Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 124 Terpuruk


__ADS_3

Clara segera bangkit dan menjauhkan tangan Juan.


"Sayang kamu mau kemana lagi, jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak sanggup hidup tanpa mu," Juan berusaha menggapai istrinya, namun Clara semakin menjauh.


"Sayang jangan pergi," teriak Juan.


Juan terbangun dari tidurnya, wajahnya bermandi peluh. Ia mengamati sekitarnya, ternyata ia hanya bermimpi istrinya kembali. Ia kembali menangis menatap surat dan juga foto istrinya. Ia benar-benar tidak rela kehilangan Clara. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 ia memutuskan keluar mencari istrinya.


"Wah malam-malam mau kemana, Pak?" tanya satpam apartemen.


"Mau mencari udara segar," jawab Juan berbohong.


"Oh saya kira mau menyusul Non Clara," ucap Pak satpam.


Juan segera menatap satpam itu. Ia melangkah menghampirinya.


"Apa kamu tahu dia pergi kemana?" tanya Juan.


"Waktu saya tanya katanya mau liburan di desa, Pak," jawab satpam itu.


"Apa dia tidak berkata apa-apa lagi?" tanya Juan.


Satpam itu menggeleng, Juan segera pergi setelah mengucapkan terima kasih. Ia melajukan mobilnya ke semua tempat di kota Surabaya yang pernah mereka datangi. Ia berkeliling sampai pukul 03.00 dini hari, namun tidak juga menemukan istrinya. Ia kembali ke apartemen dengan perasaan tak menentu.


Sampai apartemen ia kembali menangis tersedu-sedu. Ia peluk pakaian istrinya yang masih tertinggal. Karena kelelahan ia pun tertidur dengan mendekap baju Clara.


***


Keesokan harinya.


Juan di dikejutkan dengan dering telepon yang terus menerus membuatnya terpaksa membuka matanya yang bengkak karena menangis semalaman. Ternyata yang meneleponnya adalah Bagas.


"Ada apa, Gas?" tanyanya.


"Apa benar Clara pergi, Mas?" Bagas balik bertanya.

__ADS_1


"Dari mana kamu tahu?" tanya Juan penasaran.


"Semalam Clara sms Bella, tapi karena sudah tertidur dia baru membacanya tadi pagi," jawab Bagas.


"Apa kalian bertengkar hebat sampai dia memutuskan pergi?" tanya Bagas.


"Kita baik-baik saja, bahkan aku meminta izin padanya untuk lembur. Tapi setelah aku pulang kerja dia sudah tidak ada," jawab Juan kembali terisak.


"Ya, aku juga melihat dia pulang kantor baik-baik saja. Makanya aku juga terkejut saat Bella menelepon ku dan mengatakan bahwa Clara pergi," ucap Juan.


"Apa kamu sempat bertemu istri ku?"


"Ya, saat tadi aku menjemput Bella. Dia sedang mengambil paket di pos satpam. Aku suruh membukanya karena takut isinya berbahaya, tapi ternyata hanya sebuah kamera. Aku sempat menawarkan untuk mengantar tapi dia menolak," jawab Bagas.


"Apa isi kameranya?"


"Aku tidak menyuruhnya menyalakannya karena aku takut itu isinya privasi kalian, Mas. Dia langsung masuk ke apartemen, karena aku sempat mengawasinya," jelas Bagas.


"Itu bukan dari ku. Tolong selidiki semuanya Gas, cari dia kemanapun. Cari juga di rumahnya yang di desa. Temukan dia, aku tidak bisa hidup tanpanya," pinta Juan.


Panggilan terputus, Juan kembali menangis memikirkan istrinya. Banyak sekali yang meneleponnya, ayahnya, ibunya, staf keuangan, personalia, dan Andre. Tapi Juan sama sekali tidak ada keinginan untuk mengangkatnya. Ia hanya berbaring sembari terus menatap foto istrinya. Ia begitu merindukan senyuman Clara. Juan sangat terpuruk dan menderita. Ia tidak memikirkan perutnya yang sakit karena belum makan dari kemarin siang, bahkan kepalanya terasa sangat pusing. Pandangannya meremang, akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Pukul 14.00 Juan mulai membuka mata, ia melihat ke sekeliling. Ternyata Bagas telah berada di apartemennya.


"Gas," panggil Juan lirih.


"Alhamdulillah, Mas sudah sadar," ucap Bagas.


"Memangnya aku kenapa?"


"Mas tidak sadarkan diri. Aku menelepon sekian lama tapi tidak diangkat, aku kuatir dan langsung kesini. Kata dokter Mas kelelahan, tidak makan dan minum, itu membuat Mas pingsan,"


"Iya, aku lupa tidak makan dan minum apapun sejak siang kemarin. Bagaimana aku mau makan jika aku sendiri tidak tahu apakah istri ku sudah makan atau belum," Juan bersedih kembali.


"Mas harus kuat untuk bisa menemukannya, jangan justru menghukum diri seperti ini," ucap Bagas.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya, aku tidak punya semangat untuk hidup lagi,"


"Mas harus kuat, semua ini cobaan. Aku akan terus mencarinya sampai ketemu, aku janji,"


"Pergilah Gas, temukan dia. Aku ingin sendiri," perintah Juan.


"Tidak Mas, aku akan menjaga mu di sini. Semua orang sudah aku kerahkan untuk mencarinya, aku akan memantau dari sini,"


Juan tidak memperdulikan Bagas, ia kembali memandang foto Clara. Kadang ia mendekapnya, terkadang juga menciuminya. Bagas merasa sangat kuatir dengan keadaan Juan, jika di biarkan tidak menutup kemungkinan dia akan depresi dan menjadi gila. Tanpa sadar Bagas ikut menitikkan air mata, hatinya begitu trenyuh melihat betapa besarnya Juan mencintai Clara.


"Mas makan dulu ya, ayo aku suapin," pinta Bagas.


"Aku tidak lapar," tolak Juan.


"Ayolah makan walau sedikit, kalau Mas membaik besok kita berdua akan berkeliling mencari Clara," bujuk Bagas.


"Apa kita akan menemukannya?"


"Tentu saja, makanya makan dulu biar ada tenaga ya. Clara pasti akan memarahi ku jika melihat mu semakin kurus,"


Juan tersenyum ia membayangkan Clara sedang marah-marah. Rayuan Bagas berhasil, Juan mau makan walau hanya sedikit.


"Sekarang Mas istirahat ya, biar besok badannya fit saat mencari Clara,"


Juan menurut, entah mengapa matanya terasa berat. Ia tidak bisa menahan rasa kantuknya, ia tertidur dengan mendekap foto istrinya.


"Aku tahu Mas tidak akan tidur dan tetap menangis, aku tidak ingin Mas sakit parah. Maaf aku telah memberi mu obat tidur, aku akan pergi dulu mencari info tentang Clara," ucap Bagas.


Bagas mulai menggali informasi, dia menanyai satpam apartemen dan orang-orang yang mengenal Clara. Kemudian juga meminta informasi kepada rekan-rekan kerja Clara termasuk kekasihnya Bella. Semua mengatakan tidak ada yang mencurigakan dengan kepergiannya, bahkan satpam apartemen mengatakan ketika pergi Clara tetap ramah seperti biasanya. Tidak dalam keadaan menangis atau ketakutan.


Bagas benar-benar pusing dengan kejadian ini. Tidak mungkin rasanya gadis itu pergi tanpa sebab, namun sampai sekarang ia belum menemukan hal mencurigakan sedikitpun. Ia curiga dengan kamera itu, karena Juan sempat bercerita jika itu bukan darinya. Tapi kamera itu juga lenyap entah kemana, kemungkinan juga Clara membawanya.


Karena hari sudah malam ia segera kembali menuju apartemen, ia kuatir Juan sudah bangun. Bagas benar-benar takut Juan bertindak nekad, karena orang yang begitu terluka sanggup berbuat apa saja termasuk mencelakakan dirinya sendiri.


Bagas mulai membuka pintu apartemen, suasana ruangan gelap karena ia pergi saat masih siang. Itu berarti kemungkinan besar Juan belum bangun. Bagas mulai menyalakan lampu satu persatu. Ia kemudian masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Astaga, Mas Juan," teriak Bagas.


__ADS_2