Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 68 Akibat Obat Perangsang


__ADS_3

Sementara itu Cindy dan Bima tengah menikmati berkeliling Kota Surabaya. Mereka nonton bioskop, menikmati kulineran, setelah lelah mereka menuju cafe.


"Sayang, apakah kamu senang hari ini?" tanya Bima.


"Iya, aku senang. Terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan ya," jawab Cindy.


"Sayang, apakah kamu masih mencintai Andre?" tanya Bima lagi.


"Kenapa kamu harus bertanya begitu, aku sudah mengambil keputusan untuk bersamamu. Aku sudah menutup lembaran cerita bersamanya, jadi jangan pernah bertanya tentang hal itu lagi," jawab Cindy tegas.


"Maafkan aku, aku tidak akan bertanya tentang hal itu lagi. Jangan marah lagi ya, Sayang," pinta Bima.


"Baiklah, aku memaafkanmu," jawab Cindy.


Entah mengapa Bima merasa Cindy masih belum bisa melupakan Andre. Selama ini ia telah berusaha sekeras mungkin untuk menakhlukkan hati Cindy kembali, namun ketika bersamanya seolah Cindy hanya setengah hati saja menemaninya. Sebenarnya Bima merasa ingin menyerah, ia juga sudah tidak percaya diri dengan kondisi fisiknya yang cacat. Bila di bandingkan dengan Andre, ia sadar pria itu jauh lebih segala-galanya darinya.


"Sayang maaf ya jika aku belum bisa membahagiakanmu, aku akan selalu berusaha membuatku senang. Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi," ucap Bima.


"Terima kasih ya sudah punya pemikiran begitu. Aku tidak akan kemana-mana," balas Cindy.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkanku ya," pinta Bima.


"Iya," jawab Cindy singkat.


Walaupun Cindy sudah meyakinkannya untuk tidak akan pernah pergi darinya, namun masih saja ada ketakutan besar di hatinya. Mungkin jalan satu-satunya untuk benar-benar mengikat Cindy adalah dengan tali pernikahan. Kuliahnya sebentar lagi selesai, bahkan ia telah bekerja di salah satu perusahaan walaupun hanya staff biasa namun cukup untuk biaya hidup mereka nanti. Namun sepertinya tidak akan mudah meyakinkan Cindy untuk segera menikah setelah banyak kejadian yang terjadi.


"Aku ke toilet sebentar ya, terus kita pulang saja ini sudah sore," ucap Cindy.


"Iya, Sayang," jawab Bima.


Bima menunggu Cindy dengan sabar. Ia senang ketika melihat Cindy telah kembali.


"Ayo, kita pulang," ajak Cindy.


"Minumannya habiskan dulu, sayang kalau terbuang," ucap Bima sambil menghabiskan minumannya.


Cindy tidak menjawab namun segera meminum habis minumannya yang tinggal separuh gelas.


"Sudah habis, ayo kita pulang keburu sore," ajak Cindy segera bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Ayo," jawab Bima.


Ketika motor mereka baru saja melaju beberapa menit, Bima menghentikan kendaraannya di sebuah minimarket.


"Bentar ya tunggu di sini, ada sesuatu yang harus aku beli," ucap Bima.


"Iya, jangan lama-lama ya," balas Cindy.


Bima mengangguk lalu meninggalkan Cindy. Sambil menunggu Bima Cindy mengirim sms kepada Clara.


[Clara, apa kamu sudah pulang? Ini aku sedang dalam perjalanan pulang]


Sms terkirim.


Tring... tring... Ponsel Cindy berdering. Clara membalas smsnya.


[Sekitar jam 5 sore aku pulang, Kak. Sampai sana mungkin jam 7 malam]


Tak berapa lama Bima kembali.


"Beli apa?" tanya Cindy melihat Bima tidak membawa apa-apa.


"Oh iya, Sayang apa kamu tidak keberatan kita mampir kerumah temanku dulu, ada hal penting yang harus aku sampaikan kepadanya," ucap Bima.


Cindy berpikir mungkin tidak masalah mengikuti Bima toh Clara masih baru sampai nanti malam.


"Iya, tapi jangan lama-lama ya, aku sudah sangat lelah" jawab Cindy.


"Siap, calon istriku," jawab Bima.


Cindy hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Bima. Pria itu segera melajukan kendaraannya ke rumah temannya. Sampai di sana Bima terlihat asyik mengobrol bersama temannya di ruang tamu, sedangkan ia lebih memilih duduk di teras sambil melihat tanaman milik teman Bima itu.


Entah berapa lama mereka mengobrol, Cindy sudah merasa tidak nyaman ingin secepatnya pulang. Ia memberikan kode kepada kekasihnya untuk segera pulang. Mengerti kode dari Cindy Bima segera berpamitan.


Di dalam perjalanan Cindy tiba-tiba memeluk erat pinggang Bima, ia rapatkan tubuhnya ke tubuh pria itu. Bima yang mengerti keadaannya segera melajukan kendaraannya lebih cepat.


"Kenapa kita berhenti di tempat ini? Ini tempat apa?" tanya Cindy dengan wajah gelisah.


"Sepertinya kamu tidak enak badan, kita istirahat dulu di sini takutnya kamu kenapa-kenapa," jawab Bima.

__ADS_1


"Tapi..." belum selesai berkata Bima sudah memotong.


"Sudah, ayo," ucap Bima seraya menggandeng tangan kekasihnya.


Setelah melakukan reservasi di resepsionis mereka segera menuju kamar yang Bima pesan. Wajah Cindy tampak merona, badannya panas dingin, nafasnya semakin memburu. Matanya berubah sayu, terlihat sesekali ia menggigit bibirnya.


"Kenapa kita kesini, Bima," tanya Cindy dengan nafas memburu.


Ia memandang ke sekeliling kamar dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan. Bima tidak menjawab pertanyaan Cindy, ia langsung ******* bibir gadis itu.


"Jangan Bima, ini tidak boleh terjadi kita masih belum menikah," ucapnya.


Pikirannya berusaha menolak namun tubuhnya justru menginginkannya.


"Aku mencintaimu, Sayang. Kita akan segera menikah," balas Bima.


Bima mendorong Cindy agar berbaring, kini pria itu mengungkungi Cindy. Sekali lagi ia ******* bibir Cindy namun dengan cepat Cindy menghindar.


"Jangan Bima, aku belum ingin menikah," tolak Cindy.


Namun Bima sudah gelap mata, menurutnya hanya dengan cara ini ia akan berhasil mengikat Cindy. Setelah ini mereka akan menikah dan pasti Andre akan segera hilang dari ingatan Cindy. Ia memang telah merencanakan semua dengan rapi, ia sudah memberi obat perangsang dalam minuman kekasihnya. Ia sengaja tak langsung memulangkan Cindy, sengaja menunggu reaksi obat itu lalu mengajaknya ke hotel ini.


Selain karena memang mencintai gadis itu, naluri kejantannya pun telah bangkit. Ia ingin segera bersatu dengan gadis yang ia cintai itu.


"Akh... Akh... tolong jangan teruskan," kata Cindy memohon.


Bima sudah tidak mendengarkan, ia mengunci kedua tangan Cindy ke atas. Di ciuminya wajah dan leher Cindy membuat gadis itu melenguh. Cindy yang tadinya menolak tampak mulai terhanyut dengan permainan Bima. Satu persatu Bima berhasil melepaskan pakaian Cindy hingga benar-benar b*gil.


Cindy terlihat pasrah, b*rahinya memuncak akibat obat perangsang pemberian Bima. Ia sudah tidak sadar dan tidak bisa berpikir jernih, apalagi ini kali pertama baginya bersentuhan dengan pria seintim ini. Bima mulai menanggalkan pakaiannya, ia mulai mencumbu Cindy kembali. Ia memberi ciuman keseluruh tubuh Cindy membuatnya tidak berhenti mendes*h. Sambil ******* bibir kekasihnya ia remas bongkahan kenyal miliknya dengan gemas.


Setelah puas melakukan peman*s*n, Bima berdiri dan mengambil kond*m yang tadi ia beli di minimarket. Ia belum siap untuk memiliki anak, ia juga tidak ingin Cindy malu jika sampai hamil di luar nikah. Ia segera memakainya, ia lakukan perlahan sambil terus memberi cumb*an kepada Cindy.


Ia tahu ini pasti yang pertama untuknya dan Cindy, jadi harus bermain lembut agar kekasihnya tidak terlalu merasa sakit.


"Tahan ya, Sayang. Awalnya sakit tapi nanti hanya kenikmatan yang terasa," bisik Bima.


Cindy tidak menjawab sepertinya dia sudah tidak sadar, nafasnya sudah ngos-ngosan.


"Akh...," jerit Cindy ketika senjata Bima melakukan penyatuan.

__ADS_1


Ia tampak meneteskan air mata, namun setelahnya hanya desah*n dan erang*n mereka berdua yang terdengar. Tak berapa lama tubuh mereka menggelinj*ng hebat pertanda permainan telah selesai.


__ADS_2