
"Saya masih sendiri Mas, belum kepikiran untuk mencari kekasih, ingin fokus cari uang dulu," jawab Sinta.
"Wah pemikirannya sama dengan Jhony, mungkin kalian memang jodoh," sahut bu Tini spontan lalu menutup mulutnya saat tersadar.
Mata keduanya membulat mendengar ucapan bu Tini, keduanya tampak memandang bu Tini penuh arti kemudian keduanya saling bertabrakan sejenak namun selanjutnya sama-sama menunjuk karena salah tingkah.
"Maafkan ibu ku ya Sin, dia memang terkadang suka sembarangan jika bicara," ucap Jhony.
"Tidak apa-apa Mas, Bu Tini tidak salah kok," balas Sinta.
'Kenapa dia membela ibu, apa jangan-jangan dia sudah tahu tentang rencana perjodohan itu? Tapi bukankah tadi dia bilang masih belum memikirkan punya kekasih?' batin Jhony jadi bertanya-tanya.
"Ya sudah aku pamit dulu ya Mas, Bu. Oh ya kapan-kapan main ke rumah Mas," ucapnya.
"Iya terima kasih ya Nak, salam sama ibu mu ya," balas bu Tini.
"Iya, insyaallah aku main kesana," jawab Jhony.
"Dia cantik kan Jhon, baik dan sopan lagi," ucap Bu Tini setelah Sinta tidak lagi terlihat.
"Iya Bu, Jhony tahu. Tapi Ibu juga harus menjaga perasaannya, jangan bicara sembarangan karena belum tentu dia suka," ucap Jhony.
"Tapi sepertinya dia menyukai mu Jhon, ibu sebagai wanita juga bisa menilainya,"
"Belum tentu Bu, siapa tahu dia hanya tidak ingin menyakiti kita,"
"Ah sudahlah Jhon, percuma bicara dengan mu. Ibu hanya bisa berdoa semoga kamu segera bisa menikah, dengan siapa pun ibu setuju yang penting orangnya baik dan bisa menerima keadaan keluarga kita," kata bu Tini lalu meninggalkan Jhony sendiri.
"Oh Tuhan, buatlah ibu ku mengerti jika putranya ini masih belum siap menikah," Jhony berdoa.
***
__ADS_1
Hari berlalu silih berganti, tak terasa hari pernikahan Cindy tinggal dua hari lagi. Hari ini adalah hari terakhir Cindy bekerja sebelum mengambil cuti nikah. Mereka sudah mempersiapkan semua yang di perlukan, sehingga sepulang kantor tinggal berangkat saja.
Cindy sangat cemas sekali, mungkin karena sebentar lagi statusnya akan segera berubah. Ia tidak akan sendirian lagi menjalani hidup, setelah ini mungkin dia akan memilih mencari pekerjaan lain saja karena kalau dari rumah Bima kantornya sekarang lumayan jauh.
Sepulang kantor mereka segera kembali ke apartemen, tidak berapa lama Juan datang untuk membantu mereka membawa barang-barang yang di perlukan. Mereka membawa cukup banyak barang karena akan di sana selama tiga hari, entah untuk Cindy akan menghabiskan masa cirinya di sana atau segera kembali bersama suaminya.
"Sayang, apa ini sudah semua atau masih ada lagi yang akan dibawa lagi?" tanya Juan.
"Sudah, hanya ini saja kok," jawab Clara.
Mereka membawa semua barang di bantu Juan dan juga sopir pribadinya ke dalam mobil. Setelah semua sudah di masukkan mereka segera berangkat. Sepanjang perjalanan mereka memilih beristirahat agar besok tubuh merasa fit.
Keesokan harinya, semua orang sudah bangun sejak pagi. Tenda pernikahan sudah di pasang, karena resepsi akan di laksanakan nanti setelah akad nikah sehabis shalat jumat. Juan dan Jhony membantu menata kursi dan meja untuk para undangan, sedangkan Clara membantu ibu-ibu memasak di dapur.
"Nak tolong tanyakan keluarga Bima sudah sampai di mana, ini sudah jam 8 tapi mereka belum juga tiba," pinta pak Jarwo kepada Juan.
"Baik, Pak," jawab Juan lalu segera mengambil ponsel dan menghubungi Bima.
"Halo Bima, kamu sudah sampai di mana? apa di perjalanan ada masalah?" tanya Juan.
"Oh ya sudah kalau begitu, akan aku sampaikan. Hati-hati di jalan," ucap Juan lalu memutus panggilan.
Ia menyampaikan pesan Bima kepada Pak Jarwo, beliau akhirnya lega. Begitulah jika mempelai jarak rumahnya berjauhan, pasti sedikit banyak ada rasa kuatir karena harus menempuh perjalanan yang jauh.
Sesuai perkiraan setelah satu jam rombongan keluarga Bima tiba di sana, mereka membawa banyak sekali seserahan berupa kue, buah serta barang-barang untuk Cindy. Keluarga Cindy menyambut mereka dengan ramah, mereka mempersilahkan mereka untuk makan terlebih dahulu. Karena rombongan mereka banyak sehingga kaum pria memilih duduk di teras rumah.
"Bima cepatlah masuk kamu harus segera bersiap untuk acara akad," ucap Juan.
"Oh iya, baiklah," balas Bima.
"Sebentar lagi kalian akan resmi menikah, jagalah Cindy seumur hidup mu. Memilikinya membutuhkan perjuangan panjang yang tidak mudah, jadi jangan pernah sia-siakan dia ya," ucap Juan memberi nasehat.
__ADS_1
"Iya, aku akan selalu mengingatnya. Terima kasih ya, semua ini juga berkat bantuan mu hingga bisa sampai ke tahap ini," balas Bima.
"Sama-sama. Cepatlah masuk, mereka sudah menunggu mu," suruh Juan.
Bima mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar. Ia segera berganti pakaian lalu perias mulai mendandaninya agar terlihat lebih sedap di pandang. Ia belum melihat calon pengantinnya karena Cindy sedang di dandan di kamar sebelah.
Waktu yang di tunggu-tunggu telah tiba, akad nikah akan segera di laksanakan di ruang tamu keluarga Cindy di hadiri para saksi serta para tetangga yang menonton di luar rumah.
Bapak menghukum nampak melihat berkas-berkas pernikahan dan berbicara sebentar dengan mempelai pria.
"Nak Bima sudah hapal ijab kabulnya ya?" tanya pak penghulu.
"Insyaallah hapal, Pak," jawab Bima mantap.
Ia telah belajar hampir sebulan untuk menghapalkan ini semua Karena orang tuanya sudah mewanti-wanti agar jangan sampai salah.
Setelah pak penghulu memberi sambutan dan wejangan maka di mulailah ijab kabul yang akan di lakukan langsung oleh Pak Jarwo sebagai wali dari mempelai wanita. Raut tenang terpampang jelas di wajah setiap orang, karena pernikahan bukan hanya menyatukan hubungan cinta antara dua insan tapi akan di diserahkannya tanggung jawab orang tua mempelai wanita kepada pengantin pria.
Pak Jarwo menjabat tangan Bima dan segera melaksanakan ijab kabul.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Bima Yuda Pratama Bin Baskoro Putra Utomo dengan anak saya yang bernama Cindy Janitra dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat, uang tunai senilai dua juta dua ratus dua puluh dua ribu dua ratus rupiah dan emas seberat 5 gram dibayar tunai,"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Cindy Janitra binti Jarwo Sastro Wardoyo dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai,"
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu.
"Sah," ucap para saksi serempak.
"Alhamdulillah,"
Setelah melakukan doa penutup, kedua mempelai segera menandatangani buku nikah. Setelah kegiatan foto selesai sebagai bentuk pendokumentasian akad nikah, mereka bersalaman dengan para hadirin.
__ADS_1
Suasana menjadi mengharu biru karena bahagia yang tidak terlukiskan. Clara segera memeluk kakaknya dan menangis bahagia.
"Selamat ya, Kak. Semoga sakinah, mawaddah, wa rahmah," ucap Clara di sela tangisnya.