
Juan menangis sejadi-jadinya setelah membaca surat dari Clara. Hatinya benar-benar hancur, ia tidak percaya Clara tega meninggalkannya bahkan di saat statusnya sudah menjadi istrinya. Juan sangat terpukul, ia menangis meringkuk di lantai sambil memegang surat dari Clara.
"Kenapa kamu tega meninggalkan ku, kenapa?" tanya Juan sambil terus menangis.
Juan mengambil album foto pernikahannya dengan Clara, ia pandangi foto istrinya sambil berlinang air mata. Ia cium foto itu sambil terus menitikkan air mata.
"Kamu sudah berjanji, tidak akan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi. Tapi mengapa sekarang kamu pergi, aku tidak sanggup hidup tanpa mu," tangis Juan makin menjadi.
Tiba-tiba ia berhenti menangis dan menyeka air matanya. Ia mengambil ponselnya dan menelepon.
"Halo Cindy, apa Clara ada di tempat mu?" tanya Juan.
"Tidak, dia tidak kesini sama sekali. Apa dia tidak ada di sana?" Cindy balik bertanya.
"Nanti saja aku ceritakan, ya sudah terima kasih," Juan langsung mematikan telepon.
Juan menelepon Januar, namun Clara juga tidak ada di sana.
"Apa dia pulang ke desa ya?" tanya Juan, ia langsung menghubungi pak Jarwo.
"Assalamualaikum Pak," sapa Juan berusaha tenang.
"Waalaikum salam, ada apa Nak?" tanya pak Jarwo.
"Apa Clara ada di sana ya Pak?" tanya Juan hati-hati.
"Tidak ada Nak, dia sama sekali tidak kesini. Memangnya ada apa? Apa kalian bertengkar?" tanya pak Jarwo.
"Tidak Pak, kami baik-baik saja. Ya sudah saya cari istri saya dulu, assalamualaikum," ucap Juan.
"Waalaikum salam,"
__ADS_1
Juan berpikir kepada siapa lagi ia akan bertanya. Ia teringat Jhony adalah sahabat Clara, mungkin dia tahu sesuatu.
"Halo Jhony, kamu sedang di mana?" tanya Juan.
"Kalian itu memang sehati ya, pas telepon pertanyaannya sama. Aku di rumah," jawab Jhony.
"Apa maksud mu?" tanya Juan tidak paham.
"Tadi Clara juga menelepon, yang di tanyakan pertama kali persis seperti yang kamu tanyakan,"
"Apa tadi dia menelepon mu? Dia bicara apa saja?"
"Dia telepon hanya sebentar kok, cuma tanya tentang keluarganya, tidak ada yang lain,"
"Oh,"
"Apa kalian bertengkar? Sepertinya kamu habis menangis ya?" tanya Jhony seolah punya indra keenam.
"Astagfirullah, sabar ya. Aku akan membantu mencarinya, tapi dia tidak mungkin pergi jika tidak ada sebab. Aku tahu dia begitu mencintai mu, bahkan ia rela selalu di hina ayah mu. Tapi ia selalu berada di samping mu selama ini, mungkin dia merasa di intimidasi," ucap Jhony memberi pendapat.
"Sepertinya tidak, dia pergi atas kemauannya sendiri. Ia menulis surat untuk ku, ia pergi karena tidak ingin menjadi tembok penghalang diantara aku dan orang tua ku. Dia bahkan menyuruh ku untuk tidak mencarinya lagi," jelas Juan.
"Begitu ya, tapi aku masih tidak percaya dia pergi atas keinginannya sendiri. Tapi aku janji akan membantu mu menemukannya," ucap Jhony.
"Terima kasih ya Jhon, tolong beri kabar jika berhasil menemukannya," balas Juan.
***
Sementara di kos Clara tampak bangun dari tidur, ia segera mengecek ponselnya. Ternyata ponselnya tidak menyala karena kehabisan baterai. Ia segera menge-chargenya.
"Sudah jam 9 malam, aku ketiduran lumayan lama juga," ucap Clara.
__ADS_1
Clara segera mandi dan berganti pakaian, perutnya terasa sangat lapar. Ia baru ingat terakhir ia makan saat makan siang tadi. Ia segera keluar mencari makanan dan membeli kartu perdana baru. Lima belas menit kemudian dia kembali ke kos dan makan dengan lahap.
Setelah makan ia menyalakan ponselnya, banyak sekali panggilan tidak terjawab dari suaminya, ayahnya, kakaknya, Jhony dan bahkan Januar juga meneleponnya. Pasti mereka semua sudah tahu ia pergi. Yang menarik perhatiannya adalah telepon ayahnya, berarti ayah Juan benar-benar sudah melepaskan keluarganya. Clara segera meneleponnya.
"Bapak, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Clara mulai menangis.
"Alhamdulillah kita semua selamat, kamu bagaimana apa baik-baik juga?" tanya pak Jarwo terharu mendengar suara putrinya.
"Aku baik Pak, aku sudah meninggalkan Juan. Aku tidak mau mereka berbuat jahat kepada keluarga ku," jawab Clara.
"Bapak juga kuatir terhadap keselamatan kamu, mereka mengancam akan membunuh mu jika kami tidak menurut. Memang lebih baik kamu pergi Nak, ayah Juan itu ternyata mampu berbuat nekad," ucap Pak Jarwo.
"Ya Pak, jangan pernah katakan pada siapapun jika aku menelepon. Aku akan ganti nomor baru, nanti Bapak aku telepon lagi. Doakan Clara baik-baik saja dan bisa bertahan ya Pak," balas Clara.
Setelah selesai berbicara Clara segera sms Bella.
[Kak Bella tolong sampaikan permintaan maaf ku kepada semua orang, mulai besok aku tidak bisa bekerja lagi di sana. Aku akan pergi jauh Kak. Jika gaji ku di berikan alhamdulillah, tapi jika tidak aku ikhlas karena memang belum sebulan. Aku minta maaf jika punya salah selama ini, maaf juga jika tidak bisa datang ke pernikahan kalian nanti. Aku berdoa semoga kalian langgeng.]
Setelah sms terkirim, Clara segera memindah kontak di kartu ke ponsel, lalu ia mematahkan kartu lamanya dan mengganti dengan kartu baru yang tadi ia beli di konter. Setelah selesai ia kembali menge-charge ponselnya, dan mulai membaringkan badan.
'Kamu sedang apa Sayang? Aku sangat merindukan mu' batin Clara.
Clara mulai menangis lagi, diambilnya foto pernikahannya dengan Juan. Ia sekap foto itu sambil terus menangis. Hatinya terasa sakit sekali, dadanya begitu sesak. Ia merasa tidak rela namun tidak ada pilihan lain.
Clara pulang ke apartemen, ia membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Ia melihat suaminya tertidur meringkuk di lantai dekat kasur yang biasa ia gunakan tidur bersama suaminya. Air matanya jatuh melihat mata suaminya sembab, dengan tangan masih menggenggam surat yang ia tulis. Tampak ponselnya juga tergeletak begitu saja di lantai.
Clara segera menghampirinya, mengusap rambutnya lalu mencium keningnya. Pria itu tetap tidak bangun seolah tidak merasakan kehadiran istrinya.
"Maafkan aku Sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi," bisik Clara.
Mendengar suara istrinya membuat Juan membuka mata, ia menggenggam tangan Clara dan tidak mau melepaskannya.
__ADS_1
"Kamu sudah di sini Sayang?"