Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 13


__ADS_3

" Kalau memang kamar sebelah ada penghuninya, kenapa dari kemarin kita berdua belum pernah lihat orang keluar masuk ya Dil?", Asri masih saja tidak habis pikir, " apa tiap hari di kamar berukuran 2x3 meter itu nggak suntuk".


Dila mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir, " jangan berisik, sudah malam, orangnya lagi di kamar, kalau kamu bicara terlalu keras, di jamin bakal kedengeran sampai kamar sebelah, sekarang kita tidur saja".


Malam itu Dila dan Asri berusaha untuk bisa tidur, meski suara dari kamar sebelah, seperti suara benturan berulang kali terdengar di telinga mereka.


_


_


Pelatihan kerja hari pertama Dila tetap berangkat ke LPK, semua teman-teman Dila tidak ada yang menaruh curiga jika Dila sebenarnya tidak akan di tempatkan di PT atau pabrik manapun, selama tiga hari pelatihan berlangsung, dimulai dari hari rabu hingga hari Jum'at.


Hari terakhir pelaksanaan training, semua peserta training di mintai untuk mengisi CV dan juga formulir data diri lengkap untuk bakal mengajukan pendaftaran kerja di PT dan pabrik yang sesungguhnya.


Dila pun mengisi formulir sama seperti yang lain, hanya saja Dila paham betul jika itu hanya sebuah formalitas saja. Teman-teman yang lain langsung di ajak oleh pihak LPK meninjau ke PT atau pabrik tempat para peserta akan mendaftar di hari Senin besok


Sedangkan Dila seorang diri memilih untuk pulang ke kontrakan. Saat itu hari masih siang. Dila memilih berjalan kaki seorang diri dari LPK menuju kontrakannya.


Meski beberapa hari yang lalu Yani memperingati agar berada di kota besar harus berhati-hati, tapi di siang hari begini bukankah kebanyakan penghuni kontrakan sedang bekerja, apalagi siang hari banyak orang yang berlalu lalang di jalan raya, jadi tidak akan menakutkan jika berjalan seorang diri.


" Sampai sekarang aku belum dapat info apa-apa dari Mas Kun ataupun dari mentor LPK, apa iya aku harus pulang ke kampung setelah seminggu disini, pasti akan sangat memalukan".


Dila terus berpikir sambil berjalan pulang menuju kontrakan.


Saat di jalan raya ponsel Dila berdering, ada panggilan masuk dari Pakde Didit, dia adalah kakak dari Siti, ibunya Dila.


Pakde Didit tinggal di Cikarang, tidak terlalu jauh dari Cibitung, tempat Dila mengontrak, tapi sejak kemarin Dila lupa belum mengabari Pakde nya jika dirinya berada di Cibitung.


" Halo assalamualaikum Pakde, bagaimana kabar Pakde dan keluarga?", Dila mengangkat teleponnya di pinggir jalan. Dila memilih duduk di bawah pohon mahoni besar yang terdapat tempat duduk dibawahnya.


" Wa'alaikum salam Dil, Pakde dan keluarga semua alhamdulilah sehat, kamu ini bagaimana sih Dil, pergi ke Cibitung kok nggak kasih kabar sama Pakde".


" Kalau tahu kamu ada di Cibitung, dari kemarin-kemarin pasti Pakde sudah main ke kontrakan kamu ".


" Coba kamu kirim alamat kontrakan kamu dimana, besok-besok kalau Pakde ada waktu atau jalan ke sekitar Cibitung Pakde mampir".


Didit memang sudah merantau sejak masih muda dulu, sudah berbagai pekerjaan dilakoni, dari kerja sebagai tukang ojek, kerja di toko, ganti jadi supir taksi dan yang terakhir, sekarang kerja jadi supir pribadi di tempat orang kaya.


Putri Didit baru SMP kelas 3, dan yang nomer dua masih SD kelas 4, karena memang dulu Siti melangkahi kakaknya, menikah terlebih dahulu. Karena itulah usia Dila lebih tua dari anak-anak Pakde nya.

__ADS_1


Dila jadi berpikir ingin minta bantuan pada Pakde nya untuk dicarikan pekerjaan, tapi mengingat Pakde nya juga hanya bekerja sebagai supir pribadi, pekerjaan apa yang bisa dicarikan oleh Pakde untuknya, apa iya Dila harus menjadi pembantu di rumah bos Pakde nya?.


Setelah ngobrol dengan Pakde Didit beberapa menit, Dila menutup teleponnya, kemudian mengirimkan alamat kontrakan nya pada Pak de melalui pesan singkat.


Dila tak berharap banyak pada Pakde nya, karena Dila tahu kehidupan Pakdenya juga sudah susah, tempat tinggal saja masih ngontrak, belum lagi Pakde sedang membiayai dua anaknya yang masih kecil.


Setelah menyimpan kembali ponsel di dalam saku, Dila berdiri untuk melanjutkan perjalanan, Dila dikejutkan oleh suara klakson bus yang berhenti di depannya.


" Naik Dil, aku antar kamu sampai halte depan kontrakan, aku nganter karyawan rutenya lewat sana!", Dila menatap supir bus yang berteriak padanya, ternyata itu Joko. Dila tersenyum dan naik Bus itu dengan senang hati.


Masih ada beberapa karyawan PT yang berada di dalam bus, mereka semua memakai seragam kerja yang sama. Hanya Dila penumpang bus yang menggunakan baju berbeda.


" Kok kamu jalan sendirian sih Dil, si Asri dan teman kamu yang lain kemana?", tanya Joko pada Dila yang duduk di kursi belakangnya. Dengan tatapan tetap fokus ke depan.


" Asri dan yang lain di ajak berkunjung ke PT yang akan menjadi tempat kerjanya", jawab Dila jujur.


" Kamu nggak bareng mereka?".


Dila menggeleng, dan tentu saja Joko tak bisa melihat gelengan kepala Dila barusan.


" Sudah sampai Dil".


Dila turun dari bus sambil mengucapkan terimakasih pada Joko.


Rasanya ingin sekali menangis, tapi Dila tahu ini keputusannya sendiri untuk merantau, Dila harus bisa menahan kesedihannya, dan mencari jalan keluar untuk masalahnya.


Sampai di kontrakan Dila merebahkan diri di atas tikar, rasanya sudah mulai terbiasa hidup susah dan tidur tanpa kasur, karena sudah seminggu Dila tidur hanya beralaskan tikar saja. Dila sengaja tidak menutup pintu kamarnya agar udara sejuk bisa masuk kedalam kamar yang terasa panas siang hari seperti ini.


Sekarang baru jam 3 lebih 15 menit, Dila kaget saat seorang wanita berdiri di depan pintu kamarnya.


" Apa boleh aku masuk?, aku Intan, yang tinggal di kamar sebelah".


Dila mengangguk dan merubah posisinya untuk duduk dan bersandar di dinding kamar.


Di tatapnya wanita dihadapannya dengan seksama, wanita berumur sekitar 22/23 tahun, berambut lurus sepanjang pinggang, di cat warna kuning. Bentuk tubuhnya memang seksi, padat berisi, tapi wajahnya pucat, seperti orang yang kelelahan. Mungkin karena sering begadang karena waktu kerjannya yang malam hari.


" Aku biasanya paling tidak suka ikut campur urusan orang lain, aku juga tidak mau mengenal, atau berteman, dengan penghuni kontrakan di sini", ucap Intan sambil mendudukkan dirinya di tikar pandan.


" Tapi aku mengetahui masalah kamu, aku bisa dengar saat kamu bicara dengan cowok yang tinggal di sebelah kamarmu, aku nggak nguping ya, saat itu aku lagi istirahat, dan suara kamu terdengar sampai ke kamarku".

__ADS_1


" Tiap kali kalian ngobrol pasti aku bisa dengar, termasuk semalam, ada yang mengatakan aku bukan cewek bener-bener, aku tahu itu".


Dila mulai merasa tidak enak pada wanita dihadapannya.


" Maaf mba Intan, kami nggak bermaksud seperti itu".


" Nggak papa, santai saja, aku juga bisa terima, sudah biasa dengar hal-hal yang tidak enak dari mulut orang".


" Aku cuma mau nawarin pekerjaan sama kamu, karena aku kasihan sama kamu yang belum bisa kerja di PT padahal sudah sampai disini dan lolos semua seleksi".


Dila berpikir sejenak, pekerjaan apa yang hendak intan tawarkan kepadanya, apa benar Intan bukan wanita baik-baik?.


" Kalau boleh tahu, sebenarnya apa pekerjaan kak Intan?, aku lihat kakak orang yang baik".


Intan tersenyum, " benar kata teman-teman kamu, kamu terlalu baik, karena menilai semua orang itu baik".


" Aku kerja di tempat karaoke, jadi pemandu lagu, tapi benar kata orang-orang, aku bukan wanita baik-baik, karena kadang aku harus melayani mereka yang sudah membayar ku semalaman, aku harus bisa membuat mereka puas dengan servis plus-plus".


Dila hanya bisa menelan salivanya, tanpa berkomentar apa-apa.


" Kak Intan, aku nggak bisa kerja seperti itu kak, maaf", Dila langsung menolak tawaran Intan.


Intan terkekeh geli.


" Aku belum kasih tahu kamu apa pekerjaan nya, tadi kan aku cuma kasih tahu pekerjaan aku apa. Bukan berarti aku menawari kamu pekerjaan yang sama dengan pekerjaanku".


" Dari percakapan yang aku dengar sejak kemarin, kamu gadis kampung yang baik dan guru ngaji juga, benar kan?, jadi mana mungkin aku menyeret kamu ke dunia hitam seperti yang ku alami".


" Sebenarnya ada om-om kaya, dia seorang duda, anaknya satu, baru berumur 3 tahun, dia butuh pengasuh untuk anaknya, karena anaknya itu sangat nakal dan rusuh, mungkin gadis penyabar seperti kamu bisa menghadapi kenakalan anak kecil seperti itu", ujar Intan.


" Apa om-om itu, salah satu langganan kak Intan?", tanya Dila merasa tak enak.


" Dia pernah sekali ke tempat karaoke, bersama beberapa rekan bisnisnya, tapi dia tidak tidur denganku, mereka hanya bernyanyi dan berpesta bersama, meski sehabis pesta kebanyakan ngamar dan pulang pagi, tapi om-om itu nggak bisa ngamar, waktu itu dia ditelepon ibunya, katanya anaknya sedang sakit".


Dila nampak berpikir keras, " kalau boleh tahu, tempat tinggalnya dimana kak?, jauh nggak dari sini?".


" Kalau kata teman-temannya sih, dia tinggal di Jakarta Timur, tapi tepatnya dimana aku belum tahu, yang aku ingat kata kenalanku, gaji pengasuh anak om-om itu yang terakhir itu sebulan sampai 5 juta, tapi semua pengasuh nggak ada yang sanggup mengasuh anaknya itu, paling lama yang jadi pengasuh anaknya cuma bertahan satu bulan", ungkap Intan.


" Aku pikirkan dulu ya Kak, besok aku kasih jawaban", ujar Dila.

__ADS_1


Dila dan Intan pun saling bertukar nomor HP sebelum Intan kembali ke kamarnya, karena penghuni kontrakan yang lain sudah mulai pulang ke kontrakan masing-masing.


Evan dan Kunto sempat melihat Intan keluar dari kamar Dila, mereka berdua tentu saja penasaran, sekaligus khawatir apa kepentingan Intan si wanita malam itu, ke kamar Dila.


__ADS_2