
"Kalau ap sih, Jhon? Bikin orang penasaran saja," tanya Clara.
"Hehehe, aku sebenarnya tidak tahu apa yang di katakan orang tua mu. Karena setelah itu ibu ku memanggil, jadi aku pulang ke rumah," jawab Jhony.
"Ah kamu Jhon, bukannya bilang dari tadi malah bikin orang penasaran," ucap Clara kesal.
"Iya, maaf. Aku sangat terkejut mendengarnya. Terus bagaimana keadaan Cindy sekarang? Dia pasti sangat terpukul sekali, aku saja yang pria pernah mengalami hal seperti itu jadi trauma apalagi dia yang wanita, yang sangat polos. Kurang ajar sekali Bima bisa setega itu, padahal Cindy telah berkorban banyak untuknya," ucap Jhony.
"Ya begitulah, kakak sampai berhari-hari diam tidak mau berbicara dan keluar rumah. Baru saja hari ini dia mulai mau keluar," jelasnya.
"Kasihan sekali dia, aku akan secepatnya kembali setelah ibu membaik. Untung masih ada Juan di sana saat aku dan Andre tidak ada," ucap Jhony.
"Iya benar, ia menghajar Bima semalam ketika tahu apa yang dia lakukan kepada Kak Cindy," jelas Clara.
"Memang sepantasnya dia di hajar, aku saja geram tadi tapi aku tahan karena ada orang tua mu yang lebih berhak untuk bertindak," ucap Jhony.
"Aku puas sudah menghajarnya," balas Clara.
"Hah? Serius, Clara?" tanyanya tidak percaya.
"Benar, aku datang ke rumahnya lalu aku maki dan aku hajar. Semua orang pasti tidak akan terima jika kakaknya di sakiti, apalagi Kak Cindy itu telah berkorban banyak sampai merelakan cintanya pergi untuk menolong dia," jawab Clara.
"Pria itu memang tidak tahu diri, ya sudah ibu memanggil ku. Jangan lupa memberi kabar jika terjadi sesuatu ya. Assalamualaikum," ucap Jhony.
"Ok, Jhon. Terima kasih, waalaikum salam," jawab Clara.
"Jadi Jhony tidak tahu apa jawaban bapak ya, Clara?" tanya Cindy yang sejak tadi mendengarkan.
"Iya, Kak. Soalnya pas bapak mau bicara itu Jhony di panggil bu Tini, jadi dia pulang," jelas Clara.
"Kira-kira bapak jawab apa ya? Mereka pasti sedih mendengar kejadian ini, aku merasa bersalah kepada mereka," ucap Cindy.
"Ini bukan salah Kakak, tapi salah pria gila itu. Apa kita hubungi bapak saja ya, sudah lama juga kita tidak telepon mereka," balas Clara.
"Jangan Clara, aku takut," jawab Cindy.
__ADS_1
"Ya sudah. Oh ya bagaimana hasilnya tadi, apa Kakak sudah dapat pekerjaan?" tanya Clara.
"Ada beberapa yang sedang mencari karyawan, seperti restoran, cafe sama toko buku. Tapi gajinya kecil jadi aku belum memberi keputusan, besok aku mau mencoba di kantoran dan pabrik," jawab Cindy.
"Sabar ya, Kak. Semua akan indah pada waktunya. Sebenarnya Kakak tidak perlu buru-buru mencari kerja lagi, insyaallah simpanan kita lebih dari cukup untuk hidup kita di sini serta mengirim orang tua di kampung," ucap Cindy.
"Tidak Clara, aku harus segera kerja agar tidak memikirkan kejadian itu terus," jawab Cindy.
Tring... Tring... ponsel Clara berbunyi, ia segera melihatnya.
"Sms dari Jhony, Kak," ucap Clara.
"Apa katanya, cepat buka," pinta Cindy.
[Barusan aku mendengar orang tuamu berbicara, kalau jadi mereka akan kesana besok.]
[Ok, Jhon. Terima kasih infonya ya.]
Clara membalas sms Jhony.
"Cepat atau lambat mereka pasti datang, karena mereka sayang sama Kakak. Kakak jangan takut, aku saksinya jika Kakak tidak pernah berbuat macam-macam. Ini murni kesalahan Bima, dia yang telah merencanakan semuanya," balas Clara.
"Semoga mereka tidak marah padaku," ucap Cindy.
***
Keesokan hari.
"Kak, aku berangkat kerja dulu ya. Hari ini Kakak tidak perlu kemana-mana karena kemungkinan orang tua kita akan kemari," ucap Clara ketika berpamitan.
"Baiklah aku tidak akan kemana-mana. Aku akan belanja saja, aku akan memasak untuk mereka dan membeli sedikit camilan," balas Cindy.
"Oh bagus itu, ini uangnya Kak," ucap Clara.
"Tidak usah pakai uang ku saja, kamu sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk ku," tolak Cindy.
__ADS_1
"Kita kan saudara, jadi sudah sepantasnya saling berbagi, Kak," ucap Clara.
"Iya aku tahu, tapi untuk kali ini biarkan memakai uangku saja ya," balas Cindy.
"Baiklah, terserah Kakak. Aku berangkat dulu ya," ucap Clara.
Tidak lama setelah Clara berangkat Cindy juga bergegas ke pasar yang terdekat. Ia berencana memasak capcay, ayam kecap, telur balado, tahu dan tempe goreng serta sambal teri untuk menyambut keluarganya. Tidak lupa juga membeli beberapa kue kering serta buah segar.
Setelah dari pagi sibuk ke pasar dan memasak akhirnya pukul 10.00 semua telah matang. Setelah makan ia memutuskan nonton tv sambil menunggu orang tuanya datang. Karena kelelahan Cindy tertidur dengan tv masih menyala. Cindy terbangun setelah mendengar ketukan di pintu.
"Bapak, Ibu," sapa Cindy lalu memeluk keduanya bergantian.
"Kita kira kamu kerja, Nak. Kok ada di rumah?" tanya Ibunya.
"Cindy berhenti, Bu. Ayo masuk dulu," ucap Cindy seraya mengajak mereka masuk.
"Lebih baik Ibu sama Bapak makan dulu, sebentar Cindy panasin ya," ucap Cindy lalu ke dapur.
Mereka menurut ucapan Cindy, setelah beribadah mereka memakan masakan Cindy dengan lahap. Setelah itu mereka bersantai di ruang tv. Ibunya yang sudah tidak sanggup menahan perasaannya langsung memeluk putrinya dan menangis, Cindy pun menumpahkan segala rasa sedihnya di pelukan sang ibu.
"Sabar ya Nak, semua ini adalah ujian. Walaupun ini terasa sangat berat tapi jangan sampai kamu kehilangan kepercayaan kepada Allah. Dia tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuannya," ucap ibunya di sela-sela tangisnya.
"Iya, Bu. Maaf ya aku tidak bisa menjaga diri dengan baik, aku sudah mengecewakan kepercayaan kalian," balas Cindy.
"Kami tahu kamu anak yang baik, tidak akan berbuat macam-macam. Bima sudah menceritakan semuanya dari awal. Dia sengaja menaruh obat untuk menjebak mu, dia pikir dengan berbuat seperti itu akan membuat hubungan kalian semakin erat dan berakhir dengan pernikahan," cerita ayahnya.
"Mereka semua sudah meminta maaf dan mengaku bersalah, mereka menerima semua keputusan kita," imbuhnya.
"Lalu Bapak menjawab apa?" tanya Cindy.
"Bapak belum menjawab karena ingin membicarakannya dulu denganmu. Kalau keinginanmu bagaimana, Nak?" tanya Pak Jarwo.
"Aku dulu mencintainya, Pak. Kemudian dia hilang tanpa kabar, aku mulai dekat dan mencintai Mas Andre. Setelah tahu ia menghilang karena mengalami musibah aku merasa bersalah, apalagi dia sampai nekad bunuh diri. Aku mulai nyaman dengannya walau belum benar-benar mencintainya lagi, tapi itu sebelum kejadian itu terjadi," jelas Cindy.
"Hmm, kisah yang rumit ya. Apa sebaiknya kalian menikah saja," ucap pak Jarwo.
__ADS_1
"Apa?" tanya Cindy tak percaya dengan jawaban bapaknya.