
El sudah selesai sarapan, Fatma mengajak El bermain-main di ruang tengah. Di sana tempat dimana El biasanya bermain-main dengan neneknya. Fatma menyuruh Dila untuk sarapan terlebih dahulu, karena nanti ingin mengajak El pergi jalan-jalan ke time zone.
Fatma memang sudah ada seminggu tidak bertemu dengan El, karena harus mengunjungi putrinya yang sekarang tinggal di Malaysia mengikuti suaminya.
Bu Fatma memang memiliki dua anak, yang pertama Indra dan yang kedua Indri, meski nama mereka mirip, tapi mereka bukan anak kembar. Karena jarak usia mereka terpaut 4 tahun. Indra kini 28 tahun, sedangkan Indri 24 tahun.
Indri baru menikah enam bulan yang lalu, dan saat ini sedang hamil anak pertama, usia kandungannya baru masuk minggu ke 11, tapi Indri mengalami morning sickness, sehingga tiap pagi dia harus muntah-muntah hingga semua isi perutnya keluar.
Karena itulah seminggu kemarin Fatma sengaja mengunjungi putrinya, karena merasa kasihan pada putrinya yang tinggal hanya berdua dengan suaminya di negeri Jiran, dan Indri sering ditinggal pergi suaminya karena harus berangkat kerja.
Hingga akhirnya Fatma mencarikan pembantu orang asli Indonesia dan dibawa ke Malaysia, untuk membantu putrinya yang kerepotan di sana.
Baru kemarin malam Fatma kembali dari Malaysia, namun karena di sana Fatma tidak sempat pergi jalan-jalan dan mencari oleh-oleh untuk El, karena di Malaysia selama seminggu hanya sibuk mengurus Indri di rumah, Fatma pun memutuskan untuk mengajak El jalan-jalan saat sampai di Jakarta.
Dan karena cucunya ternyata sudah punya pengasuh baru, Fatma jadi lebih mudah membawanya bepergian, setidaknya ada orang lain yang ikut menjaganya selama di mall nanti.
" Nyonya saya sudah selesai sarapan, apa mau jalan sekarang?", Dila menghampiri El dan neneknya yang sedang bermain-main lego di ruang tengah.
Fatma menatap tampilan Dila yang sangat culun dan kampungan.
" Apa kamu bawa baju lain lagi selain yang kamu pakai ini?".
Dila menatap kaos dan celana kulot yang dipakainya, " Apa ada yang salah dengan pakaian ku?, aku kan sudah pakai baju yang rapi dan sopan". batin Dila.
" Ada beberapa Nyonya, tapi baju kemeja putih dan bawahan rok hitam, selebihnya baju santai untuk dipakai tidur, karena setahu saya saat akan berangkat ke kota, hari-hari saya akan habis di PT memakai setelan hitam putih, dan pulang kerja langsung masuk kamar dan tidur, jadi nggak bawa banyak baju yang bisa dipakai jalan-jalan ke luar", jawab Dila jujur, karena tujuan Dila ke Bekasi adalah untuk bekerja dan bekerja, bukan untuk jalan-jalan atau main.
Mendengar jawaban Dila Fatma hanya bisa menghembuskan nafasnya panjang.
" Sebenarnya ada banyak baju Indri yang sengaja di tinggal disini karena sudah nggak muat, ya baju masa-masa dia masih SMA dan kuliah, waktu dia masih langsing, nanti kita mampir ke rumah saja dulu buat ambil baju-baju Indri yang nggak kepakai, kayaknya seukuran badan kamu sekarang, sayang masih bagus-bagus tapi nggak kepakai".
Dila mengangguk setuju, " terimakasih banyak Nyonya", meski hanya baju bekas tapi setidaknya Dila akan punya banyak baju untuk ganti setiap harinya. Karena memang semuanya yang terjadi diluar rencana awal.
Sebenarnya baju Dila di kampung juga banyak dan bagus-bagus, hanya saja Dila tidak kepikiran untuk membawa banyak baju karena akan membuatnya tas bawaannya jadi semakin berat dengan baju yang mungkin belum tentu akan terpakai.
Jam 10 Dila bersama El dan neneknya mampir ke kediaman Bu Fatma yang ternyata tidak terlalu jauh dari rumah Indra. Memang tidak satu komplek perumahan, tapi dengan naik mobil, hanya butuh 15 menit perjalanan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan El terus bercanda dengan Dila, dengan sabar Dila menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh El, setiap kali El melihat sesuatu yang baru atau menarik perhatiannya.
Sampai di kediaman Ibu dari majikannya itu, Dila sungguh takjub melihat rumah Bu Fatma yang lebih besar dari rumah Indra, rumah itu bergaya arsitektur bangunan lebih ke klasik Eropa, berbeda dari rumah Indra yang menyukai model bangunan modern dan simpel. Halaman rumah juga sangat luas, ada taman yang terdapat berbagai macam bunga di sana. Karena Fatma hobi merawat bunga, terutama bunga anggrek. Rumah itu benar-benar terlihat asri dan mewah.
Saat Dila diajak masuk ke dalam rumah, ternyata semua perabot yang ada di dalam rumah itu juga sangat mewah. Di ruang tamu ada sofa besar dengan motif ukiran di kayu sandarannya, ada lemari kaca yang terisi dengan berbagai macam piala dan piagam penghargaan, mungkin piala milik Indra dan Indri saat masih kecil, ada juga beberapa guci antik besar dengan motif yang unik.
" Kak Dila ayo masuk, jangan bengong begitu, nanti ditinggal sama nenek", El menarik tangan Dila agar Dila masuk ke ruang tengah.
Dila semakin yakin jika majikannya memang sudah kaya sejak dulu, Pak Indra pada dasarnya berasal dari keluarga kaya, tapi yang menjadi pertanyaan besar, jika memang berasal dari keluarga kaya, apa yang menjadi alasan keluarga mertuanya tidak merestui hubungan putrinya dan Indra.
" Ayo sini masuk, kita langsung ke kamar Indri saja, kamarnya sudah lama kosong", Fatma menarik tangan Dila dan membawanya masuk ke kamar Indri karena sejak tadi Dila terus bengong seperti orang bingung.
El mengikuti langkah Dila dan Fatma yang masuk ke kamar tantenya.
Kamar Indri ternyata sangat luas, dan dominan kamar itu berwarna pink, pasti Indri adalah gadis yang sangat girly, pecinta warna pink dan pecinta kartun helo kitty, karena ada banyak boneka dan stiker helo kitty di kamar itu.
Bu Fatma mengeluarkan beberapa baju, celana, rok, juga dress dari dalam lemari besar berwarna pink yang memiliki 3 pintu.
" Ini semua dulu dipakai sama Indri saat masih seumuran kamu, tapi waktu itu Indri masih SMA kelas 12, kalau kamu malah sekarang sudah bekerja ya".
" Tapi Nyonya....".
Suara Dila menghentikan langkah Fatma yang hendak mengambil tas sebagai tempat baju-baju itu. " Kenapa?", tanya Fatma menatap Dila heran.
" Nanti kalau Non Indri pulang dan mencari baju-baju ini bagaimana?".
Pertanyaan Dila membuat Fatma tertawa keras sambil menutup mulutnya.
" Mana mungkin Indri nyariin baju ini, kan sekarang sudah nggak muat. Sekedar informasi, sejak menikah dia itu jadi lebih berisi".
Fatma memanggil salah satu pembantunya untuk mengambil tas besar dan memasukkan semua pakaian yang tergeletak di kamar Indri ke dalam tas. Sebelumnya Fatma mengambil satu baju kasual berwarna pink, dengan renda di lingkar lehernya, dan mengambil celana jeans panjang.
" Ganti pakaian kamu dengan ini, terus lepas saja tompel palsu kamu itu, kan Indra nggak ikut sama kita, jadi nggak usah pakai wajah palsu itu, kamu harus terlihat cantik kalau mau pergi jalan-jalan bersamaku".
" Satu hal lagi, panggilnya ibu Fatma saja, jangan panggil Nyonya, kamu paham?".
__ADS_1
Dila mengangguk tanda mengerti, dilepasnya tompel palsu dari pipinya, dan disimpannya di tas kecil yang dibawanya, Dila kini sudah berganti pakaian baru yang sebenarnya pakaian milik Indri yang tak terpakai, Dila masih tetap menggunakan kacamata tebalnya.
" Oke, semuanya sudah siap, sekarang kita jalan-jalan sayang...", Fatma menggandeng tangan El memasuki mobilnya.
" Pak ke mall MM ya", ucap Fatma pada sopirnya yang baru saja memasukkan tas besar berisi banyak baju untuk Dila bawa pulang nanti.
" Baik Nyonya".
Mobil berjalan membelah jalanan Jakarta yang sangat padat, mall yang letaknya tidak terlalu jauh harus ditempuh dalam waktu setengah jam. El hampir merasa bosan karena terlalu lama di dalam mobil. Sudah begitu banyak yang El tanyakan sejak tadi, tapi kemacetan mobil begitu panjang karena sedang ada perbaikan gorong-gorong.
" Kak Dila, kapan El belangkat sekolah?", tiba-tiba saja El menanyakan hal itu pada Dila.
Fatma menatap Dila menunggu jawaban Dila untuk pertanyaan El.
" Kan ayah belum kasih keputusan mau mengijinkan El sekolah atau tidak, tunggu keputusan dari ayah ya sayang. Sekarang kita jalan-jalan dulu sama nenek, di time zone nanti kan El juga bisa sambil belajar menghafal warna, belajar menghitung sama kak Dila dan nenek".
El yang awalnya terlihat kecewa jadi sedikit terobati karena ucapan Dila.
" Jadi El sudah minta pergi sekolah?", tanya Fatma.
" Iya Nyonya, eh ibu..., tapi Tuan Indra belum memberi ijin, mau dipikir-pikir dulu katanya".
Fatma hanya mengangguk dan berniat untuk membujuk Indra agar memberi ijin El mengikuti bimbingan belajar.
Mobil akhirnya sampai di depan mall, Dila, El dan Fatma turun dari mobil dan masuk ke dalam mall, pak supir membawa mobil menuju parkiran.
" Kita langsung ke time zone ya sayang, di lantai 3". Merekapun masuk ke dalam lift dan menuju lantai 3.
Ternyata permainan di sana sangat banyak, Dila jadi teringat saat malam ulang tahunnya kemarin, saat dirinya pergi ke mall di Bekasi dan bermain di time zone bersama teman-temannya.
El menarik tangan Dila membuat Dila tersadar dari lamunannya. " kak Dila, El mau naik keleta", El menunjuk kereta besar yang bisa dinaiki oleh anak-anak dan juga orang dewasa, kereta itu berkeliling mall di lantai 3.
" Ya sudah naiknya sama Kak Dila saja, nenek tunggu disini ya, nanti habis naik kereta kita masuk ke rumah ice cream yang outletnya di ujung sana". El loncat-loncat kegirangan.
Dila mengikuti El menaiki kereta api yang berkeliling mall, Dila bisa melihat-lihat outlet yang ada di lantai 3 saat kereta api yang di naikinya berjalan dengan pelan, kebanyakan di lantai ini menjual serba serbi anak-anak. Ada toko mainan, toko baju, toko makanan yang disukai anak-anak dan masih banyak toko lainnya.
__ADS_1
Tak sengaja Dila melihat seseorang yang mirip dengan Pakde Didit sedang berjalan terburu-buru sambil bertelepon dengan seseorang. Dila langsung menunduk, khawatir jika benar itu Pakde nya dan melihat Dila ada di Jakarta, karena setahu Pakde dan keluarga, saat ini Dila berada di Bekasi.