
********
di Rumah Sakit
" Apni " lirih Raditya kini Apni sedang ada di ruang pemeriksaan, Raditya begitu khawatir dan kini dia pun tidak tenang terlihat mondar mandir.
ceklek
pintu ruangan perawatan Apni terbuka munculah dokter wanita.
" dok bagaimana keadaannya " tanya Raditya yang tak sabaran.
" kondisinya masih sangat lemah, dia kekurangan cairan mungkin karena inilah dokter Apni sampai seperti ini " terang dokter.
" tapi tidak parah kan dok "
" tenang saja, setelah ini kondisinya akan kembali normal, anda jangan khawatir dokter Raditya " dokter tersebut tersenyum.
" terimakasih dok " sang dokter pun menangguk dan berlalu dari sana.
" anda begitu menyayangi dokter Apni, sudah waktunya aku menyerah " ucap dokter yang bernama Syifa, Dokter Syifa cantik, berhijab dan juga ramah dia teman Raditya sejak kecil.
memiliki perasaan terhadap Raditya tapi Raditya tidak mengetahui hal itu, yang Raditya tau mereka hanyalah teman.
" Apni semoga kamu baik-baik saja " gumam Raditya, kini Raditya sedang menggenggam tangan Apni.
keesokan hari.
Alan masih terus tersenyum saat memandangi wajah Mila, mereka ada di hotel Mila tidur di ranjang sedangkan Alan tidur di sofa.
Alan menyusuri wajah cantik Mila, bahkan Alan terlihat begitu menikmati pemandangan indah yang kini di depan matanya.
" cantik, imut, maaf aku begitu bodoh, terimakasih masih mau memaafkan aku dan bertahan dengan ku " Alan mencium tangan Mila.
dretttt... drettt
hp Alan berbunyi dan saat Alan melihat tertera nama sang mamih.
" astagah mamih, yaa Allah aku lupa gak ngabarin mamih " saat Alan baru menggeser tombol hijau terdengar tetiakan melengking nya sang mamih.
" Alaaaaannn " Alan langsung menjauhkan hp nya dari telinganya.
" yaa Allah mih, pagi pagi udah teriak teriak bukan nya ngucapin salam "
" soalnya kamu itu bikin mamih kesal, udah bikin masalah bukan nya pulang malah menghindari mamih sama papih, awas aja kalau pulang mamih sate kamu ya "
" sabar mih jangan marah marah masih pagi ini " Alan malahan ngegoda Helen.
" pulang mamih tunggu, assalamualaikum " Helen langsung menatikan hp nya begitu saja.
" yaa Allah kalau ratu singa marah menakutkan, pawang nya kemana si wa'alaikumsalam " Alan terus menggerutu.
" ada apa? " tanya Mila yang baru terbangun dari tidur indah nya, dengan suara khas bangun tidur serak dan merdu terdengat di telinga Alan.
deg
Alan malah bengong saat mendengar suara Mila yang serak dan terdengar merdu.
" Alan " panggil Mila, Alab terkesiap saat mendengar panggilan lembut Mila.
" eh, ah iya hehehe " Alan malah cengengesan.
" kamu kenapa! jangan jangan lagi mikiran aneh aneh iya kan " curiga Mila.
__ADS_1
" apa! gak, itu gak benar " kilah Alan.
" ya udah, aku mau mandi dulu " Mila langsung meninggalkan Alan pergi ke kamar mandi.
" yaa Allah kuatkan iman hamba, kalau udah sah aja udah aku makan kamu Mila " Alan senyum senyum sendiri.
********
di Rumah Sakit
kondisi Apni udah membaik, dan kini sedang sarapan di suapi oleh Raditya bahkan dikter Syifa merasa iri, begitu perhatian nya Raditya terhadap Apni.
" sudah dokter Raditya " ucap Apni.
" kamu harus makan lebih banyak Apni, tubuh kamu masih lemah " tegur Raditya yang masih khawatir.
" dokter Syifa apa hari ini saya boleh pulang " tanya Apni.
" hmm boleh, tapi ingat dokter Apni harus istirahat total " ultimatum dari dokter Syifa.
" iya terima Kasih dok " Apni tersenyum dan Syifa ikut tersenyum, sesekali memandang kearah Raditya, Apni sadar akan hal itu dan Apni tersenyum.
" dokter Raditya anda tidak menyadari, seseorang telah mencintai anda dalam diam, aku janji aku akan membuat kalian bersatu " batin Apni .
" hei Apni kau tidak apa-apa kan " tanya Raditya yang melihat Apni melamun.
" ah iya, saya tidak apa-apa maaf " Syifa tersenyum, tapi kadang terdengar aneh kenapa Apni masih seformal itu saat berbicara dengan Raditya, bukankah mereka sudah bertunangan.
" hmm kalau begitu Dokter Apni, Dokter Raditya saya permisi " ucap Syifa undur diri.
" iya makasih dokter Syifa " ucap Apni.
" kamu mau pulang sekarang " tanya Raditya.
" baiklah kalau begitu saya antar " tawar Raditya.
" eh gak apa-apa biar saya pulang sendiri saja "
" kamu lagi sakit, aku gak mungkin biarin kamu pergi sendiri, untuk kali ini tolong dengarkan saran ku " akhirnya Apni setuju, dia sedang malas berdebat, lagian tenaganya tidak cukup untuk berdebat.
kini Apni dan Raditya sedang berjalan beriringan, sesekali Raditya memegang tangan Apni, tapi Apni selalu berusaha menghindar.
saat Apni masih menundukan pandangan nya sambil jalan tiba-tiba ada yang tak sengaja menabrak nya.
" astagfirullah " ucap Apni kaget.
" maaf saya tak sengaja saya buru buru " ucap seseorang.
deg
Apni terkesiap bahkan Apni diam mematung " suara itu tidak mungkin dia kan " batin Apni. Apni masih menatap orang tersebut yang masih sibuk menelfon dan saat di depan pin ruangan perawatan dia berhenti.
kebetulan pintu ruangan tersebut terbuka munculah seorang dokter. mereka sedang berbincang kebetulan orang tersebut membelekangi Apni.
Apni masih menatap orang tersebut dengan tatapan sedih nya.
" Apni " panggil Raditya yang kini menyadari Apni " ada apa! " tanya Raditya.
" tidak ! tidak apa-apa " ucap Apni lirih. saat Apni jalan kembali orang tersebut menatap Apni dengan sedih.
" dokter Apni " panggil Jovita dan Asri, mereka bahagia kini Apni sudah membaik.
" eh Asri,Jovita " kaget Apni
__ADS_1
" alhamdulillah doktet baik baik saja kami khawatir dokter dari kemaren tidak sadarkan diri " Jovita dan Asri terlihat sedih. saat mereka berbincang seorang perawat memanggil nama yang Apni kenal.
" pak Genta Buana " deg Apni kaget tidak percaya. " benarkah dia " gumam Apni.
saat Apni menoleh Apni semakin kaget dan tiba-tiba menangis. Raditya, Jovita dan Asri kaget.
" dokter Apni ada apa? " tanya Jovita khawatir.
" Apni kamu baik-baik saja kan, apa ada yang sakit " Apni menggeleng.
" saya panggilkan dokter Syifa dulu " Apni menghentikan Asri yang akan berlari memanggil dokter.
saat orang tersebut menoleh Apni menatap nya, kini tatapan mereka bertemu ada kerinduan dan kesedihan dari tatapan itu, ingin sekali dia menghampiri nya saat melihat wajah pucat nya.
tapi dia tak punya keberanian akan hal itu, karena dia tau gadis tersebut bukan lagi milik nya. saat orang tersebut akan pergi ada yang meneriaki namanya.
" Genta Buana " yah dia adalah Genta dan Genta langsung berhenti dari langkah nya. dan berbalik menatap ke empat orang itu.
Apni yang masih lemas kini berlari kearah Genta, sambil terisak air mata sudah mengalir deras dari pipinya dan matanya. Genta kaget sedangkan Jovita dan Asri bengong dan Raditya hanya tersenyum.
badan Apni menubruk tubuh Genta dengan kuat kalau saja Genta kehilangan keseimbangan mungkin mereka akan terjatuh, Apni menumpahkan kesedihan nya di lelukan Genta, sedangkan Genta hanya terdiam bingung.
ingin Genta kembali merengkuh sang pemilik tubuh lemah tersebut, tapi dia sadar siapa dirinya.
Genta beralih menatap Raditya yang madih berdiri tiba-tiba Raditya tersenyum dan mengangguk, Genta masih bingung akhirnya Raditya memperaktekan tubuh nya untuk memeluk di depan Genta.
Genta yang sadar akan hal itu akhirnya memeluk nya dengan erat sambil menangis, Jovita, Asri ikut menangis Raditya mengacungkan jempol nya dan kini beranjak dari sana meninggalkan 2 orang yang menangis dalam kerinduan.
ada seseorang juga yang ikut menangis dia dokter Syifa, dia faham seperti hati Raditya pasti begitu sakit, harus merelakan irang yang di cintai demi meraih kebahagiaan orang tersebut.
" kamu tidak pernah berubah Raditya " batin Syifa yang menatap sendu Raditya.
" aku fikir kamu pergi meninggal kan aku di sini hiks.. hiks " Apni menangis sejadi jadinya.
" maafkan aku yang tidak mempercayai mu " Apni terus meracau sedangkan Genta masih memeluk nya erat.
" ma'af " hanya kata itu yang terucap dari Genta.
" apa kamu marah padaku, apa kamu membenci ku Genta Buana " Genta menggeleng.
" jangan pergi tanpa aku, hiks... hiks " Genta mengurai pelukan nya dan menatap wajah Apni.
" apa kau sakit! " tanya Genta khawatir melihat Apni pucat. Apni mengangguk.
" ada apa? " tanya Genta kembali.
" aku tidak sadarkan diri kemaren " terlihat dari wajah Genta yang khawatir.
" kalau begitu kita kembali ke ruang rawat ya " bujuk Genta sedangkan Apni menggelengkan kepalanya.
" aku tidak apa-apa, aku sakit karena aku ..." ucapan Apni tercekat.
" kenapa! "
" aku, aku mencarimu ke bandara " Genta menautkan alisnya.
" saat aku tau kebenaran nya aku langsung pergi mencarimu, tapi saat datang ke bandara penerbangan menuju new zealand sudah pergi, aku syok dan tidak percaya kalau kamu akan meninggalkan aku disini dengan rasa bersalah "
Genta langsung memeluk Apni kembali, jadi ternyata Apni datang mencarinya, jika saja Genta tidak menghentikan kepergian nya mungkin saja dia tidak akan tau hal itu.
" sekarang aku disini ada di hadapan mu " ucap Genta. kini Apni tidak akan melepaskan cintanya lagi dia tidak ingin menyesal untuk yanng kesekian kalinya.
Genta merasa terharu karena Apni datang kebandara hanya untuk nya, dan sesih melihat kondisi Apni.
__ADS_1