
Dengan berat hati Clara meninggalkan apartemen. Ia hanya membawa satu koper berisi pakaian, mukenah, ijazah yang telah ia ambil di sekolahnya, serta sebuah foto saat mereka menikah. Buku rekening berisi tabungan selama ia bekerja dan mahar dari Juan ia bawa, namun logam mulia ia biarkan di dalam brankas bersama perhiasan-perhiasan yang pernah Juan berikan untuknya.
Ia berusaha melangkah dengan tegar, ia berusaha tetap tersenyum kepada satpam yang menanyainya. Ia tidak boleh membuat orang curiga dengan kepergiannya, karena nyawa keluarganya sebagai taruhannya. Ia segera menyetop taksi dan pergi meninggalkan apartemen pemberian suaminya itu. Tempat yang penuh kenangan, tempat di mana ia menyerahkan miliknya yang paling berharga. Clara segera menyeka air matanya saat sopir taksi bertanya kepadanya.
"Maaf mbak, kita mau kemana ini?" tanya sopir taksi.
Clara bingung untuk menjawab, ia tidak tahu harus kemana karena tidak punya tujuan.
"Jalan dulu ya Pak, nanti saya beri tahu," jawab Clara dengan suara serak karena habis menangis.
Sopir taksi menurutinya dan terus melajukan kendaraannya menyusuri kota yang mulai gelap. Clara benar-benar bingung tak punya tujuan untuk melangkah. Sopir taksi menatap iba penumpangnya dari kaca spion.
"Mbak sabar ya, tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan. Tuhan menguji hambanya sesuai kemampuannya, saya percaya mbak mampu menyelesaikannya," hibur pak sopir.
"Saya bingung, tidak ada tempat tujuan. Saya terpaksa meninggalkan suami saya karena ayah mertua mengancam akan menghabisi keluarga saya jika saya tidak meninggalkan putranya. Saya sama sekali tidak punya tujuan Pak," jelas Clara sambil terus menangis.
Sopir taksi yang sudah berumur itu segera menepikan taksinya.
"Nama saya Iman Santoso, kamu bisa panggil pak Iman. Jika kamu mau bisa tinggal di rumah bapak, bapak tinggal bersama istri dan putri saya yang sepertinya sebaya sama kamu. Tapi rumah saya sederhana, saya bukan dari keluarga kaya," ucap Pak Iman tulus menawari Clara.
"Saya Clara Pak, saya tidak ingin merepotkan bapak dan keluarga. Biarlah saya mencari tempat kos atau kontrakan yang murah, saya juga akan mencari kerja," tolak Clara halus.
"Nak Clara mau kerja apa?" tanya pak Iman.
"Ijazah saya hanya SMP, saya mau kerja apa saja yang penting halal Pak," jawab Clara.
"Di dekat rumah bapak banyak pabrik, banyak home industri juga. Kalau mau nanti bapak antar melamar kerja di sana. Jika memang tidak mau tinggal di rumah bapak, di sana juga banyak sekali tempat kos dan kontrakan," cerita pak Iman.
"Memangnya rumah Bapak di mana?"
__ADS_1
"Saya tinggal di Tanggulangin Sidoarjo, cukup jauh dari Surabaya," jawab pak Iman.
Clara terlihat sedang berpikir, ia tak tahu harus berbagi cerita dengan siapa. Sepertinya pak Iman adalah orang yang baik, itu terlihat dari rasa perhatiannya. Mungkin sementara ia bisa tinggal di dekat rumahnya, dan menganggap beliau sebagai keluarga.
"Baik Pak, Saya mau. Saya tidak ingin membawa keluarga Bapak dalam masalah jadi lebih antarkan saya mencari tempat kos lebih dulu ya, Pak," pinta Clara.
"Iya Nak, akan bapak antar sekarang," pak Iman segera melajukan taksi ke arah tempat tinggalnya.
Melihat Clara yang sebaya dengan putrinya nalurinya sebagai orang tua menjadi tergerak. Karena adzan magrib berkumandang ia meminta izin kepada Clara untuk shalat lebih dulu.
"Nak Clara, boleh bapak berhenti sebentar di rumah di depan sini, bapak mau shalat magrib dulu?" tanya pak Iman meminta izin.
"Tentu saja boleh Pak, apa saya juga boleh menumpang shalat di rumah Bapak?" tanya Clara.
"Boleh sekali Nak, ayo kita turun,"
Mereka segera turun, pak Iman mengenalkan Clara kepada istri dan putrinya yang baru selesai shalat. Clara segera shalat lebih dahulu.
"Nanti bapak ceritakan semuanya, sekarang dia sedang mencari kos di dekat rumah kita. Ibu tahu tidak kira-kira di mana ada yang kosong dan aman?" tanya pak Iman.
"Sepertinya di kosan pak Kholil itu masih ada beberapa yang kosong, di sana aman dan strategis. Dekat dengan warung kelontong dan warung nasi, ada banyak toko juga di sekitarnya. Tapi sepertinya agak mahal, coba saja barangkali bisa di nego," jawab bu Rina.
"Oh ya sudah coba nanti bapak antar kesana, sekarang mau shalat dulu," ucap Pak Iman.
Setelah selesai shalat mereka melihat tempat kos yang di rekomendasikan oleh bu Rina. Pertama masuk Clara sudah suka dengan suasananya, bersih, rapi dan sepertinya penghuninya ramah-ramah karena saat dia datang semua menyapanya.
"Kebetulan ada beberapa yang kosong, yang kamar mandi dan kamar mandi dalam. Masing-masing ada satu di bawah dan satu di atas, silahkan jika mau melihat," jelas pak Kholil pemilik kos.
Clara lalu melihat kamar di bawah yang ada kamar mandi dalamnya, bersih dan rapi. Sudah ada fasilitas lemari pakaian, meja, kipas angin dan kasur jadi Clara hanya tinggal menempati.
__ADS_1
"Saya mau yang ini saja Pak," ucap Clara.
"Tidak mau lihat yang atas dulu, Neng," tawar pak Kholil.
"Tidak perlu, saya sudah merasa cocok di sini," jawab Clara.
"Oh baiklah, untuk harga kos yang kamar mandi luar dan dalam beda ya Neng," terang pak Kholil.
"Ya Pak, tidak masalah," balas Clara.
"Apa tidak bisa di kurangi, kasihan dia masih mau mencari kerja," nego pak Iman.
Setelah deal dengan harga, mereka meninggalkan Clara sendiri. Lusa pak Iman berjanji akan mengantar Clara mencari pekerjaan, karena besok ia masih menyiapkan berkas lamarannya.
***
Pukul 20.00 Juan pulang dari kantor, dengan langkah gembira ia kembali ke apartemen. Ia mengetuk pintu dan memanggil Clara, namun tidak ada sahutan. Ia langsung menghubungi Clara, tersambung namun sama sekali tidak di angkat. Ia segera mengambil kunci cadangan di tas kantornya.
"Sayang, kamu di mana?" tanya Juan.
Hening, tidak ada sahutan. Ruangan tampak rapi, Juan menyalakan semua lampu. Ia mencari istrinya ke dapur, ke kamar, kamar mandi, ruang tv juga tidak ada istrinya. Juan mulai panik, ia mencoba menelepon istrinya kembali namun tetap tidak di angkat, saat ia coba kembali nomornya justru tidak aktif.
"Ya Allah, kemana istri ku?" tanya Juan mulai gelisah.
Ia mulai mencari lagi ke semua sudut ruangan, ia membuka lemari pakaian Clara. Benar saja, sebagian pakaiannya telah lenyap. Ada sebuah kertas di baju-baju Clara. Juan segera mengambil dan membacanya.
Teruntuk Belahan Jiwa ku
Juan Suamiku, maafkan aku yang jauh dari kata sempurna. Aku mencintai mu dengan segenap jiwa raga ku. Namun sepertinya takdir tidak berpihak kepada kita. Tolong relakan kepergian ku, aku tidak ingin menjadi tembok penghalang hubungan mu dengan keluarga mu. Kebersamaan kita hanya akan membuat orang lain terluka. Jangan pernah mencari aku lagi, teruslah lanjutkan hidup mu. Maafkan aku.
__ADS_1
Dari: Yang Mencintai mu