
Setelah menghadiri pernikahan Lita, Dila berniat langsung pulang kerumah. Namun sang ibu mertua yang ternyata sudah berada di rumah Indra mengirim pesan pada Dila untuk membelikan beberapa macam kue dan buah-buahan untuk dibawa pulang, karena ternyata ada tamu jauh yang datang ke rumah.
Dila penasaran sebenarnya siapa gerangan tamu itu. Karena sebenarnya di rumah sudah ada beberapa macam kue dan juga buah. Tapi Dila tetap menurut.
Saat sampai dirumah Dila langsung masuk ke dalam setelah mengucap salam. Suasana ruang tamu rumahnya sepi, dinamakan tamu jauh yang ibu mertuanya katakan tadi?.
Ternyata keramaian terdengar dari taman samping rumah, disana ada gadis kecil cantik berusia sekitar 3 atau 4 tahun yang sedang bermain-main lincah di gendongan Bu Fatma. Sedangkan Arsy saat ini tengah digendong oleh seorang wanita berhijab yang sangat anggun dan elegan.
Fatma langsung memanggil Dila untuk bergabung dengan mereka, karena ternyata Indra juga sudah pulang dari kantor, dia sengaja pulang lebih cepat, dan terlihat tengah mengobrol dengan seorang pria seumuran Ari yang berjenggot tipis.
" Sini sayang... ayo kesini, kamu pasti masih bingung karena baru pernah bertemu dengan Indri. Ini Indri adiknya Indra". Meski sudah sering ber video call dan saling melihat di layar ponsel, namun ternyata Dila masih saja pangling melihat wajah asli saudara iparnya itu.
" Hai Kak Dila, apa kabar, lihatlah...sejak tadi aku bertanya-tanya, bagaimana bisa putri Mas Indra bisa secantik ini, ternyata oh ternyata, ibunya juga sangat cantik ", puji Indri di pertemuan pertama mereka.
" Ternyata tetap beda antara di foto, di kamera ponsel dan di dunia nyata, lebih cantik aslinya. Pantas saja Kak Indra tak bisa pindah ke lain hati", goda Indri pada kakaknya yang tengah asyik mengobrol bersama suaminya.
Dila dan Indri saling berpelukan dan menanyakan kabar, setelah Arsy di dudukkan di gazebo, tepat di samping Indri. Mereka memang sedang asyik ber cengkrama di gazebo taman samping rumah.
" Ini ada kue dan buah-buahan, biar aku cuci dan kupas dulu sebentar", Dila hendak pergi ke dapur, tapi bi Ana mengambil semua oleh-oleh dari tangan Dila.
" Biar saya saja yang siapkan, kamu bergabung saja dengan mereka. Kedatangan kamu sudah ditunggu-tunggu sejak tadi", ujar Bi Ana sambil membawa kantong plastik yang tadi dibawa oleh Dila menuju dapur.
Dila masih menggunakan baju semi kebaya berwarna pink, karena tadi habis menghadiri acara pernikahan. Jadi Dila memutuskan ke kamar terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Baru setelah itu Dila kembali bergabung dengan yang lain.
__ADS_1
" Kata Kak Indra... Kak Dila tadi habis dari acara pernikahan nya Lita?", tanya Indri yang ternyata juga mengenal Lita. Ya.... tentu saja mereka saling mengenal, karena dulu mereka sempat menjadi saudara ipar.
Dila mengangguk, " Aku dan Lita dulu jadi tetangga kos-kosan waktu kuliah di Jogja, waktu itu belum tahu kalau ternyata Lita adiknya mba Kayla, kami cukup dekat waktu itu, bisa dibilang sudah menjadi sahabat, sampai saat Mas Indra menyusul ke Jogja dan ketemu Lita disana, baru aku tahu kalau mereka ternyata saling kenal, tapi dengan hubungan yang kurang baik".
" Sebenarnya perselisihan antara dua keluarga itu bukan pada Lita permasalahan nya, karena Lita termasuk oposisi yang tidak berpihak pada siapapun, makanya aku tidak serta Merta menjauhi Lita setelah tahu dia adik Mba Kayla, dan kami tetap berteman baik sampai sekarang".
" Karena itulah, aku nggak enak kalau nggak datang di acara penting sahabatku, apalagi Lita adalah salah satu orang yang cukup banyak berjasa dalam kehidupan ku di masa lalu, makanya mas Indra mau ikut apa enggak, aku harus tetep datang ke sana", terang Dila lumayan panjang.
Arsy sejak tadi duduk sambil terus menepuk-nepuk paha ibunya yang kini berada di sebelahnya. Sedangkan Fatma masih sibuk mengejar-ngejar putri Indri di taman, ternyata Indri junior sedang mengejar kupu-kupu yang berterbangan berpindah dari bunga satu ke bunga lainnya.
Di samping gazebo Indra dan suami Indri tengah mengobrol serius, entah apa yang kedua pria itu bicarakan. Tapi sejak tadi Indra belum menyapa Dila, begitu juga dengan suami Indri yang hanya bersalaman di awal pertemuan tadi.
" Dari cerita kak Dila, sepertinya Mas Indra nggak berani buat melarang-larang kakak melakukan sesuatu. Soalnya waktu dulu menikah dengan istri pertamanya. Mas Indra melarang Kak Kayla untuk bekerja. Tapi sekarang, bahkan sudah punya baby saja Mas Indra mengijinkan Kak Dila buat bekerja. Itu sih sudah kelihatan banget kalau Mas Indra bucin sama Kak Dila".
Indri meringis, " Dia sih terserah akunya mau gimana, soalnya kami di Malaysia tinggal sendiri di rumah kami, ayah ibunya sudah tiada. Makanya waktu dulu aku ingin kembali kesini, aku harus pikir-pikir lagi, repot bawa anak kecil sendiri tanpa partner di jalan, sedangkan pekerjaan suamiku sangat banyak".
" Dia memang bukan pengusaha seperti Mas Indra yang bercimpung di bidang perhotelan, setelah suamiku resign dari pekerjaan yang dulu, kini suamiku belajar menjadi pengusaha juga, tapi dia lebih suka ke usaha pembudidayaan, bukan di bidang yang sama dengan Mas Indra, ada beberapa pembudidayaan yang dia geluti, yaitu pembudidayaan ikan, kambing, sapi, dan yang terbaru adalah budidaya burung".
Indri dan Dila langsung cocok di pertemuan pertama mereka, segala hal mereka bicarakan, dari membicarakan pekerjaan suami, anak-anak, keluarga, masakan, dan berbagai topik lainnya.
Hingga tak terasa petang pun tiba, dan mereka semua masuk kedalam rumah untuk bersiap melaksanakan sholat maghrib bersama.
Rizal juga datang ke rumah Indra saat tahu putri bungsunya pulang dari Malaysia dan sedang main kerumah Indra kakaknya, setelah bertahun-tahun lamanya tak pulang-pulang.
__ADS_1
Rasanya Rizal sangat bahagia melihat anak-anaknya hidup rukun, dan bahagia bersama pasangan mereka masing-masing.
Makan malam di ruang makan terlihat begitu semarak, karena kegaduhan El dan putri Indri, dua cucu kecil saja sudah ramai, apalagi setelah Arsy besar nanti, pasti akan lebih ramai lagi.
Selama seminggu Indri dan suaminya tinggal di Indonesia, tepatnya di rumah Bu Fatma selama 2 hari dan 4 hari di bali, karena mereka datang ke rumah Indra hanya sekedar main , mengucapkan selamat atas kelahiran Arsy, dan memberi hadiah untuk kelahiran keponakan mereka yang baru. Tak lupa juga membawa hadiah berbagai macam mainan untuk El.
Waktu satu minggu tinggal di Indonesia digunakan Indri dan keluarga dengan sebaik mungkin, mereka semua sengaja menyempatkan untuk bertamasya bersama dan sengaja bolos kerja, baik Indra, Dila, maupun Pak Rizal mengajukan cuti selama dua hari dan pergi berpiknik bersama ke Bali.
Berangkat hari kamis pagi, dan pulang hari minggu siang. Di Bali mereka menginap di hotel baru milik Indra, Indra memang sengaja memboyong keluarganya dan semua pekerja/ ART di rumah ke Bali.
Sekali-kali tidak masalah membolos kerja, karena momen Indri bisa pulang ke Indonesia itu sangat langka.
Mereka juga menyempatkan foto keluarga bersama-sama. Itu sebenarnya permintaan dari Bu Fatma yang ingin membingkai seluruh gambar anggota keluarganya di dalam satu foto yang sama.
Pak Rizal, Bu Fatma, Indra beserta keluarga kecilnya, dan Indri beserta keluarga kecilnya. Rasanya sangat bahagia, ketika keinginan Fatma yang sudah cukup lama akhirnya terkabul juga.
Fatma memang sempat iri dengan foto keluarga milik salah satu teman arisannya yang dipajang di dinding ruang tamu. Dan Fatma berencana ingin membuat foto keluarga seperti milik temannya, dan akan dipajangnya di ruang tamu dengan ukuran yang sangat besar.
Foto dengan background bernuansa putih, sedangkan mereka sekeluarga memakai pakaian senada berwarna abu muda, dengan bawahan hitam bagi bapak-bapak, dan bawahan putih bagi ibu-ibu nya.
" Akhirnya keinginan ibu untuk membuat foto keluarga bersama-sama terkabul juga".
" Setelah ini seringlah pulang ke Indonesia kalau ada waktu luang, ibu akan sangat senang kalau kamu sering datang kerumah",.linta Bu Fatma pada putri bungsunya.
__ADS_1
Indri hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, karena sebenarnya dirinya juga ingin sekali sering-sering berkunjung ke rumah ibunya, hanya saja Jarak yang jauh, dan repot karena harus membawa anak kecil, Indri jadi jarang mengunjungi orang tuanya.