Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 65


__ADS_3

Indra dan Dila berada di hotel seharian, memadu kasih dan saling meluapkan kerinduan satu sama lain.


Tepatnya sudah beberapa bulan Indra menyempatkan waktu untuk datang ke Jogja, semata-mata untuk mengobati rasa rindunya pada Dila, tidak perduli seberapa banyak Indra harus mengeluarkan ongkos pulang pergi Jakarta- Jogja, dan kini Dila sudah kembali ke Jakarta. Indra sungguh sangat senang, bukan biaya yang menjadi masalah, tapi tenaga dan waktu yang selama ini cukup sulit untuk dibagi.


" Sayang, setelah kamu tinggal di rumah nanti, apa kamu setuju kita ke dokter cek kesuburan kita, biar El cepet punya adik?".


Indra sudah sangat ingin membuatkan adik untuk El, namun sudah beberapa bulan mereka berhubungan badan, belum ada tanda-tanda Dila hamil.


Sebenarnya Indra tidak meragukan Dila sama sekali, karena dulu saat pernikahan pertamanya dengan Keyla, Indra juga harus menunggu selama 2 tahun hingga Keyla hamil.


Dan Dila baru berhasil di taklukkan beberapa bulan yang lalu. Mungkin masih dalam tahap penyesuaian. Apa lagi kegiatan Dila yang sangat padat. Banyak kemungkinan benih yang sudah Indra tanam di rahim Dila keluar lagi karena aktifitas Dila yang begitu padat, dan kurangnya istirahat.


Dila menatap Indra dan mengangguk, " bagaimana kalau ke dokternya usai resepsi pernikahan kita di kampung, bukan apa-apa Mas, hanya saja aku baru pindah, aku harus beradaptasi lagi dengan lingkungan kampus ku, mengurus El dan juga kamu, setidaknya beri aku waktu menyesuaikan diri dengan aktivitas baruku disini, setelah aku berhasil menyesuaikan diri, kita bisa membuat planning yang lain", ucap Dila.


" Baiklah kalau itu mau kamu, aku juga tidak buru-buru, hanya saja jika sudah ada anak diantara kita berdua, aku jadi semakin merasa kebahagiaan kita begitu mendekati sempurna", gumam Indra.


Dila hanya tersenyum dan mengajak Indra untuk makan siang bersama, makanan pesanan mereka masih tersaji diatas meja dan di troli, Dila langsung beranjak dari kasur, memakai handuk kimono yang disediakan pihak hotel, dan duduk di sofa sambil menikmati berbagai macam makanan yang tersedia.


Indra merasa Dila menyembunyikan sesuatu dari dirinya, entah apa itu, tapi setiap membahas masalah anak Dila memilih mengganti topik pembicaraan.


" Maaf Mas, aku sengaja menunda kehamilan ku, bukan karena aku tidak mencintaimu, aku tahu kamu sudah sangat siap untuk memiliki anak lagi, masalahnya ada padaku. Aku masih ingin menyelesaikan pendidikan ku, sebentar lagi aku KKN, setelah itu baru aku akan menghentikan KB yang aku lakukan".


" Aku tahu kamu akan marah jika mengetahui aku memakai KB tanpa seijin kamu, tapi kamu datang di waktu yang kurang tepat. Kamu terus ingin menjamah ku setiap kali bertemu, aku tidak mungkin terus menolak, karena aku adalah istrimu, tapi aku sendiri sudah memiliki planning hidupku kedepan".


" Usiamu sudah sangat cukup untuk memiliki anak kedua, tapi usiaku, aku baru mau 21 tahun, bahkan teman-teman dari kampung yang sudah sama-sama bekerja saja, mereka belum ada yang menikah ataupun punya anak. Bersabarlah sedikit lagi Mas, sampai KKN ku selesai, aku pasti bisa memberimu anak". Dila terus bermonolog dalam hatinya. Sejak tadi Indra menatapnya seolah ingin memakannya lagi, tapi Dila terus fokus makan dan menikmati berbagai makanan yang ada di meja.


Malam hari Indra baru mengajak Dila pulang ke rumah, usai dirinya merasa lelah, meski belum juga puas menikmati keindahan tubuh Dila yang semakin hari terlihat semakin seksi dan berisi. Bahkan tadi Dila mulai pandai mengimbangi permainan Indra, Dila yang selama ini pasif dan hanya menerima perlakuan Indra, namun tadi Dila berhasil membuat beberapa tanda di dada bidang Indra, itu sudah termasuk kemajuan.


Indra masih berharap hari esok Dila lah yang lebih dulu meminta padanya untuk berhubungan badan, karena selama ini selalu saja Indra yang meminta terlebih dahulu.


" Selamat datang Bu Dila..!", teriak El sambil berlari menghambur ke arah Dila. Bi Darsih dan bi Ana tersenyum bahagia melihat Dila kembali ke rumah itu.


" Selamat malam sayang..., terimakasih sudah sudah menyambut kedatangan ibu, Apakah El sehat",

__ADS_1


El mengangguk, " El sehat, karena El rajin makan sayur dan minum susu, kata nenek kalau El nggak pilih-pilih makanan, El akan cepet gede dan punya adik", ucap El dengan polosnya. Semua tersenyum mendengar ucapan El.


" Bi Darsih, bi Ana, bagaimana kabar kalian?", Dila memeluk teman lamanya satu persatu.


" Kami baik Dil, kamu semakin cantik saja, sudah seperti gadis kota, tidak seperti waktu pertama sampai disini, cantik, tapi masih kelihatan gadis dari kampung", ujar Ana sambil memeluk Dila.


Dila hanya tersenyum.


" Memang sudah dasarnya cantik, mau tinggal dimana saja ya tetap cantik, memangnya kamu An, berpuluh-puluh tahun di Jakarta, tetep saja buluk", sindir Darsih.


Ana manyun sambil membawakan barang bawaan Dila ke dalam kamar Indra.


" Sudah biarkan saja bi Ana, nanti aku rapikan sendiri saja", Dila merasa tidak enak karena bi Ana sudah seperti ibunya sendiri.


" Nggak papa Dil, ini kan sudah jadi pekerjaanku, kamu kan sekarang jadi nyonya rumah ini, jadi belajarlah untuk terbiasa menjadi nyonya rumah".


" Mending sekarang kamu ke ruang makan, Pak Indra sudah disana menunggu kamu, kamu kan habis perjalanan jauh, pasti capek dan lapar, liat kamu jalan saja sempoyongan begitu seperti habis olahraga, mending makan biar lebih bersemangat", ujar Ana. Dila hanya mengangguk patuh.


Indra nampak masih menscrol layar ponselnya, membaca beberapa pesan yang masuk.


" Sayang, nanti habis makan, kita pergi ke kampus baru kamu, hanya perkenalan saja, dengan ruangan dan dosen-dosen disana, karena urusan perpindahan sudah selesai kemarin", ucap Indra.


" Iya Mas, bolehkah El aku ajak?, biar dia ikut jalan-jalan di kampus".


Indra mengangguk, " baiklah, El juga sudah tidur siang tadi, jadi kalau nanti ikut ke kampus tidak masalah".


Usai makan mereka langsung menuju kampus baru Dila, Kampus merah putih, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Indra, hanya 30 menit perjalanan, dari Bimba tempat El sekolah dulu.


Dila menjabat tangan teman Indra yang menjadi dosen di kampus merah putih.


" Kenalkan ini istriku yang mau meneruskan kuliah disini, namanya Dila, Karina Nadila", ucap Indra memperkenalkan Dila pada Faris.


" Saya Faris teman SMA Indra, wah Indra ternyata dapat istri masih sangat muda. Awalnya aku kira istri Indra melanjutkan kuliah setelah cuti panjang, namun ternyata memang seumuran dengan anak kuliah lainnya", Faris menatap Dila yang hanya tersenyum sambil mengangguk sopan.

__ADS_1


" ini istri ke-dua, kamu tahu kan istriku yang dulu Keyla". ujar Indra santai, karena Faris memang dulu teman dekatnya.


Faris mengangguk, " benar, aku ingat dulu hadir di pernikahan kalian. Tapi kok yang kedua ini aku nggak diundang sih Ndra?".


Indra duduk di kursi yang ada di ruangan Faris karena Faris mempersilahkan Indra dan Dila untuk duduk. Dila memangku El yang sejak tadi sedang mengotak ngatik globe di meja Faris.


" Belum digelar pesta, baru menikah saja, nanti kalau diadakan pesta pasti kamu akan aku undang Ris", ujar Indra.


" Beneran loh Ndra, aku tunggu undangannya, sekarang kalian bisa ikut bersama salah satu mahasiswaku, dia yang akan memberi tahu ruangan-ruangan apa saja yang ada di kampus ini".


" Oh iya, kan sebentar lagi Dila harus ikut KKN, biar nanti aku carikan kelompok yang anak-anaknya asyik dan welcome dengan orang baru, sekarang kalian bisa muter-muter di kampus ini dulu, dan besok bisa langsung masuk kelas".


Faris memanggil salah satu mahasiswanya untuk menunjukkan pada Dila ruangan-ruangan di kampus itu.


" Mas disini saja nggak papa, biar aku sama El saja yang muter-muter, mungkin Mas mau ngobrol sama teman Mas, kan kalian sudah lama nggak ketemu", ujar Dila.


Indra pun tetap berada di dalam ruangan Faris, sedangkan Dila mengikuti mahasiswa yang bernama Bima itu mengenal ruangan satu persatu.


" Kamu pindahan dari mana?", tanya Bima.


" Aku dari kampus ABC di Jogja, apa kita seangkatan?", tanya Dila.


Bima mengangguk, " sebentar lagi kita akan mengikuti KKN, jadi mungkin kamu hanya akan mengikuti kelas beberapa kali pertemuan saja".


Dila mengangguk mengerti, El terus menggandeng tangan Dila sepanjang lorong kampus, sambil ikut mendengarkan Bima menjelaskan kegunaan ruangan yang mereka lewati.


" Itu anak kamu?", tanya Bima.


" Iya, ini anakku, namanya El".


" El kenalan sama om Bima", ucap Dila menyuruh El berkenalan dengan Bram.


El menurut dan memperkenalkan diri dengan begitu pemberani.

__ADS_1


__ADS_2