Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 116 Selamat Ya


__ADS_3

"Apa maksud mu?" tanyanya.


"Maaf Om, aku salah bicara," jawab David.


"Jangan berbohong!" teriaknya.


"Apa benar mereka menikah?" tanyanya lagi.


David tidak dapat mengelak lagi, jika bukan dari dirinya ayah Juan pasti menyuruh orang untuk menyelidikinya.


"Iya Om, mereka sudah menikah secara agama," jawab David.


Panggilan langsung terputus, David kembali ke kerumunan dan memberi selamat kepada Juan dan Clara.


"Selamat ya, semoga kalian selalu berbahagia," ucap David.


"Terima kasih, cepatlah menyusul agar selalu ada orang yang membuat hari mu menjadi berwarna," balas Juan.


"Inginnya seperti itu, tapi calonnya belum ada. Orang yang pernah aku suka malah kamu rebut, hehehe," seloroh David.


"Dia ini jodoh ku, carilah jodoh mu sendiri. Apa perlu aku kenalkan pada seorang gadis?" tanya Juan sambil menaik turunkan alisnya.


"Ah tidak perlu, biarlah aku mencarinya sendiri," jawab David.


"Baiklah, jangan sampai aku sudah punya bayi kami masih sendiri seperti ini," ledek Juan.


"Ah kamu, oh ya tadi om telepon dan aku keceplosan mengatakan tentang pernikahan kalian. Aku minta maaf ya," ucap David.


"Jadi ayah sudah tahu ya, ehm... tidak apa-apa. Sebenarnya aku sudah pernah memberitahu rencana ku ini padanya, tapi tidak pernah ada tanggapan," balas Juan.


"Lalu kalian akan tinggal di mana setelah menikah ini?" tanya David.


"Aku akan tinggal bersama istrinya di apartemen," jawab Juan.


"Cie istri ku, iya yang sudah menikah. Ya sudah aku tidak bisa berlama-lama, sepertinya om membutuhkan ku. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua ya," ucap David.


"Terima kasih pak David," balas Clara yang dari tadi hanya menyimak.


Saat David sudah pergi giliran Bella dan Bagas yang memberi selamat kepada mereka.


"Terima kasih ya, kalian berdua cepatlah menyusul. Mau menunggu apa lagi sih, restu sudah di tangan, kehidupan juga sudah mapan," ucap Juan.

__ADS_1


"Iya Mas, ini juga sedang dalam perencanaan yang matang," jawab Bagas.


"Kalian jangan pulang dulu, makanlah sesuatu," ucap Clara.


"Aku buru-buru Clara karena hanya izin sebentar dari kantor, yang penting bisa menyaksikan kalian menikah. Maaf ya aku harus kembali sekarang," balas Bella.


"Terima kasih sudah menyempatkan hadir ya, Kak," ucap Clara.


"Iya, sama-sama. Aku pamit dulu ya," ucap Bella.


"Mas, aku antar dia dulu setelah itu aku akan kembali lagi kesini," pamit Bagas.


Sekarang giliran Jhony dan Januar yang memberi selamat.


"Kalian selamat ya, semoga langgeng sampai maut menjemput," ucap Jhony.


"Amin," Juan dan Clara serempak mengamini.


"Selamat ya, semoga segera menyusul Cindy yang sudah dapat momongan," Januar memberi selamat.


"Terimakasih, kita tidak akan menundanya," balas Juan sembari melirik istrinya yang wajahnya mulai merona.


"Kalian juga cepat menyusul kami," ucap Clara.


Kemudian Bima datang untuk memberi selamat.


"Selamat ya Juan, Clara semoga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Maaf ibu dan Cindy tidak bisa datang karena masih belum boleh keluar rumah, tapi aku sudah merekam prosesi pernikahan kalian tadi, nanti akan aku tunjukkan kepadanya," ucap Bima.


"Iya Bima, terima kasih ya. Tidak apa-apa kami mengerti kok," balas Juan.


"Selamat juga ya Bima, kalian sudah punya anak. Bolehkah kami menjenguk Cindy setelah dari sini nanti?" tanya Jhony.


"Tentu saja boleh, kita berangkat bersama saja setelah acara selesai," jawab Bima.


"Ya sudah kalian makanlah dulu," ucap Juan.


"Ya sudah ayo kita makan dulu, aku sudah lapar tadi memang sengaja tidak sarapan" ajak Jhony yang diikuti yang lainnya.


Pernikahan ini memang sederhana, namun untuk menunjukkan rasa syukurnya karena telah berhasil memperistri gadis pujaannya Juan memberikan santunan kepada anak yatim sebanyak 1000 orang yang tersebar di beberapa titik. Tentu saja semua itu di urus oleh Bagas selaku orang kepercayaannya.


Semua orang sedang menikmati makanan yang sudah di siapkan.

__ADS_1


"Jhon kamu pulang bersama bapak dan ibu saja tidak perlu naik bus, mereka juga katanya akan pulang. Besok biar di antar sopir," ucap Clara.


"Kenapa pak Jarwo sudah mau pulang?" tanya Jhony.


"Ya mungkin kepikiran rumah, adik-adik juga kasihan jika tidak masuk sekolah nanti ketinggalan pelajaran," jawab Clara.


"Ok deh, tapi aku menginap di tempat Januar ya," ucap Jhony.


"Iya tidak masalah, biar besok di jemput sopir setelah dia menjemput mertua ku," balas Juan.


"Apa nanti kalian juga tidur di apartemen?" tanya Januar.


"Iya, Juan maunya begitu. katanya tidak enak sama bapak dan ibu kalau di tinggal sendirian di sana," jawab Clara.


"Wah tertunda dong malam pertamanya, hehehe," seloroh Jhony.


"Tidak masalah, masih banyak malam kedua, ketiga dan seterusnya. Kita sudah bersabar sangat lama, hanya sehari saja pasti kuat," ucap Juan sembari mengedipkan mata ke istrinya.


***


Di tempat lain seorang wanita tengah menangis di dalam kamarnya. Hatinya pilu harus bisa menerima kenyataan tidak bisa menghadiri acara pernikahan putra satu-satunya. Suaminya sudah memberikan kabar jika putranya sedang melangsungkan pernikahan namun ia melarangnya untuk datang.


Naluri keibuannya membuatnya bersikeras dan menentang keputusan suaminya, namun sebuah tamparan justru mendarat di pipinya yang mulai keriput. Suaminya memukulnya hingga sudut bibirnya berdarah. Sakit rasanya, namun lebih sakit hatinya yang tidak bisa menyaksikan kebahagian putra kesayangannya itu.


"Maafkan aku yang tidak berdaya ini Nak, jika waktu bisa di putar kembali aku ingin kembali di saat itu. Dimana kita sudah hidup cukup, tidak berlebihan namun kita bahagia memiliki dirimu," katanya di sela-sela tangisnya.


***


Sementara itu acara pernikahan Juan dan Clara telah selesai. Jhony dan Januar ikut pulang bersama Bima untuk menjenguk Cindy dan bayinya. Sedangkan Juan dan Clara telah berada di apartemen. Setelah berganti pakaian dan membersihkan diri mereka ketiduran semua di depan tv. Sore hari mereka mulai bangun dan melanjutkan aktivitasnya.


"Nak apa sebaiknya bapak dan ibu pulang sekarang ya, agar tidak mengganggu kalian?" tanya pak Jarwo.


"Jangan Pak, kalian pasti letih. Menginaplah di sini biar besok saja pulangnya. Kita tidak merasa terganggu, justru senang dengan kehadiran kalian di sini," jawab Juan.


"Tapi..." Pak Jarwo berusaha menolak.


"Tidak apa-apa pak, ini sudah malam sebaiknya bapak dan ibu istirahat di kamar, biar kita dan adik-adik tidur di depan tv," ucap Juan.


"Jangan, kalian saja yang di kamar biar kita semua yang di depan tv," tolak ibu Dina.


"Kalian lebih tua, lebih pantas di atas. Sudahlah jangan sungkan, kalian adalah orang tua ku juga, pasti akan di perlakukan selayaknya orang tua," ucap Juan.

__ADS_1


Karena Juan memaksa akhirnya merekapun mengalah dan beranjak tidur di kasur. Sementara Juan masih ingin mencuri-curi kesempatan untuk bermesraan dengan istrinya, namun karena adik-adik Clara masih menonton tv mereka batal berdekatan sampai akhirnya mata tidak bisa di kondisikan lagi. Mereka semua tertidur pulas sampai pagi.


__ADS_2