
Seminggu kemudian.
Clara dan Juan sudah menjalankan aktivitas seperti biasanya. Juan sebenarnya ingin Clara berhenti bekerja karena ia bisa memberikan berapapun nafkah yang Clara inginkan, namun Clara meminta suaminya untuk mengizinkannya tetap bekerja agar tidak merasa bosan sendirian di apartemen.
"Kamu harus belajar menyetir mobil Sayang, jadi jika bosan kamu bisa pergi belanja atau mengunjungi kakak mu," ucap Juan.
"Tidak Sayang, lebih baik aku bekerja saja agar bisa menghasilkan uang. Belanja hanya akan menghambur-hamburkan uang saja," balas Clara.
"Aku bekerja kan memang untuk mencukupi kebutuhan mu Sayang, apa kata orang Jika kamu masih tetap bekerja setelah kita menikah," ucap Juan.
"Jangan pernah mendengarkan orang lain, yang tahu kehidupan kita hanya kita. Orang baik pun akan terlihat jahat di mata orang yang tidak menyukainya," balas Clara.
"Kamu benar, ya sudah tetaplah bekerja namun jangan sampai lelah ya,"
"Terima kasih suami ku tersayang," Clara langsung memeluk suaminya dengan perasaan bahagia.
Mereka segera berangkat bekerja, Juan tetap mengantar Clara sampai di depan kantornya, walaupun ia harus memutar lagi untuk menuju pabrik tempatnya bekerja. Sebenarnya Clara sudah menolak karena kantornya tinggal menyeberang saja dari apartemen, namun Juan bersikeras untuk mengantarnya.
Sekitar pukul 15.30 saat Clara tengah menyelesaikan pekerjaannya ada satpam yang meneleponnya, ia mengatakan jika Clara mendapat paket. Kurir menitipkannya di pos security karena terburu-buru mengantar paket yang lainnya.
"Non ini mau saya bawakan ke atas atau di sini saja?" tanya pak satpam.
"Biar di sana saja Pak, sebentar lagi aku ambil sekalian pulang," jawab Clara.
Tidak berselang lama suaminya menelepon, Clara segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum Sayang," sapa Clara.
"Waalaikum salam, Sayang maaf ya hari ini tidak bisa menjemput mu. Ada masalah di bagian keuangan di pabrik, sepertinya aku harus lembur sampai malam," ucap Juan.
"Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri. Apa terjadi hal serius di sana Sayang?" tanya Clara.
"Iya, laporan keuangan ada yang tidak sesuai. Sepertinya ada ya mencoba menggelapkan dana perusahaan," jawab Juan.
"Wah tega sekali, semoga segera terungkap ya. Kamu jangan lupa makan lo Sayang," pesan Clara.
"Iya Sayang, terima kasih,"
Setelah selesai Clara segera melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Tepat pukul 16.00 dia bersiap untuk pulang.
"Kak, aku pulang duluan ya," pamit Clara.
__ADS_1
"Kok buru-buru sekali, memangnya suami mu sudah menjemput?" tanya Bella.
Clara menggeleng.
"Aku pulang sendiri, dia katanya lembur hari ini," jawab Clara.
"Ya sudah kita turun sama-sama, ini juga sudah beres semua," ucap Bella.
"Memangnya Bagas tidak menjemput Kakak?" tanya Clara.
"Jemput, dia masih dalam perjalanan kesini," jawab Bella.
"Oh ya, kapan rencananya mau nikahnya Kak?"
"Insyaallah sekitar tiga bulanan lagi,"
"Wah tidak menyangka ya kita nikahnya berdekatan, semoga semua lancar. Amin," doa Clara untuk mereka.
"Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan?" tanya Bella.
"Belum, Kak,"
Mereka telah sampai di lobi kantor. Bella menunggu Bagas di lobi sembari berbicara dengan staf divisi lain, sedangkan Clara langsung pulang sembari mampir di pos satpam untuk mengambil paket.
"Tidak, katanya dia lembur," jawab Clara.
"Apa aku antar saja?" tanya Bagas.
"Tidak perlu, tinggal menyeberang juga sudah sampai kok. Mas mu saja itu yang terlalu kuatir kepada ku,"
"Hahaha, begitulah kalau sedang di mabuk cinta," Bagas menertawakan kebucinan Juan.
"Ya sudah sana, Kak Bella sudah menunggu di lobi," kata Clara.
"Eh itu apa?" tanya Bagas melihat Clara memegang bungkusan coklat seperti paket dari kurir.
"Oh ini paket untuk ku, tadi kurir menitipkan di pos satpam," jawab Clara.
"Aku sudah mendengar cerita Mas Juan tentang paket yang di kirim ke apartemen, lebih baik di buka saja takutnya membahayakan," pinta Bagas.
Clara membenarkan ucapan Bagas, ia harus waspada dengan paket-paket yang tidak jelas. Dia benar-benar sudah trauma, ia mengikuti saran Bagas dan membuka paket itu. Ternyata hanya sebuah kamera yang tampaknya normal, tidak ada hal lain di dalamnya.
__ADS_1
"Oh ini kamera, tidak ada apa-apa lagi di dalamnya," ucap Clara.
"Oh baiklah, aku tenang jika tidak ada yang membahayakan," balas Bagas.
"Ya sudah aku pulang duluan ya," pamit Clara.
Dia berjalan menyeberang menuju apartemennya. Satpam apartemen seperti biasa menyapanya dengan ramah, Clara pun menanggapi dengan ramah juga. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dia kembali melihat kamera tadi.
"Siapa yang mengirimi ku benda ini ya?" tanya Clara sembari memperhatikan kamera.
Tring... tring...
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, tampak notifikasi sms dari nomor yang tidak tersimpan di kontak nya muncul. Clara segera membuka sms itu.
[Nyalakan kamera itu, mereka akan aku lepaskan jika kamu meninggalkan putra ku! Aku tidak main-main, jika kamu memberi tahu Juan atau orang lain maka mereka semua tidak akan selamat!]
Clara shock membaca sms itu. Dia segera meraih kamera untuk menyalakannya, namun sebuah sms kembali masuk di ponselnya.
[Tinggalkan putra ku seolah kamu memang pergi, jangan sampai dia curiga. Kamu boleh membawa mahar yang dia berikan kecuali apartemen itu. Mereka semua akan aku lepaskan, setelah anak buah ku melihat kepergian mu. Cepat pergi dan jangan meninggalkan jejak!]
Clara segera menyalakan kamera itu, dia terperangah sampai menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ia melihat kedua orang tua dan kedua adiknya di ikat di kursi. Ya Allah, dia benar-benar tidak menyangka ayah Juan akan senekad ini untuk memisahkan mereka.
Clara menangis, dia di harapkan dengan pilihan yang sulit. Dia menyayangi keluarganya tapi juga mencintai suaminya. Ia bingung harus berbuat apa. Saat iya masih berpikir notifikasi sms kembali berbunyi.
[Waktu mu hanya 30 menit, jika aku belum melihat kamu keluar berarti kamu memilih mengorbankan keluarganya. Di mulai dari sekarang!]
Clara segera menelepon sahabatnya untuk mencari tahu kebenaran.
"Halo Jhony kamu sedang di mana?" tanya Clara tanpa basa basi.
"Aku sedang di rumah, memangnya ada apa?" Jhony balik bertanya.
"Apa keluarga ku semua di rumah?" tanya Clara lagi.
"Kata ibu tadi siang semua keluarga mu di jemput orang menggunakan mobil, tapi tidak tahu mereka siapa, aku baru tahu saat pulang kerja tadi. Aku melihat rumah mu sepi, lalu ibu bercerita pada ku," jawab Jhony.
"Memangnya kenapa, Clara?" tanya Jhony.
"Tidak apa-apa, ya sudah terima kasih," Clara langsung memutus panggilan.
'Clara kamu harus sabar, harus kuat. Kamu harus segera memutuskan' batin Clara.
__ADS_1
"Sayang maafkan aku, kita pasti akan dipertemukan lagi jika memang berjodoh. Aku harus menyelamatkan keluarga ku," ucap Clara sambil menangis sejadi-jadinya.