Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 114 Rencana Menikah Siri


__ADS_3

"Kita sudah merestui kalian sejak dulu, Nak," jawab pak Jarwo.


"Maksudnya saya ingin menikah secara agama dengan putri Bapak, jika saya sudah berhasil membujuk orang tua akan kami resmikan secara hukum," ucap Juan.


Juan memandang ke arah Clara, ia memang belum meminta persetujuannya namun ia yakin Clara tidak akan menolak. Cindy telah melahirkan, sesuai janjinya ia bersedia menikah jika Cindy sudah punya anak.


"Kalau Bapak setuju saja, terserah Clara jika memang bersedia di nikah siri dulu kita mendukung saja. Coba bapak ingin bicara dengannya sebentar," balas Pak Jarwo.


Juan segera memberikan ponsel itu kepada Clara.


"Ya, Pak," panggil Clara.


"Tunangan mu ingin menikah siri dulu dengan mu sembari menunggu restu dari orang tuanya, apa kamu tidak keberatan Nak?" tanyanya.


Clara terdiam sesaat, iya bingung harus menjawab. Sejujurnya ia ingin menikah dengan Juan setelah mendapat restu dari orang tuanya, menunggu Cindy punya anak hanya alasan agar bisa mengulur waktu sembari meluluhkan hati ayah Juan. Bukan ia tidak berusaha, selama ini dia sudah mencoba berbuat baik kepada ayah Juan, pernah membuatkan kue, makanan dan lain-lain. Awalnya ia menyukainya namun setelah istrinya memberi tahu jika Clara yang membuatnya, ia kembali memindahkannya. Setelah berpikir sejenak ia akhirnya menjawab.


"Jika memang itu yang terbaik, aku bersedia," jawab Clara.


"Alhamdulillah," semua orang yang mendengar serempak mengucap syukur.


"Ya sudah jika begitu nanti kami juga akan bersiap sekalian menjenguk kakak mu dan bayinya," ucap Pak Jarwo.


"Terima kasih ya Pak, saya juga akan segera menyiapkan segalanya," ucap Juan.


"Iya Nak, semoga kalian bahagia dan bisa menikah secara hukum," harap Pak Jarwo.


"Amin," semua mengamini.


Setelah selesai menelepon semua orang kembali fokus kepada si kecil Damar yang menggemaskan. Semua bergantian menggendongnya namun bayi mungil itu masih tetap nyenyak tidur seoalah tidak terganggu oleh suara berisik dari mereka. Karena adzan magrib berkumandang mereka pamit shalat dulu di mushalla rumah sakit.


Setelah shalat mereka memutuskan untuk makan dulu di kantin rumah sakit, perut mereka sudah menyanyi minta di isi. Tadi pulang kerja langsung ke tempat Cindy karena bahagia sehingga mereka belum makan.


"Mas Juan benar akan menikah siri? Kenapa tidak langsung menikah secara hukum saja?" tanya Bagas saat mereka tengah makan.


"Banyak pertimbangannya Gas, kalau boleh memilih pasti aku akan memilih menikah resmi. Tapi untuk saat ini itu adalah pilihan yang terbaik," jawab Juan.

__ADS_1


"Sayang maaf ya, aku belum bisa meresmikan hubungan kita secara hukum. Apakah kamu benar-benar tidak keberatan dan percaya kepada ku walau kita hanya menikah secara agama?" tanya Juan.


"Iya aku tidak keberatan, aku juga percaya kepada mu, Sayang," jawab Clara.


"Alhamdulillah, aku akan segera menyiapkan semuanya. Kita menikah di masjid dengan apartemen saja bagaimana?" tanya Juan lagi.


"Tidak masalah di mana saja, yang penting sah," jawab Clara.


"Lalu kamu ingin mahar apa dari aku?"


"Terserah kamu, yang penting tidak memberatkan kamu dan kamu ikhlas memberikannya,"


"Baiklah, kamu memang calon istri idaman,"


Bagas dan Bella hanya menyimak obrolan mereka. Mereka merasa lebih beruntung dari pasangan di depannya, kedua orang tua mereka sudah saling merestui, tidak berapa lama lagi mereka juga akan merencanakan pernikahan secara resmi.


"Ya sudah ayo kita kembali ke ruangan Cindy, aku sudah membelikan mereka makanan," ajak Juan.


Mereka kembali ke ruangan Cindy, saat melangkah masuk Cindy tampak sedang menyusui Damar sehingga Bagas dan Juan urung masuk, mereka memilih menunggu di luar agar Cindy nyaman menyusui.


"Wah dia suka sekali menyusu," ucap Bella.


"Oh ya ini ada makanan, ibu dan Kak Bima makan dulu biar kak Cindy aku suapin agar bisa sembari menyusui Damar," ucap Clara memberikan bungkusan makanan yang di beli Juan.


"Terima kasih ya, kalian yang tamu malah kita yang di belikan makan," balas ibu Bima.


"Tidak apa-apa Bu. Aku suapin ya Kak," Clara segera membuka makanan dan menyuapi kakaknya.


***


Dua hari kemudian pak Jarwo dan keluarga datang ke kota, tapi mereka langsung di antar ke tempat Cindy yang sudah pulang dari rumah sakit. Mereka sudah tidak sabar untuk menimang cucu mereka.


"Nak, kita langsung kerumah kakak mu dulu ya, kita ingin segera melihat dia dan bayinya," ucap Pak Jarwo di telepon.


"Ya, tidak apa-apa. Bapak berapa lama di sini?" tanya Clara.

__ADS_1


"Bapak akan kembali setelah urusan mu selesai, ternak dan semua di desa sudah bapak titipkan kepada saudara kita," jawab pak Jarwo.


"Ya sudah kalau begitu, insyaallah besok aku akan kesana bersama Juan," ucap Clara.


"Baiklah Nak, ayah tunggu ya," balas Pak Jarwo.


Setelah menutup panggilan, mobil mereka sudah sampai di halaman rumah Bima. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 tapi semua penghuni rumah masih menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Mereka segera berpelukan melepaskan semua kebahagiaan.


"Maaf ya Nak, kita baru bisa datang sekarang," ucap Bu Dina.


"Tidak apa-apa Bu, ayo kita masuk," ajak Clara.


"Terima kasih ya besan, sudah merawat dan menjaga putri dan cucu saya dengan baik," ucap pak Jarwo.


"Itu sudah kewajiban kami, ayo kita masuk," ajak ayahnya Bima.


Mereka masuk mengikuti arahan tuan rumah. Cindy segera menggendong Damar, ia tahu keluarganya pasti sangat ingin bertemu putranya.


"Aduh cucu nenek tampan sekali, persis Bima dan Cindy ya," ucap Bu Dina mulai menciumi Damar.


"Ya Ibu, ya pastilah mirip aku dan Bima, mana mungkin mirip Juan dan Clara," seloroh Cindy membuat semua tertawa.


pak Jarwo dan bu Dina bergantian menggendong cucunya, Damar yang di cium bergantian tetap tidur tidak terganggu keributan mereka. Karena waktu sudah tengah malam mereka semua memutuskan untuk beristirahat. Lelah selama perjalanan terbayar sudah saat bertemu dengan putri dan cucu tercinta.


Sekitar pukul 01.00 dinihari semua bangun karena mendengar tangisan Damar. Semua mengetuk kamar mereka karena penasaran cucu mereka tidak berhenti menangis.


Tok... tok... tok...


"Nak, Damar kenapa?" tanya Ibu mertuanya.


"Iya Nak, kenapa Damar menangis terus?" tanya ibunya.


Bima membuka pintu kamarnya. Cindy tampak menyusui Damar yang sudah berhenti menangis.


"Maaf Bu, tadi sepertinya Damar haus. Aku dan Cindy tidak tahu karena ketiduran, makanya dia menangis terus," jelas Bima merasa bersalah sudah membangunkan seisi rumah.

__ADS_1


"Aduh ibu kira kenapa, ya memang begitu kalau punya bayi Nak. Harus siap begadang tiap hari, karena kalau telat pasti menangis begitu. Dulu saja ketika kamu bayi, ibu sampai tidur sembari menyusui kamu, karena kamu kuat sekali kalau suruh nyusu," ucap Ibunya Bima.


Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa malu sekali.


__ADS_2