Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 80 Sandra Mengaku


__ADS_3

"Aku hanya mengira-ngira, sudahlah lebih baik kalian pergi saja. Pekerjaan ku sangat banyak, kalian membuang-buang waktu ku untuk urusan yang tidak penting," usir Sandra.


"Kenapa harus buru-buru, Sandra. kalau kamu tidak merasa bersikaplah dengan wajar," ucap Juan tenang.


"Apa maksudmu, Juan? Apa kamu menusuk ku yang melakukan itu semua?" tanya Sandra ketus.


"Dari tadi aku tidak pernah mengatakan kamu pelakunya, aku hanya bertanya biasa saja," jawab Juan.


"Sudahlah tidak perlu berkelit, dari kata-kata mu sudah terlihat jika kamu menuduh aku yang melakukan semuanya," balas Sandra.


"Jika kamu memang tidak berbuat, seharusnya sikap mu biasa saja. Kalau kamu marah itu berarti memang kamu pelakunya," ucap Juan.


"Aku tahu kamu sahabat Andre yang mempunyai kantor ini, tapi bukan berarti kamu bisa menuduh diri ku sembarangan tanpa bukti yang jelas," teriak Sandra.


"Keluar kalian dari ruangan ku, kalau tidak aku panggil satpam!" usir Sandra.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, kemudian masuk. Semua mata tertuju padanya, office boy itu hanya menunduk tidak berkata apapun. Wajah Sandra tampak memucat melihat kehadirannya.


"Kenapa wajah mu berubah pias, Sandra?" tanya Juan.


"Kata siapa, aku biasa saja kok. Heh kenapa kamu kesini, aku tidak menyuruhku datang?" tanya Sandra kepada pria itu.


"Aku yang memintanya kemari. Rudi cepat kamu ceritakan semuanya," ucap Juan.


Pria itu melirik Juan, lalu menatap Sandra. Sandra tampak melotot ke arahnya.


"Maaf Bu, saya merasa bersalah. Ini uang Ibu saya kembalikan," ucap pria itu sembari menaruh amplop coklat di meja kerja Sandra.


"Apa maksud mu? Jangan main-main dengan ku, apa kamu mau aku pecat?" tanya Sandra berang.


"Sudahlah Sandra tidak perlu berakting lagi, dia sudah bercerita semua kepadaku. Semalam aku bertemu dengannya di samping kantor ini saat menemui satpam kantor. Sebelumnya aku sudah curiga itu ulah mu, kamu menyuruh Cindy lembur, lalu menambah pekerjaannya, kamu juga tidak memberi info kepada satpam jika sedang ada yang lembur," ucap Juan.


"Kesimpulan yang bagus, Juan. Ternyata kamu berbakat jadi detektif, tapi asal kamu tahu kata-kata tanpa bukti itu hanya omong kosong," balas Sandra.


"Mungkin kamu lupa atau memang tidak tahu bahwa kantor ini punya CCTV, aku sudah melihatnya. Apa perlu aku serahkan ke polisi biar kamu di tangkap, dengan beberapa tuduhan yang akan membuat kamu di penjara," ucap Juan.

__ADS_1


"Kamu yang menambah kerjaan Cindy saat dia keluar membuat kopi, kamu juga memaksa pria ini untuk membantu mu menakut-nakuti Cindy sampai dia pingsan. Harusnya satpam mematikan lampu pukul 19.00 tapi karena ketiduran ia baru mematikan pukul 19.30 saat Cindy akan pulang. Semua bukti sudah cukup, apa kamu tetap tidak ingin mengaku," bentak Juan.


"Ia, memang aku yang melakukannya. Memangnya kenapa, apa kamu akan melaporkan aku kepada polisi?" tanyanya menantang.


Cindy dan Clara terkejut, mereka benar-benar tidak menyangka bosnya tega berbuat seperti itu.


"Kenapa kau tega sekali Sandra? Apa salah Cindy padamu?" tanya Juan.


"Aku tidak suka Andre masih peduli padanya, padahal gadis ini sudah sangat menyakitinya sampai-sampai dia memilih mengasingkan diri. Wanita ini tidak tahu malu masih tetap bekerja di sini," ucap Sandra penuh penekanan.


Hati Cindy sakit mendengar kata-kata Sandra, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Jika Ibu tidak suka saya di sini, saya akan berhenti saat ini juga," ucap Cindy lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Kamu keterlaluan Sandra, kamu tidak profesional dengan mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Kamu hanya iri padanya karena Andre masih mencintainya, padahal dari dulu kamu tidak pernah berhasil mengejarnya. Kamu sudah di butakan oleh cinta hingga tega berbuat apa saja. Aku pastikan Andre tidak akan senang mengetahui ini semua," ucap Juan lalu pergi di susul Clara dan OB tadi.


Clara menyusul Cindy dan menenangkannya.


"Cindy kamu tidak perlu pulang, tetaplah bekerja," ucap Juan.


"Sudah percaya padaku, tidak perlu takut dengan Sandra. Dia hanya manajer, tidak punya hak atas perusahaan ini. Aku pergi dulu," ucap Juan.


"Kamu kenapa menangis? apa Bu Sandra memarahi mu?" tanya Bella.


"Panjang ceritanya, Kak," jawab Cindy.


Cindy dan Clara akhirnya bercerita kepada Bella. Bella terlihat menyimak dengan baik.


"Wah aku tidak menyangka dia tega berbuat seperti itu, ternyata cinta bisa membuat orang jadi gila ya," ucap Bella.


Setelah puas bercerita mereka melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Mereka sedikit bersantai karena melihat Sandra keluar tidak lama setelah Juan pulang. Suasana tenang sampai jam kantor usai.


***


Keesokan hari sesuai permintaan Juan, Cindy tetap datang ke kantor untuk bekerja. Suasana hari ini tampak tenang, mereka tidak melihat kedatangan Sandra ke kantor.

__ADS_1


"Eh tahu tidak kalau bu Sandra sudah tidak jadi manager lagi, dia di gantikan oleh orang baru mulai besok," ucap Bella.


"Hah, yang benar? Kakak tahu dari mana berita ini?" tanya Clara.


"Aku tadi ke HRD untuk pengajuan cuti, eh tidak sengaja mendengar mereka ngobrol tentang bu Sandra," jawab Bella.


"Wah jangan-jangan karena masalah kemarin ya, aku jadi ngerasa bersalah membuatnya kehilangan pekerjaan," ucap Cindy.


"Sudahlah itu bukan salah Kakak. Dia itu yang jahat sudah tega membuat Kakak celaka, mungkin ini hukuman untuknya agar tidak berbuat seenaknya," tutur Clara.


"Clara benar, suruh siapa jadi orang jahat. Langsung kena karma kan," sahut Bella.


"Tapi tetap saja kasihan padanya," ucap Cindy.


"Duh Cindy, kamu itu benar-benar baik jadi orang ya, sudah tahu dia jahat pada mu kok malah kasihan," ucap Bella geleng-geleng kepala.


Brakkk... suara pintu di banting dengan keras.


"Mana Cindy?" tanya Sandra berteriak.


Tatapannya nyalang menatap Cindy, matanya membeliak bagai singa yang akan menerkam mangsanya. Mereka semua menatap Sandra dengan terkejut. Dia mendekat ke arah mereka.


Plakkk... sebuah tamparan mendarat di pipi halus Cindy.


"Semua gara-gara kamu, Andre mengusirku dari kantor ini! Kamu memang wanita tidak tahu balas budi. Kamu telah menyakiti dia sangat dalam tapi masih merasa tidak bersalah dengan hidup tenang di kantornya. Dasar Kamu wanita tidak berpendidikan," maki Sandra.


Cindy memegangi pipinya yang terasa nyeri. belum puas menampar, Sandra berusaha menjambak rambut Cindy. Clara dan Bella yang telah waspada berhasil mencegahnya.


"Sudah, Bu. Jangan bertindak brutal jika tidak ingin berurusan dengan polisi," ancam Bella.


"Berani kamu ya, kamu cuma karyawan di sini," ucap Sandra.


"Saya masih karyawan di sini, sedangkan anda bukan siapa-siapa," tantang Bella.


"Kalian semua kurang ajar! Cindy, aku akan buat perhitungan dengan mu," ucap Sandra sebelum pergi.

__ADS_1


__ADS_2