
Usai sholat Isa Dila memejamkan mata, berusaha untuk tidur, namun hingga jam 11 malam dirinya tetap tidak bisa tidur, padahal Asri sudah tidur dengan lelapnya.
Mungkin Dila terus kepikiran bagaimana menghadapi hari esok. Lingkungan baru, dunia baru, suasana baru, orang-orang baru, semua serba baru. Dila seperti membuka lembaran baru di buku perjalanan hidupnya.
Evan harus berangkat jam 11 malam karena kebagian jadwal kerja shift malam. Sejak tadi Evan dan Kunto terus mengobrol santai, awalnya Evan yang bercerita sudah membeli jam untuk wanita yang sedang di taksirnya.
Meski Evan masih tetap merahasiakan nama gadis itu pada Kunto, tapi sebagai sesama lelaki, Kunto sebenarnya sudah tahu jika Evan naksir Dila, itu terlihat sekali dari sikap dan perhatian Evan pada Dila, hanya saja Kunto berpura-pura tidak tahu.
Sebelum Evan mengatakan secara terang-terangan tentang gadis yang dicintainya, Kunto juga tidak akan mendesaknya untuk berkata jujur.
Malam ini Kunto lebih banyak diam dan terlihat seperti sedang berpikir keras, keadaan ini berhubungan dengan pacarnya yang tadi menelepon sangat lama, ada banyak hal yang tadi dibicarakan, karena itulah mereka saling bertelepon dari jam 7 hingga jam setengah sepuluh malam.
Ternyata pembicaraan mereka tadi salah satunya karena pacarnya ingin bertemu, dan meminta Kunto untuk menyempatkan waktu agar bisa pulang kampung. Pacarnya mengatakan ada yang harus dibicarakan secara langsung, dan itu hal yang sangat penting.
Tapi Kunto mengatakan belum bisa pulang kampung, alasannya karena libur akhir pekan hanya dua hari, pasti jika pulang kampung waktunya hanya habis diperjalanan.
Kesalahan Kunto selama ini mungkin karena dia terlalu percaya pada pacarnya, sedangkan pacarnya di kampung sebenarnya butuh sosok lelaki yang bisa menjadi sandaran bagi dirinya, sosok lelaki yang bisa menjadi tempat bercerita, dan sosok lelaki yang bisa melindunginya. Sedangkan sosok itu tidak ditemukan dari Kunto yang harus bekerja merantau, dan tinggal jauh dari dirinya.
Hingga akhirnya ada sosok laki-laki lain yang memenuhi semua kriteria itu dan telah menggantikan sosok Kunto yang tak pernah bisa berada di sampingnya.
Hubungan Kunto dan pacarnya masih bertahan hanya karena pacarnya di kampung merasa tidak enak pada Kunto, karena selama ini Kunto sudah banyak mentransfer uang untuknya.
Hingga akhirnya pacar Kunto terpaksa membicarakan hal yang katanya penting itu melalui telepon. Dia tiba-tiba meminta putus dari Kunto, karena merasa tidak bisa melanjutkan hubungan pacaran jarak jauh.
Kunto awalnya langsung menolak, karena menganggap alasan itu hanya dibuat-buat saja, toh selama ini hubungan jarak jauh antara mereka berjalan dengan baik, padahal sudah hampir setahun.
Namun kalimat selanjutnya membuat Kunto tak bisa lagi berkata-kata, dan dengan terpaksa harus setuju dengan permintaan pacarnya untuk putus.
_
_
Malam hari, sekitar jam 10 lewat 45 menit, Evan keluar dari kamar kontrakannya untuk berangkat kerja, tak lama sepeninggal Evan, terdengar suara gerimis, Dila teringat jika dirinya masih memiliki jemuran di atas. Dila yang belum tidur pun keluar kamar sambil menyalakan baterai dari ponselnya. Jemuran bajunya harus kering karena besok semua barang bawaan Dila harus dibawa ke Jakarta. Dila tidak membawa banyak baju ganti, karena itulah semua bajunya harus dibawa.
" Kenapa jam segini belum tidur Dil?, sudah malam dan besok kamu harus berangkat ke Jakarta, ke tempat kerja kamu yang baru".
__ADS_1
Dila begitu kaget saat keluar kamar, ternyata malam-malam begini Kunto sedang duduk di depan kamarnya sendirian. Sejak tadi Dila kira jika Kunto sudah tidur karena kamarnya sepi, ternyata Kunto sedang duduk di depan kamar sambil merokok. Pantas saja sejak tadi Dila seperti mencium bau asap rokok.
" Aku mau keatas, masih ada sisa jemuran tadi yang belum kering, sayang kalau kena air hujan, nanti basah lagi". Dila naik ke atas gedung untuk memindah jemurannya, hendak menggeser jemuran ke bagian yang ada atapnya.
Kunto mengikuti Dila naik ke atas gedung.
" Mas Kun mau mindahin jemuran juga?", tanya Dila saat melihat Kunto ikut naik ke atas gedung.
Gerimis semakin deras sehingga Dila berlari kecil agar cepat sampai di atas.
Dila mengambil jemurannya dan di gantungkan di bawah tempat yang ada atapnya.
.....*P*enampakan atap gedung kontrakan.....
Kunto hanya berdiri menatap Dila berlarian ke tempat yang ada atapnya untuk menyelamatkan jemurannya dari hujan yang mulai deras.
" Jemuran mas Kun yang mana?, kok malah diam saja, nggak diamankan?".
" Nggak ada jemuran", jawab Kunto singkat. Dila mengerutkan keningnya merasa heran.
Kunto mendekat ke arah Dila yang sudah selesai menggantung bajunya di tempat yang aman dari hujan. Tiba-tiba saja Kunto menarik tubuh Dila hingga berada di dalam pelukannya.
Dila begitu kaget dengan sikap Kunto dan langsung memberontak untuk melepaskan diri, namun sayang tenaga Dila tak sekuat pelukan Kunto.
" Please Dil, kamu diam beberapa menit saja, biarin aku peluk kamu sebentar, aku cuma butuh pelukan yang bisa menenangkan hati dan pikiran aku yang lagi kacau", ucap Kunto sambil memeluk Dila dengan sangat erat.
Kunto sesenggukan menangis sambil memeluk Dila ditengah hujan yang semakin deras. Dila merasa semakin bingung apa yang harus dilakukannya, terpaksa Dila menyerah, dan membiarkan Kunto terus memeluknya sambil menangis.
" Mas Kun kenapa?, bukannya tadi habis teleponan sama pacarnya, apa ada kabar tak menyenangkan dari kampung?", Dila mencoba bertanya, siapa tahu Kunto mau berbagi cerita padanya.
Dila bisa merasakan badan Kunto bergerak naik turun, karena sedang menangis sesenggukan sambil memeluk nya. Dila memberikan waktu agar Kunto menuntaskan kesedihannya.
__ADS_1
Setelah merasa lebih baikan, Kunto mulai bercerita dengan suara bergetar.
" Sarah.... sarah minta putus Dil, dia bilang sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kami, dia minta maaf sama aku Dil, dia minta maaf karena ternyata sudah selama empat bulan ini dia menduakan aku".
" Jadi nama pacar Mas Kun adalah Sarah, kasihan sekali Mas Kun sudah di duakan oleh pacarnya", batin Dila yang baru mengetahui apa yang terjadi.
" Dan bulan depan...., bulan depan... dia mau menikah dengan pria itu Dil, karena Sarah sedang hamil, usia kandungannya sudah dua minggu".
Dila langsung spitchles mendengar jika pacar Kunto sedang hamil anak orang lain, kini Dila sudah tahu apa alasan Kunto menangis, dan butuh menenangkan diri, ternyata dia sudah dikhianati oleh pacarnya, gadis yang sangat dicintainya dengan begitu tulus, justru menduakan cintanya, bahkan berkhianat karena sudah berhubungan **** dengan selingkuhannya sampai hamil.
" Sekarang aku paham Dil.... kenapa waktu aku tanya sama kamu, apa keperawanan itu menurut kalian para wanita adalah sesuatu yang penting, ternyata seperti ini rasanya saat mengetahui orang yang kita cintai berhubungan **** dengan orang lain, sakit Dil, benar-benar sakit".
" Hanya gadis baik sepertimu yang bisa menjaga hati pasangannya dengan terus menjaga kehormatan diri kalian".
" Aku merasa ditipu mentah-mentah, padahal aku kerja merantau disini juga untuk membantu dia mencapai cita-citanya, kurang apa aku Dil sampai Sarah begitu tega melakukan ini sama aku".
Dila yang sejak tadi hanya berdiri membiarkan dirinya di peluk oleh Kunto, kini membalas pelukan Kunto, dan sesekali memberi tepukan pelan di punggung laki-laki jangkung yang hatinya sedang rapuh itu.
" Mas yang sabar ya..., meski menyakitkan, tapi mungkin ini adalah jalan terbaik yang harus Mas lalui, supaya Mas menjadi pribadi yang lebih kuat, hingga tiba saatnya Mas menemukan cinta sejati Mas, semoga saja Mas bisa menemukan gadis yang benar-benar mencintai Mas Kun setulus hati, gadis yang tidak mudah goyah hanya karena jarak yang jauh".
Kata-kata bijak itu meluncur begitu saja dari mulut Dila. Hingga akhirnya Kunto perlahan merenggangkan pelukannya.
" Maaf kalau aku kurang ajar sama kamu, karena memaksa memelukmu tadi, aku butuh menenangkan diri, dan dengan memeluk kamu, aku merasa sangat damai dan tenang".
" Aku nggak bisa cerita sama Evan, karena sepertinya hari ini dia sedang merasa bahagia, aku takut dengan bercerita masalahku padanya, aku bisa merusak kebahagiaannya, dan menyeretnya ke dalam kesedihan yang sedang ku rasakan".
Dila merasa takjub dengan Kunto, dirinya sedang sedih, tapi tidak mau membuat temannya ikut bersedih karena masalah yang menimpanya.
" Iya, nggak papa Mas, kalau itu membuat Mas merasa lebih tenang dan lebih baik".
" Ya sudah, Mas Kun bisa lanjut cerita sama aku semuanya, sampai pagi juga nggak papa, mumpung aku masih disini, dan masih bisa menjadi teman curhat Mas Kun".
Dila duduk di lantai atap gedung dan meluruskan kakinya yang kesemutan, karena berdiri cukup lama sambil menahan tubuh Kunto yang lumayan berat.
" Bagaimana bisa aku tadi merasa cemburu hanya karena Kunto memilih bertelepon dengan pacarnya ketimbang pergi ke pasar malam bersamaku, apalagi saat aku tahu jika mereka bertelepon sangat lama, padahal mereka bertelepon lama karena sedang berunding untuk putus".
__ADS_1
" Ya Allah, padahal aku hanya sedikit cemburu, aku tidak pernah berpikir atau berharap hubungan Mas Kun dan pacarnya jadi bubar seperti ini. Kenapa Kau membuat hubungan mereka berakhir ya Allah?, apa sebenarnya sekenario yang sedang Kau tulis untuk hidup kami kedepannya?", batin Dila penuh tanya.
Hujan sudah mulai reda, saat ini jam menunjukkan pukul 12 malam, Kunto ikut duduk di samping Dila dan menyenderkan tubuhnya di tembok.