Life Is Love

Life Is Love
Alan mengusir Genta


__ADS_3

********


saat ini Alan mulai melupakan masalah nya karena dia sedang menikmati pestanya. Mila menanyakan Alan pada Genta tapi Genta juga tidak mengetahui Alan dimana.


" apakah Alan kecewa atau marah, Alan dimana kamu " Mila begitu khawatir. " tunggu? Apni, ya Apni pasti tau dimana Alan " kini Mila mulai menghubungi Apni dan Apni memberitahu kan dimana Alan.


Mila bergegas pergi, Mila khawatir terjadi sesuatu pada Alan apa lagi cerita Apni kalau Alan pergi dengan sekretarisnya yang bernama Ulfa.


saat Mila datang ke caffe milik Alan saat itu Mila mencari keberadaan Alan, Alan sedang duduk bersama wanita, Mila langsung bergegas menghampiri Alan.


" Alan apa yang kau lakukan " tanya Mila, Alan mendongakkan kepalanya melihat ke atas, Alan tersenyum miring.


" apa kau tidak lihat apa yang aku lakukan, bersenang senang " ucap Alan. Ulfa melihat Mila nahkan Mila menatap Ulfa, ada rasa khawatir sekertaris Alan begitu cantik.


" ayo kita pulang, ada yang ingin aku bicarakan " ajak Mila kini memegang tangan Alan.



Alan menundukan kepalanya sedangkan yang lain hanya berdiam saat melihat Alan dan Mila. akhirnya Alan pasrah dan ikut Mila.


kini Alan dan Mila berada di aparteman Mila dan Apni. Alan menghela nafas nya dan mengendalikan emosi nya.



belum ada yang memulai percakapan diantara mereka, mereka masih betah berdiam diri, dan tiba-tiba Alan yang mulai bertanya.


" ada apa? " tanya Alan Mila menatap Alan.


" aku ingin berbicara sesuatu " ucap Mila


" katakan! aku sedang menunggu " Alan menatap Mila.


" apa kau kecewa " tanya Mila pelan dan Alan mendengar nya.


" ck.. mungkin kau pun tau akan hal itu " ucap Alan sambil berdecak.


" aku juga tidak tau kenapa ada pertanyaan seperti itu, tidak ada kesepakatan diantara kami itu terlalu mendadak " ucap Mila menjelaskan.


" tapi kalian menikmati nya bukan! bahkan kalian bilang bahwa aku dan Apni saudara kalian " ucap Alan mulai terlihat marah.


Mila turun dari sofa dan duduk dihadapan Alan " itu semua tidak rencanakan, aku mohon percayalah, aku dan Genta tidak mungkin menghianati kalian "


" percaya, baiklah kita lihat sampai dimana kalian menguji kepercayaan ku " Alan masih tetap dengan pendirian nya.


" aku akan buktikan itu tapi aku mohon tetaplah dukung aku dan tetaplah disampingku " Mila memohon agar Alan tak meninggalkan nya.



" bukankah kau juga mendukung ku dalam pekerjaan ini, dulu aku juga ingin menolaknya tapi karena kamu meyakinkan aku akhirnya aku menerima pekerjaan itu " Mila menangis dan Alan hanya berdiam diri. setelah itu Alan berdiri.


" kau mau kemana " tanya Mila.


" apa kamu sudah selesai, aku mau pulang " Alan langsung pergi bahkan tak menoleh pada Mila, Mila menangis bahkan berteriak histeris.


" apa yang terjadi, kenapa.. kenapa jadi seperti ini, Apni membenciku kin Alan hiks.. hiks " Mila masih menangis dan Alan juga ikut menangis

__ADS_1


" ma'af kan aku Mila " ucap Alan akhirnya Alan pergi dari apatemen itu.


*******


di kediaman Dinata.


" bagaimana Genta apa sudah ada kabar dari Alan " tanya Helen, tidak biasanya Alan tak memberikan kabar.


" belum mih " ucap Genta.


" pih dimana anak itu " Helen mulai khawatir, saat ini mereka masih sibuk mencari Alan dan menanyakan kabar pada teman teman Alan.


" mam, kk pasti pulang jadih mam gak usah khawatir ok " Resta memeluk Helen.


" tpi tetep ja mamih khawatir dek " ucap Helen lirih. saat mereka sibuk dengan pemikiran nya tiba-tiba ada yang mengucapkan salam.


" assalamualaikum " Alan nongol Helen langsung lari menuju Alan.


" Alan kenapa tidak menghubungi mamih " ucap Helen.


" eh ma'af mih, Alan lupa " jawab Alan sambil garuk garuk kepala.


" kau tau Alan mamih mu itu begitu khawatir, kau dari mana saja " tanya Rangga.


" ah itu pih, Alan mengadakan pesta dan bonus untuk para karyawan karena mereka berhasil memajukan perusahaan kita, sebagai boss yang baik bukankah kita harus menyenangkan mereka " ucap Alan yang mengandung sindirian, Genta tau Alan menyindir nya.


" dan Ulfa sekretaris baru itu begitu baik dalam hal apapun jadi Alan bisa mempercayakan segalanya padanya Pih " Rangga melihat ke Genta dan Genta hanya berdiam.


" ka seharusnya kk kasih tau kita, kita khawatir tau " ucap Resta kesal.


" Alan pergi ke kamar dulu pih, besok akan ada meeting " ucap Alan, saat Alan melawati Genta, Genta menghentikan Alan.


" apa gue boleh ikut " tanya Genta, Alan memutar tubuh nya.


" bukankah loe sendiri sibuk dengan urusan loe " ucap Alan menyindir.


" besok ada waktu luang jadi gue bisa ikut loe ke perusahaan "


" tidak perlu, Ulfa sudah menghandle nya jadi mungkin gue udah gak butuh loe " ucap Alan.


" Alan " bentak Rangga, hening saat Rangga bersuara keras.


" sudahlah pih, ini urusan Alan "


" Gan Tunggu, apakah gue udah bukan bagian dari perusahaan " tanya Genta kembali.


" menurut loe, bukankah sudah lama loe sendiri gak peduli dengan perusahaan, oya selamat dengan hubungan baru loe semoga kalian sampai kepernikahan "


" loe salah faham "


" udah lah gue capek gue mau istirahat " saat Alan akan melangkah Genta kembali menghentikan langkah Alan, sedangkan Resta Helen sudah khawatir, mang Diki juga Bi Aminah mendengar dan hanya melihat.


" tunggu, apa karena ini loe marah " tanya Genta lagi.


" gue gak mau bahas " sinis Alan dan menatap benci ke Genta.

__ADS_1


" ma'af itu semua bukan yang kami inginkan " ucap Genta menyesal.


" bullshi* gak usah banyak omong deh loe, mulai hari ini dan seterusnya loe gak usah ikut campur dalam perusahaan lagi, dimana janji loe saat dulu mengatakan bahwa loe tetap akan mementingkan perusahaan, tapi lihat " Alan bertepuk tangan.


" hebat karena loe sudah hebat jadi loe gak butuh gue lagi dan perusahaan, dan dengarkan gue baik baik tanpa loe perusahaan juga maju, dan mulai hari ini loe gue pecat " setiap ucapan Alan penuh dengan penekanan.


" Alan " bentak Helen dan Rangga bersama-sama, Alan hanya menatap mereka.


" gue gak mau lihat wajah loe disini "


plak


Helen menampar Alan dan semua orang kaget, Alan menatap sinis kearah Helen dan Genta,


" ma'af, maafkan mamih Alan " ucap Helen lirih, Alan langsung pergi ke kamar nya. Helen langsung luruh duduk di lantai menangis bahkan menyesal karena replek menampar Alan. Resta ikut menangis dan memeluk Helen.


" nak jangan dengarkan ucapan Alan, tetaplah disini " ucap Rangga, Genta menatap Helen sedih. bahkan Bi Aminah menangis di pelukan mang Diki.


bahkan para maid begitu takut, tidak biasanya keluarga ini memiliki masalah sebesar ini biasanya di kediaman Dinata selalu ada kebahagiaan.


" maafkan Genta pih, mih, adek ini semua salah Genta " Genta mulai menetaskan air mata nya.


" sayang kamu tetap disinj ok, jangan tinggalkan kami mungkin Alan sedang emosi jadi mamih mohon " Helen memeluk Genta, Helen tidak ingin Genta pergi.


" Ka adek mohon " kini Resta pun sama memeluk Genta.


" maafkan Genta harus pergi mih, Genta tidak ingin ada masalah lagi karena kehadiran Genta "


" sayang kamu mau pergi kemana " tanya Helen " tetaplah disini " mohon Helen.


" Genta lupa memberitahu papih, mamih dan juga adek Resta kalau kk udah membeli apartemen " Helen dan Rangga kaget, bahkan Resta masih menatap sedih.


" Genta harus pergi mih, jadi izinkan Genta untuk mandiri mulai sekarang hmm " Helen menggeleng.


" Genta jangan ambil keputusan disaat emosi " ucap Rangga.


" ma'af pih, untuk kali ini yang Alan katakan benar, kalau Genta sudah lalai untuk perusahaan karena kesibukan Genta, jadi Genta mohon mamih, papih dan adek izinkan kk pergi " mereka menangis dan Rangga tak bisa berkutik keputusan Genta sudah tak bisa diganggu lagi.


Genta pergi ke kamar nya saat sampai di kamar Genta menangis.



" maafin Genta mih, pih, dek " Genta menangis di balik pintu. dan Alan diapun menangis di kamar nya.



" hiks.... hiks, maafin Alan mih, pih ini udah menjadi keputusan Alan "


kini Genta mulai pamit bahkan para maid ikut menangis mang Diki memeluk Genta, bahkan Bi Aminah juga menangis keluarga yang sudah lama menjadi naungan nya yang dulu selalu hangat harmonis kini menjadi dingin. Helen memeluk Genta Helen masih belum rela melepaskan Genta sama hal nya Resta.


Rangga juga ikut menangis, baru kali ini mereka semua melihat seorang Rangga menangis, Genta tersenyum dan akhirnya Genta mulai pergi meninggalkan Mansion Dinata.


" aku akan merindukan tempat ini, terimakasih untuk kalian yang telah memberikan kasih sayang nya pada ku " Genta sudah menghilang dan kini Genta sudah berada di apartemen nya.


sepi untuk pertama kalinya Genta merasa kesepian setelah lama tak dia rasakan kembali, Genta menangis sendirian.

__ADS_1


" hiks.. hiks, ayah bunda aku merindukan kalian " Genta menyebut nama orang tuanya. kini Genta harus belajar mandiri tanpa kehadiran keluarga.


__ADS_2