
**********
" dek ini mamih sayang, jangan tinggalin mamih hiks.. hiks "
" dek! adek mau ninggalin kk apa adek gak mu ngekuat kk sama ka Mila menikah " Mila menangis memeluk Alan.
" apa adek marah sama papih, pantas saja perasaan papih selalu gak enak, apa ini pertanda adek mau ninggalin papih " yang di ruangan ICU pecah sudah tangisan mereka. tak berapa Helen kembali pinsan.
saat diluar Ega dan kekuarganya datang bermaksud ingin meminta maaf tapi saat melihat orang-orang menangis Ega diam terpaku.
" Ega ada apa! " tanya Farah.
" mah itu " kini mata mereka tertuju pada orang yang berada di luar sedang menangis, " ini apa yang terjadi " tanya Yusuf akhirnya mereka menghampiri Harun, Laras, Mirna dan Helmi.
" permisi Tuan Helmi ada apa! " tanya Yusuf.
" anak bungsu dari keluarga Dinata telah meninggal " deg mereka kaget saat melihat kearah ruangan terdengar suara tangisan yang sangat pilu.
" ini gak mungkin " Ega hampir terjatuh untung ada Riska dan Rama yang memegangi Ega " Riska apa ini mimpi " Ega dan Riska menangis.
Ega menatap Fian hanya berdiri dengan tatapan kosong nya bahkan terlihat jelas Fian sangat terpukul saat melihat Resta sudah tak bernyawa. " maafkan aku Fian " gumam Ega.
perlahan Fian menggenggam tangan Resta, dan berbisik " kk akan selalu mencintai Resta, kk mohon bangunlah, bangunlah Resta Risella Dinata, kk akan katakan sekali lagi maukah menikah dengan kk dek " tes air mata Fian jatuh ke mata dan pipi Resta.
tiba-tiba tangan Resta menggenggam tangan Fian dan saat itu Fian kaget tak percaya Resta menghela nafas terlihat oleh Fian, sedangkan Fian sangkibg terkejut nya mulutnya kelu untuk berbicara.
terdengar bunyi alat detak jantung Resta
tit.. tit.. tit
Fian langsung berdiri " astagfirullah hal adzim " mereka menatap Fian yang beristighfar.
" dek! " panggil Fian perlahan genggaman tangan Resta semakin kuat pada tangan Fian, Fian tersenyum.
" kk tau adek gak bakalan ninggalin kk " mereka masih belum menyadari jika detak jantung Resta kembali normal, mereka Fikir Fian sudah gila.
" ka Fian " panggil Neta yang kini memegang bahu Fian, Fian tersenyum pada Neta. sedangkan Neta menggeleng.
" ka Resta sudah tidak ada ikhlaskan Resta ka hiks.. hiks " Neta kembali menangis.
" aku yang gak ikhlas Neng " deg Neta kaget saat ada seseorang yang berbicara terdengar familiar pas Neta menatap ke suara tersebit orang itu sudah tersenyum manis padanya, mata Neta terbelalak.
" Allahuakbar " teriak Neta semua menatap Neta " i-itu " tunjuk Neta pada tempat berangkar dimana Resta yang di nyatakan meninggal. mereka mengalihkan matanya melihat arah tangan Neta yang menujuk gemetar.
" ke-kenapa ka-kalian mena-ngis " ucapan Resta masih terputus putus.
" Allahuakbar, astagfirullah " ucap Mereka semua berbarengan sangking kagetnya. sedangkan Fian tersenyum pada Resta.
" sudag Fian katakan, Resta gak mungkin ninggalin kita " ucap Fian Alan memeluk Resta dengat erat.
uhuk.. uhuk " ka jangan erat erat adek gak bisa nafas "
hik.. hiks terdengar dari suara Alan yang masih menangis Mila, Apni Genta madih begitu Syok " ka, kk nangis " tanya Resta karena tubuh Alan bergetar di pelukan Resta bahkan terdengar sesegukan.
" adek gak apa-apa ka hmm " tangan Resta perlahan terangkat dan memeluk Alan kuat. kini giliran Genta yabg ikut memeluk mereka Genta juga ikut menangis.
" alhamdulillah adek udah kembali " ucap. syukur Genta.
__ADS_1
" emang adek kenapa! " tanya Resta polos setelah Genta dan Alan mengurai pelukan nya dari Resta.
" hmm i-itu a-anu " ucap Genta gugup bingung msu menjawab apa.
" gpp ko dek, tadi tuh adek sedang berpetualang kan jadi lupa untuk pulang " celetuk Alan mereka bengong karena ucapan Alan.
" berpetualang " beo Resta, Resta nampak bingung dengan jawaban Alan dan setelah itu tersenyum " kk benar adek berpetualang ke tempat yang indah, bahkan adek tadinya gak mau pulang karena betah, tapi karena adek mendengar suara kalian memanggil adek " batin Resta.
" hmm ka Alan, ka Genta papih sama mamih mana "
" eh! " kaget mereka bersamaan.
" i-itu mamih sama papih.... " belum juga Alan berbicara Fathan dan dokter yang lain muncul untuk segera melepas alat yang ada di sebagian tubuh Resta.
saat Fathan datang " ka Al " deg Fathan diam teraku Fathan menatap sendu pada Resta dan menggeleng.
" ka Al, kenapa! " tanya Resta Fathan kembali menatap Resta.
" Re-Resta " ucap Fathan terbata, Resta mengangguk dan tersenyum Fathan langsung bergegas menghampiri Resta dan Fathan langsung memeluk Resta sambil menangis.
" ka Al, terimkasih " ucap Resta, Fathan mengurai pelukan nya menatap Resta lekat.
" ka Al jangan menatap Resta begitu nanti ada yang cemburu lo " celetuk Neta.
" hah " ucap Resta dan Fathan, kini mereka menatap Fian, Fian membuang muka seketika mereka tertawa.
" bisakah berikan kami ruang untuk memerisa Resta kembali " izin Fathan mereka akhinya keluar yang tertinggal. Mila, Apni dan perawat yang lain.
" tolong sus betitahu dokter Dirga, katakan semuanya " suster tersebut mengangguk dan pergi menuju ruangan dokter Dirga.
" ada apa! " tanya Resta.
" semua normal dek, terimkasih sudah kembali " ucap Mila sambil mencium pipi Resta dengan lembut.
" kk takut jika adek gak kembali " kini gantian Apni mencium pipi Resta.
" ih geli ka " mereka tertawa
brak
mereka menolah kearah pintu yang terbuka dengan kasar munculah dokter Dirga. " ini tidak mungkin kan " dokter Dirga tak percaya yang kini ada di didepan matanya, karena Dirga sendiri yang memeriksa kondisi Resta bahkan semua alat tak merespon.
" iya yang paman lihat ini nyata dan keajaiban dari Allah " ucap Fathan, Dirga menatap Resta kembali, Resta tersenyim. meskipun masih terlihat pucat.
Dirga langsung mengelus rambut Resta, saat Dirga dan yang lain bahagia terdengar orang menangus masuk.
" hiks.. hiks adek jangan tinggalin mamih hiks.. hiks " saat Helen sadar dari pinsan nya dia kembali menangis histeris bahkan selalu memanggil manggil nama Resta.
" mam! " panggil Resta lirih saat melihat keadaan Helen. deg Helen tertegun masih terdengar isakan, Helen kembali menggeleng.
" mih, ayo istirahat " titah Rangga yang prihatin melihat kondisi Helen.
" pih! " deg kembali Rangga yang terpaku begitu familiar suara ini. Rangga melihat lurus kedepan, Resta tersenyum.
" a-adek " panggil Rangga terbata Resta mengangguk. dan merentangkan tangan nya Helen dan Rangga langsung lari memeluk Resta, kini terdengar tangisan kembali pecah.
" adek rindu pelukan papih, dan mamih " ucap Resta lirih dan masih terdengar lemah.
__ADS_1
di luar ruangan semua orang tersenyum bahagia bahkan keluarga Yudishtira juga ikut bahagia.
kembali ke dalam kamar ruangan Resta.
" maafin mamih dek, mamih bersalah " Resta menggeleng.
" mam gak salah adek yang salah mam "
" maafin papih juga dek " ucap Rangga, Resta tersenyum kini semuanya kembali seperti dulu.
" tadi Adek sempat dengar kalau selama ini papih merasakan gundah dan firasat yang aneh, bahkan adek juga tau papih sakit " Helen menciumi seluruh muka Resta, Rangga tersenyum.
" mam ih geli " Helen menatap kembali putri tercintanya yang di nyatakan meninggal kini tersenyum di hadaan nya, Helen langsung kembali mendekap sayang Resta sambil terus menciumi pucuk kepala Resta.
Rangga meniup muka Resta dan meniup ubun ubun Resta " alhamdulillah " ucap Rangga penuh Syukur.
" oya ma'af tolong biarkan kami memeriksa kembali keadaan nona muda Resta " izin Dirga, mereka akhirnya perlahan keluar Helen masih menatap Resta seperti tak rela meninggalkan Resta nya.
Resta tersenyum dan mengangguk tanda semuanya baik-baik saja, Helen akhirnya mengukuti Rangga keluar.
" mih, pih " Alan memeluk Rangga dan Helen " semuanya baik-baik saja " timpal Alan mereka menangis haru penuh rasa syukur.
terdengar pintu ruangan di buka munculah Dirga, Mila Apni dan Fathan dengan perasaan lega dan senyuman terpancar dari wajah mereka.
" alhamdulillah Tuan dan Nyonya Dinata ini adalah keajaiban, Nona muda Resta telah kembali bahkan kondisinya membaik " ucap Dirga semua menghela nafasnya.
" alhamdulillah yaa Allah " terdengar dari mereka rasa syukur nya.
" kapan kita lakukan operasi " tanya Rangga.
" kita akan lihat kondisi Nona muda Resta kedepan nya, jika tidak ada kendala secepatnya kita lakukan operasi " jelas Dirga mereka tersenyum.
" kalau begitu saya permisi " ucap Dirga.
" terimakasih dokter Dirga " Dirga tersenyum. Dirga beranjak saat akan melangkah kan kakinya.
" Dirga " panggil Erwin Dirga menoleh.
" terimkasih banyak " Erwin memeluk Dirga.
" jangan berterima Kasih padaku Erwin, tapi pada Allah aku hanya perantara saja " Erwin tersenyum dan bangga memiliki sahabat seperti Dirga.
" aku ada urusan harus pergi "
" iya, aku tunggu untuk kelanjutannya " Dirga tersenyum dan mengangguk " assalamualaikum " pamit Dirga sambil mengucapkan salam.
" wa'alaikumsalam " Erwin sangat lega, Erwin tadinya khawatir pada kondisi Rasty sama halnya seperti Helen. karena Rasty sudah menganggap Resta anak nya sendiri.
" alhamdulillah Rasty " Helen berpelukan dengan Rasty.
" keajaiban dari Allah telah mengembalikan Resta pada kita " ucap Rasty bahagia.
" iya kamu benar " kini terlihat senyuman yang selalu terpancar di wajah lelah mereka " alhamdulillah " ucap Rasty dan Helen bersamaan.
Resta sedang beristirahat Fian menemani Resta bahkan tangan nya selalu menggengam tangan Resta.
" terimakasih sudah mau kembali untuk kk dan semuanya, I Love You Resta Risella Dinata " gumam Fian Resta tersenyum dalam tidur nya, seolah dia mendengar apa yang Fian ucapkan.
__ADS_1