
"Aku baik-baik saja, Kak. Ini semua berkat doa kalian," ucap Clara.
"Bagaimana keadaan Jhony?" tanya Clara kuatir.
"Dia mengalami banyak pukulan, sepertinya Indra benar-benar marah kepadanya. Sekarang dia senang tidur, mungkin karena pengaruh obat yang tadi di minumnya," jawab Cindy.
"Besok Bella kemungkinan sudah boleh pulang, sebaiknya sekarang kalian pulang dan beristirahat di apartemen saja, biar mereka di jaga oleh perawat. Kalian juga butuh istirahat setelah kejadian mengerikan ini," ucap Juan.
"Iya, Sayang. Ayo kita pulang," balas Clara.
***
Beberapa hari kemudian keadaan sudah mulai normal, semua orang sudah menjalankan rutinitasnya kembali. Clara, Cindy dan Bella sudah ke kantor seperti biasanya. Namun Jhony masih di rumah sakit, hari ini ia akan pulang.
"Sayang, Jhony sebaiknya ikut kita pulang ke kampung. Sepertinya dia lebih aman di sana, ia bisa membuka usaha di sana. Aku takut Indra kembali menyakitinya jika dia tetap di kota," ucap Juan saat makan siang.
"Menurut ku juga begitu, itu pilihan terbaik untuknya sementara ini," balas Clara.
"Ya sudah nanti sebelum pulang ke desa kita sekalian jemput Jhony, dia sudah boleh pulang hari ini," ucap Juan.
Sepulang kantor mereka telah memutuskan untuk pulang kampung, karena lusa adalah acara lamaran Cindy. Mereka telah izin untuk 2 hari kedepan. Juan segera kembali ke tempat kerjanya setelah mengantarkan Clara kembali ke kantor.
Waktu bergulir sangat cepat, jam kantor telah usai. Mereka bergegas pulang untuk menyiapkan barang yang akan mereka bawa, sementara Juan menjemput Jhony di rumah sakit. Bella sebenarnya ingin ikut tapi dia tidak mungkin juga meninggalkan kantor mengingat Clara dan Cindy juga sudah izin, dia hanya bisa mendoakan acara Cindy semoga lancar.
Sehabis magrib mereka berangkat, Juan membawa serta sopir pribadinya agar dia bisa beristirahat. Sepanjang perjalanan mereka beristirahat dengan tenang. Mereka sampai di rumah Cindy saat tengah malam dan langsung beristirahat. Juan memilih tidur di ruang keluarga walaupun Clara dan Cindy sudah menyuruhnya tidur di kamar mereka, Juan menolak karena menurutnya wanita yang pantas tidur di kasur. Ia tidak menginap di rumah Jhony agar Jhony bisa beristirahat dengan tenang.
Keesokan hari saat matahari telah menampakkan sinarnya, Clara membangunkan Juan agar melanjutkan tidurnya di kamar saja.
"Sayang ayo bangun, pindah tidur di kamar ya," pinta Clara.
__ADS_1
"Sudah pagi ya, kamu mau kemana kok sudah wangi?" tanya Juan melihat kekasihnya sudah terlihat segar.
"Aku, ibu dan kak Cindy mau ke pasar dulu mau membeli keperluan untuk acara besok," jawab Clara.
"Aku antar ya, tapi aku mandi dulu," ucap Juan.
"Tidak perlu, kita pasti lama di sana biar kita naik angkot saja. Pak Nanang suruh istirahat di dalam saja Sayang, kasihan kalau di dalam mobil terus," balas Clara.
"Baiklah Sayang, hati-hati ya," pesan Juan.
"Iya, kalau masih ngantuk tidur di kamar saja ya," ucap Clara.
Juan mengangguk, namun ia bergegas ke kamar mandi. Setelah merasa segar ia memutuskan tidur lagi di kamar, karena rumah juga sepi tidak ada yang bisa di ajak mengobrol. Pak Nanang juga tampak sedang tidur nyenyak di dalam mobil sehingga Juan juga tidak enak menyuruhnya pindah ke dalam.
Saat Clara kembali setelah beberapa jam belanja, Juan sudah bangun dan sedang ngopi bersama calon mertuanya dan juga Jhony. Keadaan Jhony sudah membaik walaupun belum sembuh total namun tidak menghalanginya untuk membantu acara Cindy.
Kaum ibu sudah mulai berdatangan untuk membantu pekerjaan mereka membuat aneka hidangan dan kue untuk acara besok. Ramai sekali yang membantu membuat rumah sederhana itu penuh sesak sehingga pak Jarwo memasang terpal di samping rumah agar mereka merasa nyaman.
"Kamu belum tahu saja kalau ada nikahan, ibu-ibu akan bekerja sampai tengah malam bahkan hampir tidak istirahat. Tapi kalau bapak-bapak lebih banyak ngobrol sambil minum kopi daripada bekerjanya," sahut Jhony.
"Wah sangat seru sekali ya, kalau di kota sudah jarang sekali yang seperti itu," ucap Juan.
"Ya begitulah kalau di sini, saudara, teman, tetangga semua saling membantu jika sedang ada hajatan," sahut pak Jarwo.
"Keluarga Bima kapan datangnya katanya, Pak?" tanya Juan.
"Katanya mereka berangkat nanti malam, jadi masih bisa istirahat sebentar sebelum acara di mulai," jawab pak Jarwo.
"Semoga semua berjalan dengan lancar ya, Pak," ucap Juan.
__ADS_1
"Amin," semua mengamini ucapan Juan.
Hari ini di rumah Cindy begitu sibuk, namun karena hanya acara lamaran tidak begitu banyak yang mereka lakukan layaknya acara pernikahan. Hari ini kaum wanita banyak melakukan banyak pekerjaan sehingga merasa sangat lelah dan tidur lebih awal.
Keesokan paginya rombongan Bima telah tiba dengan selamat, mereka di dipersilahkan untuk istirahat terlebih dahulu sebelum acara di mulai.
"Sebenarnya saya kurang setuju dengan pernikahan mereka, karena tidak cocok dalam perhitungan jawa," ucap salah seorang keluarga Bima.
"Tante, tolong jangan bicara begitu. Bukankah kita sudah pernah membahasnya, tolong hargai keputusan kami," balas Bima.
"Tante hanya berpendapat, terserah kalian mau menerima atau tidak," ucapnya kesal.
"Maafkan tante saya ya Pak, dia memang begitu," ucap Bima.
"Tidak apa-apa Nak Bima, makanya dari awal saya minta pendapatnya agar kedua belah pihak tidak ada yang merasa bersalah," ucap Pak Jarwo.
Tepat pukul 09.00 acara di mulai. Banyak yang menyaksikan acara lamaran ini, selain dari pihak keluarga para tetangga juga ikut berpartisipasi. Semua bawaan dari pihak Bima telah di susun dengan rapi.
Pertama-tama Orang tua Cindy sebagai tuan rumah melakukan sambutan. Setelah itu keluarga Bima menanggapinya. Alhamdulillah acara berjalan lancar sampai selesai. Semua merasa bahagia dengan acara ini, mereka berharap keduanya berjodoh hingga maut memisahkan walaupun dalam hitungan jawa mereka berdua tidak cocok.
Setelah acara selesai semua menyantap hidangan yang tersedia dengan lahap. Setelah selesai mereka membicarakan acara pernikahan yang akan berlangsung sekitar 5 minggu lagi. Rencananya resepsi pernikahan akan di adakan di dua tempat namun akad tetap di rumah mempelai wanita.
"Iya, kami setuju saja Pak. Kami mengerti Bima adalah anak tunggal jadi pasti ingin merayakan hari yang sakral itu," ucap Pak Jarwo menanggapi keinginan calon besannya.
"Alhamdulillah kalau begitu, kami sangat senang mendengarnya. Semoga anak kita berjodoh sampai di akhirat," balas ayah Bima.
"Amin," semua mengamini ucapan beliau.
Setelah shalat dzuhur rombongan Bima meminta izin untuk segera kembali ke Surabaya. Keluarga Cindy memberikan mereka makanan dan kue untuk di perjalanan.
__ADS_1
Sore harinya Juan dan rombongan juga kembali ke Surabaya karena besok sudah mulai bekerja. Jhony tampak sedih melihat kepergian sahabatnya, namun untuk sementara bersama keluarga adalah pilihan terbaik untuknya.