Kisah Cinta Di Perantauan

Kisah Cinta Di Perantauan
Bab 118


__ADS_3

Akhirnya mobil sampai di Jakarta pukul 9 malam, molor satu jam dari perkiraan karena tadi ada sedikit masalah pada perut El. Dan saat ini El sudah tidur dengan nyenyak di mobil, masih dipangkuan Indra.


Di Jakarta cuaca cerah, bahkan jalanan masih sangat ramai karena banyak anak-anak muda yang nongkrong di pinggiran jalan. Di pintu masuk menuju ke perumahan elit juga ada beberapa satpam yang sedang duduk-duduk di depan pos.


" Selamat malam Mas Ari, baru pulang?", sapa salah seorang satpam.


Ari mengangguk," iya nih Pak... habis dari Jawa, jemput majikan yang habis dari rumah mertuanya. Ini ada sedikit oleh-oleh dari kampung". Ari menyerahkan dua besek getuk goreng sokaraja, salah satu oleh-oleh khas Banyumas, yang sengaja dipesankan oleh Siti pada salah seorang kenalan yang punya toko oleh-oleh khas Banyumas.


" Wah.... jadi ngrepotin Pak Indra, tapi terimakasih banyak ini, pas banget buat teman ngopi jaga malam", seru salah seorang satpam sambil menerima besek berisi getuk goreng itu.


" Iya sama-sama, maaf nggak bawa banyak oleh-oleh. Kami permisi dulu bapak-bapak!", ujar Indra sambil melambaikan tangan kanannya, mobil memasuki komplek perumahan elit, dan langsung menuju ke kediaman Indra.


Mang Santo langsung membuka pintu gerbang saat mendengar klakson di depan gerbang dan melihat mobil majikannya pulang.


Ari langsung masuk kedalam dan menghentikan mobil di depan teras rumah dengan dua pilar besar itu. Mang Santo langsung menghampiri mobil setelah kembali mengunci pintu gerbang itu.


Indra turun sambil menggendong El, sedangkan Ari turun dan langsung membuka bagasi mobil, meminta bantuan Mang Santo untuk membawakan berbagai macam oleh-oleh dari kampung, ternyata bagasi yang besar itu hampir penuh, ada beras satu karung, koper kecil Dila, beberapa kelapa muda, satu kardus tempe bahan mendoan, sekaligus tepung serbagunanya, dan juga satu dus berisi beberapa besek getuk goreng.


" Oleh-oleh kalau dari kampung ya begini ini ya Ar, isinya hasil sawah dan hasil kebun", gumam Mang Santo sambil mengangkut sekarung beras ke dapur.


" Waduh... dapat beras juga, orang tua Dila pasti habis panen, makanya di bawain beras, jadi ingat jaman kita pengantin baru dulu ya Pak... kalau main kerumah orang tua, pasti pulangnya bawa beras sama pisang", bi Darsih yang melihat suaminya mengangkut beras mendadak jadi bernostalgia.


" Iya iya... nostalgia nya nanti saja, itu di mobil masih ada kardus yang belum dibawa, coba kamu bawa kesini Sih, sepertinya nggak terlalu berat", ujar Santo pada istrinya.


Darsih pun hendak keluar, namun ternyata dua kardus itu sudah lebih dulu dibawa oleh Ari ke dapur.


" Kok dibawa dapur semua oleh-olehnya Ar?", tanya Darsih yang belum tahu apa isi di dalam kardus itu.


" Disuruh sama Dila, buat dibawa kesini", jawab Ari singkat.


" Iya Bi, soalnya itu isinya tempe tipis buat bahan bikin mendoan, sudah sama tepung mendoan nya juga, tinggal di goreng besok. Yang kardus satunya berisi getuk goreng, bisa langsung dimakan, sisain buat ibu dua besek saja", ujar Dila memberi tahu.

__ADS_1


" Oh iya Dil, beres, ini tempe nggak papa di taruh di kardus nggak dimasukkan ke dalam kulkas?", tanya Darsih, khawatir besok tempenya akan busuk jika tetap disimpan di kardus.


" Nggak papa bi, malah kalau bisa di angin-anginkan saja, soalnya ibu pesen tempe mentah yang baru di bungkus, masih wujud kedelai, jadi biarkan begitu saja biar jadi tempe tipisnya", terang Dila.


Darsih mengangguk-angguk, " Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja Dil, sudah malam, atau kamu mau makan malam dulu sebelum tidur?, orang hamil besar kan biasanya cepet laper", ujar Darsih sambil menata bungkusan tempe tipis di atas tampah.


" Nggak bi, tadi sudah makan beberapa bungkus roti, masih berasa kenyang. Mas Indra juga sepertinya mau langsung istirahat, capek soalnya duduk di mobil lama, selama hampir 7 jam. Bibi kalau ngantuk tidur saja", ujar Dila sambil melihat sekitar dan baru menyadari jika bi Ana sejak tadi tidak kelihatan.


" Bi Ana kemana Bi, apa sudah tidur?", tanya Dila yang baru merasa kehilangan.


Darsih menggelengkan kepalanya. " Tadi Ana bilang mau keluar sebentar cari keperluan pribadi di minimarket depan. Paling sih itu cuma alesan, lah wong tadi pagi saja sudah ke sana, buat apa kesana lagi, ngabisin tenaga saja. Si Ana itu kan lagi Deket sama salah satu tukang parkir di minimarket depan. Yang orangnya tinggi item itu loh Dil, kamu pasti paham kan?".


Dila nampak mengingat-ingat, " Yang orangnya tinggi, tapi kurus itu ya Bi?", tanya Dila memastikan.


" Betul, tepat, kamu memang pinter", puji Darsih.


" Ya sudah aku ke kamar dulu ya Bi".


" Kenapa malah duduk di belakang jendela seperti itu sayang?", Indra mendekat ke arah dimana Dila berada.


" Aku sudah nggak ngantuk Mas, mau telepon Dita dulu, mengabari kalau kita sudah sampai di rumah dengan selamat, biar mereka nggak kepikiran terus".


Indra manggut-manggut mendengar ucapan istrinya.


Namun saat hendak ditelepon, ternyata nomor Dita sedang diluar jangkauan, sepertinya Dita sengaja mematikan ponselnya.


Tapi kenapa Dita mematikan ponselnya?.


Jelas-jelas Dita yang minta dikabari jika dirinya sudah sampai, namun saat ini justru tidak bisa ditelepon. Akhirnya Dila hanya mengetik pesan, mengabari bahwa dirinya sudah sampai.


Di lain tempat, di kampung tanah kelahiran Dila, yang tepatnya di kamar Dita, Dita merasa malam ini kesepian, karena El yang menjadi teman tidurnya selama dua malam sudah kembali pulang, Dita hanya ber gulang-guling di kasur yang kini terasa lebih luas.

__ADS_1


Tadi Nino meneleponnya. Ya.... Dita tahu nomor baru yang meneleponnya itu nomor telepon Nino, karena melihat profil fotonya.


Nino mengirimkan beberapa pesan, namun Dita belum membukanya. Dita justru sengaja mematikan sambungan data di ponselnya, dan mulai bermain games di ponselnya.


" Biar saja akan aku baca, dan ku jawab besok saja pesanannya, paling juga cuma bertanya kenapa yang datang ke rumah nya adalah orang lain", pikir Dita.


Dita pun bermain berbagai macam game yang ada di ponselnya, namun Dita merasa bosan setelah hampir satu jam bermain game di ponselnya, Dita me-ngecarge ponselnya dan kembali rebahan di atas ranjang.


" Mending sekarang tidur, besok harus kembali berangkat sekolah pagi, semangat Dita, kejar cita-cita kamu, yang belum kamu ketahui, hehehehe", Dita terkekeh sendiri.


" Bodo amat dengan cita-cita, mau kerja apa saja nggak masalah, yang paling penting sekarang aku tahu apa tujuan dari hidupku, yaitu membahagiakan kedua orang tuaku dan satu-satunya kakakku, Mba Dila", Dita sudah memutuskan seperti itu, karena itulah yang sejak tadi terpikir di benaknya.


Orang sukses bukan melulu orang yang jadi dokter, jadi pejabat, jadi pilot, atau jadi presiden, yang memiliki gaji besar tiap bulan.


Tapi menekuni pekerjaan apa saja bisa membuat sukses, yang penting terus ditekuni, dinikmati, dan berusaha keras. Jangan gampang menyerah, dan terus semangat, itu kunci untuk menjadi sukses menurut Dita.


Dita pun berusaha memejamkan matanya, berdamai dengan pikiran dan keadaan. Entah apa yang Nino tulis dalam pesannya, penting atau tidak, yang jelas Dita sudah memutuskan untuk membacanya besok.


Dan saat bangun tidur dan mengaktifkan paket datanya. Begitu banyak pesan masuk, termasuk dari kakaknya yang mengabari jika mereka sudah sampai di Jakarta dengan selamat.


Dita menepuk jidatnya sendiri, karena sampai lupa tidak menanyakan Dila sudah sampai atau belum. Dita langsung menelepon Dila dan meminta maaf, berpura-pura semalam tidur lebih awal dan HP nya mati dan sedang di carge waktu Dila menelepon.


Setelah puas ngobrol dengan Dila dan El, Dita kembali mengakhiri panggilannya dan berpamitan pada Dila mau mandi dan bantu ibunya masak, karena mau berangkat ke sekolah. Namun kenyataannya Dita justru mengecek pesan yang dikirim oleh Nino padanya.


Ada rasa khawatir jika ternyata pesan itu adalah hal yang penting. Beruntung saat Dita membaca, ternyata pesan Nino hanya sekedar basa-basi menanyakan kenapa yang menarik sumbangan untuk pengajian bukan Dita, tapi justru panitia lainnya.


Dita masih memikirkan alasan yang tepat untuk membalas pesan dari Nino, karena meski harus berbohong, tapi tetap kebohongan yang masuk akal dan bisa diterima oleh akal sehat.


~ Maaf kemarin aku kecapekan bantu Kak Dila packing buat ke Jakarta, makanya aku tidur lebih awal, dan meminta teman yang lain yang menarik sumbangan ke rumah Mas Nino~


" Sudah cukup seperti itu, jangan terlalu panjang, justru akan terlihat aneh jika jawaban pesannya kepanjangan", gumam Dita sambil tersenyum puas karena berhasil menemukan alasan yang masuk akal.

__ADS_1


__ADS_2