Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 109 Selamatan Empat Bulanan


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


"Bu sebaiknya kita membawa apa nanti ke rumah kakak, tidak mungkin kita hanya tangan kosong kesana?" tanya Clara.


"Ibu juga bingung, enaknya membawa apa ya?" ibunya balik bertanya.


"Kita belikan kue dan buah saja nanti di jalan, bagaimana Bu?" tanya Clara meminta pendapat.


"Wah boleh, orang hamil biasanya senang ngemil apalagi kue dan buah," jawab ibunya setuju.


"Adik-adik kenapa tidak ibu ajak juga, kasihan mereka di tinggal begitu," ucap Clara.


"Bukannya kita tidak mau mengajak, tapi mereka yang tidak mau bolos sekolah apalagi hampir ujian akhir katanya. Sekarang mereka lebih serius belajar, katanya mereka tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan kakaknya yang sudah rela bekerja demi mereka bisa tetap bersekolah," jelas pak Jarwo.


"Alhamdulillah jika mereka punya pemikiran begitu, Clara jadi terharu," ucap Clara yang matanya mulai mengembun.


"Terima kasih ya Nak, berkat kamu dan kakak mu mereka tidak pernah kekurangan lagi dan bisa terus bersekolah," balas ibunya.


"Ibu bicara apa, itu memang sudah kewajiban kami untuk membantu kalian," ucap Clara lalu memeluk ibunya.


Clara membaringkan diri di pangkuan ibunya sembari menonton tv bersama. Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut, mengulanginya terus menerus sampai tanpa terasa Clara sudah terlelap. Clara adalah gadis lembut yang masih muda namun di paksa dewasa oleh keadaan, di tuntut tegar oleh cobaan. Seorang gadis yang seharusnya masih merasakan kehangatan kasih sayang orang tua namun justru harus terpisah jauh dari mereka.


Tiba-tiba ponsel Clara berdering, suaranya cukup keras sehingga membangunkan si empunya.


"Ya, ada apa Sayang?" tanya Clara dengan suara sedikit serak.


"Apa kamu sedang tidur, Sayang?" tanya Juan.


"Tadi tidak sengaja ketiduran di pangkuan ibu saat nonton tv," jawab Clara.


"Kamu pasti rindu sekali dengan kedua orang tua mu, kenapa tidak suruh tinggal lebih lama saja di apartemen," ucap Juan.


"Tidak bisa Sayang, kasihan adik-adik jika terlalu lama di tinggal. Mereka lebih membutuhkan bapak dan ibu, kasihan juga ternak di rumah," balas Clara.


"Iya juga sih, oh ya habis dzuhur aku jemput ya. Nanti bawa apa ke rumah Bima?" tanya Juan.

__ADS_1


"Aku berencana membeli kue dan buah nanti di jalan," jawab Clara.


"Ya sudah terserah kamu saja, sudah dulu ya Sayang, sampai ketemu nanti. Assalamualaikum,"


"Ok, waalaikum salam,"


Hari ini Clara libur kerja, ia mengambil cuti tahunannya selama dua hari untuk menemani orang tuanya agar tidak merasa bosan. Besok rencananya ia akan membawa kedua orang tuanya jalan-jalan.


Sehabis dzuhur Juan datang menjemput mereka, Juan memberi salam dan mencium tangan kedua orang tua Clara. Mereka segera berangkat ke rumah Bima. Sebenarnya acaranya masih sore tapi mereka berangkat lebih awal agar bisa bertemu lebih lama. Cindy sudah resign dari perusahaan Andre sekitar seminggu yang lalu. Sebenarnya Cindy masih kuat hanya saja suami dan mertuanya tidak tega melihatnya bekerja dengan kondisi perutnya sudah mulai membesar begitu.


"Assalamualaikum," Clara dan keluarga memberi salam saat tiba di rumah Bima.


"Waalaikum salam," keluarga Bima menyambut mereka dengan ramah.


"Ibu, Bapak," sapa Cindy langsung menghambur memeluk orang tuanya.


"Maaf ya Nak, kita baru bisa datang menjenguk mu sekarang. Bagaimana keadaan mu dan bayi mu?" tanya ibunya.


"Tidak apa-apa, aku senang kalian datang. Alhamdulillah kami baik-baik saja, hanya sebulan pertama dia sangat rewel dan membuat aku tidak bisa makan sampai lemas, namun setelah itu aku justru sangat berselera makan," jelas Cindy.


"Ah kalian repot-repot sekali, terima kasih ya," balas Cindy.


"Cindy ayo tamunya di bawa masuk, jangan di biarkan di teras begitu dong, Sayang," perintah ibu mertuanya.


"Oh iya sampai lupa karena terlalu senang, ayo semuanya masuk," ajak Cindy.


Mereka bercengkrama di ruang tengah. Bercerita banyak hal yang telah mereka lewati. Mertua Cindy juga ikut bergabung, mengobrol hangat dengan semuanya. Sementara Bima masih belum pulang dari kantor.


Sekitar pukul lima sore Bella dan Bagas juga datang, Cindy juga mengundang Bella otomatis sepaket dengan Bagas yang sudah menjadi tunangannya.


"Eh kalian ayo masuk, semua sudah ada di dalam," ajak Cindy.


"Kita tidak terlambat kan?" tanya Bella.


"Tidak kok, baru juga di mulai," jawab Cindy.

__ADS_1


Acara empat bulanan segera di mulai, acaranya pengajian dan doa bersama, mendoakan ibu dan bayinya agar selamat sampai persalinan.


Setelah semua acara selesai mereka shalat magrib bersama baru dilanjutkan acara malam-malam dan ramah tamah. Para tetangga dan teman-teman langsung pulang, kecuali rombongan Clara dan juga Bella dan Bagas, mereka masih asyik mengobrol di ruang tamu.


"Kira-kira nanti Juan atau Bagas dulu nih yang nikah duluan ya?" tanya Bima.


"Dari gelagatnya sih sepertinya Bagas yang lebih tidak sabar, lihat saja itu nempel terus sama Kak Bella," jawab Cindy menggoda Bagas.


Spontan ia melepas tangan Bella, karena di goda Cindy. Ia tersenyum malu-malu.


"Masih belum kok, sepertinya Mas Juan dulu," ucap Bagas.


"Duluan juga tidak apa-apa Gas, aku sudah biasa di balap kok," balas Juan, membuat semuanya tertawa.


Mereka asyik mengobrol, mengolok-olok dan menggoda satu dengan yang lain. Sementara para orang tua mengobrol sendiri tentang anak mereka di teras depan.


Jhony tidak bisa ikut ke kota karena telah bekerja dengan sang paman di gudang beras. Walau gajinya tidak seberapa itu lebih baik daripada hidup banyak uang tetapi berlumuran dosa seperti saat bersama Indra. Kini hidupnya lebih tenang walaupun sederhana ia bisa lebih dekat dengan orang tuanya. Impian yang ingin ia gapai telah menjatuhkan harga dirinya, bukan hanya di mata manusia namun juga di mata Maha Pencipta.


Karena hari sudah malam, semua berpamitan agar tuan rumah bisa segera beristirahat. Bella dan Bagas pulang duluan.


"Kak jaga diri dan ponaan ku ya, insyaallah aku akan sering menjenguk kalian," ucap Clara.


"Iya, terima kasih ya, aku sangat senang jika kamu sering berkunjung kemari," balas Cindy sembari memeluk adiknya.


"Jaga Cindy dan bayinya ya, semoga lancar sampai persalinan," ucap Juan menyalami Bima.


"Iya pasti, terima kasih ya, semoga kalian juga segera menyusul," balas Bima.


"Amin," ucap Juan.


"Bu, kita pamit dulu ya. Titip anak saya, tolong jaga dia dan bayinya ya bu. Jangan segan di marahi jika tidak patuh, anggap anak ibu sendiri," ucap ibu Cindy.


"Pasti Bu, saya sudah menganggapnya anak saya sendiri, bahkan Bima kadang sampai bertanya sebenarnya anak saya itu dia atau Cindy karena kita sangat perhatiin dengannya daripada Bima. Maklum orang hamil itukan harus benar-benar di jaga, apalagi anak pertama belum berpengalaman," balas ibu Bima.


"Terima kasih sekali ya, Bu," ucap ibu Cindy sembari memeluk besannya sambil menangis karena terharu.

__ADS_1


__ADS_2