Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 136 Pekerjaan Baru


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Clara mulai mengemasi barang-barangnya, kesedihan mulai menyelimuti hatinya. Hari ini ia akan meninggalkan Axel untuk bekerja kembali di kota, hati ibu mana yang tidak sedih tinggal jauh dari buah hatinya? Tapi ini harus ia lakukan, karena di desanya susah mendapat pekerjaan hanya dengan ijazah SMP.


"Jangan sedih Nak, kamu harus ikhlas supaya Axel tidak rewel, ikatan batin ibu dan anak itu sangat kuat. Insyaallah ibu akan merawatnya sebaik mungkin," hibur bu Dina.


Clara segera memeluk satu persatu keluarganya, ia menciumi Axel dengan penuh rasa cinta. Setelah menguatkan hati ia berangkat menuju stasiun kereta api, Jhony ikut bersamanya ke kota.


"Jhon, kamu berencana akan bekerja apa?" tanya Clara dalam perjalanan.


"Apa saja yang penting halal, yang penting cukup untuk biaya hidup dan mengirim ibu di desa," jawab Jhony.


"Semoga saja bu Ina masih mau menerima ku, nanti jika ada pekerjaan yang cocok aku akan merekomendasikan kamu,"


Mimpi-mimpi indah mulai mereka rajut, mereka seolah kembali ke saat awal mereka menuju kota, bedanya sekarang hanya mereka berdua tanpa Cindy. Sepanjang perjalanan mereka memilih tidur, mata Clara memang terpejam namun pikirannya melanglang buana jauh ke desanya, belum sehari rasa rindu kepada Axel sudah menumpuk di hatinya.


Mereka berhenti di stasiun Tanggulangin, kemudian naik angkot menuju rumah pak Iman. Banyak hal yang mereka ceritakan di sepanjang perjalanan.


"Assalamualaikum," Clara memberi salam.


"Waalaikum salam, Nak Clara,"


Bu Rina langsung memeluk Clara, ia menciumi pipi Clara. Terlihat jelas ia begitu merindukan gadis itu.


"Kamu bersama siapa, Nak? Axel mana?"


Bu Rina menoleh kesana kemari mencari keberadaan Axel, namun ia sedikit kecewa karena tidak menemukannya.


"Ini Jhony, sahabat saya dari desa Bu. Saya mau bekerja lagi, jadi Axel saya titipkan kepada ibu di desa," jawab Clara.


Bu Rina menyuruh mereka masih dan mempersilahkan mereka duduk. Ia bercerita bahwa usaha bu Ina sudah berhenti sejak seminggu yang lalu, tempat usahanya telah di jual dan di bagi karena ada sengketa warisan dalam keluarganya. Clara sangat menyayangkan kejadian itu, sekarang ia terpaksa harus mencari pekerjaan baru. Bu Rina segera menelepon pak Iman agar cepat pulang.

__ADS_1


Bu Rina mempersiapkan mereka makan, perjalanan jauh pasti membuat mereka lapar. Clara dan Jhony makan dengan lahap, baru saja mereka selesai pak Iman datang membawa es degan, mereka menikmatinya bersama-sama.


"Kalian menginap saja di sini, Nak Clara bisa tidur dengan Sandra, biar Jhony menempati kamar tamu," pinta pak Iman.


"Iya Nak, besok baru kalian mulai cari pekerjaan. Hari ini lebih baik istirahat dulu, kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh," sahut bu Rina.


"Baiklah Bu, Pak, kita akan menginap di sini malam ini. Tapi saya akan mengunjungi Yuni di kos sebentar,"


Pak Iman mengambilkan kunci motor Clara, selama ini dia menjaganya dengan baik, ia selalu memanasi motornya setiap hari. Clara dan Jhony berangkat ke kos Yuni, setelah menyalami pak Kholil mereka langsung ke kamar Yuni.


"Mbak Clara, ah senang sekali bisa bertemu lagi," pekik Yuni tatkala melihat Clara, ia memeluk Clara dengan erat.


"Mbak kok tidak sama Axel?" tanya Yuni.


"Aku mau bekerja lagi, tapi sayang kata bu Rina usaha bu Ina sudah di hentikan. Ini teman ku dari desa namanya Jhony, ia juga sedang mencari kerja,"


Clara memperkenalkan mereka, Yuni kemudian menyuruh mereka masuk.


"Sebenarnya aku ada info pekerjaan, gajinya ya lumayan. Teman ku kebetulan buka klub malam, ia butuh pelayan yang bertugas membawakan minuman kepada pelanggan,"


Yuni mengangguk mengiyakan, Clara dan Jhony saling berpandangan.


"Pekerjaannya hanya membawakan minuman kok Kak, aku sering ke tempatnya. Walaupun termasuk hiburan malam tapi tempatnya bersih dari prostitusi dan obat terlarang, minuman yang di jual juga minuman berkelas. Nanti malam aku ajak kesana, kakak bisa lihat sendiri keadaannya,"


Setelah mendengar penjelasan Yuni mereka bersedia ikut, nanti malam. Mereka bercerita pengalaman masing-masing sampai lupa waktu, ketika masuk waktu ashar mereka berpamitan pulang.


Malam harinya mereka berpamitan kepada keluarga pak Iman untuk pergi bersama Yuni. Sampai di sana mereka bisa langsung masuk karena Yuni sudah kenal dengan pemiliknya.


"Hei Rico, ini teman ku yang aku ceritakan,"


Yuni mengenalkan mereka kepada pemilik tempat itu. Rico tampak menatap mereka dengan seksama, ia tersenyum melihat Clara.

__ADS_1


"Teman mu ini terlalu cantik untuk jadi pelayan, Yun. Aku tidak yakin dia bisa," ucap Clara.


"Boleh kita liat berkeliling?" tanya Clara.


"Tentu saja,"


Rico mengajak mereka berkeliling, ini baru pertama kalinya Clara menginjakkan kaki di tempat hiburan malam. Berbeda dengan Jhony yang pernah beberapa kali diajak Indra ke klub malam.


"Gadis cantik seperti kamu pasti laris manis kalau jadi LC atau lady escort, pasti banyak tamu yang mem-booking mu," ucap Rico.


"Hus, bicara apa kamu. Mbak Clara ini gadis baik-baik, dia baru saja melahirkan. Dia butuh pekerjaan untuk menghidupi anaknya, menurut ku jadi pelayan lebih baik dari LC (ladies companion / pemandu lagu)," balas Yuni.


"Hei LC itu tidak buruk, banyak dari mereka yang bisa menjaga diri. Semua itu kembali ke diri masing-masing, ya kalau mau lebih pasti dapatnya juga lebih. Intinya tergantung diri masing-masing," sanggah Rico.


"Terserah apa kata mu, lebih baik jadi pelayan Mbak. Jadi LC lebih beresiko, ya walaupun uang yang di dapat memang lebih banyak pastinya," ucap Yuni.


Clara merasa kepalanya pusing, selain karena ocehan mereka berdua suara dentuman musik yang lumayan keras sangat mengganggu pendengarannya. Ia juga tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.


"Kepala ku pusing, apa tidak ada tempat yang lebih tenang ya?" tanya Clara polos.


Rico akhirnya mengerti, Clara memang gadis polos yang sepertinya tidak pernah memasuki dunia malam. Suara hingar bingar musik saja sudah membuatnya pusing, apalagi minuman beralkohol. Akhirnya Rico membawa mereka ke kantornya, di sana Clara baru bisa bernapas lega.


"Rasanya aku tidak bisa kerja di tempat ini, sebentar saja di sana kepala terasa pusing, aku juga ingin muntah," ucap Clara jujur.


Rico tersenyum menanggapi ucapan Clara, sedangkan Yuni dan Jhony menatap iba kepada Clara.


"Itu karena kamu baru pertama masuk, tapi kalau sudah biasa dijamin tidak berpengaruh. Coba saja kalau tidak percaya," balas Rico.


"Sudahlah Clara, ini tidak cocok untuk mu. Kita cari pekerjaan yang lain saja, pasti banyak yang lain di luaran sana," ucap Jhony.


"Iya Mbak, aku juga tidak tega melihat Mbak pusing begitu. Sepertinya bukan ide yang bagus untuk bekerja di sini," sahut Yuni.

__ADS_1


Clara tampak menimbang semua perkataan mereka, mencari pekerjaan memang tidak mudah. Tapi bekerja di tempat yang membuat mu tidak nyaman juga bukan hal yang baik.


"Aku akan mencobanya," ujar Clara.


__ADS_2