Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 109


__ADS_3

Selain acara tersebut, bagi keluarga ibu hamil biasanya akan mengirim satu nasi tumpeng beserta lauk ke kediaman kepala desa sebagai rasa hormat.


Saat itu ibunya Asna, bibi dari Dila yang mengantarkan nasi tumpeng ke rumah Nino. Otomatis Nino jadi tahu jika saat ini Dila sedang hamil, dan usia kandungannya sudah 7 bulan.


" Tolong sampaikan pada Bu Siti ucapan terimakasih dari saya, dan semoga Dila dan juga calon anaknya akan diberi kesehatan dan kemudahan saat persalinan nanti", ucap Nino dengan suara sendu dan penuh penekanan.


Ibunya Asna pun pamit pulang bersama Asna yang mengantarkan menggunakan motornya. Namun Asna pamit pada ibunya untuk ngobrol sebentar dengan Nino.


Asna masuk kedalam rumah Nino saat sang ibu menunggunya di luar.


" Mas Nino kalau bisa segeralah cari pengganti Dila, Mas sudah cukup umur untuk menikah, dan sepertinya Dila sudah mantap untuk hidup bahagia bersama suaminya, jangan menantikan sesuatu yang tidak pasti, jika memang dulu ada janji yang tak bisa Dila tepati, aku yakin pasti Dila tidak sengaja melakukannya, maafkan Dila Mas, dan ikhlaskan dia", begitulah Asna dan Nino jika tak ada orang lain bersama mereka, seperti teman lama yang ngobrol dengan santai. Asna akan memanggil kades muda itu dengan sebutan Mas, tetap sama seperti dulu.


Asna tahu Nino begitu mencintai Dila, sangat dalam, karena selama bertahun-tahun Nino tidak pernah sekalipun berpacaran dan dekat dengan perempuan lain, selama masa penantiannya menunggu Dila pulang dari perantauan, Nino selalu menjaga hatinya. Rasa sayang yang terlalu dalam, membuatnya sampai saat ini belum terfikir untuk mencari perempuan lain sebagai pengganti Dila.


Meski sudah banyak yang sering meledeknya, " Pak kadesnya ganteng, kok Bu kadesnya belum ada...", atau sindiran lain yang tidak pernah di gubris oleh Nino.


Selama ini yang menjadi ketua Tim penggerak PKK di desa adalah ibunya Nino, beliau yang selalu mensupport putranya agar tidak terus-menerus menjadi bahan pembicaraan warganya yang membutuhkan sosok Bu Kades. Tidak ada yang lebih mengetahui isi hati Nino dan pengertian selain ibunya.


" Saya sudah berulang kali ngomong begitu sama si Nino As.... tapi nggak pernah di dengerin itu anak", Bu Atun keluar dari dalam rumah karena mendengar suara Asna yang sedang menasehati putranya di ruang tamu.


" Eh, ternyata ada Bu Atun di rumah, maaf kalau saya lancang Bu Atun, hanya saja sayang Mas Nino nya itu sebenarnya ganteng, banyak yang mau jadi istrinya, tapi nggak move on- move on dari si Dila".


" Saya juga tahu dulu Mas Wowo suka sama Dila, tapi pelan-pelan bisa juga melupakan Dila semenjak berpacaran dengan saya".


" Di coba saja dulu Mas Nino, dekat dengan gadis lain, sudah 27 tahun loh usia Mas, tiga tahun lagi usianya sudah kepala 3 lho...".


Mendengar Asna dan ibunya saling mendukung, Nino hanya meringis saja, memang sulit menebak isi hati orang yang karakternya pendiam seperti Nino.


Ibarat laut yang dalam, hanya Allah, dan orang itu sendiri lah tahu apa yang ada di dasarnya.


Sebenarnya Dila sangat beruntung karena dicintai oleh orang-orang baik seperti Nino, atau mungkin karena Dila sendiri orang yang baik sehingga yang menyukainya juga orang-orang baik. Namun apa mau dikata, jodoh sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa. Mungkin Dila dari dulu juga sudah berusaha menjaga diri dan menjaga hatinya, tapi mau dikata apa jika Yang Maha Kuasa berkehendak lain.

__ADS_1


" Masih ada tiga tahun toh As... sampai usiaku 30 tahun, nggak papa masih lama, umur juga nggak ada orang yang tahu mau sampai kapan kita hidup di dunia ini".


" Mungkin aku tipe orang yang susah untuk bisa menyukai seseorang yang tidak terlalu aku kenal. Dulu aku selalu mengikuti kegiatan bareng-bareng sama Wowo, kamu dan Dila, aku sampai paham sekali dengan karakter kalian, kebiasaan kalian dan makanan kesukaan kalian bertiga. Dan sampai sekarang semuanya masih terekam jelas disini dan disini", Nino menunjuk kepala dan dadanya, yang maksudnya, semua memory bersama saat remaja masih tersimpan baik di pikiran dan hatinya.


" Asna.., memang seperti itu itu... kalau ibu kasih tahu juga Nino selalu seperti itu, si Dila itu pakai pelet atau susuk apa si As, sampai anakku ini begitu dalam menyukainya?", Atun memang kadang sampai lepas kontrol kalau ngomong, saking emosi dengan sikap putranya itu.


" Mbak Atun ini, Dila bukan pakai pelet atau susuk mbak, lah wong anaknya rajin ngaji rajin sholat, pernah di tirakati mungkin Pak Nino nya. Si Dila kan rajin banget tirakat waktu muda, puasa sunahnya rajin, karena memang anak orang nggak punya yang harus hidup prihatin", ibunya Asna tiba-tiba masuk lagi ke dalam rumah karena putrinya tak kunjung keluar-keluar.


" Asna... Asna, di rumah Dila masih lagi pada sibuk bantu-bantu kok kamu malah ngobrol nggak keluar-keluar sejak tadi, ibu sampai kakinya kesemutan ini nunggu kamu berdiri di samping motor sejak tadi".


" Maaf Bu Atun, kami pamit dulu, masih harus bantu-bantu di rumahnya mbak Siti, tinggal kepungan nenek-nenek, malah kayaknya sudah selesai, wong sudah mau mulai sejak tadi", gerutu ibunya Asna yang merasa geram dengan putrinya.


" Oh iya iya, monggo ..., sampaikan ucapan terimakasih buat Mbak Siti atas kiriman nasi tumpengnya", ucap Bu Atun. Nino hanya mengangguk saat Ibunya Asna berpamitan.


" Salam buat Dila ya As!", canda Nino, sengaja berteriak keras waktu Asna sudah sampai di teras rumahnya. Nino langsung mendapat pelototan dari ibunya.


" Tuh No... Asna saja yang teman kamu prihatin melihat keadaan kamu yang masih jomblo, apa itu tadi katanya?, nggak move on- move on", sindir Atun sambil membawa masuk kiriman nasi tumpeng masakan keluarga Dila.


Lagi-lagi Nino hanya meringis, " Pasti enak Bu, kalau yang masak Bu Siti, kan Nino dulu sering makan disana, tapi kalau yang masak orang lain yang lagi bantu-bantu ya nggak dijamin rasanya".


Jawaban Nino membuat Atun semakin manyun, " sok akrab banget kamu ngomong dulu sering makan disana, iya makan soto pas kumpulan karang taruna !", cibir Atun.


Nino semakin tertawa lebar karena ibunya semakin sewot, Nino memang sangat suka menggoda ibunya.


Begitu juga dengan Asna, sepanjang jalan terus di ceramahi oleh ibunya.


" Kamu itu, jangan sok perhatian sama Pak Kades, kamu kan lagi dekat sama Wowo, jadi sama laki-laki lain itu harus jaga jarak. Biar nggak ada gosip tak enak yang menyebar".


" Sampai sekarang Nino belum punya calon istri ataupun pacar, jadi kamu nggak boleh terlalu dekat, meski ibu sih ya setuju saja kalau kamu sama Pak Kades Nino, biar punya mantu kades, kan jadi bangga ibu".


Asna langsung menghentikan motornya dan turun dari motor karena sudah sampai rumah Dila. Tatapan Asna begitu tajam pada ibunya.

__ADS_1


" Ibu lagi ngimpi siang-siang begini?, mana ada Mas Nino mau sama Asna, orang tadi Asna lagi kasih masukan biar Mas Nino mencoba menyukai gadis lain, dia itu patah hatinya parah, nggak bisa move on dari Dila".


" Asna ya sadar diri, nggak pantes buat berani suka sama Mas Nino yang sekarang jadi kades. Kudu sering-sering ngaca, biar ibu sadar diri juga, dan mikirnya nggak kejauhan".


Asna meninggalkan ibunya dan berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam rumah Dila. Menghampiri Dila yang sedang duduk santai di teras rumah bersama Dita.


" Bumil !, dapat salam dari sang mantan", bisik Asna lirih, namun masih bisa terdengar di telinga Dita yang duduk di samping Dila persis.


Dila langsung mengernyitkan keningnya menatap Asna yang kini duduk di sebelah dirinya.


" Ish... Mbak Asna jangan begitu, cari perkara ini bercandanya!", protes Dita.


" Serius Dita... bukan bercanda, kan aku habis nganter nasi tumpeng ke rumah pak kades. Eeh.... ngomong-ngomong suami kamu dimana?", Asna celingukan menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan Indra, takut Indra mendengar suaranya.


" Lagi jalan-jalan ke sawah sama El dan bapak", jawab Dila singkat.


" Siang-siang begini ke sawah ngapain?, auto panas cetar membahana!, nanti El yang putih bisa jadi ijo", ujar Asna sambil terkekeh.


" Mau metik kelapa ijo, tadi es kelapanya habis cuma buat dibagikan anak-anak kecil, makanya mau buat lagi, bapak mau metik lagi ke sawah, kata bapak masih ada banyak kelapa muda di sawah, eh si El minta ikut, katanya mau lihat sawah, ya Mas Indra ngikut juga buat jagain El", ujar Dila menjelaskan.


" Berarti aman dong tadi aku ngomong ada salam dari pak kades, kan suaminya nggak lagi dirumah", ujar Asna cengengesan.


Plak...!


Tepukan mendarat di kepala Asna.


" Ini anak, tadi di rumah Pak Kades sok sokan kasih masukan biar Pak Kadesnya cari pengganti, dan cepet move on dari kamu Dil, sudah sampai di rumah malah menye-menye, sampai salamnya segala di sampein", Asna langsung mendapat ceramah dari ibunya.


" Hehehehe.... ibu bisa dengar ya...", Asna menggaruk kepalanya yang bekas di tepuk ibunya.


" Ya bisa, wong punya kuping. Kamu hati-hati kalau ngomong As, mbok nak Indra dengar, nanti malah jadi masalah buat Dila", Asna lagi-lagi mendapatkan omelan dari ibunya.

__ADS_1


" Iya, ibu masuk saja sana, ngobrol sama Bi Siti, kalau ibu disini Asna jadi apes, kena pukul melulu!. Lagian Mas Indra lagi ikut ke sawah sama Paman Toto", gumam Asna sewot, menyuruh ibunya masuk ke rumah.


__ADS_2