
"Ayo Sayang, kita cari lagi," ajak Juan saat sudah selesai makan.
"Ayo," jawab Clara singkat.
Mereka mulai mencari lagi, tapi sudah beberapa tempat mereka kunjungi, tidak satupun yang Juan suka.
"Sayang, aku sudah lelah. Kamu juga pasti sudah sangat lelah dari pulang kerja belum istirahat. Ini sudah jam 8 malam, kita pulang saja ya. Besok pulang kerja sekalian kita cari lagi bersama Cindy ya," kata Juan. Terlihat gurat kelelahan diwajahnya.
"Iya, terserah kamu," jawab Clara yang juga merasa sangat lelah.
Mereka akhirnya pulang. Karena sudah terlalu lelah, sehabis membersihkan diri mereka langsung istirahat dengan nyenyak.
***
Keesokan harinya.
"Jhon, kamu jadi pulang kampung kapan?" tanya Cindy.
"Hari ini aku masih kerja, mungkin besok atau lusa." jawab pria itu.
"Oh ya sudah kalau begitu," ucap Cindy.
"Memangnya kenapa Cin?" tanya Jhony.
"Rencananya mau titip uang untuk ibu, kita semua kan udah gajian," jawab Cindy.
"Oh... apa kalian tidak ingin pulang? udah sebulan kita pergi, rasanya rindu dengan suasana desa." ujar Jhony.
"Sepertinya belum bisa pulang Jhon, belum ongkosnya pulang-pergi. Apalagi aku baru kerja beberapa hari, tidak mungkin sudah harus izin tidak masuk. Libur hanya sehari, lelah di perjalanan saja." jawab Clara beropini.
"Kalau soal biaya aku bisa tanggung, tapi kamu benar pasti lelah di perjalanan. Tidak apa-apa, jangan bersedih ya. Nanti jika aku di sana, aku akan meneleponmu agar bisa bicara dengan keluarga kalian," kata Jhony menghibur sahabatnya.
"Wah ide bagus itu, Jhon," jawab Clara
merasa senang.
"Yaudah aku duluan ya, kalian cepat siap-siap. Sebentar lagi pasti Juan datang." kata Jhony kemudian berlalu, naik ke taksi yang telah ia pesan.
"Jhony keren sekarang ya Kak, penampilannya makin ok. Pulang pergi kerja naik taksi pula. Bosnya baik sekali." kata Clara sambil tak lepas memandang kepergian sahabatnya.
"iya, alhamdulillah sudah ada yang sukses. Semoga kita segera menyusul ya, amin," kata Cindy.
"Amin," sahut Clara.
"Temani aku bersiap, Clara. Aku bingung memakai baju apa," kata Cindy sambil menarik Clara ke dalam kamar.
__ADS_1
"Kalau mau pinjam bajuku juga tidak apa-apa Kak, mungkin ada yang cocok," kata Clara, lalu membuka lemari pakaiannya.
"Ini hari pertama Kakak kerja, harus memberi kesan yang baik. Sini aku pilihin sama aku dandanin ya," kata Clara sambil tersenyum.
Cindy pasrah, ia memakai baju yang Clara pilihkan. Ia juga tidak protes ketika Clara mendandaninya. Hasilnya membuat Cindy terlihat berbeda, cantik sekali.
"Wah aku jadi terlihat cantik begini, aku malu Clara. Biasanya aku tak pernah berdandan." kata Cindy sambil memandangi wajahnya di cermin.
"Kakak sekarang bekerja di kantor, jadi harus berdandan walaupun sedikit. Coba nanti Kakak lihat, semua wanita di kantor memoles diri mereka. Bahkan ada yang menor banget loh Kak, sampai seperti ondel-ondel. Hahaha...." cerita Clara, membuat keduanya tertawa.
"Aku takut Clara, bagaimana jika aku tak bisa bekerja? Bagaimana jika banyak yang tidak menyukaiku?" tanya Cindy, mulai resah.
"Ada aku Kak, tenang saja aku pasti membantumu. Kak Bella dan Pak Andre juga sangat baik kok, jangan terlalu kuatir," kata Clara mencoba menenangkan Cindy.
"Juan kemana ya, sampai aku selesai berdandan belum juga datang. Apa jangan-jangan dia ketiduran ya, semalam kita cari kontrakan sampai lelah sekali." kata Clara.
"Wah kasihan sekali, coba kamu telepon Clara. Mungkin dia sakit atau kenapa gitu," kata Cindy terlihat kuatir juga.
"Kakak benar, coba aku telepon dulu." kata Clara, mulai menghubungi Juan.
"Tidak di angkat, Kak," kata Clara sedih.
Ketika kedua gadis itu termenung, terdengar suara mobil berhenti di depan. Mereka kompak langsung bergegas ke depan.
"Juan, aku pikir kamu ketiduran karena kelelahan semalam," kata Clara.
Clara dan Cindy hanya mengangguk.
"Wah Cindy terlihat berbeda, cantik. Aku sampai pangling," puji Juan dengan tulus.
"Ini semua berkat Clara, aku harus berterima kasih kepadanya," kata Cindy malu-malu.
"Itu karena Kakak memang cantik," puji Clara tulus.
"Ya sudah ayo kita berangkat," ajak Juan.
Sampai di Adi Jaya Group mereka langsung ke ruangan Andre. Karena belum masuk waktu kerja, Clara ikut serta. Ternyata Andre sudah menunggu mereka.
"Wah bos ini disiplin sekali, jam segini sudah di kantor." goda Juan melihat Andre sibuk dengan pekerjaannya.
"Sial*n kamu, ini karena kamu. Kalau tidak aku pasti masih memeluk gulingku," kelakar Andre membuat semua tertawa.
"Oh ya Dre, ini Cindy Kakaknya Clara yang aku ceritakan." kata Juan.
Cindy memperkenalkan diri kepada Andre.
__ADS_1
"Wah orang tua kalian ngidam apa sih, punya anak kok cantik-cantik begini," kata Andre terus terang.
"Makanya cepat cari calon istri biar tidak sendiri terus, biar ada yang ngurusin. Biar matanya tidak kemana-mana kalau lihat gadis cantik. Hahaha..." kata Juan mengejek Andre.
"Awas saja kalau sudah dapat, akan aku pamerkan ke seluruh dunia." kata Andre mencebikkan mulutnya.
"Cindy kamu langsung ikut Clara saja nanti, mejamu biar dia yang kasih tahu ya. Nanti Bella dan Clara akan membantumu," kata Andre.
"Tidak wawancara, Pak?" tanya Cindy polos.
"Hahaha... Kamu sama Clara ternyata sama naifnya. Tidak perlu, kalian langsung ke ruangan saja." kata Andre.
Clara dan Cindy pun berpamitan.
"Clara dan Cindy kok bisa lucu begitu ya, aneh." kata Andre masih terkekeh.
"Ya begitulah, Jhony dan Januar sahabat mereka juga hampir sama. Mungkin karena mereka lama tinggal di desa jadi begitu, tapi aku suka dengan ketulusan mereka." jelas Juan lebih lanjut.
Bella dan Clara mengajari Cindy dengan sabar. Membuat Riska yang melihat bertambah dongkol. Cindy berusaha keras belajar, ia tidak ingin mengecewakan Juan dan Andre yang sudah memberinya kesempatan.
"Huh, nambah satu lagi orang desa. Lama-lama kantor ini jadi perkampungan," dengus Riska kesal.
Pekerjaan hari ini lancar, Juan menjemput mereka tepat waktu. Mereka akan mencari kontrakan lagi hari ini.
"Juan kita mau kemana?" tanya Clara melihat Juan masuk ke gedung tinggi.
"Bukankah kita akan cari kontrakan?" tanya Clara lagi karena tidak mendapat respon.
"Nanti kamu juga tahu, Sayang," jawab Juan tersenyum penuh arti.
Mereka masuk ke loby, lalu langsung menuju lantai 5. Juan membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Mulai sekarang kalian tinggal di sini ya. Kalau mau ke kantor tinggal turun ke bawah, tepat di seberang jalan itu Adi Jaya group. Semoga kalian betah." jelas Juan membuat keduanya benar-benar tidak percaya.
"Apa maksudnya ini, Juan? Ini tempat siapa?" tanya Clara tak mengerti.
"Apartemen ini aku beli untukmu, Sayang. Itung-itung investasi. Aku harap kamu jangan menolak, disini lebih aman dari pada kontrakan." jelas Juan.
"Kenapa kamu selalu menghamburkan uang, orang tuamu akan menganggapku benar-benar matrealistis jika kamu begini. Aku tidak mau." kata Clara kesal.
"Ini pakai uang tabunganku sendiri, Sayang. Aku lebih tenang kamu dan Cindy di sini, untuk apa kamu memperdulikan kata-kata orang. Kita yang menjalani hibungan ini, bukan mereka." jawab Juan, berusaha menenangkan Clara.
"Tolonglah Clara, jangan begini. Haruskah aku berlutut agar kamu menerimanya?" tanya Juan sambil mengambil ancang-ancang untuk berlutut.
"Jangan begitu, Juan. Aku tidak bisa menerima, ini pasti sangat-sangat mahal. Lebih baik aku tinggal di tempat biasa daripada di tempat mewah, namun akan kehilangan dirimu nantinya," kata Clara mulai terisak.
__ADS_1
Juan menenangkan Clara di bantu Cindy. Ia mengerti kekuatiran gadis itu, namun ia merasa Clara lebih aman di apartemen karena di jaga 24 jam. Orang-orangnya juga pasti berpendidikan dan tidak suka mengurusi kehidupan orang lain.