Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Danau


__ADS_3

☘️☘️


Sepulangnya dari rumah sakit, Wulan kembali aktifitasnya seperti sedia kala. Bekerja kembali membantu ibunya dan bekerja kembali di kantinnya bu Yati, dan dari situlah Sandy juga sering mampir ke tempatnya Wulan bekerja hanya sekedar ngobrol dan mengantar pulang Wulan. Hubungan mereka semakin akrab karena mungkin sering berinteraksi di antara keduanya, setiap hari mereka libur pasti mereka jalan bersama hanya untuk sekedar jalan jalan dan kulineran.


Weekend kali ini mereka berniat untuk pergi kesuatu tempat, Wulan ingin pergi ke Danau dimana tempat itu dekat dengan lokasi rumahnya dan Sandy mengiyakannya untuk pergi kesana. Jam Sembilan pagi Sandy kini sampai di halaman rumah Wulan dengan mengendarai sepeda motornya, dia segera turun dan menghampiri Wulan yang sudah berdiri menyambut nya di teras rumah.


“Sudah siap? Kita berangkat sekarang?” sandy tersenyum dan bertanya pada Wulan yang masih berdiri disana.


“Boleh, tapi Mas mau minum dulu? Biar aku ambikan.” Ucap Wulan


“Gak usah, kita berangkat sekarang saja. Oya, Ibu kemana? Mas mau pamitan dulu.” Tanya Sandy, matanya memperhatikan kedalam rumah karena tidak melihat Bu Sari.

__ADS_1


“ Ibu sedang mengantar cucian, dan aku sudah izin sama Ibu Mas.” Wulan menjawab dengan melemparkan senyumnya.


“Baiklah, ayo kita berangkat sekarang.” Ajak Sandy, tangannya meraih tangan Wulan untuk mengajaknya naik ke kendaraan yang dia bawa.


Dan mereka pun kini pergi ketempat yang mereka tuju, Sandy mengendarai motornya dengan sangat santai sekali karna ingin merasakan moment kebersamaan dengan wanita yang dia bonceng itu. Sesampainya disana, mereka lalu mencari tempat yang pemandangannya sangat indah. Dan disini lah mereka, duduk di bangku yang menghadap ke danau. Pemandangan yang sangat sejuk di pandang di tambah angin yang sangat sejuk, menggambarkan kegembiraan dari orang orang ditempat jauh. Membawa pesona segarsaat menyapa pori pori kulit, membuat hati sejuk saat gelisah karna kegerahan.


“Indah sekali bukan?” Wulan melirik Sandy dan membuka pembicaraan.


“Iya, aku dulu sering ke sini. Tapi semenjak aku bekerja, aku jarang keluar rumah.” Ucap Wulan pelan.


“Kita akan sering ke sini sekarang kalau kamu mau.” Sandy mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Wulan mencoba tersenyum kembali, ia menatap sayu kearah danau melihat canda sepasang angsa. Angsa angsa itu sudah ada sejak mereka datang kesana, sejak dia duduk disana dengan apa yang di lihatnya sepasang angsa itu. Mereka begitu bahagia, meskipun harus berjuang melawan kejamnya alam.


“Oya, kamu mau pesan makanan apa? Biar Mas pesankan.” Sandy kembali bersuara, dia mencoba mengalihkan pembicaraan supaya Wulan kembali tersenyum seperti tadi pas awal mereka datang.


“Ngikut Mas saja.” Ucap Wulan pelan, bibirnya kembali tersenyum.


“ Oke, kalau begitu kamu tunggu disini sebentar ya jangan kemana mana.” Sandy berucap sambil berdiri dan segera beranjak pergi menuju tempa jajananan berada.


Tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Dia sedang duduk didalam mobil yang dia bawa, bibirnya menghembuskan asap rokok dan terus seperti itu. Matanya menatap tajam Wulan seakan dia akan memangsa wanita itu, bibirnya tersenyum sinis menggambarkan bagaimana keadaan hatinya saat ini.


Tak lama kemudian Sandy pun datang dengan membawa makanan dan juga minuman yang dia pesan, dan menu nya pun di samakan dengan Wulan. Karna Wulan memintanya untuk di samakan saja.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2