Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 113


__ADS_3

" Lagi ngobrolin apa sih anak-anak ibu?, kok kelihatan serius banget?", Siti bergabung dengan kedua putrinya karena pekerjaan beres-beres rumah sudah selesai.


Ibu-ibu yang tadi membantunya juga sekarang sudah kembali ke rumah masing-masing karena hari sudah semakin malam.


" Cuma ngobrol biasa saja Bu", jawab Dita yang tidak mau ibunya tahu jika dirinya belum mengerti apa cita-cita nya.


" Itu mereka berdua lagi ngobrol apa serius banget?, sudah jam 9 malam, suruh Asna menyudahi percakapan nya dengan Wowo, sebelum bapak kamu nanti yang bilangin mereka", Siti menyuruh Dila untuk mengingatkan jika waktu sudah semakin malam.


" Ibu saja yang ngomong ke mereka, ibu kan lebih tua, jadi akan mereka dengarkan, jangan Dila yang bilang, nanti malah jadi salah tangkap", ujar Dila.


Memang sejak tadi Asna dan Wowo duduk berdua di sofa ruang tengah. Tapi Dila tidak enak mau bergabung dengan mereka, bukan karena apa, hanya saja mungkin mereka ingin mengobrol berdua saja dan sengaja duduk memisahkan diri dari Dita dan Dila.


Siti langsung berdiri dan menghampiri Asna dan Wowo, terlihat mereka saling bicara dan Wowo pun berpamitan pada Siti, setelah sungkem pada Siti beberapa detik Wowo menatap ke arah Dila yang berdiri tak jauh dari posisinya. Hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian pergi ke ruang tamu untuk berpamitan pada Toto dan Indra, lalu pulang.


Begitu juga dengan Asna yang ikut-ikutan pamit pada Siti dan Dila.


" Ngapain kalian masih bengong, sudah malam, sekarang kalian tidur saja, apalagi kamu Dil, sudah hamil besar harus banyak istirahat, jangan suka begadang".


Dila menurut dan ke ruang tamu terlebih dahulu, menemui Indra, mengatakan jika dirinya mau istirahat terlebih dulu.


Esok harinya El bangun sangat awal, baru jam 3 lebih El sudah membangunkan Dita karena merasa lapar.


" Tante El mau makan nasi, El lapar", gumam El sambil mengucek matanya.


Dita yang semalam bermain game di ponselnya sampai jam 12 masih merasa sangat mengantuk. " Aduh apa nggak bisa ditahan sampai besok lapernya?, Tante masih sangat ngantuk El", gumam Dita masih dengan mata terpejam.


" El laper Tante.... El laper....!", El bicara lebih keras, dan turun dari ranjang, hendak keluar dari kamar Dita, namun Dita langsung menahan El.

__ADS_1


" Ya sudah Tante ambilkan makan, El disini saja, jangan keluar, nanti malah ganggu istirahat yang lain kalau kamu keluar dan berisik".


Dita langsung ke dapur, mencari sisa makanan semalam, dan ternyata masih sangat banyak makanan di dapur. Tidak perlu membangunkan Dila, Dita langsung mengambil nasi dan pecak gurame untuk El.


Sambil menunggu El menyantap makanannya, Dita jadi berpikir, bagaimana perjuangan kakaknya saat dulu menjadi pengasuh El, kalau sekarang El sudah cukup besar dan bisa makan sendiri, jika dulu pasti kak Dila lah yang menyuapi El entah saat pagi, siang, atau malam.


Tidur pasti sebentar-sebentar terbangun karena rengekan El, belum lagi kalau El sedang sakit atau kak Dila sendiri yang sakit, pasti akan sangat repot.


Hidup sukses juga butuh perjuangan pada awalnya, apalagi Dita tahu betul kalau Kakaknya adalah tipe orang yang tidak mudah menyerah. " Seandainya saja aku bisa meniru sifat pekerja keras seperti kak Dila, bahkan ingin menjadi apa di masa depan saja aku belum kepikiran, padahal sudah sebesar ini, sebentar lagi 17 tahun usiaku, harusnya aku sudah menemukan apa tujuan hidupku", batin Dita sambil membuang duri, dan memilihkan daging gurame untuk El makan, Dita mengamati El yang makan dengan begitu lahapnya.


Tiba-tiba Dita kepikiran sesuatu, " El, kalau boleh Tante Dita tahu, apa cita-cita El?", Dita jadi bertanya pada El yang masih menikmati makan malam tertundanya.


El menengok pada Dita sambil menelan nasi yang sudah dikunyah nya dan meminum air putih dari gelas yang digenggamnya. Setelah menghabiskan air putih baru El terlihat berfikir.


" El punya banyak cita-cita Tante..., kalau nenek Fatma bertanya apa cita-cita El, El akan menjawabnya sesuai dengan keinginan El saat itu, El lagi pengen jadi apa, kadang pengen jadi pilot, kadang pengen jadi arsitek, kadang pengen jadi dokter, semuanya El kepingin, tergantung situasi dan kondisi, hehehe".


Dita hanya meringis mendengar jawaban El, jawaban yang lugu dari seorang anak kecil yang masih sangat polos. Tapi Dita jadi malu sendiri, karena bahkan anak sekecil El saja sudah punya keinginan dan cita-cita untuk menjadi sesuatu. Sedangkan dirinya belum tahu mau jadi apa.


" El, besok gimana kalau kita pergi jalan-jalan ke pasar?, di pasar badog ( pasar makanan) itu ada banyak penjual makanan, jajan pasar, kamu bisa pilih mau jajan apa saja di sana pasti ada, kamu pasti suka kalau besok jalan-jalan ke sana. Besok gantian kakak yang traktir El deh... El boleh beli apa saja sepuasnya".


El nampak berpikir. " Apa pasar badog itu seperti di mall Tante Dita?". Selama ini Dila memang belum pernah mengajak El ke pasar. Bukan karena tidak mau, hanya saja rumah Indra di Jakarta memang letaknya jauh dari pasar tradisional. Masih lebih dekat ke supermarket atau mall.


Belum lagi bi Darsih lah yang biasanya belanja sayuran dan kebutuhan masak setiap hari, itu juga tidak mesti pergi ke pasar, karena tiap pagi ada penjual sayuran keliling yang berkeliling di komplek perumahan elit. Dan barang dagangannya lumayan komplit, bisa pesan menu masakan buat besok nya jika ingin memasak sesuatu yang spesial.


Karena itulah El berpikir, mungkin pasar badog yang dimaksud Dita itu semacam mall di Jakarta, yang disana ada berbagai penjual makanan.


Dita terkekeh mendengar pertanyaan El. " Pasar badog itu ya seperti pasar tradisional, bukan mall, kalau mall itu kan pasti bersih, adem, wangi, terus rapi, kalau pasar tradisional itu kadang becek kalau habis hujan, kadang baunya juga bermacam-macam. Pokoknya nanti kita jalan-jalan saja berdua, nanti juga El bakalan lihat seperti apa itu pasar badog".

__ADS_1


" Banyak sekali makanan yang tak dijual di mall, jadi nanti El bisa coba makanan-makanan itu", gumam Dita.


" Apa El belum pernah memakan makanan yang di pasar?, memang apa saja yang dijual disana yang tidak ada di mall?", El lagi-lagi penasaran.


Dita mulai berpikir, " em.... ada berbagai macam jajan pasar seperti cenil, getuk, lupis, awug-awug, mata roda, apem, golang galing, pukis, onde-onde, dan kue basah lainnya masih banyak lagi, nggak bisa Tante Dita sebutkan semuanya".


" Terus jajanan kekinian yang disukai anak-anak kecil seperti cilung (papeda), cilor (Aci telor), sarang laba-laba, leker, telor gulung, martabak unyil, pisang penyet, sosis dan baso bakar.... Ya pokoknya banyak banget jajan yang ada di pasar, nanti kalau sudah agak terang kita berangkat. Nanti El bisa pilih sendiri mau beli jajan apa saja", ucap Dita penuh semangat.


" Serius El boleh beli apa saja?, apa nggak dimarahi Bu Dila kalau jajan banyak-banyak?", tanya El, karena biasanya Dila yang mengatur apa saja jajan yang boleh dan tidak boleh El makan. Bukan Dila over protektif, hanya saja Dila tipe orang yang lebih suka mencegah dari pada mengobati.


" Kita makannya sembunyi-sembunyi saja, biar nggak ketahuan sama Bu Dila. Gimana kalau habis beli jajan di pasar, terus kita ke taman yang dekat dengan pasar badog, kita bisa makan semua jajan yang kita beli disana, kan Bu Dila jadi nggak tahu kita beli apa saja".


El tertawa kegirangan karena merasa senang. Dita memang belum tahu resiko bahaya jajan sembarangan, meski dirinya sudah besar, tapi dirinya sendiri masih suka beli jajan .


Dan saat matahari mulai menampakkan sinarnya, Dita dan El sudah bersiap-siap dengan pakaian trening untuk berjoging dengan tujuan utamanya adalah pasar badog.


Dita berpamitan pada ibu dan kakak nya untuk mengajak El joging. Dila tidak ada sedikitpun rasa curiga jika tujuan mereka yang sebenarnya adalah ke pasar badog. Karena itu Dila mengijinkan mereka begitu saja.


" Hati-hati di jalan, kalau hari minggu pagi biasanya rame banget jalanannya", ujar Dila berpesan, yang di jawab dengan kompak oleh Dita dan El dengan acungan jempol mereka.


" Dadah bu Dila, El lari-lari dulu", teriak El sambil berlarian mengikuti kemana Dita melangkah sambil tersenyum cerah.


" Mau kemana El dan Dita pagi-pagi begini keluar rumah?", Indra yang masih pakai sarung bekas semalam duduk di teras rumah sambil menatap kepergian putra dan adik iparnya.


" Mereka mau joging, paling muter-muter komplek sini, Mas mau dibuatin teh manis?, buat temen pisang goreng yang ibu buat", tanya Dila.


" Boleh, tapi sedikit saja gulanya, kemarin ibu kamu yang buatkan teh manis, rasanya kemanisan kaya kolak", bisik Indra tidak berani keras-keras, takut terdengar oleh sang ibu mertua.

__ADS_1


Dila tersenyum sendiri mendengar ucapan Indra, memang ibunya terbiasa membuat teh manis itu sangat manis, sesuai selera sang bapak. Beda dengan Indra yang tipenya tidak suka teh terlalu manis. " Iya Mas, Dila tahu selera Mas Indra", ucap Dila sambil masuk kedalam rumah, hendak membuat teh manis untuk suaminya.


,


__ADS_2