Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 12


__ADS_3

" Ya sudah kamu makan dulu seblak nya, dari tadi kamu ngomong terus nanti keburu dingin nggak enak", ujar Kunto.


" Kalau kamu nggak bisa pulang kampung karena malu sama tetangga, kamu coba obrolin secara terbuka dengan bapak dan ibu kamu, minta pendapat beliau berdua, gimana?",


Dila malah melotot, " nggak mungkin Mas Kun... kalau bapak dan ibu tahu aku belum dapat kerjaan pasti mereka akan nyuruh aku balik ke kampung".


" Sebenarnya dulu mereka begitu berat melepas aku pergi merantau, karena di tempatku juga sudah ada banyak PT dan pabrik, akunya yang kekeh mau kerja merantau", ungkap Dila.


" Kenapa kamu pengen merantau Dil?, di kampung sudah ada beberapa laki-laki yang mendekati kamu dan menyukai kamu, pekerjaan disana pasti juga banyak yang akan menerima kamu, ada keluarga kamu di rumah, ada teman-teman kamu, juga anak didik kamu. Bukankah kamu nggak perlu meninggalkan semua itu jika kamu bekerja di kampung, begitu banyak yang menyayangi kamu di sana".


Kunto memang penasaran apa alasan utama Dila ingin sekali merantau, Dila tidak punya masalah di kampungnya, bahkan banyak yang kehilangan dirinya saat Dila harus ke Bekasi. Kunto berharap Dila mau mengatakan alasan kuat yang membuatnya ingin sekali merantau.


" Apa kamu tahu berapa UMK di daerahku?, sangat kecil Mas. Mungkin untuk biaya transportasi dan jajan hanya akan sisa sedikit. Kalau sebulan cuma bisa nabung sedikit, kapan aku bisa kumpulin duit banyak buat modal aku buka usaha".


" Sebenarnya aku punya cita-cita pengen buka usaha sendiri kelak, tidak terus menerus bekerja di PT, aku kerja di PT untuk kumpulin modal Mas Kun".


" Karena itulah aku memilih merantau, biar tabungan aku cepet banyak, aku akan cepet punya modal, dan bisa buka usaha sendiri".


" Sebenarnya aku juga pengen kuliah seperti teman-teman yang lain, sejak kecil cita-citaku pengen jadi guru, bukan cuma guru ngaji, tapi guru yang bisa jadi pegawai negeri".


" Gaji tetap pegawai negeri bisa untuk biaya bulanan, dan bisnis yang ingin aku rintis bisa membuatku punya tabungan banyak, biar bapak dan ibuku tidak perlu bekerja, aku juga bisa biayain adiku hingga perguruan tinggi".


" Rencanaku sudah aku susun sedemikian rupa, tapi baru mau mulai malah sudah seperti ini, aku harus gimana Mas Kun?", lagi-lagi Dila seperti kerupuk yang disiram air, melempem.


Kunto tersenyum melihat Dila yang semakin lucu saat ekspresi nya berubah-ubah dari ekspresi begitu bersemangat dan menggebu-gebu saat menceritakan planning hidupnya, langsung berubah lesu saat menyadari kenyataan dirinya belum bisa bekerja di PT".


" Jangan lemes begitu Dil, besok aku tanyakan ke teman-teman aku, siapa tahu ada keluarga, tetangga atau saudara yang butuh pekerja part time".


" Aku kagum dengan planning yang sudah kamu buat untuk masa depanmu Dil, aku saja yang cowok belum mikir sampai kesitu".


" Aku lebih suka hidup seperti air mengalir, mengikuti arah, kemana kehidupan membawaku. Tapi setelah mendengarkan rencana kamu tadi, aku jadi berpikir pengin nyusun rencana hidup kedepannya".


Kunto mengambil air putih dan meminumnya, karena hanya ada satu gelas bersih, terpaksa Dila meminum dari gelas yang sama.


" Mas Kun tolong jangan cerita ke siapa-siapa dulu, teman-teman aku juga nggak ada yang tahu, setahu mereka kalau aku lolos seleksi, dan besok mulai pelatihan kerja di LPK". ujar Dila.


" Kamu tetep ikut pelatihan kerja juga?, bukannya nggak bakal disalurkan ke PT meski sudah pelatihan, buang-buang waktu saja Dil", ucap Kunto.


Dila menumpuk mangkok kotor bekas wadah seblak miliknya dan milik Kunto yang sudah habis, " Buang waktu, tapi dari pada aku nggak ngapa-ngapain di kontrakan, mending ikut pelatihan kerja, buat kegiatan dan juga cari pengalaman", Dila keluar dari kamar Kunto dan mencuci dua mangkok dan dua sendok di samping kamar mandi.


" Habis makan apa Dil?, bibir kamu merah banget, pedes ya?", Asri baru pulang dari kontrakan teman Yani. Karena sebentar lagi waktu Maghrib tiba.


" Makan seblak, tapi udah habis, kamu sih nggak pulang-pulang, jadi nggak kebagian", Dila berjalan kembali ke kamar bersama Asri dan meletakkan di kamar Kunto, karena pintunya masih terbuka.


" Makasih ya Mas", ucap Dila seraya meletakkan mangkok dan sendok yang sudah di cuci nya di samping pintu


" Oke sama-sama", jawab Kunto singkat.

__ADS_1


Sedangkan Asri mengira Dila mengucapkan terimakasih karena sudah meminjam mangkok dan sendok, tapi ternyata Dila mengucapkan terimakasih untuk hal lain, yaitu untuk seblak gratis dan juga untuk kesediaan Kunto mendengarkan curhatan nya.


Maghrib kali ini Dila sholat di kamarnya karena hujan masih deras, rasanya malas untuk keluar-keluar kamar.


Dila yang sudah selesai Maghrib melihat Asri yang sedang sibuk dengan ponselnya.


" Tumben nggak ke kamar Fitri buat ngerumpi?", sindir Dila, karena biasanya usai maghrib Asri pergi ke kamar Fitri untuk ngerumpi disana.


" Males ah, Fitri nggak asyik, tadi pas di kontrakan Mona, itu... temennya Yani. Ada beberapa cowok yang deketin kita-kita, ngajak kenalan, si Fitri nggak ada jaim-jaim nya, langsung nyelonong saja tangannya buat kenalan. Padahal dari muka cowok itu aku bisa baca, kalau cowok itu brengsek, mata keranjang dan playboy", ucap Asri dengan begitu yakin.


Dila tertawa ngakak, " sejak kapan kamu jadi dukun, yang bisa baca karakter orang cuma dari raut wajahnya saja?".


Asri yang sedang rebahan langsung merubah posisinya menjadi duduk menghadap Dila.


" Ni, aku sempet foto cowok itu pas lagi haha hihi sama Fitri tadi, kamu bisa lihat sendiri dan menilainya".


" Masa... cowok masuk kamar cewek nyelonong begitu saja, nggak minta ijin, padahal si Mona temennya Yani kan bukan saudara atau kerabatnya", Asri terlihat sewot.


" Untung kan kita-kita lagi pakai baju yang bener, nggak cuma pakai daleman, coba bayangin kalau si Mona lagi ganti baju, tiba-tiba itu cowok nyelonong masuk, ih nggak jamin deh Mona selamat". Asri bergidig ngeri.


" Belum lagi tadi pas lagi salaman sama aku, masa jarinya jahil ngelus elus tangan aku, kayak gitu, langsung aku tarik deh tangan aku!".


Dila nampak seperti sedang berpikir, " mungkin benar yang dikatakan Joko kemarin, kontrakan dan kos-kosan di luaran sana sudah sangat bebas, cowok masuk kamar cewek, atau sebaliknya. Karena itu kita masih beruntung karena meski tetangga kita semua cowok, tapi mereka masih punya tata Krama", ujar Dila.


" Bener banget Dil, tapi ngomong-ngomong, kok aku ngga pernah liat tetangga yang tinggal di samping kiri kontrakan kita ya?, atau memang itu kosong dan nggak berpenghuni, soalnya sejak awal terus terkunci, kamar yang di samping kanan dan kirinya kamar kontrakan Joko juga kaya nggak pernah dibuka", ungkap Asri.


Kali ini Dila setuju dengan ucapan Asri.


Gubrak....


Suara benturan keras terdengar dari kamar sebelah. Kamar yang dikira kosong oleh Asri dan Dila.


" Suara apa itu Dil?", Asri duduk merapat karena merasa takut.


" Lagian ngapain sih tadi kamu bahas-bahas kamar sebelah, jadi marah kan penghuninya", bisik Dila yang juga merasa takut.


" Kita keluar saja yuk, kita coba tanya sama Mas Kun kamar sebelah ada penghuninya apa enggak", bisik Dila ditelinga Asri. Dila dan Asri pun keluar kamar.


" Aaaaa.....!".


" Masya Allah....!".


Asri dan Dila menjerit karena saat membuka pintu begitu kaget melihat ada sosok didepan kamar sedang berdiri dan berwarna putih.


Kunto bergegas keluar kamar mendengar teriakkan tetangga kamarnya.


" Kalian kenapa ?", tanya Kunto heran, kemudian menatap Joko yang baru pulang kerja menggunakan mantel putih.

__ADS_1


" Nggak tahu tuh, mereka berdua tiba-tiba keluar kamar, terus langsung teriak pas liat aku, aku kan juga jadi kaget", ucap Joko.


" Maaf maaf, tadi aku kaget lihat Joko pakai mantel putih kayak gitu, lagian kenapa warna putih sih, beli mantel itu yang warna merah, hijau, coklat, apa yang warna warni sekalian kan ada tuh", protes Asri.


" Ini bukan mantelku, ini boleh minjem sama satpam pabrik tadi, mau pulang tapi hujan nggak berhenti-henti, adanya warna ini, ya sudah aku pinjam deh". Joko sudah melepas mantel dan sepatutnya, dan di gantung di depan kamar, tapi oleh asri di ambil dan di lipat jadi kecil.


" Kan masih basah As, kenapa dilipat, nanti bau", Joko keluar kamar sambil membawa handuk dan peralatan mandi ditangannya.


" Serem warnanya putih, digantung di depan kamar begitu nanti pas malam-malam aku pengen pipis ke kamar mandi dan keluar kamar lihat putih-putih menggantung di depan kamar begitu kan jadi takut", ucap Asri jujur.


" Ya sudah lah, terserah kamu saja, aku mau mandi dulu, dingin banget celana basah keciprat air di jalan tadi". Joko langsung menuju kamar mandi.


" Lagi pada ngapain kalian di luar semua?", Evan baru pulang sambil membawa kantong yang isinya bisa tercium sangat enak, bau goreng-gorengan.


" Kebetulan kalian lagi diluar, sini masuk, aku bawa gorengan, beli di depan tadi, mumpung masih anget, kita makan bareng-bareng, lagi hujan begini cocok banget kan makan gorengan", ajak Evan sambil masuk ke dalam kamar.


Kunto mengikuti Evan, Asri dan Dila pun ikut masuk ke kamar mereka, kebetulan malah ditawari masuk, karena Dila dan Asri memang ingin menanyakan sesuatu pada tetangga kamarnya itu.


Mereka berempat menikmati gorengan yang Evan beli, ada pisang goreng, bakwan, tahu isi, cireng dan juga singkong goreng.


" Van, Mas Kun, boleh nggak kita berdua nanya-nanya?", Dila mulai membuka percakapan diantara mereka berempat yang sejak tadi hanya diam karena tengah menikmati gorengan yang masih hangat dan nikmat itu.


" Tanya apa Dil?". Evan mengambil air mineral dan menyuguhkan pada Dila dan Asri.


" Apa kamar yang disebelah kamar kita itu ada yang menempati?, soalnya tadi kita berdua dengar bunyi 'gubrak' keras banget dari kamar sebelah", justru Asri yang bertanya, sambil duduk mepet ke Dila.


" Ehem....".


" Boleh ikut gabung nggak?, sendirian di kamar nggak asyik lagi hujan-hujan begini. Ada yang mau ngopi?". Joko masuk ke kamar Evan sambil membawa serenteng kopi kemasan sachet.


Asri dan Dila menolak, karena sudah malam, takut nggak bisa tidur kalau minum kopi. Akhirnya Dila hanya membuat tiga gelas kopi untuk Evan, Joko dan Kunto.


" Kalian lagi bahas apa sih?", tanya Joko penasaran.


" Mereka berdua lagi nanya, kamar sebelah kamarnya itu ada yang nempatin apa nggak", jawab Evan.


" Ooh.. kenapa nanya begitu, kalian belum pernah lihat penghuni kamar itu ya?", Joko balik bertanya.


" Jadi ada penghuninya?, pantesan tadi kita berdua kaya dengar bunyi 'gedubrak' di kamar sebelah, seperti sesuatu yang jatuh begitu", terang Asri.


" Cewek yang tinggal di kamar sebelah kamar kalian itu seringnya keluar malam, dibawa sama om-om kaya, mobilnya saja gonta ganti, aku sering lihat dia pulang diantar sekitar jam 3 pagi, aku nebak sih kelihatannya dia bukan gadis bener-bener", ucap Joko.


" Jangan menilai seseorang kalau kita nggak tahu apa yang sebenarnya orang itu lakukan. Mungkin saja pekerjaan orang itu memang berangkat malam dan pulang menjelang pagi", lagi-lagi Dila tidak mau ber buruk sangka.


" Kamu itu Dil, semua orang kamu anggap orang baik, padahal banyak juga disekitar kamu orang-orang yang tidak baik, seperti aku contohnya. Pasti kamu mengira aku pemuda yang baik kan". ucap Kunto.


" Memang Mas Kun orang baik kok, nggak baik dari mananya coba?, karena menurut keyakinanku kadang apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi, karena itulah aku ingin selalu berpikir positif, biar semua yang datang padaku juga hal yang positif", ujar Dila.

__ADS_1


Asri, Kunto, Evan dan Joko hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban Dila.


__ADS_2