
*****
saat mereka sampai di depan ruangan perawatan Fian, mereka bertanya pada Akmal keadaan Fian.
" Akmal bagaimana keadaan Fian " tanya Rangga sedangkan Resta masuh memeluk sang mamih
" Fian masih di periksa pih " ucap Akmal
" kamu sudah hubungi Erwin dan Rasty " tanya Helen memastikan
" sudah mih katanya mereka lagi diperjalanan, pas Akmal hubungi mereka langsung bergegas menuju kemari " lirih Akmal
" ka Akmal, maafin Resta ini.. ini semua karena Resta hiks, hiks " Resta masih menangis
" hei Resta, ini bukan salah Resta. justru ka Fian melakukan itu karena ka Fian tidak ingin terjadi apa-apa pada Resta " balas Akmal lembut.
" apa itu sakit " tunjuk Akmal pada lengan Resta
" sedikit " ucap Resta pelan, saat mereka mengobrol, Erwin dan Rasty datang terburu buru.
" Rangga, Helen " tanya Rasty, terlihat Resta masih menyembunyikan wajahnya dari pelukan Helen, karena Rests takut Erwin dan Rasty marah.
Rasty menyadari hal itu " sayang " Rasty mengelus rambut Resta dengan lembut
" ma-mah " lirih Resta terbata,Rasty menarik Resta kedalam pelukan nya
" jangan nangis sayang, udah gpp ya hmm " ucap Rasty menenangkan Resta, Rasty menghapus air mata Resta.
" ck.. kalau Resta nangis terus nanti Fian nya juga ikut sedih, pengorbanan ka Fian nanti sia sia dong " ucap Erwin
" udah ya gak usah nangis lagi " Rasty memeluk Resta, Resta menganggukan kepalanya. semua orang begitu terharu melihat kasih sayang Rasty pada Resta.
" beruntung banget kamu Resta, dikelilingi orang-orang yang menyayangi mu " batin Neta. Akmal melihat Neta sedang mengusap air mata nya.
" kenapa nangis " tanya Akmal
" hah " kaget Neta " ish siapa yang nangis " ucap Neta
" tuh " tunjuk Akmal ke Mata Resta " terharu lihat Resta di peluk mamah, tenang nanti kalau kamu jadi mantunya bakalan gitu juga "
blush
muka Neta memerah karena malu
" apaan sih ka, " kesal Neta padahal dalam hati Neta bahagia
******
pintu ruangan terbuka semua bergegas menuju para dokter.
" dok bagaimana keadaan nya " tanya Rangga pada dokter adam direktur RS RRD yang di percaya oleh Rangga untuk mengelola RS nya.
" tidak usah khawatir, kepalanya hanya sedikit terbentur jadi tidak ada masalah, hanya kaki yang terkilir mungkin butuh waktu 5-6 hari untuk istirahat " jelas dokter adam
" alhamdulillah " ucap semuanya saat mengetahui kondisi Fian.
" apa kami boleh masuk " tanya Erwin
" tunggu pasien akan dipindahkan keruangan VVIP " ucap dokter adam, dokter adam tau siapa Fian, jadi mereka memberikan perawatan yang khusus bahkan sang direktur nya pun turun tangan.
" nak Fian masih belum sadar, masih dalam pengaruh obat bius " jelas dokter adam kembali. adam melihat kearah Resta adam tersenyum.
" eh ada Resta, sekarang udah berani ya masuk kesini " tanya dokter adam, Resta mengagguk
" tenang Fian nya Resta gpp ko hmm " jelas nya " oya aku permisi ada yang masih aku kerjakan mari, Rangga, Helen, Erwin dan Rasty "
" terima kasih adam " ucap Rangga
" hmm sudah jadi tugasku " adam pun pergi, berankar Fian dikeluarkan di pindahkan keruangan VVIP, yang lain mengikuti nya.
__ADS_1
" sus boleh kami masuk " tanya Rasty, suster tersenyum
" boleh, tapi jangan semuanya, " ucap suster.
" terimakasih sus " ucap Helen
" sama-sama nyonya " balas nya " mari saya permisi dulu " ucap suster yang keluar
" eh dokter Mila dan dokter Apni " suster menyapa Mila dan Apni, mereka tersenyum pada suster tersebut.
" Resta mau masuk sayang " tanya Rasty
" Resta nanti aja mah, Resta mau disini dulu " ucap Resta
" ya udah kalau gitu mamah, papah mau masuk dulu melihat kondisi Fian " ucap Rasty, Resta mengangguk
" udah gak usah cengeng, mamih sama papih masuk dulu ya, mamih juga khawatir " timpal Helen
" oya Alan aku pamit dulu ada pasien yang harus aku kontrol " ucap Mila
" tunggu pasien nya laki laki atau.. " ucapan Alan terpotong
" laki-laki " potong Apni langsung, seketika Alan dan Genta melotot
" dih posesif nya kumat " ucap Apni
" laki-laki tapi kakek kakek puas " sarkas Mila, Mila dan Apni pergi dengan kesal, sedangkan Alan dan Genta tertawa.
jangan ditanya lagi Akmal dan Neta mereka bengong dengan cemburunya Alan dan Genta bukan pada tempatnya, secara dokter ,gak pulah pilih pasien.
Rasty, Erwin, Rangga dan Helen keluar dari ruang rawat nya Fian, merwka tersenyum.
" mah gimana keadaan Fian " tanya Akmal
" Fian udah siuman, tadi nanyain Resta. ya udah gih sana masuk " ucap Rasty, terligat ada rasa takut daei wajah Resta karena Resta takut dengan namanya RS apa lagi jarum infus.
" ya udah Resta masuk dulu ya " ucap Resta pelan. Resta mulai memasuki rusngan secara perlahan saat pintu tertutup mereka merasa lega.
" ya udah mih, pih Neta pamit mau pulang " ucap Neta pamit
" eh iya makasih udah nemenin Resta " ucap Helen.
" udah seharusnya kan mih " balas Neta
" Neta pulang nya sama siapa " tanya Rangga
" naik taxi aja pih " balas Neta
" tunggu, tunggu ini Neta. Ameneta Gasella kan ya " tanya Rasty memastikan karena Akmal pernah cerita
" eh i-iya tan " ucap Neta terbata
" jangan panggil tante dong panggil mamah ya " ucap Rasty
" iya tan eh mah " ucap Neta kaku, Rasty tersenyum
" pulang nya dianterin Akmal aja, ini udah malam masa anak gadis pulang sendirian " ucap Erwin membenarkan.
" eh gak perlu repot-repot om " ucap Neta cepat
" loh ko om sih, tante Rasty dipanggil mamah ko om " ucap Erwin
" eh i-iya pah ma'af " ucap Neta yang lagi lagi gugup.
" Akmal anterin Neta dulu mah, pah " ucap. Akmal mereka pun pamit.
" hati-hati dijalan " ucap Rangga, Neta dan Akmal menggaguk dan melambaikan tangan.
sedangkan Alan dn Genta sudah lebih dulu pulang.
__ADS_1
******
didalam ruangan perawatan Fian, Resta menarik nafas lalu membuang nya lagi,
" huufftt,, haaah " helaan nafas Resta, tak luput dari penglihatan Fian, Fian tersenyum saat Resta membuka mata Resta melihat Fian sedang tersenyum padanya.
" sini kemarilah " ucap Fian, perlahan Resta berjalan kearah Fian, Resta duduk di samping berankar Fian.
Fian tersenyum melihat Resta, Fian tau kalau Resta takut tapi dia bisa melawan ketakutan nya.
" kaka ada yang sakit " tanya Resta, Fian menggeleng.
ditatap nya Resta dengan intens oleh Fian saat itu Resta juga menatap Fian.
" kenapa kk natap Resta gitu " ucap Resta yang sudah menundukan wajah nya
Fian memegang lengan Resta " apa ini sakit " tanya Fian
" sedikit, dibandingkan sakit nya yang kk alami " lirih Resta sambil menahan tangis nya.
" terimakasih udah berani melawan ketakutan Resta untuk kaka " ucal Fian lembut.
" ma'af " lirih Resta yang masih merasa bersalah " maafkan Resta ka "
Fian langsung menarik Resta dalam pelukan nya.
" kalau mau nangis jangan ditahan, keluarkan saja kaka ada disini " ucap Fian
" hiks, hiks " terdengar tangisan Resta yang mulai sedikit keras, Fian mengusap ngusap bahu Resta.
sedangkan diluar ruangan, Rasty, Erwin, Rangga dan Helen tersenyum.
" biarkan mereka berdua untuk menghilangkan rasa sakitnya " ucap Rasty
" sedari tadi Resta menahan nya, sekarang biarkan dia meluapkan nya " timpal Rangga
" sedari tadi Resta khawatir dengan kondisi Fian, kini dia melihat sendiri keadaan nya " ucap Helen
" Fian beruntung memiliki calon istri seperti Resta, yang merasakan sakit nya juga " timpal Erwin.
" oya kita shalat dulu setelah itu cari makanan sekalian cari kopi " ucap Rangga " yuk " ajak mereka berbarengan
" berikan waktu untuk mereka berdua " ucap Rasty, merekapun pergi menuju kantin.
diruangan Fian masih menenagkan Resta.
" udah jangan nangis lagi, lihat matanya jadi sembab gitu " Fian menghapus air mata Resta.
" pasti dari tadi nangis terus kan " tanya Fian, Resta mengangguk.
" udah makan " tanya Fian
" belum " ucap Resta pelan, Fian mengambil HP nya dan menelfon seseorang.
" Resta belum shalat isya ka, Resta shalat dulu " pamit Resta saat Resta beranjak, Fian menggengam tangan Resta.
" ada apa? " tanya Resta
" shalat nya di ruangan ini saja, temenin kk " manja Fian, Resta tersenyum
" iya baiklah, Resta ambil wudhu dulu " ucap Resta, tapi Resta belum beranjak
" kenapa belum ambil wudhu " tanya Fian
" gimana Resta mau ambil wudhu, kk aja masih megangin Resta " ucap Resta, Fian melihat kearah tangan nya
" eh iya kk lupa " Fian menggaruk tengkuk nya dengan malu, Resta tersenyum karena baru kali ini melihat seorang Fian yang dikatakan orang, Dingin, cuek datar tapi ternyata manja.
__ADS_1