Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 45


__ADS_3

Dila masuk ke kamar El langsung merubah mode angker dan jutek menjadi mode ibu peri yang penuh kasih sayang.


" Wah, lama ya nunggu Ibu ganti pakaian?", Dila duduk di samping El yang sudah rebahan sambil memainkan rubik.


Melihat Dila masuk, El langsung meletakkan rubik yang sedang dimainkannya di atas nakas.


" Enggak lama kok Bu Dila, masih lebih lama waktu Bu Dila pelgi siang-siang tadi. Apa sekalang ibu sudah nggak malah-malah lagi?, El minta maaf kalau El udah bikin ibu malah dan teliak-teliak ".


Ucapan El membuat Dila merasa bersalah, " ibu nggak marah sama El kok, apa tadi ibu berteriak?, wah... ibu lupa, maaf ya sayang", Dila pura-pura lupa.


" Oh iya... sekarang El mau ibu bacakan buku cerita yang mana?", Dila menunjuk beberapa buku dongeng pada El. El memilih satu buku cerita tentang gajah dan monyet.


Dila pun membacakan buku cerita itu agar El segera tidur. Dari cerita penghuni rumah yang lain El sejak tadi rewel, berarti El belum tidur siang, ini kesempatan El untuk tidur lebih awal. Dan benar saja Dila selesai membaca satu buku cerita, El sudah tidur dengan nyenyak.


Dila langsung turun dari ranjang El dan menutup pintu kamar El, agar lebih tenang dan suara dari luar tidak masuk ke dalam. Dila kembali ke kamar Indra untuk menyelesaikan masalah tadi siang.


" Apa El sudah tidur Dil?".


Dila mengangguk mengiyakan.


" Sejak tadi siang kata bi Ana, El nggak mau tidur, dia anakku tapi terus membela kamu dan memarahi aku saat aku baru pulang dari kantor", gumam Indra.


" Anak kecil itu masih polos, dia lebih tahu mana yang benar dan yang salah, jadi anak kecil itu akan membela orang yang dianggapnya benar". Dila duduk di sofa panjang yang ada di kamar.


Indra yang sedang rebahan di kasur pun mendekat dan duduk disebelah Dila persis, tapi Dila menggeser duduknya agar tidak mepet dengan Indra.


" Kamu masih marah padaku?, maaf kan aku Dil, sebagai seorang suami, aku sudah melukai hatimu istriku, sekarang kamu mau aku bagaimana untuk menebus kesalahanku hari ini?", Indra menghadap ke Dila yang duduk dengan tegap.


" Apa untuk menebus kesalahan kamu, kamu sudah pasti akan menuruti apa pun permintaanku Mas?", tanya Dila.


" Yang penting jangan minta aku menceraikan kamu, itu tidak bisa. Aku butuh kamu Dil, El juga butuh kamu, mintalah hal yang lain".


Dila mengangguk setuju, " Baiklah, aku mau sesuatu yang lain, jadi dengarkan baik-baik permintaanku. Yang aku mau adalah... kamu ganti sekertaris kamu itu, cari sekertaris lain, kalau bisa yang laki-laki, biar nggak kegenitan sama kamu", ujar Dila.


Dila langsung menatap Indra dengan lekat, ingin melihat seperti apa ekspresi Indra saat Dila mengatakan hal itu. Dan yang Dila lihat, ekspresi Indra tidak berubah sama sekali, masih dengan wajah penuh penyesalan.


" Baiklah kalau itu mau mu, aku akan mengganti sekertaris ku dengan yang baru, tapi aku hanya memindah Tania ke bagian lain, aku tidak bisa memecatnya begitu saja, karena dia juga punya saham di perusahaan".


Dila mengangguk, " tentu saja, tidak perlu memecatnya, tapi letakkan dia di bagian yang sekiranya tidak perlu berhubungan langsung dengan kamu Mas", ujar Dila menambahkan.


Meski Dila tidak menyukai Tania, tapi hati nurani Dila masih punya sisi baik, dia juga tidak tega membuat seseorang dipecat dan jadi pengangguran, mungkin justru itu akan berbahaya jika Tania jadi pengangguran dan semakin gencar mendekati Indra karena tidak punya pekerjaan. Jadi Dila tidak masalah jika Indra hanya memindah Tania ke bagian lain.

__ADS_1


" Biar aku pikirkan dulu posisi mana yang tidak berhubungan langsung denganku, karena hampir semua penanggung jawab divisi pasti menyampaikan laporan bawahannya langsung kepadaku", ujar Indra.


" Terserah kamu deh Mas, yang jelas kabari aku jika sudah ada keputusan, dan aku mau, kamu secepatnya ganti sekertaris".


Dila berdiri sambil sedikit mengulas senyum, dalam hatinya seperti ada bunga-bunga bertebaran, karena ternyata Indra mau menuruti apa kemauannya tanpa kebanyakan alasan. Itu saja sudah cukup membuat kekecewaan Dila sedikit terobati. Dan mungkin benar kata Bu Titin, Indra benar-benar mencintainya.


" Loh mau kemana?", Indra menarik tangan Dila yang sudah beranjak dari duduknya, hendak pergi ke kamar El, hingga Dila terjerembab duduk tepat diatas pangkuan Indra.


" Aku mau ke kamar El, mau nemenin El tidur", jawab Dila sambil berusaha berdiri karena saat ini wajahnya sudah memerah karena malu.


Namun Indra menahannya dengan memeluk Dila dari samping. Masih dengan posisi Dila dipangkuannya.


" Kamu seharusnya bisa membedakan antara aku yang mau memangku, dan orang lain yang memaksa minta dipangku. Kalau tadi saat di kantor kamu melihat aku memeluk Tania seperti yang sedang aku lakukan padamu saat ini. Itu baru kamu benar mencurigai aku".


" Tapi kamu ingat kan... bagaimana posisiku siang tadi, Tania yang menyender, padahal aku sedang fokus membaca laporan darinya".


" Kalau aku sudah memiliki istri sebaik dan secantik kamu, buat apa aku harus bermain-main dengan perempuan lain, tentu saja aku akan lebih memilih kamu yang sudah sah menjadi istriku untuk menjadi teman ranjang ku, kamulah gadis yang sangat aku sayangi Dil".


" Jadi berusahalah untuk membuka hati kamu Dil, aku senang karena kamu mau mendiskusikan tentang masalah tadi siang bersamaku, usia kamu memang masih sangat muda. Tapi pemikiran kamu lebih dewasa dari usiamu".


Indra menyenderkan kepalanya di dada Dila, membuat jantung Dila berdetak lebih cepat. Dila berusaha melepaskan diri, namun Indra tetap menahannya.


" Aku tahu dan masih ingat ucapan mu tadi, kamu sedang datang bulan, aku tidak akan memaksamu melayaniku, aku hanya ingin kita lebih dekat Dil, mumpung El sudah tidur, boleh kan aku memelukmu, aku butuh seseorang untuk bersandar, menghilangkan semua lelah dan penatku setelah bekerja keras seharian".


Dulu Dila bercita-cita ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya, seperti ibu Siti pada pak Toto, hanya saja pernikahan Dila itu terjadi karena sebuah kesalahan, dan belum ada cinta saat itu, semuanya tidak sesuai dengan bayangannya selama ini.


Karena itulah Dila belum bisa menjadi istri yang baik, cinta saja belum tumbuh, bagaimana mungkin Dila akan melayani suaminya tanpa rasa cinta. Jika Dila memaksa melayani suaminya, mungkin itu justru akan menjadi siksaan untuk batinnya sendiri.


" Aku berat Mas, nanti kaki kamu bisa kram kalau memangku ku terlalu lama. Sebaiknya aku duduk sendiri saja" ucap Dila yang tak berani menatap Indra secara langsung.


Indra melepas pelukannya, namun menuntun Dila naik ke atas ranjang. Dila berusaha untuk tidak takut dan tidak mengingat kejadian malam kelam itu, agar tidak memupuk kembali rasa bencinya pada Indra .


" Aku hanya akan memelukmu Dil, aku tidak akan melewati batasan, selama kamu belum mengijinkan". Indra pun memeluk Dila yang merebahkan diri di sampingnya.


Indra tahu Dila merasa tegang, ketegangan itu bisa dirasakan dari gerak tubuh saat Dila mencoba bergeser.


" Dulu kamu pernah bilang pengen lanjutin kuliah kamu kan?, memangnya kamu pengen kuliah di jurusan apa?", tanya Indra berusaha mencari bahan pembicaraan agar suasana kamar tidak sunyi.


" Aku pengen jadi guru Mas, sebenarnya lebih tepatnya aku pengen jadi PNS, di kampung ku orang-orang kaya yang dihormati itu ya... yang jadi PNS itu, mereka hidup berkecukupan, dengan gaji bulanan yang cukup besar, dan mengajar juga sudah menjadi bagian dari kesibukan ku sebelum kesini", ujar Dila.


Indra merubah posisinya menghadap ke Dila, kini Indra bisa menatap Dila dengan sesuka hati, meski Dila tak berani menatap nya, karena sejak tadi Dila bicara sambil menatap plafon kamar.

__ADS_1


" Apa dulu kamu pernah ngajar les?", tanya Indra.


" Bukan les, aku ngajar ngaji di TPQ, anak-anak yang yang baru belajar huruf Hijaiyah dan suratan-suratan pendek, aku merasa sangat senang jika anak-anak yang kuajari jadi bisa membaca Alquran dan menghafal suratan".


Indra menatap Dila penuh kekaguman, " jadi kamu seorang ustadzah?, wah aku menikahi seorang ustadzah, pantas saja kamu sangat membenciku saat aku melakukan kesalahan. Dan kamu terlihat begitu bahagia saat kamu datang bulan kemarin", gumam Indra.


" Iya Mas, karena aku ingin mempunyai keturunan dari hubungan yang sah, bukan dari hasil berzina", ucap Dila.


Indra semakin merengkuh Dila, bahkan kini menyandarkan kepalanya di bahu Dila.


" Tenang saja Dil... setelah kamu selesai datang bulan, kita bisa membuat anak dari hasil hubungan yang sah seperti yang kamu inginkan", goda Indra.


Dila langsung melirik ke arah Indra yang sedang cengengesan. " Siapa bilang aku sudah setuju melakukannya, kamu saja belum melakukan apa yang aku minta".


" Iya kan memindahkan Tania ya besok di kantor, masa malam-malam begini".


Dila manyun, " bukan itu mas, tapi ini tentang hal lain, kamu belum membuat aku jatuh cinta sama kamu. Yang ada setiap hari kamu membuat aku kecewa". Dila merajuk, namun Indra justru mengecup kening Dila dengan lembut.


" Kamu akan sangat mencintai aku Dil, kalau kamu mau mencoba melakukan hubungan suami istri dengan ku lagi di sini, karena aku baru bisa menjadi suami sempurna jika sudah menafkahi kamu secara lahir dan batin".


" Karena itulah, setelah kamu suci nanti, kita coba lakukan lagi ya... aku janji nggak akan kasar, bahkan aku akan membuat kamu merasakan kenikmatan menjadi seorang istri, aku akan menjadikan kamu wanita paling bahagia di dunia ini".


Meski Dila belum paham dengan yang dikatakan Indra, tapi Dila tahu intinya Indra sedang menuntut haknya sebagai seorang suami, hanya saja secara halus, tidak memaksa seperti waktu itu.


" Aku belum bisa janji Mas, kita lihat saja nanti saat aku selesai datang bulan", jawab Dila.


Malam ini merekapun tidur berdua, hingga pagi tiba dan Indra begitu bersemangat berangkat ke kantor, seperti janjinya pada Dila, Indra langsung memindahkan Tania di divisi marketing. Tentu saja awalnya Tania tidak setuju karena harus berpisah dengan Indra, bagian marketing ada di lantai 10, dan itu sangat jauh dari lantai ruangan Indra, mungkin mulai hari ini mereka akan jarang bertemu, kecuali.jika ada meeting bersama.


Indra sengaja pulang saat jam makan siang, mengetahui Dila dan El ada di rumah karena saat ini hari Kamis, El tidak berangkat ke Bimba.


" Aku sudah melakukan sesuai keinginan kamu, aku pindahkan Tania di bagian marketing, jadi sekarang kamu sudah memaafkan aku kan Dil?".


Dila mengangguk, " ya aku memaafkan kamu untuk kejadian di kantormu kemarin". Dila berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, padahal hatinya sangat senang karena Indra langsung mengabulkan permintaannya. Dila ingin sekali pergi ke pantai yang kemarin, dan menceritakan tentang hal ini pada Bu Titin.


" Mas, bolehkah aku mengajak El pergi ke pantai?", Dila langsung meminta ijin pada Indra.


" Ngapain ke pantai?", Indra memang tidak tahu jika kemarin Dila pergi ke pantai. Indra tak berani bertanya kemana Dila pergi kemarin.


" Ya refreshing, kan disana El bisa bikin istana pasir, gimana.. boleh?", tanya Dila penuh harap.


" Boleh, tapi weekend saja, tunggu aku libur kerja, biar aku bisa nemenin kalian. Di pantai itu cukup berbahaya jika membawa anak kecil".

__ADS_1


Dila mengangguk, " oke Mas, Sabtu kita ke pantai", ucap Dila sambil tersenyum sumringah.


__ADS_2