Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 72 Tanggung Jawab


__ADS_3

Sepeninggal Clara dengan susah payah Bima duduk di sofa. Pembantunya sangat terkejut ketika akan membawa minuman untuk Clara malah melihat Bima mengaduh kesakitan.


"Den, Den Bima kenapa jadi bonyok begini?" tanyanya panik.


Ia langsung berlari ke dalam mengambil kotak P3K untuk mengobati luka majikannya itu. Clara menamparnya sangat keras hingga sudut bibirnya berdarah, tampak tangannya juga terdapat goresan sepertinya terkena kuku Clara saat tadi ia menghajarnya. Emosi tinggi membuat tenaga wanita bisa berubah kuat berkali-kali lipat.


"Aku tidak apa-apa, Bi. Ini hanya luka kecil saja," jawabnya.


"Apa perempuan tadi yang membuat Den Bima jadi begini? Kenapa dia tega berbuat begini, Den?" tanyanya lagi.


"Dia hanya sedikit kesal saja, Bibi jangan cerita kepada ayah dan ibu ya, aku tidak ingin mereka kuatir," ucap Bima.


"Baik, Den," jawabnya lalu meninggalkan majikannya itu.


Ketika Bima akan beranjak ke kamar tiba-tiba orang tuanya datang. Dia panik takut orang tuanya tahu akan perbuatan bejatnya.


"Bima, kenapa itu wajah dan tangannya kok luka-luka?" tanya ibunya sembari memegang luka anaknya.


"Akh... ini hanya luka kecil Bu, tadi tidak sengaja terjatuh," jawab Bima berbohong.


"Tidak mungkin ini luka jatuh, Nak. Ceritakan sejujurnya ini kenapa, kamu tidak menatap mata Ibu itu artinya kamu berbohong. Jangan-jangan kamu sudah kembali seperti dulu, jadi preman kampung," balas ibunya.


"Benar kok ini tadi jatuh di kamar mandi," ucap Bima masih berkelit.


"Jangan belajar berbohong Bima," teriak ibunya.


Ia menarik tangan Bima untuk mendekat, tidak sengaja ia mengaduh karena ibunya menyentuh tepat di bagian yang di pukuli Clara.


"Kenapa kamu seperti kesakitan begitu, apa yang sebenarnya terjadi, Nak?" tanya ayahnya lembut.


Bima tidak dapat lagi berkelit, cepat atau lambat orang tuanya pasti tahu persoalan yang menimpanya. Ia memilih jujur, lebih baik mereka tahu dari dia sendiri daripada mendengar dari mulut orang lain. Ia bersimpuh dan menangis di hadapan orang tuanya, membuat mereka semakin bingung.


"Maafkan aku, Yah, Bu, aku sudah sangat jahat kepada Cindy. Aku hanya tidak ingin kehilangan dia makanya aku nekad," ucapnya terus terang.


"Aku pasti tanggung jawab, aku sangat mencintai dia, Bu," imbuhnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Bima?" tanya ayahnya tak mengerti.


"Aku... aku telah mengambil kesuciannya, Yah," jawabnya tertunduk.


Plakk...


Sebuah tamparan keras melayang, pipinya kembali memerah, sudut bibirnya kembali berdarah.


"Pria macam apa kamu ini, Cindy sudah sangat baik kepadamu. Dia menerimamu kembali walaupun kamu cacat, merawat dan menjagamu saat kamu sakit, ia rela meninggalkan kekasihnya hanya demi kamu. Kemana pikiranmu sampai setega itu kepadanya, bahkan binat*ng saja lebih bisa balas budi! Kamu yang berpendidikan justru kelakuannya seperti binat*ng!" teriak Ayahnya sangat marah.


"Aku hanya ingin dia menjadi milikku seutuhnya, aku pikir dengan cara begini bisa segera menikahinya. Aku sangat menyesal," ucapnya merasa bersalah.


"Kamu sangat egois, Bima. Kamu tidak memikirkan bagaimana perasaannya, dia pasti sangat terluka. Bagaimana jika dia hamil, dia pasti akan malu untuk menunjukkan wajahnya" ucap ibunya.


"Dia tidak akan hamil, Bu. Aku memakai pengaman, aku hanya ingin segera menikahinya," jawab Bima.


Plakk...


Lagi-lagi sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya, ia meringis menahan sakit. Belum hilang rasa perih dari tamparan Clara dan ayahnya, sekarang di tambah oleh ibunya. Ibunya menangis sesenggukan mendengar penuturan Bima.


"Sabar, Bu. Mungkin ini cobaan untuk kita semua, sekarang yang terpenting adalah mencari jalan keluar. Kita harus secepatnya menemui Nak Cindy dan keluarganya, Bima harus tanggung jawab dengan perbuatannya," ucap ayahnya bijak.


"Tapi bagaimana jika mereka marah dan melaporkan Bima ke pihak yang berwajib, anak kita pasti akan di penjara," balas ibunya.


"Kita jangan menduga-duga, kalau pun mereka tidak ikhlas dan memperkarakan kasus ini itu sudah konsekuensi dari tindakan Bima. Itu pelajaran untuknya agar tidak bertindak semaunya sendiri," ucap Ayahnya.


Ibunya segera mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Assalamuaikum, Clara. Ini Ibunya Bima," sapa ibu Bima.


"Waalaikum salam, ada apa Bu?" tanya Clara di seberang.


"Habis isya' ibu mau main ke tempat kalian, ada yang harus kami bicarakan, penting," jelasnya.


"Masalah apa ya, Bu?" tanya Clara pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Nanti saja kita bicara langsung ya, Nak. Tidak enak jika bicara di telepon," jawabnya.


"Baiklah, kami tunggu," balas Clara.


Bima hanya menyimak pembicaraan mereka. Ia merasa sangat menyesal, ia tidak menyangka semua menjadi serumit ini. Ia pikir dengan merenggut kesuciannya Cindy akan meminta segera menikahinya, namun ternyata gadis itu trauma bahkan tidak ingin menemuinya.


Sesudah shalat isya' dan berdoa agar urusan nanti lancar, keluarga Bima segera berangkat. Ibunya menyempatkan untuk membawakan mereka kue.


Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai, tidak sengaja Bima bertemu Juan yang sedang berbicara dengan satpam apartemen.


"Loh Bima, mau ketemu Cindy ya?" tanyanya.


"Iya," jawab Bima tertunduk.


Ia menyangka Juan belum tahu masalahnya karena sikapnya masih baik seperti biasanya.


"Ya sudah, ayo aku antar. Tadi juga sedang mengobrol tentang Cindy dengan satpam, katanya dia sudah lama tidak melihatnya keluar. Entah kenapa dia jadi seperti sangat tertutup akhir-akhir ini," jelas Juan.


Mereka saling pandang mendengar cerita Juan, namun mereka tak membalas dan terus mengikuti langkah pria itu.


Juan mengetuk pintu walaupun dia bisa masuk begitu saja, namun menurutnya itu tak sopan mengingat yang tinggal di dalam adalah wanita. Clara terkejut melihat Juan bersama keluarga Bima.


"Sayang, kok kamu belum pulang?" tanya Clara.


"Tadinya mau pulang terus di ajak ngobrol satpam apartemen, eh tidak sengaja ketemu Bima. Katanya mau ketemu Cindy, ya sudah aku antar," jelasnya.


Clara segera mempersilahkan mereka masuk, Cindy tadinya tidak mau bertemu namun setelah di bujuk Clara ia bersedia. Ia terkejut melihat Juan juga ada di sana, ia langsung menatap Clara.


"Aku tidak cerita apa-apa, Kak. Dia datang mengantar mereka, katanya bertemu di bawah," bisik Clara.


"Nak Cindy, saya selaku orang tua Bima mohon maaf sebesar-besarnya atas tindakan kurang ajar anak Bapak. Bapak tidak pernah mengajarkan hal buruk kepadanya, entah kenapa ia bisa setega itu. Bapak ingin dia bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat, kita pasrah dengan keputusan Nak Cindy apa pun itu," ucap Ayah Bima.


Juan bingung mendengar ucapan ayah Bima, namun ia tidak bertanya dan memilih mendengarkan.


"Cindy, aku sangat menyesal sekali telah membuat mu terluka. Aku ingin menebusnya, izinkan aku menikahimu. Aku akan bertanggung jawab atas hilangnya kesucianmu," ucap Bima.

__ADS_1


"Apa?" Juan tiba-tiba berdiri.


__ADS_2