
"Amin, terima kasih ya Clara, segeralah menyusul," balas Cindy.
"Tunggu kakak punya bayi dulu deh," kelakar Clara.
Setelah bersalaman kepada semua, keduanya di suruh istirahat sebentar karena setelahnya mereka harus segera bersiap untuk acara resepsi.
Sekitar pukul 16.00 kedua mempelai telah siap di pelaminan, pembawa acara segera memulai acara resepsi. Prosesi yang di pakai adalah adat jawa. Para tamu undangan mulai berdatangan untuk memberikan selamat kepada mempelai. Clara dan Sinta yang menjadi kembang mayang pada acara ini.
Juan terharu melihat acaranya sampai tak sadar ia menitikkan air mata. Ia sedang membayangkan yang ada di pelaminan adalah dirinya dan Clara. Ia benar-benar tidak sabar untuk menyusul Bima dan Cindy. Ia berharap orang tuanya bisa segera memberi mereka restu, karena bagaimanapun pernikahan tanpa restu orang tua tidak akan pernah lengkap.
Acara resepsi berjalan dengan lancar, sanak saudara, teman dan juga para tetangga semua datang memberikan selamat. Semua berlangsung hingga pukul 22.00, setelah itu mempelai di dipersilahkan untuk istirahat. Semua orang sangat lelah namun juga bahagia dengan pernikahan ini. Selesai acara rombongan Bima berpamitan untuk kembali, karena tanggung jawab mereka sudah menunggu di kota.
"Bu, Pak, titip anak kami Bima ya. Jangan segan di nasehati dan di marahi bila salah," ucap Ayah Bima.
"Dia sekarang juga anak kami, jadi pasti kami jaga seperti Cindy, Pak. Bapak dan Ibu tidak perlu kuatir ya," balas Pak Jarwo.
Setelah berpamitan keluarga Bima segera kembali ke Surabaya. Bima akan tinggal di sini sampai hari minggu, ia akan kembali bersama Juan pada hari minggu.
Malam semakin larut, hingar bingar suara sound system sudah semakin menghilang. Semua orang telah di nina bobokan oleh penat setelah sibuk seharian, terkecuali sang pengantin baru. Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, namun mata mereka belum terpejam.
"Sayang," panggil Bima.
"Ya," jawab Cindy singkat.
"Sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri, aku akan selalu berusaha untuk membuat mu bahagia," ucap Bima.
"Terima kasih," balas Cindy.
Sebenarnya jantung keduanya berdegup kencang, bagaimana tidak ini adalah malam pertama mereka setelah resmi menjadi pasangan suami istri. Walaupun Cindy sudah berusaha untuk melupakan kejadian yang lalu namun berduaan dengan Bima saat ini membuatnya mengingat kejadian itu.
"Bolehkah?" tanya Bima lembut.
__ADS_1
"Bisakah jangan hari ini, aku sangat lelah," jawab Cindy.
"Tidak masalah, aku akan selalu menunggu sampai kamu siap. Tapi bolehkah aku tidur dengan memeluk mu?" tanya Bima.
Cindy mengangguk, Bima mulai memeluknya. Mereka tidur berhadapan, Cindy mulai memejamkan mata walau sebenarnya ia tidak bisa tidur. Bima menatap lekat wanita di depannya dengan penuh cinta, penantian panjangnya sekarang telah berakhir. Wanita ini benar-benar telah menjadi miliknya sekarang.
Cindy tahu suaminya sedang memandanginya, namun ia tak bisa membuka matanya karena masih merasa takut. Akhirnya keduanya tertidur setelah sekian lama menahan kantuk yang mendera. Malam pertama ini mereka lewatkan dengan tidur bersama tanpa aktivitas dewasa layaknya pasangan yang baru saja menikah.
Keesokan paginya saat ayam telah berkokok, Clara dan ibunya sudah bangun lebih dulu. Mereka membersihkan rumah dan memasak untuk sarapan. Sebenarnya sisa masakan di pernikahan Cindy masih sangat banyak namun mereka berikan kepada saudara serta tetangga yang telah membantu mereka.
"Kakak mu apa belum bangun?" tanya ibunya.
"Belum Bu, biarkan saja mungkin dia lelah. Biar kita saja yang memasak," jawab Clara.
Namun tak berapa lama setelah mereka berbicara Cindy tampak keluar dari kamarnya.
"Loh kok sudah bangun, Kakak tidur saja tidak apa-apa, biar aku yang membantu ibu," ucap Clara.
Clara mengamati kakaknya yang tidak keramas ketika akan shalat subuh, itu berarti mereka belum melakukan malam pertama. Clara menghela napas, mungkin kakaknya belum bisa melupakan kejadian itu. Ia berdoa semoga pernikahan kakaknya langgeng, walaupun berawal dari sebuah kesalahan.
"Jhon apa Juan belum bangun ya?" tanya Clara melihat Jhony di depan rumahnya.
"Belum, semalam ia ikut begadang dengan orang-orang, entah sampai jam berapa karena aku tidur duluan," jawab Jhony.
"Ya sudah biarkan saja kalau begitu," ucap Clara.
"Kamu mau kemana kok bawa motor?" tanya Jhony.
"Aku mau ke pasar ingin beli buah, sama yang lain juga sih," jawab Clara.
"Ya sudah aku antar saja," ucap Jhony.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo,"
Mereka berboncengan bersama ke pasar. Sampai di pasar mereka bertemu dengan Sinta, wanita yang ingin bu Tini jodohkan dengan Jhony.
"Sedang belanja juga ya Sin," sapa Clara.
"Eh Clara, iya ini mau beli ikan dan sayur buat di masak," jawab Sinta.
Jhony dan Sinta saling tersenyum, namun tidak ada kata-kata dari keduanya.
"Eh bukannya kalian teman dari kecil ya, kok justru diam-diaman begini sih?" tanya Clara heran.
"Mungkin Mas Jhony sudah lupa, karena sudah punya banyak teman baru," jawab Sinta.
"Ya tidak seperti itu, hanya canggung saja karena sejak kita sudah sekolah sudah tidak pernah main bersama lagi," jelas Jhony akhirnya membuka suara.
"Ya sudah aku duluan ya, ibu pasti sudah menunggu ku di rumah," pamit Sinta meninggalkan mereka berdua.
"Clara kamu kenapa sih pakai tanya begitu, suasana jadi tidak nyaman," ucap Jhony kesal.
"Hah? Apa salah ku sih Jhon?" tanya Clara bingung.
Jhony sebenarnya tahu Clara tidak salah karena dia tidak tahu masalahnya, tapi ia merasa kesal saja dengan pertanyaannya tadi.
"Kamu tahu tidak, ibu ku ingin menjodohkan aku dengan dia," jawab Jhony.
"Ya bagus dong, setahu aku Sinta itu gadis baik. Pendidikannya lebih tinggi dari aku, keluarganya juga terkenal baik," ucap Clara.
"Clara, aku belum ingin menikah. Aku tidak mau masa lalu ku menjadi boomerang yang akan menghancurkan hidup ku. Aku masih ingin membuat ibu ku bahagia," balas Jhony.
"Jhon, masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Cukup kita yang tahu, tidak perlu kamu ingat-ingat kembali. Pernikahan mu justru jalan membuat ibu mu bahagia, karena tidak ada hal yang paling membahagiakan untuk orang tua selain melihat anaknya bahagia dan telah menemukan pasangan hidupnya," ucap Clara bijaksana.
__ADS_1
Jhony terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu. Kata-katanya memang benar, namun Jhony seolah belum dapat menerimanya. Namun Ia tetap memikirkan ucapan Clara. Mungkin saja kebahagian yang paling ibunya tunggu adalah melihatnya menikah. Dari dulu memang hanya Clara dan Cindy lah yang selalu bisa membuka pikirannya, makanya mereka bisa bersahabat hingga saat ini. Karena memang mereka adalah sahabat sejati.