
Hari ini toko kembali tutup lebih awal, jam 7 malam toko sudah tutup.
" Mba Hana, mba Mia, kenalin ini mas Indra, suamiku, ini anak kami, dan ini ibu kami", ujar Dila memperkenalkan mereka pada karyawannya.
Mia langsung melotot saat tahu Dila sudah punya anak sebesar itu, dalam pikiran Mia apa mungkin bosnya itu MBA ( Married by accident), sehingga menikah muda, dan usia 20 tahun sudah punya anak umur 5 tahun.
Melihat ekspresi Mia, Indra pun buka suara.
" Dila menikah denganku yang duda beranak satu", ujar Indra menjelaskan karena melihat ekspresi karyawan Dila yang melotot melihat putra Dila sudah sebesar El.
Padahal Dila sebenarnya tidak mau menceritakan soal itu, hanya perlu mengatakan pada karyawannya jika dirinya sudah punya suami dan anak. Tapi sepertinya Indra tidak ingin orang lain berpikir negatif tentang Dila.
" Wah, ini berita baru lagi, memang selama ini Dila jarang menceritakan kehidupan pribadinya pada kami, maaf kalau sikap teman saya itu kurang sopan, Mia memang begitu, terlalu ekspresif", ucap Hana memohon maaf.
" Karena semua jualan sudah habis, kami mau beres-beres dulu, dan langsung pulang untuk istirahat", Hana berpamitan dan menarik tangan Mia yang masih berdiri di depan Indra dan Dila.
" Tante itu kok malah melotot sama ayah, apa dia marah sama ayah?", tanya El polos.
" Bukan begitu sayang, Tante tadi cuma kaget melihat El yang sangat tampan", ucap Indra mencari alasan.
Hana dan Mia berpamitan pulang setelah toko selesai dibersihkan.
" Karena hari ini toko sudah tutup lebih awal, bagaimana kalau Bu Dila, jadi pemandu kita disini, nenek sudah lama sekali nggak ke Jogja, terakhir ke sini itu waktu ayahmu masih kecil", ujar Fatma pada El yang mengangguk-angguk seperti paham.
" Memangnya mau jalan-jalan kemana Bu?, ke Malioboro, atau ke alun-alun, atau pengen kemana nih yang nggak jauh-jauh dari sini, soalnya kalau jauh kasihan El nya capek dijalan", ucap Dila.
Dan setelah berunding akhirnya mereka jalan-jalan di Malioboro. Suasana malam di Malioboro memang selalu ramai, baik dari pengunjung lokal maupun wisatawan asing.
" Wah ibu mau belanja kain batik yang bagus, untuk kita membuat baju sarimbit keluarga, biar punya yang samaan, menurut kamu gimana Dil?".
Dila mengangguk setuju dengan ide ibu mertuanya, selama ini memang mereka belum punya baju samaan.
Fatma yang hobi belanja tanpa sadar kini membeli begitu banyak belanjaan, dari kain batik, tas, sendal, topi, kerudung, cangkir set, sampai hiasan dinding pun dibeli.
Kini Indra dan Dila seperti pengawal yang bertugas membawakan belanjaan ibunya.
Bahkan El sampai merasa bete karena sejak tadi tidak ada barang yang El suka di sana.
" Bu, sudah dulu ya belanjanya, ibu bisa lanjut lagi besok, kasihan El ni Bu, dia sudah capek ngikutin ibu sejak tadi", ujar Indra.
Fatma tertawa lepas, dirinya baru sadar kalau sejak tadi anak dan cucunya justru mengikutinya berbelanja.
__ADS_1
" Maaf maaf, ibu sampai nggak nyadar kalian bahkan belum beli apa-apa, semua cuma belanjaan ibu ya, ya sudah kalian mau beli apa?", tanya Fatma.
" Nggak usah Bu, ini sudah malam, dan sepertinya El sudah sangat mengantuk, sudah jam 9 lebih". Indra membawa belanjaan ibunya, sekaligus menggendong El dan mengajak yang lain pulang. Benar saja di perjalanan pulang menuju penginapan, El sudah tidur dengan pulas.
" Kamu mau aku antar ke ruko, atau mau ikut tidur di penginapan malam ini?", Indra menatap Dila yang berjalan di sampingnya.
" Aku pulang ke ruko saja Mas, kamu kan tahu tiap pagi aku harus siapin bahan buat jualan, nanti kalau El rewel telepon saja, aku bisa ke penginapan kamu, deket ini", ujar Dila.
" Kalau begitu El tidur sama ibu saja, kamu tidur di ruko Dila, kan sudah lama kalian tidak bertemu, mungkin ada yang ingin dibicarakan berdua, sejak tadi kalian belum sempat ngobrol kan?", Fatma membuka kunci kamarnya, meletakkan belanjaan di lantai kamar.
" Sekarang kalian ke ruko saja, El kan sudah terbiasa tidur sama ibu, lagian El sekarang kalau tidur nggak kebangun kalau malam, bangunnya kalau sudah pagi". Indra merebahkan El di kasur penginapan.
Fatma tahu putranya sangat ingin bisa menghabiskan malam ini bersama istrinya. Sebagai ibu yang pengertian, Fatma pun menyuruh Dila dan Indra keluar dari kamarnya, dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Indra langsung merangkul Dila mengajak jalan keluar dari penginapan. Dila masih saja merasa canggung, padahal beberapa hari yang lalu dia dan Indra sudah berhasil menyelesaikan pergulatan ranjang dan mencapai pada akhir sebuah penyelesaian yang memuaskan.
" Kenapa ?, nggak suka aku rangkul?", tanya Indra saat tangannya di singkirkan oleh Dila dari pundak Dila.
" Bukan begitu Mas, aku malu, masa rangkulan dijalan umum begini, lagian orang-orang yang tinggal disini sebagian besar sudah mengenalku Mas, nggak enak kalau dilihat orang lain, kan mereka nggak tahu kalau aku sudah menikah", ujar Dila.
Benar juga yang Dila katakan, terpaksa Indra melepas rangkulan tangannya di pundak Dila. Mereka berdua terus berjalan dan sudah dekat dari ruko.
Saat sampai di depan ruko, ada seorang gadis muda yang duduk sambil berpangku tangan di depan toko Dila.
Lita menoleh saat mendengar suara Dila memanggilnya. " Kamu kemana saja sih Dil, aku sampe capek nungguin kamu nggak balik-balik, mana ruko di kunci, sampe menjamur aku nungguin kamu, aku mau curhat banyak banget sama kamu, ternyata Felik itu nyebelin...", rengek Lita, dia nampak sedang dalam keadaan tidak baik.
" Lita...", ucap Indra sambil menatap Lita lekat, dan mencoba mengingat-ingat.
" Mas Indra...!". Lita tak kalah terkejut melihat mantan kakak iparnya berada di Jogja. Lita melihat sekitaran, tapi hanya ada Indra dan Dila saja disana. " Mas Indra kok bisa di Jogja?", tanya Lita penasaran.
Lebih bingung lagi Dila, kok bisa Lita dan Indra saling mengenal?.
" Kalian saling kenal?", tanya Dila penasaran.
Indra hanya mengangguk, sedangkan Lita langsung menjelaskan apa hubungannya dengan Indra.
" Dia kan mantan kakak ipar ku, kak Keyla dan Mas Indra sudah berpisah sekitar 5 tahun yang lalu", jawab Lita.
" Apa mas ada urusan pekerjaan di Jogja?, kok kalian bisa jalan bareng dan saling kenal sih?", tanya Lita penasaran.
" Tidak, aku hanya ada urusan pribadi", jawab Indra singkat.
__ADS_1
" Jangan bilang Mas sengaja nyari aku, buat minta bantuan aku membuat rujuk hubungan Mas sama kak Keyla lagi".
Ucapan Lita membuat Dila melirik sinis pada Indra, Dila membuka pintu rukonya dan masuk kedalam. " Apa kalian mau ngobrol diluar terus?, sudah malam, nggak enak berisikin tetangga!", ujar Dila sewot.
Indra dan Lita masuk ke dalam ruko, tidak lupa Indra menutup pintu toko dan mengunci pintu dari dalam.
" Aku tidak butuh bantuan mu Lit, aku sudah menikah lagi dengan gadis lain, tapi istriku kabur ke Jogja, aku sengaja datang kesini untuk menemuinya", jawab Indra.
Sepertinya Lita dan Dila sangat akrab, buktinya Lita datang kesini karena mau curhat masalah pribadinya dengan Dila. Tapi kenapa Lita tidak tahu kalau Dila sudah menikah dengannya?, apa benar kata Bram, dan kedua karyawan Dila, kalau Dila sangat tertutup untuk masalah pribadinya.
Dila memang jarang sekali bercerita tentang kehidupan pribadinya pada siapapun, bahkan sampai Indra sudah sah menjadi suami Dila, Dila juga tidak pernah menceritakan perihal kisah masa lalunya. Dila seorang penyimpan rahasia yang baik, tidak salah jika Lita suka curhat dengan Dila, dijamin keamanan rahasianya.
Lita terkekeh mendengar perkataan Indra barusan, " Mas Indra... mas Indra..., nasib kamu itu nggak berubah juga, masih sama, ditinggal kabur sama istri, memangnya apa yang mas lakukan sih, sampai dua kali menikah dan ditinggal kabur terus sama istrinya?".
" Ehem...., ayo diminum teh nya".
Dila berdehem sambil menyajikan teh hangat dan cemilan di meja.
" Kamu dengar kan Dil, cerita mantan kakak ipar ku tadi, padahal wajahnya rupawan, usahanya maju, kurang apa coba?. Tapi kok menikah dua kali ditinggal sama istri terus, memangnya apa sih yang Mas Indra lakukan?, aku jadi penasaran. Soalnya dulu kalau aku nanya sama kak Kayla atau sama ibu, pasti selalu dijawab 'anak kec nggak usah ikut campur urusan orang dewasa', bukankah sangat menyebalkan", gumam Lita.
Dila menghembuskan nafas panjang, " sebenarnya kamu kesini itu mau apa sih Lit, tadi kamu bilang mau curhat tentang Felik, kenapa sekarang berubah jadi bahas rumah tangga mantan kakak ipar kamu itu?", ucap Dila ketus.
" Kalau kalian berdua masih asyik ngobrol, aku mending tidur duluan ya, aku sudah ngantuk banget, sudah malam", Dila beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tangga.
" Tunggu Dil, aku tadi memang mau curhat sama kamu, tapi jadi lupa gara-gara ketemu mantan kakak ipar, aku nginep disini ya Dil...", rengek Lita.
" Nggak bisa !", jawab Indra ketus.
Lita menatap Indra aneh, kenapa justru Indra yang melarangnya menginap, bukankah mereka sudah tidak ada urusan lagi?.
" Aku yang malam ini akan tidur disini, karena Dila itu adalah istriku yang kabur ke Jogja!".
Jawaban Indra membuat Lita melotot, sekaligus tertawa terpingkal sambil memegang perutnya.
" Mas Indra kalau ngeprank itu yang kira-kira dong Mas, Lita ini baru 20 tahun, dan aku kenal dia sejak dua tahun lalu, waktu Dila baru sampai di Jogja, Dila itu ngekos disamping kosan aku, kita tetanggaan dulu, jadi kalau mas Indra ngaku jadi suaminya Dila, nggak ada yang bakal percaya", ujar Lita sambil berusaha berhenti tertawa.
" Memang istriku kabur dari rumah sejak dua tahun yang lalu, dan selama ini aku mencarinya, hanya saja aku baru berhasil menemukannya", jawab Indra jujur.
Lita melihat ekspresi Indra yang serius saat mengatakan hal itu, Lita pun menatap Dila yang juga tidak terlihat tertawa dengan candaan Indra.
" Serius Dil?, Mas Indra dan kamu itu suami istri?".
__ADS_1
Dila langsung mengangguk, membuat Lita langsung melongo saking shock nya.