
"Bangs*t kamu!" maki Juan
Seketika ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Bima.
Bugh... bugh... bugh...
"Akh...," jerit Bima sambik terus menghindar.
Juan menghajarnya karena geram, berani-beraninya dia berbuat setega itu terhadap calon kakak iparnya. Cindy dan Clara hanya menonton, semuanya terasa cepat sampai mereka tidak sadar Juan telah menghajar Bima.
"Sudah, Nak. Jangan pukul dia lagi, aku mohon. Clara dan Ayahnya sudah menghajarnya tadi, tolong lepaskan dia," pinta ibu Bima.
Juan akhirnya melepaskannya, dia tidak menyangka kekasihnya telah menghajar pria itu. Pantas saja tadi ia tidak di perbolehkan ikut ke dalam, ternyata karena dia ingin membuat perhitungan dengan Bima.
"Kamu benar-benar pria brengsek yang tidak tahu balas budi ya. Kurang baik apa Cindy kepada mu, dia sampai rela meninggalkan orang yang dia cintai demi kembali bersamamu. Dia tahan rasa sakit hatinya, ia berusaha melupakan cintanya agar bisa mencintaimu seutuhnya, tapi justru ini yang kamu berikan. Dasar pria tidak tahu diri!" maki Juan meluapkan emosinya.
"Sabar, Sayang," ucap Clara sembari memegang lengan kekasihnya agar tenang.
"Aku minta maaf, aku terlalu egois. Aku benar-benar menyesal dengan perbuatan ku, seandainya waktu bisa aku putar kembali aku takkan pernah melakukan hal itu," ucap Bima sambil berlutut di lantai dan menangis.
"Begitu mudah kata-kata itu terucap dari mulutmu. Pak Jarwo telah menitipkan kedua putrinya kepada ku dan Andre dan sekarang kamu telah merusak hidup Cindy, apa yang harus ku katakan kepada beliau. Kamu benar-benar keterlaluan, apa bisa kamu kembalikan kesuciannya hanya dengan kata maafmu itu!" ucap Juan kesal.
Bima hanya tertunduk, ia tak bisa menyanggah kata-kata Juan karena semua yang ia ucapkan memang benar adanya.
"Nak Juan, aku tahu anak ku salah, aku pun sangat mengutuk perbuatannya itu. Tapi nasi sudah jadi bubur, kita tidak dapat mengembalikan keadaan. Sekarang yang harus kita bicarakan adalah solusi dari masalah ini. Sebenarnya aku ingin berbicara langsung dengan orang tua Cindy, tapi sebelumnya aku merasa harus bicara kepada kalian dan juga Cindy terlebih dahulu," ucap Ayah Bima bijaksana.
Mereka pun melunak mendengar ucapan pria itu, semua kembali duduk untuk membicarakan solusi yang terbaik.
__ADS_1
"Walaupun Bima mengatakan dia menggunakan pengaman ketika melakukannya, tapi aku rasa dia tetap harus bertanggung jawab terhadap Cindy. Bapak mengerti kesucian wanita sangatlah penting bagi hidupnya, karena tidak semua pria mau dengan wanita yang sudah ternoda. Sebelumnya mereka juga adalah sepasang kekasih dan pernah saling mencintai, apa tidak sebaiknya mereka di nikahkan saja? Menurut kalian bagaimana?" tanya Ayah Bima.
"Kalau masalah itu sebaiknya tanya kepada Cindy langsung saja, Pak," jawab Juan.
"Bagaimana, Nak Cindy apakah sudi menerima anak bapak sebagai suamimu?" tanyanya.
"Jika memang butuh waktu untuk menjawab silahkan saja, ini menyangkut hidup kalian berdua jadi silahkan di pikirkan matang-matang. Kita sebagai orang tua hanya menginginkan yang terbaik, kita ingin Bima mempertanggungjawabkan perbuatannya," ucap Ayah Bima.
Cindy terdiam dan menghela napas panjang, terlihat ia sedang menimbang-nimbang semua ucapan ayah Bima. Semua orang menatap ke arahnya ingin mengetahui apa keputusannya.
"Silahkan temui orang tua saya di desa, ceritakan semua maksud dan keinginan keluarga Bapak kepada beliau. Setelah itu baru saya akan menjawab pertanyaan Bapak," jawab Cindy.
"Oh kalau begitu baiklah, kita akan segera kesana secepatnya. Terima kasih atas kebijaksanaan Nak Cindy, hari ini sampai sini dulu ya, kami pamit dulu," ucap Ayah Bima sembari berpamitan.
Mereka pun meninggalkan apartemen, sekarang hanya tinggal Juan, Clara dan Cindy.
"Kenapa kalian tidak memberitahu ku tentang kejadian ini? Apa kalian tidak menganggap kehadiran ku selama ini?" tanya Juan kesal.
"Bukan begitu, Sayang. Aku minta maaf, tapi kak Cindy membuatku berjanji untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun," ucap Clara merasa bersalah.
"Clara benar, aku malu jika sampai ada yang tahu masalah ku ini. Maaf Juan aku sudah menutupi masalah ini dari mu," jelas Cindy.
"Kita ini sudah seperti keluarga, adikmu adalah calon istriku. Ayahmu juga telah menitipkanmu kepada ku, jadi jika ada masalah apa pun jangan segan untuk bercerita," ucap Juan.
"Iya maaf, aku terlalu takut dengan pandangan orang terhadapku. Karena aku sudah kotor, aku takut orang lain memandang ku dengan jijik," jawab Clara mulai terisak.
"Sudah ya Kak, jangan menangis lagi. Kita takkan pernah memandang Kakak begitu, kita semua sayang sama Kakak," ucap Clara seraya merangkul Cindy.
__ADS_1
"Iya Cindy, kamu jangan pernah berpikir begitu. Semua ini adalah musibah bukan keinginanmu, jadikan pelajaran saja untuk ke depannya. Jangan pernah terlalu percaya kepada orang lain lagi, tetap waspada," ucap Juan.
"Iya, terima kasih," ucap Cindy lirih.
"Ya sudah ini sudah malam, kalian cepat istirahat. Aku pamit dulu ya," balas Juan.
"Iya, Sayang. Terima kasih, kamu juga cepat istirahat ya," balas Clara seraya mengantar kekasihnya sampai depan pintu.
Setelah kepergian Juan mereka berdua naik ke tempat tidur untuk beristirahat. Karena mata mereka sulit terpejam mereka pun mengobrol.
"Kak, boleh aku bertanya?" tanya Clara.
"Katakan saja, Clara," jawab Cindy.
"Kenapa Kakak menyuruh mereka ke desa untuk menemui orang tua kita?" tanya Clara penasaran.
"Aku ingin tahu bagaimana pendapat mereka tentang masalahku, aku takut salah mengambil keputusan nanti. Kita kesini untuk mewujudkan mimpi kita agar bisa menaikkan derajat keluarga kita, tapi justru aku membuat mereka malu dengan masalah ku ini," jawab Cindy.
"Kak, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Ini adalah takdir hidup yang harus di jalani, ini musibah yang tidak terelakkan. Kakak harus sabar, aku tahu ini sangat sulit, namun kita harus berani menghadapi kenyataan, jangan mau di ombang-ambingkan masalah," ucap Clara.
"Kalau saja waktu itu aku memaksa langsung pulang setelah sms kamu, pasti hal itu tidak akan terjadi, Clara. Entah mengapa aku lemah, hatiku berkata tidak tapi tubuh ku seolah menginginkannya," ucap Cindy.
"Sepertinya dia memberi Kakak obat perangsang, mungkin di campurkan pada makanan atau minuman Kakak. Dia pasti memasukkannya sembunyi-sembunyi makanya tidak ketahuan. Berarti dia sudah merencanakannya dengan matang, jahat sekali dia," ucap Clara.
"Entahlah, mungkin saja seperti itu. Aku tidak menyangka dia setega itu, apa pun alasan perbuatannya itu sangat keterlaluan. Aku jadi trauma dekat dengannya, aku takut," ucap Cindy.
"Sudahlah jangan membicarakan dia lagi, ayo kita tidur saja, Clara," ajak Cindy.
__ADS_1
"Jika orang tua kita menerima niat mereka segera menikahkan kalian, apa Kakak mau?" tanya Clara.
"Aku..."