Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bonus Bab 157


__ADS_3

" Sayang... kalau sudah sampai di Seoul, kamu kabari ibu ya..., kenapa nggak milih lanjutin kuliah di Indonesia saja, di sini kan juga banyak sekali universitas yang bagus?", Dila masih tidak habis pikir dengan keinginan putri nya yang bersikeras ingin melanjutkan kuliah di Seoul, Korea Selatan.


Ternyata putri sulung Dila sejak masuk SMA sudah menjadi penggemar salah satu grup boyband asal Korea Selatan yang sekarang sedang digandrungi oleh para remaja Indonesia.


Karena itulah Arsy langsung punya keniatan untuk kuliah di Seoul. Meski untuk menonton atau melihat para boyband itu manggung juga cukup sulit mendapatkan karcis masuknya.


" Ibu tenang saja, meski Arsy tinggal jauh dari Ibu dan Ayah, Arsy janji akan menjaga diri Arsy dengan baik, Arsy akan tetap rajin sholat, Arsy akan rajin menelepon ibu, dan akan tetap rajin belajar. Arsy juga akan menjaga kesehatan Arsy, tidak akan telat makan dan akan menjadi anak yang baik. Arsy hanya butuh ijin dan doa ibu dan ayah".


Dila seperti melihat dirinya di masa lalu, begitu bersemangat dan ambisius. Dila teringat saat dia meminta ijin pada ibu dan bapaknya untuk pergi ke Kota besar untuk merantau. Bahkan Toto dan Siti tidak bisa melarangnya. Persis dengan yang sedang terjadi saat ini.


" Mau bagaimana lagi, dia itu duplikat kamu sayang, mau di tahan seperti apa juga tetep kekeh dengan pendiriannya", ucap Indra sambil menikmati potongan buah melon dari piring di depannya.


" Kakak El nanti akan jemput kamu di bandara Incheon, dia juga yang akan nganter kamu sampai ke asrama. Untung kakak kamu sedang ada perjanjian kerja sama di Korea Selatan, jadi kamu ada yang jemput pas sampai disana".


El memang sudah menyelesaikan S1 nya satu tahun yang lalu di universitas ternama di Jakarta. Dan sekarang dia yang melanjutkan usaha Kakek Rizal, yang berkecimpung di bidang makanan. Bahkan kerjasama terbarunya El bergabung dengan perusahaan dari Korea Selatan untuk pembuatan kimchi, tteokboki, dan ramen yang dikemas untuk di pasarkan di Indonesia.


Kecintaan orang Indonesia dengan drama Korea dan boyband / girlband Korea membuat banyak orang Indonesia begitu penasaran dengan makanan khas Korea Selatan itu. El melihat peluang pasar yang besar di Indonesia untuk produk makanan dari negeri ginseng itu. Karena itulah El bekerjasama dengan kenalannya dari Korea Selatan untuk pembuatan produk makanan negeri ginseng itu.


" Ibu dan Ayah nanti yang akan ngantar kamu sampai ke bandara. Adikmu Iza juga bilang mau ikut nganter nanti, katanya sebentar lagi pulang, dia habis bersepeda bersama teman-temannya di senayan".


Iza adalah adik Arsy, putra Dila dan Indra yang ke 3, lahir hanya berjarak satu setengah tahun dengan Arsy, dan saat ini Iza sedang libur sekolah, baru saja naik ke kelas 3.


Sekolah di sekolahan yang berbeda dengan Arsy, Iza lebih tertarik di bidang mesin, karena itulah Iza sekolah di STM.


Dila memang tidak pernah mengharuskan putra putrinya sekolah di sekolahan favorit, Dila memberi kebebasan pada putra putrinya untuk memilih sekolah mereka sendiri, sesuai keinginan dan kemampuan mereka.


" Selamat siang tuan putri... apa sudah siap semua yang mau dibawa?, butuh bantuan packing nggak ?".

__ADS_1


Ternyata Iza sudah pulang dan langsung bergabung dengan yang lain yang sedang duduk santai di gazebo samping rumah. Iza langsung menyender di bahu ibunya yang menjadi temoat favoritnya bersandar.


" Sudah siap sejak semalam adikku sayang..., nanti tinggal berangkat, penerbangan jam 2 siang, jadi ke bandaranya sekitar jam satuan saja. Takut jalanan macet".


" Pasti akan sangat damai tinggal di asrama kampus. Nanti kakak bakalan punya banyak teman gadis-gadis Korea yang cantik, dan bisa berkenalan dengan opa-opa Korea yang ganteng. Apa kamu mau kakak perkenalkan dengan teman-teman kakak Za?", tanya Arsy berandai-andai.


Iza menggelengkan kepalanya. " Nggak suka aku sama gadis modelan Korea begitu. Nyari cewek itu yang kayak ibu Dila, wonder woman dan cantiknya alami, wajah khas pribumi. Kalau gadis di Korea itu kan biasanya di oplas. Nggak suka aku yang begituan".


Arsy langsung mencibirkan bibirnya. " Gaya banget nolak, nanti kalau lihat yang bening saja langsung minta dikenalin", ledek Arsy.


" Nggak bakalan, nggak suka yang nggak original. Masih suka gadis Indonesia yang ayu alami", Iza masih kekeh pada pendiriannya.


" Terserah kamu deh Za.... kita buktikan saja, seperti apa cewek kamu di masa depan"., tantang Arsy.


" Sudah.... kalian berdua ini, apa-apa ribut, kakak El saja belum punya pacar sampai saat ini, bagaimana bisa kalian yang masih kecil-kecil malah bahas pacar-pacaran begitu". Dila berusaha menengahi agar kedua anaknya berhenti berdebat.


" Yah... kakak El itu memang seperti itu... hidupnya lempeng dan seirus. Jaman masih kuliah, tiap hari waktunya cuma buat belajar, belajar, dan belajar. Sungguh membosankan. Makanya nggak punya pacar". Arsy memang sering sekali meledek kakaknya yang jarang bercanda, dan hidup terlalu serius dan lempeng.


El memang tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan cerdas, sebenarnya banyak teman kuliahnya yang mengaguminya, hanya saja El kurang peka, dan seperti tidak berminat untuk berhubungan dengan lawan jenis. El selalu berkata akan menjalin hubungan dengan perempuan jika sudah menjadi orang sukses, dan membanggakan ayah ibunya.


Dan kata-katanya itu selalu dipegang teguh. Selama El remaja hingga kuliah, Dila tidak pernah merasa khawatir dengan sikap dan polah tingkah El. Karena El sangat terbuka dengan Dila. Selalu menceritakan apa yang di alaminya kepada sang ibu. Karena itulah Dila merasa tenang. Berbeda dengan putra dan putri kandungnya yang polah tingkah nya justru sering membuat Dila khawatir.


" Makan siang sudah siap Tuan, Nyonya", ART baru yang baru bekerja satu tahun dirumah itu memberi tahukan jika makan siang sudah siap.


Bi Darsih dan Bi Ana memang sudah berhenti bekerja sejak setahun yang lalu, Dila sengaja membelikan mereka rumah untuk ditinggali bersama keluarga mereka melanjutkan hari tua. Karena memang usia mereka yang sudah tua dan Dila kasihan melihat mereka yang sudah bekerja dengannya sampai puluhan tahun.


" Sekarang kita makan siang, sholat Dzuhur nanti baru kita berangkat ke bandara". Dila mengajak suami dan anak-anak nya ke ruang makan untuk makan siang.

__ADS_1


Mungkin makan siang bersama keluarga seperti ini tidak akan sering terjadi kedepannya, karena Arsy yang akan tinggal di Korea.


Karena itulah Dila begitu menikmati kebersamaan mereka dengan penuh suka cita. Dila pasti akan sangat merindukan masa-masa dimana putra putrinya masih kecil dan berkumpul di rumah besar itu.


Waktu terasa begitu cepat berlalu, kepergiannya 20 tahun yang lalu dari kampung merantau ke kota besar. Dengan harapan meningkatkan derajat keluarga nya sudah tercapai.


Hidup di perantauan yang awalnya sangat sulit dan penuh perjuangan, kini berubah menjadi penuh dengan kebahagiaan, setelah melalui banyak cobaan.


Bersama dengan keluarga kecilnya. Orang tua dan mertua yang selalu membimbing dirinya hingga menjadikan dirinya pribadi yang lebih baik lagi.


Anak-anak yang tumbuh dan berkembang menjadi remaja, dan kini mulai mengejar mimpi mereka masing-masing. Dila hanya bisa berharap kebahagiaan dalam hidupnya akan terus berlanjut. Dan tidak akan ada lagi kesedihan berlebihan dialaminya.


Hidup memang terus berjalan. Di rumah besar itu, pada akhirnya hanya ada Dila dan Indra yang terus bersama menghabiskan dan menikmati masa tua mereka.


___________________&&&_____________________


Karya Kisah Cinta di Perantauan sudah selesai ya readers tersayang. Terimakasih atas dukungan berupa, like, komen, vote, dan juga hadiahnya.


Mohon maaf jika selama menuliskan karya ini masih banyak kekurangan, karena author juga hanyalah manusia biasa πŸ™πŸ™πŸ™


Untuk karya selanjutnya klik saja di profil author. Novel terbaru berjudul


...Healing...



Sudah upload sampai beberapa Bab. Semoga readers semua berkenan membaca karya-karya selanjutnya.

__ADS_1


Sekali lagi terimakasih dan mohon maaf sebesar-besarnya πŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2