
Beberapa hari kemudian.
Juan dengan sabar menunggu kedatangan sahabatnya di bandara, bahkan dia datang lebih awal saking senangnya akan bertemu Andre kembali. Ia sangat berharap pria itu bisa membantunya menemukan Clara, karena Bagas dan anak buahnya sampai sekarang belum berhasil menemukannya.
Juan memberi kabar kepada Andre jika ia menunggunya di cafe bandara, sambil memesan kopi vanila latte ia coba menghubungi nomor istrinya lagi. Hampir setiap hari ia mencoba, namun nomornya tetap saja tidak aktif. Sudah setengah jam Juan duduk melamun, ia tidak sadar Andre sudah tiba dan sedang memandangnya.
Andre begitu miris melihat keadaan Juan yang dalam waktu sekejap badan atletisnya menjadi lebih kurus, lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya pertanda ia jarang bisa tertidur. Kulitnya menjadi putih pucat seperti mayat hidup. Keadaannya sepertinya lebih parah darinya dulu, Juan benar-benar kehilangan Clara. Tak terasa bulir-bulir air mata menetes membasahi pipinya, kesakitan Juan seperti mampu ia rasakan. Dengan cepat ia menyeka air matanya dan mengatur sikapnya agar tampak biasa saja.
"Apa kabar sahabat ku, sudah lama sekali tidak berjumpa," sapa Andre sembari merangkul Juan.
"Seperti yang kamu lihat, aku sedang tidak baik-baik saja," ucap Juan sedih.
"Nanti kamu harus ceritakan semua kepada ku, sekarang kita mau kemana?" tanya Andre.
"Terserah kamu saja," jawab Juan tak bersemangat.
"Ayolah jangan seperti ini, kamu harus semangat. Setidaknya demi aku yang sudah jauh-jauh datang untuk mu," pinta Andre.
"Maaf ya, menyemangati orang lain ternyata lebih mudah daripada menyemangati diri sendiri," ucap Juan.
"Ya dari dulu memang seperti itu," balas Andre.
Keduanya tertawa bersamaan, Andre senang Juan masih ingat cara untuk tertawa. Ia benar-benar harus membantunya, Juan sangat membutuhkan dukungannya. Mereka memutuskan ke apartemen Juan agar Andre bisa istirahat sambil mengobrol.
"Jadi bagaimana ceritanya, kenapa Clara bisa sampai pergi?" tanya Andre saat mereka sudah di apartemen.
"Aku juga tidak tahu, karena sebelumnya aku meneleponnya saat dia pulang kerja dan dia terlihat baik-baik saja. Hari itu aku lembur, jadi baru tahu dia pergi saat sudah malam," jawab Andre.
"Apa tidak ada hal yang mencurigakan sebelumnya? Atau ada yang melihat keberadaannya sebelum kejadian?" tanya Andre lagi.
"Bagas sempat bertemu dengannya saat akan menjemput Bella, dia menerima paket yang berisi kamera. Karena tidak menganggap itu berbahaya Bagas mengizinkannya membawa benda itu, dia lalu pulang ke apartemen," jawab Bagas.
"Bisa di simpulkan kamera itu pasti penyebabnya, kunci jawaban ada pada kamera itu," ucap Andre.
__ADS_1
"Iya, tapi kamera itu tidak ada di mana-mana," balas Juan.
Keduanya tampak berpikir, mereka sedang memposisikan diri sebagai Clara yang akan pergi. Pasti ada petunjuk yang bisa di gunakan untuk menemukan keberadaannya.
"Apa tidak ada yang mengetahui saat dia pergi sama sekali?" tanya Andre.
"Ada, satpam apartemen sempat menyapanya dan dia juga menjawabnya seperti biasa. Tidak ada hal yang mencurigakan, katanya dia pergi dengan taksi. Kita kesulitan melacaknya karena di sini belum di pasang CCTV," jawab Juan.
Andre terlihat menyimak cerita Juan dengan baik. Ia terlihat mengangguk-anggukkan kepala, lalu tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"Ayo ikut ke kantor ku," ajak Andre menarik tangan Juan.
"Buat apa Dre, aku sedang tidak ingin membahas bisnis," tolak Juan.
"Aku juga tidak sedang membahas bisnis, ayo ikut saja katanya ingin menemukan istri mu,"
Andre menarik tangan Juan sehingga ia tidak bisa menolak, Andre mengajaknya menyeberang dan meninggalkan mobil tetap di apartemen. Juan bingung karena Andre mengajaknya ke ruang kontrol.
"Dre cukup aku yang sudah menjadi setengah gila, kamu jangan sampai tertular," ucap Juan.
Andre menanyakan tentang hari, tanggal dan waktu kejadian menghilangnya Clara. Ternyata ia mengecek CCTV di perusahaannya yang berada di luar, Juan lupa jika kantor Andre dan apartemen hanya di pisahkan jalan raya, jadi sangat memungkinkan untuk melihat kejadian di seberang dari kantor Andre.
Andre melihat rekaman cctv dari saat Clara pulang kantor dan sedang membuka paket bersama Bagas, masih terlihat normal. Hati Juan kembali sedih melihat istrinya, ia tidak tahan untuk tidak menangis. Andre berusaha untuk menguatkannya. Ia mempercepat rekaman di rentang waktu sebelum Juan pulang.
"Itu dia, itu Clara Dre," teriak Juan.
"Coba perbesar plat nomor taksinya," perintah Andre kepada teknisinya.
Pria itu menuruti perintah Andre, Andre segera mencatat plat nomor taksi tersebut. Ia segera menelepon contact center taksi tersebut. Setelah menjelaskan duduk permasalahannya ia di arahkan untuk menghubungi langsung kantor cabang di surabaya, Andre meminta nomor telepon dan juga alamat kantornya.
"Semoga Clara segera di temukan ya, kamu harus sabar," ucap Andre.
"Terima kasih ya, aku berhutang budi pada mu," balas Juan.
__ADS_1
"Kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama untuk ku, jika aku dalam posisi mu. Ayo cepat kita ke kantor taksi itu,"
Mereka segera berangkat mencari kantor taksi itu, harapan mereka sangat besar untuk mendapatkan informasi tentang kemana Clara pergi. Setelah sekitar satu jam mencari akhirnya mereka menemukannya. Wajah mereka terlihat sangat bahagia sekali.
"Maaf, Bapak-bapak ini siapa dan ada kebutuhan apa ya?" tanya petugas keamanan kantor tersebut.
Mereka segera menjelaskan maksud kedatangan mereka ke kantor itu. Petugas segera menelepon atasannya, setelah di izinkan mereka di suruh menunggu sebentar.
"Pak, Saya sudah memanggil sopir taksi itu ke kantor ini. Silahkan di tunggu dulu ya, dia masih mengantarkan penumpang sebentar," ucap supervisornya.
"Baik Pak, terima kasih sudah mau membantu," balas Juan.
"Saya berharap istrinya bisa segera di temukan," ucap supervisor itu lagi.
"Amin,"
Mereka menunggu dengan tidak sabar, waktu terasa sangat lama berputar. Juan terlihat mondar mandir, Andre mengerti kegelisahan sahabatnya itu.
"Kenapa lama sekali sih," ucap Juan.
"Sabar, mungkin tujuan penumpangnya jauh. Duduklah dulu, Juan," hibur Andre.
Juan menurut, ia kembali duduk di kursinya namun tak berapa lama ia bangkit dan mondar mandir lagi.
"Pak Iman sudah datang, beliau akan segera menemui Anda," ucap sang supervisor.
Beberapa menit kemudian tampak seorang pria setengah baya memasuki kantor, ia segera menghadap ke supervisor tadi. Setelah berbicara sebentar, pria itu menghampiri Juan dan Andre yang telah lama menunggu.
"Maaf, nama saya Iman. Katanya Bapak berdua ada perlu dengan saya, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Iman sopan.
"Tolong beri tahu kemana istri saya pergi, Pak?" tanya Juan.
"Istri Bapak siapa? Saya tidak mengerti?" tanya pak Iman bingung.
__ADS_1
"Begini Pak, istri teman saya pergi dengan menggunakan taksi yang Bapak kemudikan. Ini fotonya, dia menghilang sampai sekarang. Namanya Clara," jelas Andre sembari menunjukkan foto Clara.
"Nak Clara..."