sekeluarga bisa ikut mobil ayah", terang Indri.
" Denger tuh Mas, mereka pasti lebih tahu apa yang harus di lakukan, memangnya Mas pikir mereka anak kecil yang nggak kepikiran sampai kesitu", Dila berbisik di telinga Indra. Indra hanya terkekeh.
Setelah memasukkan barang-barang bawaan ke mobil adiknya, Indra ikut masuk ke mobil sang ayah bersama ibunya.
" El mau ikut sama mobil Tante Indri saja, El mau ajak main adik cantik, dari tadi Arsy nangis terus berisik", ujar El sambil menggandeng tangan Indri yang sedang menuntun putrinya.
" Jadi begitu, ya sudah El naik mobil nya Tante Indri, tapi harus bisa jagain adik cantik ya sayang?, nggak boleh dibikin nangis", pesan Dila.
__ADS_1
" Oke Bu Dila", El mengacungkan jempol tangannya dan ikut masuk ke mobil Indri.
Setelah sampai di rumah Indri, rencana Dila dan Indra di sampaikan pada Indri dan kedua orang tua nya, memang Dila ingin sekali bisa mengajak El liburan, tapi sepertinya dari awal berangkat saja Arsy sudah sangat rewel, mungkin benar kata bi Ana, jika Arsy pasti capek terus bepergian, karena Arsy masih terlalu kecil, usianya saja belum genap satu tahun.
Fatma dan Indri memaklumi keadaan Dila.
" Ya sudah nggak papa yang penting sudah sampai disini, besok kita main ke menara kembar Petronas saja, mampir sebentar buat foto-foto, sayang kan, sudah sampai di sini, lagian coba lihat, menaranya nggak terlalu jauh dari sini, dari jendela saja bisa terlihat", ujar Fatma.
Dila pun mengangguk setuju, setidaknya dirinya akan mengunjungi satu tempat yang populer di Malaysia. Untuk mengambil foto dan mengabadikan momen dirinya sudah sampai di Malaysia.
Indra dan Dila tinggal di rumah Indri yang juga cukup luas. Komplek perumahan Indri juga tergolong perumahan elit, karena semua rumah terlihat besar dan luas. Dan sangat sepi, seolah jarang sekali ada orang lewat. Sama seperti komplek di perumahan tempat tinggalnya.
" Kamu sudah lama tinggal di sini Ndri?", tanya Dila saat mereka sedang bersantai di ruang tengah.
" Belum lama kak, belum ada setahun, karena awalnya kami tinggal di apartemen milik suamiku".
" Rumah ini dibeli belum terlalu lama, kami harus bekerja dan menabung terlebih dahulu agar bisa membeli rumah untuk kami tinggal. Awalnya ayah dan Ibu mau membelikan rumah pada kami. Tapi suamiku tidak mau, katanya mau usaha sendiri, dan pengin beli rumah dari hasil jerih payahnya sendiri, biar terasa nyaman di tempati, tidak ada perasaan yang mengganjal".
" Sama seperti Mas Indra dulu, dia kan juga tidak mau dibelikan rumah sama ayah dan ibu, Mas Indra harus bekerja keras dulu untuk membeli rumah yang sekarang kalian tempati".
Dila mengangguk paham, ternyata meski Indra dan Indri adalah anak orang kaya, mereka berdua tidak manja dan semena-mena menghamburkan harta orang tuanya, mereka lebih suka memiliki segalanya dari hasil jerih payah sendiri, sungguh kedua orang tuanya sudah berhasil membesarkan dan mendidik putra-putrinya dengan sangat baik.
Bahkan Indra dan Indri sudah sukses tanpa bantuan orang tua mereka, mereka membangun usahanya sendiri di bidang lain yang berbeda dari usaha milik orang tuanya.
Lantas sekarang, jika kedua anaknya sibuk dengan bisnis masing-masing, siapakah yang akan melanjutkan usaha milik ayah Rizal?.
Tentu saja tetap Indra yang akan di pasrahi, karena Indra lah yang tinggal di Indonesia, dan Indra juga anak laki-laki yang digadang-gadang akan meneruskan usaha orang tua nya.
Hanya saja bukan saat ini, menunggu Indra siap dan mau melanjutkan usaha ayahnya. Karena menurut Indra dia kurang menyukai bisnis di produksi bahan-bahan makanan seperti ayahnya. Karena Indra lebih suka di bidang perhotelan seperti usaha yang dimilikinya.
__ADS_1