
" Bu Dila, ngapain kita jalan-jalan di sini?, apa kita mau jenguk orang sakit?", El mengira kampus itu adalah rumah sakit karena sama-sama memiliki lorong yang panjang.
" Bukan sayang, ini bangunan tempat Bu Dila akan melanjutkan sekolah, sama seperti gedung TK tempat El sekolah. Bukan rumah sakit".
" Bu Dila mau sekolah lagi kaya El biar tambah pintar, dan Om Bima ini akan menjadi teman sekolah ibu", ujar Dila berusaha menjelaskan.
" Om Bima sudah gede kok masih sekolah?", El bertanya dengan begitu polosnya. Karena postur tubuh Bima yang tinggi dan berisi, membuat El menanyakan hal yang lucu.
" Iya, Om Bima kan pengen jadi guru, kalau mau jadi guru, harus sekolah meski sudah besar", jawab Bima mencoba menjelaskan pada El yang masih sangat polos.
El hanya mengangguk meski masih nampak bingung.
Setelah berkeliling kampus dan mengenal tiap ruangan, Dila dan El sengaja mampir ke taman yang ada di depan kantor rektorat. Di sana terdapat taman dengan rumput hijau dan beberapa pohon besar yang membuat suasana terasa asri.
" Bu Dila, kalau Bu Dila sekolah lagi, apa Bu Dila juga ingin menjadi guru seperti om Bima tadi?". El duduk di salah satu kursi panjang yang ada di taman itu. Dila pun ikut duduk di samping El.
Dila mengangguk, " Sejak dulu ibu itu pengin jadi guru, yang bisa mengajar anak-anak kecil seperti El, biar bisa membuat anak-anak kecil menjadi bisa membaca, menulis, jadi tahu tentang berbagai ilmu pengetahuan, karena itulah cita-cita ibu sejak dulu".
" Kalau ibu boleh tahu, cita-cita El kalau besar nanti pengen jadi apa?, apa El sudah tahu pengen jadi apa?", tanya Dila.
El nampak berpikir, " cita-cita El banyak banget Bu Dila, waktu El lihat pesawat di Bandara, El pengin bisa jadi pilot, waktu El menggambar rumah dan membuat istana pasir bersama Bu Dila, El pengin jadi arsitektur, waktu El pergi ke kebun binatang, El pengen jadi penjinak binatang, dan waktu El ke kantor ayah, El ingin seperti ayah menjadi bos karena semua orang jadi menghormati kita. Karena itu, El masih bingung sebenarnya cita-cita El yang mana".
Dila langsung terkekeh mendengar ucapan El barusan, El memang pandai bercerita, dia juga punya banyak sekali angan-angan di pikirannya.
" Putra ibu memang hebat, semua itu adalah pekerjaan yang mulia, karena itu jadi apapun nantinya, yang penting kita bisa bermanfaat bagi orang lain, karena profesi baik apa saja kalau dijalani dengan jujur dan ikhlas, insyaallah membawa berkah", ujar Dila.
Dila dan El kembali masuk kedalam kantor karena Indra meneleponnya.
" Kok lama, memang muter-muter nya sampai mana saja?", Indra berdiri setelah berpamitan pada Faris.
" Dari tadi duduk di taman depan, tapi lupa nggak kasih tahu Mas, di depan asyik juga buat duduk-duduk santai, banyak pohon hijau dan hawanya sejuk".
Dila dan El ikut berpamitan dengan Faris. Mereka bertiga langsung pulang kerumah karena hari sudah sore.
__ADS_1
Esoknya Dila mulai berangkat kuliah, beruntung pagi hari El sudah bisa mandi dan makan sendiri, jadi Dila tidak kerepotan harus mengurus El terlebih dahulu. El di antar ke TK oleh neneknya seperti biasa.
Dila mengikuti mata kuliah cukup banyak hari ini, dan terus berlanjut seperti itu hingga hampir satu bulan, akhir pekan Dila sempatkan mengontrol ke outlet- outlet nasi cup ayam suwir yang ada di sekitar Jakarta, hari-hari dipenuhi dengan jadwal yang padat dan melelahkan.
Hingga di minggu malam, usai dirinya melayani sang suami di ranjang, Dila mengobrol santai dengan Indra.
" Besok mulai membahas masalah KKN, kalau nanti ditempatkan nya jauh gimana Mas", tanya Dila saat dirinya bersantai di kamar bersama Indra setelah olahraga malam bersama Indra.
" Biar aku bicara pada Faris untuk menempatkan kamu di daerah yang dekat sini saja, lagian jurusan pendidikan kaya kamu kan KKN nya nanti disuruh latihan ngajar di SD, SMP, atau SMA, jadi dimana-mana bisa karena semua daerah ada sekolahannya". ujar Indra
" Bukan begitu juga Mas, KKN itu ya macam-macam kegiatannya, bukan cuma satu jurusan, tapi kelompokku itu dari beberapa anak dari fakultas lain", ungkap Dila.
Dan benar saja, esok harinya saat berada di kampus, Dila yang mahasiswa pindahan harus berkenalan dengan teman-teman baru, dan masuk ke grup KKN dari berbagai jurusan, membuat Dila lumayan pusing menghafal wajah, sekaligus nama dan fakultas mereka.
Karena permintaan Indra pada Faris selaku dosen di kampus merah putih, Dila dan kelompoknya di tempatkan tak terlalu jauh, masih di Jabodetabek. Dan entah sekenario apa yang sedang Sang Maha Kuasa buat, lokasi KKN Dila ditempatkan di daerah Bekasi, tempat dimana dulu awal Dila meniti karir setelah lulus.
Tempat perantauan pertama Dila, yang membuatnya merasakan betapa kerasnya hidup di perantauan. Dila masih berharap jika tempat KKN jauh dari daerah Cibitung, karena disana terlalu banyak kenangan Dila bersama teman-teman lamanya.
Bukan Dila tidak sudi berteman dengan mereka lagi, hanya saja Dila ingin menjaga hati Indra yang sudah menjadi suaminya, Dila tidak mau hidupnya terlalu banyak konflik dan masalah.
Kelompok Dila terdiri dari 6 mahasiswa dan 4 mahasiswi termasuk Dila. 6 mahasiswa tinggal di rumah kontrakan dekat rumah perangkat desa, sedangkan Dila dan ketiga teman perempuan tinggal di rumah perangkat desa yang rumahnya cukup luas.
Dila diantar oleh Indra dan El sampai di rumah yang akan ditempati saat KKN, Indra secara pribadi menitipkan Dila pada istri perangkat desa pemilik rumah itu. Awalnya ibu pemilik rumah sempat terkejut karena ada mahasiswi yang sudah bersuami. Namun setelah diberi pengertian beliau bisa maklum.
Hari pertama kegiatan KKN adalah menyambangi kantor kelurahan, dan beberapa sekolahan yang ada di kelurahan itu.
Satu kelompok itu dibagi lagi menjadi 3 grup lagi, untuk membagi agar semua tempat bisa di datangi dalam waktu satu hari.
Dila kebetulan satu grup dengan Bima, Satria dan Ninda, tugasnya memperkenalkan diri ke sekolah-sekolah yang ada di kelurahan itu, dari TK, SD, SMP, dan juga SMA.
Kegiatan dilakukan hingga siang hari, Setelah jam sekolah selesai Dila dan teman satu grupnya pun kembali ke pos, untuk membahas kegiatan untuk hari selanjutnya.
Selama satu bulan penuh Dila mengikuti KKN di salah satu kelurahan di kecamatan Cibitung. Tiap akhir pekan, El dan Indra akan datang menjenguk Dila sambil membawa buah tangan untuk pemilik rumah.
__ADS_1
Dila menjadi yang paling akrab dengan si pemilik rumah karena sikap Dila yang supel dan mudah bergaul.
Hingga minggu terakhir Dila mengikuti KKN, dirinya ditugaskan untuk membantu pegawai kelurahan mendata para perantau yang ada di kelurahan itu. Awalnya Dila santai, karena setahu Dila teman-teman yang dulu mengenalnya tidak tinggal di kelurahan itu. Namun saat Dila menyambangi salah satu kontrakan yang cukup luas dan bagus, Dila bertemu dengan Evan dan Asri. Mereka berdua sudah pindah kontrakan, ke kontrakan yang lebih bagus dan lebih mahal pastinya.
" Dila...!, beneran kamu Dila, sejak kapan kamu jadi petugas sensus dari kantor kelurahan?, ya ampun Dila, aku sama Evan sudah beberapa kali ke Jakarta buat ketemu sama kamu, tapi nggak pernah di perbolehkan sama satpam yang jaga. Aku nggak nyangka sekarang kamu kembali kesini dengan pekerjaan baru".
Dila tersenyum kikuk karena Pak RW yang bertugas bersamanya menatapnya penuh tanda tanya.
" Aku cuma bantu pak RW mendata, ini bukan pekerjaan ku", jawab Dila singkat.
" Apa kamu masih tinggal dirumah bos kamu di komplek perumahan elit itu?, nomor kamu nggak bisa dihubungi, aku datang ke Jakarta juga nggak bisa ketemu kamu, kamu seperti lenyap ditelan bumi. Aku bersyukur bisa bertemu kamu lagi seperti ini", ujar Asri begitu bersemangat.
" Aku ingin bercerita banyak sama kamu Dil", Asri menggenggam tangan Dila.
" Iya, tapi nanti malam gimana?, sekarang aku harus bantu Pak RW mendata semua perantau terlebih dahulu, nanti kita ketemu di kafe yang ada diujung jalan sana gimana?".
Asri langsung setuju dengan usul Dila. " Di kafe ujung jalan jam 7 malam, aku tunggu ya".
Dila mengangguk dan keluar dari kontrakan Asri, yang ternyata bersebelahan lagi dengan kontrakan Evan, namun saat itu Evan sedang masuk pagi, sehingga tidak bertemu dengan Dila.
" Biar nanti malam bapak saja yang ke kontrakan ini lagi untuk bertemu orang yang tinggal disini, kita lanjut mendata kontrakan lainnya", ajak Pak RW.
Dila hanya mengikuti kemana Pak RW membawanya, menyalin nama dan alamat asli dari para pengontrak. Dila baru tahu jika mengontrak juga di data seperti itu. Karena saat dirinya mengontrak dulu belum mengalami pendataan seperti itu.
Malam harinya, saat teman-teman Dila sedang bersantai setelah seharian lelah mengikuti berbagai macam kegiatan, Dila pamitan pada Bima sang ketua kelompok untuk menemui temannya di kafe ujung jalan.
Dila pergi ditemani Bima, karena Bima juga dititipi Dila oleh Pak Faris, dosennya. Bima khawatir Dila tidak aman pergi malam-malam sendirian.
Saat Dila sampai di depan kafe, Dila bisa melihat Asri tidak datang sendiri, sudah ada Evan dan Joko yang juga ada disana, duduk di samping Asri.
Asri melambaikan tangan saat melihat Dila datang. Dila segera berjalan mendekat dan menjabat tangan teman-teman masa susahnya dulu.
" Kenalin ini Bima, teman aku", ujar Dila memperkenalkan Bima secara singkat.
__ADS_1
Evan, Asri, dan Joko menatap Bima dengan lekat.
" Selalu ada saja laki-laki yang dekat dengan Dila, di manapun dia berada", batin Evan.