
"Sayang, jangan begitu dong. Kamu tidak menghargai pemberianku," kata Juan bersedih.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Clara mengalah. Sebenarnya dia senang mendapat hadiah seperti itu, namun orang tua Juan pasti makin berpikir dia benar matre. Sejujurnya ia tidak ingin hadiah apapun, cukup Juan selalu di sampingnya sudah membuatnya sangat bahagia.
"Baiklah, aku akan tinggal di sini," putus Clara mengalah.
"Syukurlah, terima kasih ya Sayang. Kita ambil baju kalian di kontrakan dulu, atau mau mandi di sini saja?" tanya Juan sangat senang.
"Kita ambil baju saja, nanti sekalian mandi di sana. Aku juga mau titip uang untuk ibu, besok atau lusa dia mau pulang ke desa, ibunya sakit." jawa Clara.
"Oh, apa kamu tidak ingin menjenguk keluargamu di desa, Sayang?" tanya Juan.
"Sebenarnya sudah rindu sekali, tapi belum ada waktu. Hanya capek di jalan kalau kita memaksakan pulang," jawab Clara terlihat sedih.
"Mau aku antar Sayang?" tanya Juan serius.
"Jangan, kamu pasti capek. Desaku 5 jam-an dari sini. Biarlah lain waktu kita pulang," jawab Clara.
"Tidak apa-apa, aku bawa sopir. Nanti sabtu pulang kerja kita berangkat, jadi bisa istirahat di mobil. Minggu sore kita pulang. Sebentar tidak masalah, yang penting bisa ketemu keluarga," kata Juan memberi saran.
"Apa tidak boros, Juan?" tanya Clara.
"Kenapa sih kamu selalu memikirkan uang, uang bisa di cari Sayang. Yang penting kamu bahagia." kata Juan sungguh-sungguh.
"Aku hanya merasa kamu terlalu sering mengeluarkan uang untukku, dan itu tidak sedikit. Aku merasa menjadi bebanmu," ucap Clara terus terang.
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu, kamu adalah calon istriku. Semua yang aku miliki akan menjadi milikmu juga. Berhentilah berkata begitu, Sayang," kata Juan sambil menggenggam tangan Clara.
Mereka segera kembali ke kontrakan Januar. Setelah membersihkan badan dan menunaikan kewajiban sebagai umat islam, mereka berbincang di ruang tv. Jhony pun terlihat tengah bergabung dengan mereka.
"Jhon, kata Clara kamu mau pulang kampung ya?" tanya Juan memulai pembicaraan.
"Iya nih, rencananya besok atau lusa," jawab Jhony.
__ADS_1
"Kita bareng saja nanti pulangnya. Besok sehabis pulang kerja, karena Clara dan Cindy juga rindu orang tuanya. Naik mobilku saja biar nanti aku bawa sopir agar kita bisa istirahat sepanjang perjalanan." kata Juan.
"Wah asyik, pasti seru. Keluarga kita pasti senang." kata Jhony terlihat sangat gembira.
Clara dan Cindy segera mengemasi barang-barangnya, sedangkan Juan asyik mengobrol dengan Jhony. Selesai berkemas mereka pamit untuk pergi. Terlihat gurat kesedihat di wajah ketiga sahabat itu, namun Juan berhasil menghibur mereka. Juan mengatakan Jhony boleh berkunjung ke apartemen jika merindukan mereka.
Sesampai di apartemen Juan langsung berpamitan agar para gadis bisa istirahat dengan nyaman dan menata barang-barang mereka sesegera mungkin. Hari ini begitu melelahkan, semua beristirahat dengan nyenyak setelah berkemas untuk persiapan pulang kampung, besok sore.
"Clara cepat bangun, ini sudah jam 07.00 loh," kata Cindy sembari menggoyang-goyang tubuh adiknya.
"Duh kenapa aku masih mengantuk sekali ya, Kak," jawab Clara dengan mata setengah terbuka.
"Pasti karena kita tidurnya kemalaman, masih menata barang, belum lagi masih berkemas untuk pulang nanti. Cepat sana mandi, jangan sampai telat." kata Cindy.
Clara segera mandi dan bersiap. Jam 7.30 mereka telah selesai, tinggal turun kebawah dan menyeberang jalan ke gedung kantor mereka. Namun tanpa di duga lift sedikit bermasalah dan butuh sedikit perbaikan, membuat mereka sedikit terlambat.
"Maaf ya Kak, kita terlambat." kata Clara dengan napas masih ngos-ngosan.
"Iya, maaf ya, Kak," kata Cindy merasa bersalah.
"Jadi aku sama Kak Cindy sekarang tinggal di gedung sebelah, Juan memaksaku untuk menempati apartemen itu. Tapi tadi saat berangkat kerja tiba-tiba lift rusak dan diperbaiki, jadi kita nunggu." jelas Clara.
"Wah kamu tinggal di apartemen? Beruntung sekali, Pak Juan itu ternyata sangat mencintaimu ya. Semoga kalian selalu bahagia," kata Bella terkejut.
Dia tidak sadar ucapannya sangat keras, sehingga membuat telinga Riska menjadi panas mendengarnya. Jiwa irinya meronta mendengar pembicaraan mereka.
Clara dan Cindy bekerja dengan baik. Walaupun pikiran mereka telah berangan sampai di desa tapi tidak membuat mereka lalai dari tanggung jawab.
"Wah mau berlibur kok tidak ngajak-ngajak sih, suasana desa pasti menyenangkan," kata Andre menanggapi cerita Juan.
"Ini juga mendadak kok. Hanya sehari saja di sana, karena kita punya tanggung jawab pekerjaan." jawab Juan.
"Sebenarnya tidak apa-apa kalau tidak masuk, asal jangan lama-lama." kata Andre serius.
__ADS_1
"Ah jangan Pak, kita baru kerja di sini masak sudah mau libur. Tidak enak sama karyawan lain, kita juga masih bisa pulang lagi kalau ada waktu." sahut Cindy.
"Terserah kalian saja, hati-hati di jalan ya," kata Andre melepas kepergian mereka.
Mereka pulang ke apartemen, membersihkan diri dan mengambil barang yang akan mereka bawa. Setelah itu menjemput Jhony lalu berangkat menuju kampung mereka. Sepanjang perjalanan semua tertidur pulas. Hanya Jhony yang terlihat menemani sopir mengobrol di jok depan. 5 jam perjalanan telah terlewati, akhirnya mereka telah sampai di tujuan tepat tengah malam.
"Kenapa mobilnya berhenti? Apa kita telah sampai?" tanya Clara terlihat mengucek matanya.
"Iya, kita sudah sampai rumah," jawab Jhony.
"Yaudah kita langsung istrahat saja ya Jhon, besok kita kerumahmu mau jenguk bu Tini," kata Clara.
"Iya, aku juga sudah ngantuk sekali. Oh ya bagaimana kalau Juan nginap di rumahku saja, di rumahmu tidak ada tempat lagi Clara." kata Jhony memberi saran.
"Boleh, tidak apa-apa. Tidak enak juga nginap di tempat Clara, takut ada fitnah." jawab Juan setuju.
"Ya sudah sampai ketemu besok ya, Sayang" kata Clara kemudian melangkah ke rumahnya.
Keluarga mereka sangat terkejut, namun mereka sadar anak mereka lelah setelah perjalanan jauh, jadi mereka menyuruh segera beristirahat.
Pagi sekali Bu Dina telah ke pasar, ia membeli bahan masakan yang banyak. Kedua putrinya telah kembali, ia ingin memasak makanan favorit mereka.
"Wah tumben Ibu beli sayur dan ikan banyak, apa akan ada acara, Bu?" sapa seorang pemuda tampan ketika berpapasan di jalan.
"Eh, Nak Dika. Ini Clara sama Cindy baru pulang semalam, jadi mau masak makanan kesukaan mereka," jawab Bu Dina sumringah.
"Oh Clara pulang, Bu? Apa tidak kembali lagi ke kota?" tanya pria itu antusias.
"Nanti sore sudah balik lagi, karena senin sudah harus bekerja lagi katanya. Ibu duluan ya, Nak," jawab Bu Dina.
"Boleh saya bertemu Clara, bu?" tanya pria itu.
"Boleh, dia sudah bangun. Tadi ibu berangkat ke pasar dia lagi salat." jawab Bu Dina.
__ADS_1
Hati Dika begitu gembira, akhirnya bisa berjumpa dengan orang yang ia sukai lagi. Ia berencana untuk menembak Clara kembali sebelum ia balik ke kota. Dulu Clara belum menjawab perasaannya dengan alasan mau menyelesaikan sekolah terlebih dahulu. Sekarang gadis itu sudah bekerja, ia tidak bisa beralasan lagi. Dika sangat yakin Clara akan menerima cintanya.
'Biarlah menjalani LDR-an, yang penting Clara menjadi milikku' batin Dika.