Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 52


__ADS_3

Dila memutuskan untuk tidur siang sebentar mumpung Lita dan sepupunya belum sampai, rasa lelah setelah kuliah dan membantu pekerjaan karyawannya membuat Dila merasa ngantuk. Satu-satunya obat ngantuk yang paling manjur adalah tidur, meski hanya sebentar.


Baru 30 menit Dila tidur di kamarnya, namun harus bangun karena suara Lita yang terus berisik, berusaha membangunkannya.


" Dil bangun dong, aku sudah ajak sepupu aku kesini, buruan bangun....!", Lita menggoyang-goyang tubuh Dila. Perlahan Dila membuka matanya.


" Eh Lit, sori sori, aku capek dan ngantuk banget, sampe ketiduran, jadi sepupu kamu sudah disini?". Dila bangkit dari tidurnya dan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.


" Iya, aku suruh tunggu di bawah, soalnya sepupuku itu cowok, nanti kamu ngomel lagi kalau aku ajak dia naik ke atas, kan cuma ada kamar kamu doang", Lita membuka pintu kamar Dila, " buruan turun, sepupu ku orang sibuk, katanya mau balik lagi ke Jakarta habis asar nanti, ada pertemuan penting dengan rekan-rekan bisnisnya katanya".


Dila mengangguk, " Ya sudah kamu turun dulu, aku cuci muka, terus nanti nyusul kamu ke bawah".


Sebenarnya Dila masih merasa ngantuk, tapi sudah mendingan karena sudah sempat tidur meski hanya 30 menit.


Dila menuruni tangga menuju lantai bawah, masih ada beberapa pengunjung toko yang sedang makan di sana, juga beberapa tukang ojek online yang sedang menunggu pesanan customer nya.


" Disini Dil ...!", Lita melambaikan tangannya, dia duduk di pojok ruangan sudah ada dua cup nasi ayam suwir, dan dua gelas es teh manis di meja mereka. Sepupunya terlihat sedang menikmati nasi cup di depannya.


Dila menghampiri meja Lita ,menyapa Lita dan sepupunya.


" Maaf agak lama ya, tadi pas cuci muka sekalian sholat asar, karena sudah terdengar suara adzan", terang Dila.


Sepupu Lita menoleh menatap Dila dan senyum sumringah langsung terpancar di wajahnya." Hai Dila.... kita ketemu lagi, wah kebetulan macam apa yang membuat sehari ini kita bisa dipertemukan berkali-kali, pantas aku merasa pernah melihat kamu, ternyata aku melihat kamu di status Lita yang sering jalan sama kamu kemana-mana", gumam sepupu Lita yang ternyata Bram.


" Mas Bram kenal Dila?", justru Lita yang kaget.


Dila duduk di samping Lita, " Tadi sepupu kamu yang jadi pembicaraan di seminar kampusku", justru Dila yang menjawab.


" Waaah.... ini sih kebetulan sekali, kok bisa yah ada kebetulan seperti itu?", Lita masih tidak percaya.


" Kalau tahu Dila teman kamu itu adalah Karina Nadila yang tadi ngobrol bersamaku di kampus ABC, pasti tadi aku antar dia sampai sini, jadi ternyata kegiatan kamu yang banyak itu karena ngurusin toko kamu ini Dil", ucap Bram sambil mengangguk.


" Lumayan enak sih rice bowl ayam suwir nya, harga terjangkau dan menerima pesan antar, marketing yang cukup bagus", puji Bram.


" Sepertinya aku harus mengatur ulang jadwal pertemuan dengan rekan-rekan bisnisku di Bekasi, suasana di Jogja membuat aku betah berlama-lama disini, gimana kalau kamu dan teman kamu ini jadi tour guide aku semalam Lit?, kan aku sudah jauh-jauh datang kemari, sayang kalau cuma disini ngisi seminar beberapa jam, capek juga perjalanan 8 jam dari Jakarta ke sini, nanti malam biar aku tidur di hotel, dan pulang besok ".


Lita nampak sumringah, " Boleh saja kita berdua jadi tour guide kamu, tapi traktir kita makan dan juga belanja", ucap Lita memberi syarat.


" Tentu saja, kamu boleh minta makan apa saja dan belanja apa saja bebas", Bram memang pengusaha muda yang sukses, jadi uang bukan masalah baginya.


Dila melotot pada Lita, karena mengajukan syarat tanpa meminta persetujuannya, " Aku nggak bisa ikut, maaf nanti aku banyak urusan, kalian jalan-jalan berdua saja ya", tolak Dila secara halus.


Bram benar-benar semakin penasaran dengan Dila, di saat para gadis lain mengantri untuk lebih dekat dengannya, justru Dila malah menjaga jarak. Saat gadis lain sangat suka di traktir makan dan belanja, tapi Dila justru menolak.


" Yah, nggak asik kalau cuma pergi berdua, please cuma malam ini Dil, kamu mau ya...", rengek Lita sambil memohon-mohon.


Dila nampak berpikir, selama ini Lita sudah sangat sering membantunya, dan Dila adalah tipe orang yang tidak enakan, apalagi baru kali ini Lita memohon kepadanya, " Ya sudah aku ikut, mungkin stok beras buat jualan besok masih ada, rencananya aku mau belanja beras dan minyak lagi untuk persediaan, ya mungkin masih bisa dilakukan besok ", ujar Dila.


Mereka bertiga mampir ke mall dan berjalan-jalan disana, Lita langsung memilih beberapa makeup miliknya yang sudah habis, lalu pergi ke toko baju dan membeli beberapa baju baru. Dila hanya mengikutinya tanpa mengambil satu barang pun.


" Kamu nggak ikut belanja?", tanya Bram yang sengaja duduk di samping Dila saat menunggu Lita tengah memilih-milih baju.


" Aku nggak suka belanja", jawab Dila singkat.


Bram menatap lekat pada Dila yang tidak pernah mau membalas tatapannya. " Gadis secantik kamu pasti sudah punya pacar ya Dil?".


Dila mengangguk, kini sibuk menatap ponselnya.

__ADS_1


" Kata Lita, hubungan jarak jauh. Memang masih ada cowok yang bisa dipercaya kalau ditinggal jauh sama pacarnya?", Bram sengaja memancing Dila.


" Tergantung pribadi masing-masing", lagi-lagi Dila menjawab seperlunya.


" Aku salut sama kamu yang begitu menjaga diri demi laki-laki yang belum tentu disana sedang memikirkan kamu".


Dila kini diam tak menjawab, karena tidak ada pacar, tidak ada laki-laki yang jauh disana, semuanya hanya masa lalu, sejak setahun yang lalu hubungan Dila dengan semua laki-laki di masa lalunya sudah terputus. Tak ada kabar sama sekali, dan itu lebih baik, tidak membuat Dila pusing memikirkan hal tidak penting.


Dari toko baju, Lita berpindah ke supermarket dan berbelanja berbagai makanan baik siap saji maupun buah-buahan.


Saat itu Bram sengaja memesan beras dan minyak sampai beberapa kantong dan langsung dikirim ke ruko Dila, tanpa sepengetahuan siapapun.


Dan usai maghrib, mereka bertiga langsung menuju salah satu kafe yang cukup terkenal di sekitar alun-alun. Di sana menyediakan berbagai macam makanan, dan menu di sana modelnya presmanan, yang hendak makan bisa memilih sendiri lauk yang diinginkan.


Setelah mengambil makan malam masing-masing, mereka duduk di bangku yang masih kosong, ternyata di kafe itu cukup ramai pengunjung, apalagi ada salah satu band lokal yang menyajikan alunan musik akustik yang mengcover lagu-lagu populer dari lagu lokal sampai lagu luar.


Band itu bahkan menerima request lagu dari para pengunjung kafe. Atau jika ada pengunjung kafe yang ingin menyumbang lagu juga diperbolehkan. Bram sengaja makan dengan cepat dan maju kedepan, berbisik pada penyanyi dan juga band pengiring.


Lita dan Dila hanya mengernyitkan keningnya melihat tingkah laku Bram yang tiba-tiba berdiri dan mengobrol dengan vokalis band lokal itu.


Ada panggilan masuk di ponsel Bram, ada nama Intan di layar ponsel, dan foto Intan yang muncul di layar ponsel Bram, Dila tak sengaja melihat foto itu, Dila tahu intan mirip dengan nama tetangga kontrakannya, bahkan foto di layar ponsel Bram juga mirip dengan intan yang dulu melantarkan Dila kerja di Jakarta.


" Bram ?, apa Bram ini dan Bram yang teman Indra itu adalah orang yang sama?, bagaimana bisa dunia ini sangat sempit. Aku harap Bram tidak mengenaliku, untung dulu kami belum pernah bertemu", batin Dila.


" Oke.... ini ada request lagu dari Abang yang datang jauh dari Jakarta, sebuah lagu yang dipersembahkan untuk seorang gadis cantik yang datang ke sini bersamanya, Karina Nadila, yang duduk di sebelah pojokan, selamat mendengarkan lagu khusus untuk Anda", suara sang vokalis mengawali lagu yang sengaja di request oleh Bram.


Bram kembali ke pojokan kafe dan duduk sambil cengengesan. Lita menatap Bram heran, sikap sepupunya itu sungguh menjadi aneh saat ini.


🎶


Ada rasa di dalam dada


Kau tersenyum manja


Membuatku terpana


Aku pun tak kuasa


'Tuk menahan gejolak diri


Ingin kukatakan


Aku menyukaimu


Hanya dirimu (hanya dirimu)


Yang aku suka


Terpesona


Ku pada pandangan pertama


Dan tak kuasa


Menahan rinduku


Senyumanmu

__ADS_1


S'lalu menghiasi mimpiku


Ingin kupeluk


Dan kukecup keningmu


Oh indahnya


Kini kurasakan


Getaran cinta dalam dada


Ku ingin bersama


Untuk selamanya


Hanya dirimu (hanya dirimu)


Yang aku cinta


🎶


Dila tahu dan paham betul dengan maksud Bram, tapi Dila pura-pura tidak tahu dan masa bodo, " maaf aku ke kamar mandi dulu ya...".


Bahkan Dila mencoba menjadi gadis yang tidak peka, bagaimana bisa Bram yang baru bertemu dengannya hari ini langsung menyukainya. Dila sampai bingung dan merasa tidak enak sendiri pada Lita.


Saat keluar dari kamar mandi Dila begitu kaget karena Bram menunggu nya di depan toilet.


" Nggak usah terus menghindar dariku Dil, cuma malam ini aku disini, besok juga sudah pulang, aku memang tertarik sama kamu, karena kamu gadis yang beda dari gadis-gadis lain. Mungkin jika untuk dijadikan istri, gadis seperti kamu sangat tepat, karena yang pertama bisa memperbaiki keturunan, semua orang tahu kamu cantik, kedua kamu tidak menghamburkan uang, kamu nggak hobi belanja seperti perempuan yang lain, dan ketiga bahkan mungkin suami kamu akan cepat kaya raya, karena kamu juga berbisnis dan punya pemasukan sendiri".


" Tapi sayang, aku belum ingin menikah atau berkomitmen dengan satu wanita, karena jika hanya untuk mencari partner ranjang, di kota besar banyak banget yang mau dengan sukarela bercinta denganku, sangat mudah mencari pelampiasan untuk menyalurkan naluri kelelakianku ini".


" Aku tidak berniat untuk berkomitmen, karena semua teman-temanku yang sudah menikah justru hidupnya semakin ribet dan banyak pikiran dan banyak masalah".


Dila berjalan menuju bangku yang tadi di duduknya, tapi Kita sudah tidak ada.


" Kemana Lita?, apa kamu menyuruhnya pulang lebih dulu?".


Bram menggeleng, " Dia pergi atas kemauannya sendiri, tadi di telepon cowok, siapa tadi namanya, katanya mereka janjian mau nonton. Sekarang baru jam 8, kamu mau pulang atau menemaniku mencari hotel untuk menginap?", tanya Bram.


Dila melirik sinis, " Di Jogja kamu nggak perlu bingung mencari penginapan, ada begitu banyak hotel, motel, rumah singgah dan sejenisnya yang tersebar dimana-mana".


" Antar saja aku pulang, nggak jauh dari ruko ku ada penginapan yang lumayan bagus fasilitas nya, kamu cuma mau nginep semalam kan?". Dila berjalan keluar dari kafe, Bram pun mengikutinya dari belakang.


Dan ternyata benar, tak jauh dari ruko yang ditempati Dila ada penginapan lumayan bagus, kamar luas, ada AC, kulkas mini, kamar mandi, dan diberi sarapan pula, hanya seharga 300 ribu semalam.


" Aku tinggal ya mas Bram, sudah malam, aku juga harus merekap penjualan hari ini. Semoga nyaman tidur disini".


Dila berjalan kembali menuju ruko tempat tinggalnya. Meninggalkan Bram di penginapan yang tempatnya tidak terlalu jauh.


Saat sampai ruko, Dila dikejutkan dengan datangnya kiriman beras dan minyak dalam jumlah banyak.


Dan tiba-tiba ada pesan singkat masuk.


~ Terima kasih sudah nemenin jalan-jalan hari ini, itu beras sama minyak buat bahan jualan besok, jangan ditolak, aku nggak mungkin bawa beras berkarung-karung ke Jakarta. Jangan lupa save nomer aku ini ya... Bram~


Dila hanya menggelengkan kepalanya, sikap Bram dan kebaikannya sungguh membuatnya serba salah.

__ADS_1


__ADS_2